Hidangan di meja makan sudah tersusun dengan rapi. Clary melirik jam yang menggantung di dinding. Sudah hampir magrib. Gadis bertubuh semampai itu dengan setia menunggu kedatangan Bara.
Tak ada yang special dalam pertemuan mereka malam ini. Bara hanya memberitahu bahwa ia akan datang malam ini. Tentu saja Clary senang. Apa lagi dia amat jarang punya waktu bersama dengan Bara.
Tersedia sup jagung, ikan nila goreng dan sambal cabe hijau di atas meja. Tentu saja, itu semua adalah makanan kesukaan Bara. Tak lupa, Clary menyiapkan jus mangga untuk kekasihnya itu. Jika dilihat, Clary sudah cocok menjadi ibu rumah tangga.
Clary sudah berdandan cantik. Siap menanti kedatangan Bara. Baru saja Bara meneleponnya, sebentar lagi ia akan sampai. Sambil menanti kehadiran Bara, Clary sedikit merapikan ruang tamunya yang nampak berantakan setelah beberapa hari ia tidak membereskan rumah.
Benar saja, tak berselang lama, Bara telah sampai. Ia masuk begitu saja ke apartemen Clary. Hal ini sudah biasa Bara lakukan. Bara langsung merebahkan tubuhnya di sofa.
“Sayang…. Ayo, mandi dulu dong.” Clary melempar handuk berwarna putih ke wajah Bara.
“Masih capek, Yang.”
“Kotorlah, Yang. Banyak debu melekat tuh di tubuh Sayang. Ntar berleha-leha jadinya mager.” Clary mengusap pergelangan tangan Bara.
“Iya, Sayang. Sabar dong.” dengan mesra, Bara mencium kening Clary.
Laki-laki tinggi besar itu segera melangkah menuju kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan shower yang mengalir lembut. Clary menunggu di ruang TV. Menonton siaran berita sambil mengelus-elus bulu si embul, kucing kesayangannya.
Tak berselang lama, Bara keluar dari kamar mandi. Mengusap rambutnya dengan handuk sambil melangkah mendekati Clary.
“Yang, dapat salam dari Mama.”
“Oh ya? Roti gulung keju kirimanku udah mama terima?”
“Udah dong. Mama makan dengan lahap.”
“Mama nggak nitip sambal tempe kesukaanku?”
Clary berharap, Nyonya Rika membuatkan sambal tempe kesukaannya. Nyonya Rika sudah menyayangi Clary seperti anak kandungnya sendiri. Sehingga, apa pun yang menjadi kesukaan Clary, ia mengetahuinya.
“Waduh! Maaf, Sayang. Aku lupa membawanya. Tadi, Mama sudah simpan di atas meja makan.”
“Yah, Sayang mah gitu. Selalu lupa.”
“Iya, iya…. Maaf. Besok aku minta Mama kirimin aja.”
“Ya udah. Jangan, Sayang. Kasihan, ntar buat Mama repot.”
“Ya kan, nggak apa-apa. Demi ca….”
“Makan yuk!” Clary menyela ucapan Bara lalu menggandeng tangan kekasihnya itu menuju meja makan.
“Taraaa….”
Clary membuka tutup hidangan. Ia melayani Bara dengan sepenuh hati. Clary menyodorkan semangkuk sup jagung di hadapan Bara. Laki-laki itu menyantap hidangan yang Clary sediakan dengan lahap. Clary senang karena Bara menambah semangkuk sup jagung lagi.
“Enak.” Bara memuji hidangan yang disediakan oleh kekasihnya.
“Nambah lagi, Sayang.” pinta Clary sambil ancang-ancang memegang ganggang sendok.
“Cukup, ntar aku kekenyangan, Sayang.”
“Ya udah, aku beresin dulu ya.”
Setelah makan malam selesai, Clary membereskan meja makan. Ia mengemas peralatan dapur yang habis digunakan. Sementara Bara, ia menunggu Clary di sofa sambil mengepul asap rokok. Ia terlihat santai. Padahal, ada sesuatu yang harus diutarakannya malam ini.
“Udah beres-beresnya, Sayang?”
“Udah.”
Clary menjatuhkan tubuhnya di samping Bara. Ia tak canggung lagi untuk menyandarkan kepalanya ke pundak kekasihnya itu. Bara mengelus-elus puncak kepala Clary. Gadis itu cukup lama terdiam dalam pelukan kekasihnya.
“Sayang….”
Bara menahan ucapannya. Seakan tak sanggup untuk membuka pembicaraan di hadapan gadis yang amat dicintainya itu.
“Hmmm….” Clary yang bertingkah manja hampir terlelap dalam pelukan Bara.
“Kalau aku mau ngomong sesuatu, kamu mau dengar nggak?”
“Tapi, nggak kabar buruk kan, Sayang?”
