Cerita Akhir Pekan

1810 Words
Bara masih tinggal beberapa hari di Bandung. Sejak tadi malam, Bara pulang ke rumah orang tuanya. Clary tidak ikut. Karena masih banyak hal yang perlu ia persiapkan. Clary hanya menitipkan roll cake buatan tangannya sendiri serta menjadi cemilan kesukaan Nyonya Rika, calon ibu mertuanya. Pagi-pagi sekali, Clary mempersiapkan diri. Tadi malam Wildan mengirim pesan dan berniat mengajaknya joging pagi ini. Clary oke-oke saja. Lagi pula ia sudah lama tidak berolahraga. Letak taman kota pun tidak jauh dari apartemen-nya. Pukul lima lewat tiga puluh menit, Wildan sudah tiba di lobi apartemen Clary. Keduanya pergi dengan berjalan kaki. Saat menyeberang jalan raya, Wildan dengan sigap menggandeng tangan Clary. Tentu saja, perlakuan Wildan membuat Clary merasa tidak nyaman. Ia hampir menarik genggaman Wildan. Namun laki-laki itu menggenggam jemari Clary dengan erat. “Pak!” “Udah, ikutin aja.” Clary terpaksa nurut. Berbeda dengan Clary yang merasa canggung. Wildan justru memberi harapan kuat kepada Clary. Sejak Bara memberitahu segalanya, Wildan jadi menaruh iba pada Clary. Bukan hanya sekadar iba. Tepatnya, menaruh hati pada Clary. Wildan melonggarkan genggamannya setelah mereka sampai di ujung jalan. Beberapa pasang muda mudi memandang kagum ke arah mereka. Bahkan ada yang berbisik. Barangkali mereka mengira bahwa Wildan dan Clary merupakan sepasang kekasih. “Cla, Bara udah pulang?” “Belum. Dia lagi pulang ke rumah orang tuanya.” “Kamu nggak ikut?” “Nggak. Saya masih banyak yang perlu diurus.” “Hmmm…. Kamu nggak perlu bantuan saya?” “Sementara semuanya bisa saya selesaikan sendiri.” “Saya kasian sama kamu, Cla.” Wildan menghentikan langkahnya. Ia menatap lekat pada wajah Clary. Memandang kedua bola mata wanita yang ada di hadapannya. Sangat ingin sekali Wildan memberitahu Clary. Tapi, ia teringat pada janjinya bersama Bara. “Pak…. Bapak kenapa?” Clary melambai-lambaikan tangannya di wajah Wildan. “Am… nggak. Kamu terlihat cantik pagi ini.” “Akh, biasa aja, Pak.” “Benar.” Wildan berlari-lari kecil meninggalkan Clary. “Pak, tunggu!” Langkah Wildan semakin cepat. Ia sengaja meninggalkan Clary. Sesekali, Wildan berjalan mundur. Ia melambai-lambai kecil agar Clary segera mengejarnya. Clary yang tak mau kalah mempercepat langkah menyusul Wildan. Keduanya menarik napas setelah berlairian saling mengejar. Clary mengelap peluh-nya dengan handuk kecil yang ia bawa. Begitu pula dengan Wildan. Keduanya tampak puas setelah berhasil membugarkan tubuh mereka pagi itu. Setelah melepas penat sejenak, mereka mencari kantin untuk membeli minuman. Maklum, terlalu banyak mengeluarkan peluh membuat keduanya hampir dehidrasi. “Cla, ada yang mau saya tanya sama kamu.” “Bapak tanya aja. Nggak usah basa-basi begitu.” Clary meneguk air mineral dalam botolnya. “Kamu serius mau menikah sama Bara?” Uhuk…. Clary hampir tersedak. Wildan menepuk pelan pundak Clary. Seketika menjadi hening. “Apa maksud Bapak nanya begitu?” Wajah Clary sedikit memerah. Belum pernah ada seorang pun yang bertanya padanya soal kesiapan hatinya untuk menikah. “Saya hanya ingin meyakinkan hatimu, Cla.” “Bapak nggak perlu mengetahui keyakinan hati saya. Lagi pula pernikahan ini kami yang jalani.” “Syukurlah jika kamu sudah siap. Hanya saja, sebelum terlambat, sebaiknya kamu menilik lebih jauh tentang kesiapan hati Bara.” “Bara juga udah siap, kok.” “Kamu yakin?” “Saya jadi aneh. Kok Bapak jadi kepo gini sih?” “Saya nggak kepo, Cla. Saya yang seharusnya merasa aneh. Harusnya semua persiapan pernikahan itu kalian lakukan bersama.” Clary terdiam. Ia kembali meneguk sisa air mineral-nya dalam botol, lalu meletakkan kembali botol itu di sampingnya. “Kurang ya?” Wildan menyodorkan botol air minumnya pada Clary, gadis itu menolak dengan halus. “Saya juga merasa aneh. Tapi saya percaya penuh dengan Bara.” “Kamu wanita jujur, Cla. Andai saja kamu bisa ketemu laki-laki baik. Betapa beruntungnya laki-laki itu.” “Jadi, maksud Bapak, Bara itu bukan orang baik?” Wildan mengangkat kedua bahunya. Tanda bahwa ia kurang mempercayai Bara. Meski pun ia baru pertama kali bertemu dengan pria itu, Wildan yakin bahwa Bara bukan orang yang tepat untuk Clary. “Oh ya?! Waktu kita di cafe, kalian ngomongin apa?” “Cuma bahas soal bisnis.” “Bapak serius? Kalian nggak ada bicara tentang saya?” Wildan menarik napas. Clary tak mungkin mempercayai apa pun yang ia sampaikan. Lagi pula ia tak ingin merusak hati Clary. “Pak….” Clary menepuk pelan pundak Wildan. Ia tahu ada sesuatu yang sedang laki-laki itu simpan dalam hatinya. Sebuah pesan yang berat untuk disampaikan. “Saya ingin menyampaikan sesuatu sama kamu, Cla.” “Kabar baik? Apa kabar buruk?” “Dua-duanya.” Clary terdiam. Ia menyiapkan hati untuk mendengar apa pun yang akan di sampaikan oleh Wildan. “Kabar baiknya, beberapa hari lagi, saya akan kembali ke luar negeri. Kamu pasti senang kan?” “Yes. Tentu saja. Nggak akan ada bos cerewet lagi di kantor.” Clary bertingkah kegirangan. Hahaha, Wildan terkekeh. Ia senang bisa membuat Clary tersenyum lega. “Kabar buruknya…..” Wildan menghentikan ucapannya, “berat.” Wildan menatap wajah Clary. Ia harus yakin pada kesiapan hatigadis itu. Tapi, mau tidak mau, ia harus mengutarakan semuanya. Ia tak ingin Clary mengetahui semua hal tentang Bara setelah kepergiannya nanti. Berat, karena akan membuat Clary kecewa seorang diri. “Semua ini tentang Bara.” “Apa yang Bapak ketahui tentang Bara?” Clary menjadi penasaran. “Bara bukan orang yang tepat untukmu.” “Dari mana Bapak tahu?” Clary menatap Wildan. Seolah tak akan mempercayai apa pun yang dikatakan laki-laki itu. Bahkan ia sebenarnya tak ingin mendengarkan apa pun dari Wildan. “Saat di café, Bara sudah menceritakan semuanya.” “Tentang apa?” “Tentang kesetiaan seorang laki-laki.” “Jadi?! Bapak menuduh Bara selingkuh?” “Ya, kurang lebih begitu.” “Tidak! Tidak mungkin.” Clary berdiri tegap di hadapan Bara. Ia memandang tajam pada laki-laki di hadapannya. Clary tak menyangka, Wildan akan mengutarakan hal yang menyakitkan hatinya. “Tapi, Bara udah cerita, Cla.” “Terserah.” Clary berlalu meninggalkan Wildan. Apa saya bilang. Pasti saya yang salah. Wildan menyesali ucapannya. Wildan segera bangkit lalu menyusul langkah Clary. Wanita itu berlalu begitu cepat. Ia sama sekali tak menggubris panggilan Wildan. Dengan susah payah Wildan mampu mengejar Clary. Ia berusaha meminta maaf pada wanita itu. Melihat wajah Wildan yang tampak menyesal, hati Clary luluh. Apa lagi jika ia mengingat bahwa, Wildan bukan hanya sekadar teman, melainkan bos besar di perusahaan tempatnya bekerja. Tidak seharusnya ia memiliki sikap kekanak-kanakan di hadapan Wildan. “Kamu masih marah sama saya, Cla?” Clary masih terdiam. Marah juga seperti tiada guna. Apa yang disampaikan Wildan belum tentu benar. Ia masih percaya penuh pada Bara. Lagi pula, Clary mengenal Bara sudah cukup lama. Ia tak mungkin mempercayai Wildan begitu saja. Meski berulang kali Clary menyayangkan sikap Bara, ia tetap mempercayai laki-laki itu. Bahkan ia tak ingin mendengar sedikit pun kesalahan dari Bara. Hatinya begitu tulus untuk mencintai Bara. Ia begitu percaya, Bara adalah pilihan yang tepat untuk mendampingi kehidupannya. Sementara Wildan, saat hatinya mengetahui kecurangan Bara, ia menaruh prihatin pada Clary. Ia sempat bimbang dengan keputusannya memberitahu Clary. Tapi ia juga tak ingin jika Clary menaruh harapan terlalu besar pada Bara. Bagaimana pun juga, hati dan perasaan seorang wanita rentan rapuh. “Cla, saya minta maaf.” Ketika di lobi