“Sekali pun kabar buruk kamu masih mau dengar?”
“Apaan sih!” Clary memukul lembut d**a Bara.
“Aduh….” Bara pura-pura meringis kesakitan. Hal itu membuat Clary sedikit melonggarkan pelukannya.
“Sayang, aku serius!” Bara merapikan posisi duduknya.
Clary terpaku menatap keseriusan Bara. Dia jadi teringat dengan ucapan Wildan tadi pagi. Mungkinkah Bara akan mengungkapkan hal yang sama dengan apa yang sudah disampaikan Wildan tadi pagi.
“Aku minta maaf, kalau nanti semua yang aku ungkapkan tidak berkenan di hati kamu.”
“Sayang…. Kamu jangan becanda deh.”
“Aku nggak becanda, Sayang. Aku ingin mengutarakan semuanya malam ini.”
“Ya udah, cepatan.”
Dengan berat hati, Bara mengungkapkan sebuah kejujuran. Meski tidak jauh dengan apa yang sudah diungkapkan Wildan, Clary tetap mendengarkan. Betapa mulianya hati wanita itu, ia tetap menghargai sosok laki-laki yang ada di hadapannya.
Entah, seberapa banyak wanita yang punya hati seperti Clary. Wanita tegar berhati baja. Sekali pun cinta menghianati, ia tetap setia mendengarkan. Clary memainkan jemarinya. Barangkali ia menahan emosi setelah tahu segalanya.
“Aku sudah curiga dari awal.” Clary menelan salivanya.
Keduanya cukup lama terhanyut dalam hening. Bicara dalam hati masing-masing. Bara dan Clary sudah cukup dewasa untuk urusan cinta. Lagi pula, Bara bicara dengan terstruktur, tanpa berbelit-belit. Pada intinya, Bara tidak bisa meneruskan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Bukan karena keinginannya, melainkan karena ada hal yang harus diutamakan.
“Aku harus pergi malam ini.”
“Aku sama sekali tak memintamu untuk tinggal.”
“Sa….” hampir saja Bara memanggil Clary dengan kata ‘sayang’.
Padahal ketika ia sudah mengutarakan kejujuran hatinya pada Clary. Dengan demikian, tanpa dikukuhkan, cinta mereka pun telah berakhir.
“Aku seperti kembali pada masa SMA, ketika aku mengenalmu dengan baik di ruang perpustakaan.”
“Clary…. Aku….”
“Ketika untuk pertama kali kamu mengantarku pulang ke rumah, kau memintaku untuk memanggilmu dengan kata, Mas.”
“Kamu masih ingat itu?”
“Tidak akan pernah kulupakan perjalanan panjangku mengenalmu hingga di titik ini, hingga kita sepakat untuk membuat panggilan dengan kata ‘sayang’.”
Air mata Clary mulai meleleh. Sesungguhnya, hati wanita mana yang akan kuat menerima sebuah kenyataan pahit semacam ini. Sementara Bara, ia terpaku dengan segala kejujurannya. Bahkan untuk menatap wajah Clary saja ia tak sanggup.
“Mas…. Jika itu sebuah pilihan terbaik, semoga kamu bahagia.”
Clary memalingkan wajahnya. Seakan tak ingin berhadapan lagi dengan sosok laki-laki penghianat di sampingnya. Kalau saja tiak karena menghargai kehadiran Bara, ingin rasanya Clary mengusir cepat-cepat laki-laki itu.
“Aku…. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, Lery. Semua ini salahku. Sebuah pengkhianatan besar yang aku berikan padamu.”
“Cukup, Mas! Cukup! Lebih baik kamu segera pergi dari sini.”
Hati Clary semakin perih. Ia sama sekali tak ingin lagi mendengar pembelaan apa pun dari Bara. Bagi Clary sebuah pengakuan jujur bagaikan petir yang menyambar kuat sampai di sudut hatinya.
Bara bergegas mengemas barang-barangnya. Karena ia datang tidak membawa banyak barang. Hanya butuh waktu tidak lebih dari tiga menit ia sudah berdiri di hadapan Clary.
“Aku pergi….” ucap Bara lemah.
Clary sama sekali tak ingin menatap wajah Bara. Padahal laki-laki itu sangat ingin sekali mengusap air mata di wajah Clary. Namun kini, gadis itu bukan lagi miliknya.
“A… ku harap, ka… kamu tidak da… datang lagi dalam hi… idup ku, Ma…as.” Clary terbata dalam tangisnya.
Bara melangkah perlahan. Tanpa meminta apa pun dari Clary. Ia meninggalkan sekeping hapi yang rapuh. Membawa pergi sebuah perasaan yang hancur karena ulahnya sendiri. Mereka, dengan segala ketegaran dan kedewasaanya, harus menerima kenyataan ini.
Sementara itu, Clary yang kini tinggal seorang diri, berusaha menyeka air matanya. Ia teringat pada Wildan. Laki-laki yang belakangan ini begitu hebatnya menaruh perhatian padanya. Ia menyesal tidak mempercayai ucapan Wildan tadi pagi.
Clary beranjak menuju kamar. Ia hendak mengambil handphone dan segera menghubungi Wildan. Ia ingin memberitahukan kepada Wildan tentang apa yang sudah diungkapkan oleh Bara. Belum saja ia menghubungi Wildan, Clary membuka sebuah pesan dari laki-laki itu. Wildan memberitahu bahwa besok pagi ia akan berangkat ke Skotlandia.
Tanpa membalas pesan Wildan, ia segera mempersiapkan diri untuk datang ke apartemen Wildan. Namun selang beberapa saat, Handphone Clary berdering sebuah panggilan dari nomor yang pernah menelponnya beberapa waktu yang lalu. Ya, seorang wanita yang mengungkapkan hubungannya bersama Bara. Clary sudah mengetahui semua ini sejak awal. Namun, ia tak pernah percaya. Sama seperti ketika Clary tidak mempercayai ucapan Wildan.
Sialnya, nomor misterius itu mengirim beberapa foto kemesraan bara bersama wanita lain kepada Clary. Tampak Bara dengan mesra menggandeng tangan seorang wanita yang tampak tengah hamil ke dalam klinik bersalin. Clary semakin muak. Di sela pembicaraan tadi, Bara sama sekali tidak memberitahu hal ini kepada Clary. Ia hanya memberitahu akan menikah dengan perempuan lain karena terpaksa oleh urusan bisnis.
Clary membanting handphone di tangannya. Berusaha mengacak seprai yang sudah terpasang rapi. Ia menjatuhkan diri di atas kasur. Kedua tangannya meremas kedua pangkal rambutnya yang terurai panjang. Pusing, tentu saja. Ia hampir tak mampu mengendalikan emosinya.
Beruntung, Clary teringat dengan Wildan. tanpa menimbang waktu yang sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam, Clary bergegas keluar apartemen dan melaju dengan mobilnya menuju apartemen Wildan.
Wildan sama sekali tidak terkejut dengan kedatangan Clary. ia segera membopong tubuh gadis itu ke dalam kamarnya. Wildan sama sekali tak bermaksud apa-apa. Ia hanya ingin Clary istirahat di kamarnya. Clary menumpahkan tangisnya dalam pelukan Wildan. Laki-laki itu tak berkata apa pun selain berusaha menenangkan gadis dalam pelukannya.
“Bapak sudah berkata benar….” Clary menggigit ujung selimut yang dikenakan Wildan padanya.
“Sssttt…. Lebih baik kamu istirahat ya,” pinta Wildan.
“Pak…. Tolong jangan pergi.”
“Saya tidak akan pergi, Cla. Saya ada bersama denganmu.”
“Pak…. Tolong saya, hati saya tidak akan kuat.”
Dalam tangisnya, Clary terus menggenggam pergelangan tangan Wildan. membuat laki-laki itu tak bisa beranjak darinya.
“Cla, saya tahu, hati kamu rapuh. Apa yang saya katakan semua demi kebaikan kamu. Tapi, kamu tidak mendengarkan dari awal.”
“Semuanya serba terlambat, Pak. Seharusnya saya mengetahui ini lebih awal.”
“Hmmm…. Tidak ada yang terlambat, Cla. Ini waktu yang tepat.”
“Pak….”
Tiba-tiba saja, Clary memeluk tubuh Wildan. laki-laki itu sempat terdiam. Namun, ia berusaha sedikit melonggarkan pelukan Clary.
“Cla…. Lebih baik kamu istirahat. Biar saya tidur di sofa,”
“Nggak. Saya mau Bapak tetap di sini.”
Clary memeluk lebih erat tubuh Wildan. Wildan sama sekali tak ingin melakukan hal apa pun pada gadis itu. Namun melihat kerapuhan Clary, Wildan berusaha menenangkan hati gadis itu. Wildan mengecup lembut bibir Clary, perlahan Clary merasakan ketenangan.
Dilingkupi udara malam, keduanya bersatu dalam gejolak asmara yang tak terduga. Clary menyerahkan kesuciannya pada Wildan yang justru bukan laki-laki pilihannya. Ia melakukan itu hanya karena kecewa. Wildan pun terhanyut dalam permainan yang tidak terencana itu.
Setelah beradu asmara, Clary tidur dengan pulas dalam pelukan Wildan. Justru kini, Wildan merasa bersalah pada Clary. Ia telah merenggut kesucian gadis itu tanpa menikahinya. Apa pun yang akan terjadi, Wildan siap bertanggung jawab. Diam-diam, Wildan mengecup kening Clary, lalu ikut merajut mimpi bersama wanita itu.