apartemen, Wildan menggenggam tangan Clary. Ia menatap lekat kedua bola mata wanita itu, tampak begitu rapuh. Ya, hanya Wildan yang mengetahuinya. “Bapak tidak perlu meminta maaf kepada saya.” “Semua itu demi kebaikan kamu, Cla.” “Seharusnya, Bapak tidak perlu memberitahu apa pun kepada saya.” “Oke, fine. Jika kamu percaya penuh pada Bara. Setidaknya, saya telah memberitahumu lebih awal. Mungkin, saya akan kembali ke Skotlandia lebih cepat.” “Bukannya pekan depan?” “Lebih awal, Cla. Saya ucapkan selamat untuk pernikahan kalian nanti. Mungkin saya tidak dapat hadir.” “Bapak serius? Setahu saya Bapak ingin mempelajari pernikahan dengan budaya Indonesia.” Wildan hanya mengangguk. Sebenarnya, dia bisa saja tinggal lebih lama di Indonesia. Itu pun jika Clary percaya pada ucapannya. Namun, melihat sikap Clary pagi itu, Wildan tak ingin meneruskan ucapannya. “Pak, saya minta maaf jika sikap saya kurang berkenan di mata Bapak.” “Kamu orang baik, Cla. Saya percaya itu. Tidak ada satu pun sikap kamu yang mengecewakan.” “Terima kasih. Saya boleh minta satu hal?” “Tentang resign?” Wildan menebak dengan tepat permintaan Clary. Ia tahu, wanita itu pasti sangat menginginkan surat resign-nya di ACC. “Saya boleh minta kamu untuk bertahan?” “Eh, nggak bisa gitu dong, Pak. Saya udah mengajukan resign sejak tiga bulan yang lalu loh. Udah waktunya saya bebas dari tumpukan tugas di kantor. Lagian saya udah capek.” Wildan menahan tawa ketika melihat wajah ngambek Clary. Gadis berkulit putih itu nampak lucu ketika memonyongkan ujung bibirnya. “Yuk, ikut saya ke mobil!” Wildan menarik tangan Clary, memaksa gadis itu mengikuti langkahnya. “Mau kemana kita?” “Mau resign kan?” “Iya.” Dengan sigap, Wildan membuka pintu mobil, lalu mendorong sedikit tubuh Clary ke dalam. Clary yang sama sekali tidak mengetahui maksud Wildan hanya bisa nurut. Ia yakin, Wildan membawanya dengan selamat. Wildan membelokkan mobilnya, lalu keluar dari parkiran. Ia menyetir dengan santai. Sesekali ia tersenyum kecil melirik wajah Clary yang masih penasaran akan dibawa kemana dirinya. “Nggak usah ngambek…. Kita cari sarapan dulu.” “Eh, kalau gitu anterin ke pasar sekalian ya. Saya mau belanja sayur. Ntar malam, Bara akan datang. Saya mau masak enak buat dia.” Tiba-tiba, rona wajah Clary berubah cerah. Ia semangat ketika mengingat kedatangan Bara nanti malam. Wildan yang tampak tak setuju dengan kehadiran Bara, terpaksa menurut saja pada permintaan Clary. Mereka melaju di jalan raya, menyusur rintik hujan yang turun membasahi aspal. Pagi itu, mereka sarapan bubur ayam di simpang lima. Clary makan dengan lahap. Wildan diam-diam memperhatikan cara makan gadis di hadapannya. Tak ada kesan romantis, karena mereka bukan sepasang kekasih. “Cla, ini surat resign kamu!” Wildan menyerahkan amplop berwarna biru, berisi surat pengajuan resign Clary yang ia serahkan beberapa waktu lalu. Gadis itu menerimanya dengan senang hati. Bahkan dengan tidak sengaja, Clary menggenggam pergelangan tangan Wildan. “Pak. Terima kasih banget ya….” “Sama-sama, Cla. Semoga kamu lebih fokus untuk hidupmu ke depan.” Clary tersenyum kecil. Merasa puas dan bebas setelah penantiannya untuk segera resign. Ia berharap, jika nanti Bara kembali ke perusahaannya, ia dapat ikut serta. Karena mulai hari Senin, ia tidak lagi menjadi karyawan di perusahaan Wildan. Berbanding terbalik dengan pikiran Wildan. Ia berharap, saat pertemuan Bara dan Clary nanti malam, Bara dapat berkata jujur pada tunangannya itu. Namun, ia menyerahkan sepenuhnya pada Clary. Wildan juga berharap, Clary dapat menguatkan hatinya saat menerima pengakuan dari Bara. Mungkinkah semuanya akan berjalan baik-baik saja? Atau adakah jalan terbaik untuk keduanya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD