Sore yang cerah di sekitaran pekarangan rumah orang tua Vinson. Sepanjang hari tadi turun hujan, meski hanya rintik-rintik kecil, tapi cukup membasahi bumi. Senja malu-malu menutup bumi. Sebentar lagi malam akan tiba. Bi Jum di bantu oleh Bi Uni menyiapkan makan malam.
Ketika Clary tengah menimang Noel, ia mendengar Nyonya Silvi tengah bicara pada seseorang. Tampak akrab sekali. Clary diam-diam menyondongkan telinganya di sana. Sayup-sayup suara Nyonya Silvi menyebut nama dirinya. Seperti ada sesuatu yang tidak beres.
“Iya namanya Clary,” ucap Nyonya Silvi perlahan.
“Dia sudah dua hari di sini,” lanjutnya lagi.
“Nanti biar kutahan dulu dia untuk tinggal di sini. Sampai semua rencana kita tercapai,”
Rencana? Batin Clary dalam hati.
Apa sebenarnya yang direncanakan oleh wanita itu? bukankah sejak awal kedatangannya kemari, Nyonya Silvi menyambut hangat? Tapi mengapa saat bicara ditelepon tadi, ia seperti sedang membahas sesuatu dengan serius?
Karena kerewelan Noel, Clary beranjak perlahan. Membawa Noel kembali ke kamar sembari otaknya terus memikirkan apakah Nyonya Silvi benaran menyusun sebuah rencana untuk dirinya. Ia tak mungkin menanyakan hal ini pada Vinson. lagi pula, laki-laki itu tentu lebih mempercayai ibunya.
Mungkinkah Nyonya Silvi memiliki sebuah rencana besar untuk menjatuhkannya? Kalau dilihat dari gelagat wanita itu, ia sama sekali tidak menunjukkan sisi negatif. Bahkan Clary bisa merasakan kasih sayang yang telah ia berikan. Tidak mungkin, Nyonya Silvi berencana jahat padanya, Clary terus membatin.
“Non Clary. udah ditunggu di meja makan,” tiba-tiba suara Bi Uni membuyarkan lamunan Clary.
“Oh… Iya, Bi.”
“Biar Noel, Bibi yang jaga. Non Clarey makan aja dulu.”
Bi Uni segera mengambil tugasnya. Meski masih diselimuti rasa penasaran, Clary mencoba menepis semua keraguan yang bermunculan dalam pikirannya. Ia menjadi sedikit kikuk ketika berhadapan dengan Nyonya Silvi di meja makan. Perasaan Clary tiba-tiba berubah pada wanita itu.
“Cla…. Kamu kok diam begitu?” Nyonya Silvi menatap Clary.
“Nggak, Ma. Clary Cuma lelah. Tapi nggak apa kok. Besok juga udah balik ke kota.” jawab Clary.
“Loh, besok kalian udah pulang?”
“Iya dong, Ma. Kan Senin Vinson udah kerja.” Vinson menjawab sembari menambah kuah ke dalam piring.
“Clary jangan ikut pulang dong. Biar sama Mama aja di sini.”
“Aam…. Nggak, Ma. Ntar mlah ngerepotin Mama kalau Cla lama-lama di sini. Biar Cla pulang ke kota aja. Lagian minggu depan ada jadwal konsul.” Clary berusaha menjelaskan dengan lembut.
“Yah, Mama jadi sedih dong. Mama kesepian di sini. Lagian Noel juga ikut pulang ke sana.”
“Kalau Vinson sih tergantung sama Clary, Ma. Kalau dia mau tinggal di sini ya nggak apa-apa. Nanti Vinson bisa jemput lagi. Tapi, kalau dia maunya kembali ke kota juga lebih baik.”
“Gimana, Cla? Kamu mau temani Mama di sini?” Nyonya Silvi menghabiskan suapan terakhir makanan di piringnya.
Wajah Clary sedikit menunduk. Memikirkan sebuah keputusan yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu harus bagaimana. Kalau dilihat-lihat, Nyonya Silvi memang tampak berniat baik. Tetapi, teringat akan pembicaraan wanita itu tadi sore, Clary menjadi sedikit ragu.
Jika harus tinggal bersama Nyonya Silvi, tentu saja Clary tak ingin sendiri. Harus ada yang menemaninya di sini. Ia tak mungkin menahan Vinson. Sebab, laki-laki itu harus bekerja. Clary berusaha memutar otak agar bisa mencari jalan keluar untuk menghindari permintaan Nyonya Silvi.
“Am, gimana kalau gue sama Noel nemani lo di sini? Ntar Bi Uni biar ikut Vinson kembali ke kota. Soalnya Bi Uni kan harus urus rumah di sana juga.” Nur Fatma malah sepakat dengan Nyonya Silvi.
“Nah, itu benar. Biar Fatma bisa bantu rencana Mama juga.”
Rencana? Lagi-lagi batin Clary menjerit. Apa mungkin Nur Fatma sepakat dengan Nyonya Silvi? Wajah Clary melemah. Matanya menatap kesal pada Nur Fatma yang tidak memahami situasi. Tapi, sebenarnya, Clary juga belum memberitahu Nur Fatma soal pembicaraan Nyonya Silvi tadi sore.
“Gimana, Cla?” tanya Vinson.
Clary masih tak bergeming. Ia terus mengunyah perlahan makanan yang ada dalam mulutnya. Melihat keraguan dari wajah Clary, Vinson mengulang pertanyaannya. Khawatir jika wanita itu memang tak berkeinginan untuk tinggal lebih lama di sini.
“Kamu kasi izin?” Clary menatap Vinson.
Laki-laki berkacamata itu hanya mengangguk. Meski berat untuknya jika harus meninggalkan Clary dan Noel di kampung. Tapi mengingat ini adalah permintaan ibunya, Vinson memberi izin. Lagi pula tadi siang papanya menelpon dan bilang kalau dua hari lagi baru pulang ke rumah. Jadi, masih ada kesempatan untuk papanya melihat Clary dan Noel.
“Nah, gitu dong. Kan Mama jadi senang,” raut wajah Nyonya Silvi berubah riang.
“Ya udah, kalau gitu Vinson titip Noel dan Clary ya, Ma.”
“Udah, kamu tenang aja, Vin. Fokus sama kerjaan. Noel dan Clary aman kok di sini.”
“Fat, lo juga ya. Bantu Mama dan Clary buat jaga Noel!”
“Iya, ya. Lo tenang aja. Kita lebih senang kok di sini.” jawab Nur Fatma semangat.
Kita? Lo aja kali, batin Clary menjerit.
Setelah menikmati makan malam, Nyonya Silvi membawa Clary ke ruang keluarga. Katanya, ia akan menunjukkan sesuatu kepada Clary. Mereka berjalan ke lantai dua. Rumah orang tua Vinson memang besar dan bertingkat dua. Itu sebabnya, Nyonya Silvi selalu merasa kesepian dengan rumah yang selalu kosong.
Dalam ruangan yang cukup luas dan rapi terasa adem dengan hembusan udara AC yang melekat di langit-langit ruangan. Nyonya Silvi menyibak gorden yang sudah terbentang rapi. Seketika, Clary menatap alam pedesaan yang tampak indah di balik kaca. Dari jauh, Clary melihat kerlap kerlip cahaya lampu di rumah warga.
“Beginilah suasana di desa, Cla. Mama dan Papa sangat menyukai alam di sini.” Nyonya Silvi mengecilkan temperatur AC.
Clary mengusap pergelangannya. Terasa sejuk. Apalagi AC dalam ruangan ini full dinyalakan. Lagi pula cuaca diluar juga masih adem ayem dengan rintik hujan yang belum berhenti sejak siang hari.
“Mama mau tunjukkan apa?” tanya Clary.
“Oh, nggak. Hanya mau ajak kamu melihat ruangan ini aja. di sini ruangan keluarga. Tempat kami bersenda gurau dan membicarakan hal yang penting. Semoga nanti kamu betah di sini.”
“Hmmm…. Iya, Ma.” Clary merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk.
“Kalau kamu jadi tinggal lebih lama, Mama mau ajak kamu pergi ke tukang urut, besok. Biar badan kamu segar. Kemarin kan kita nggak jadi pergi.”
“Dimana, Ma?”
“Nggak jauh, kok di kampung sebelah.”
Tiba-tiba, ingatan Clary berpusat pada rencana Nyonya Silvi yang ia dengarkan tadi sore. Apa mungkin dengan pergi ke tukang urut rencana itu akan dimulai? Akh, bisa jadi Clary akan mengalami permasalahan dengan kandungannya. Bagaimana jika tukang urut itu tidak bisa memberikan service terbaik? Ini tentu akan menjadi problem besar bagi Clary.
“Am, Ma…. Apa nggak dipertimbangkan lagi untuk pergi ke tukang urut?”
“Kenapa, Cla? Kamu ragu?”
“Nggak, Ma. Tapi kan Clary nggak pernah urut.”
“Justru itu. Kamu harus nurutin Mama.”
Nurutin? Sebuah kata yang menurut Clary terasa tidak enak untuk didengar. Baru saja ia berencana menambah hari tinggal di sini. Tapi Nyonya Silvi malah melontarkan kata-kata yang seakan memaksa kehendaknya. Ucapannya tentu menambah keraguan di hati Clary.
“Tapi, Ma. Clary merasa asing jika harus diurut,” Clary memberanikan diri mengatakan penolakannya pada Nyonya Silvi.
“Mama waktu hami Vinson juga rutin ke tukang urut. Pengalaman turun temurun agar kesehatan bayi dalam kandungan kamu terjaga.”
“Tapi kan bisa USG, Ma buat cek keadaan jabang bayinya.”
“Ya, itu kan saran dokter. Papanya Vinson juga dokter dulunya. Tapi soal urut dia nggak pernah larang Mama.” Nyonya Silvi semakin ngotot.
Keduanya berdiskusi cukuo panjang di ruang keluarga. Membuat Vinson menyusul ke situ. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.35 WIB. Sudah hampir dua jam Clary dan Nyonya Silvi duduk berdua di sana. Meski menimbulkan perdebatan, tetapi Clary banyak belajar soal kehidupan dari Nyonya Silvi.
“Vinson dulu juga nakal kok.” Nyonya Silvi terkekeh saat menyambung pembicaraan mereka.
“Oh, ya?” Clary menjadi penasaran dengan kenakalan Vinson.
“Iya, dia pernah diam-diam kabur dari rumah hanya karena Mama nggak belikan robot-robotan.”
“Ah, benar.” Vinson mengakui hal itu.
“Waktu itu kan aku ikut Mama ke pasar, terus nunjukin mainan robot-robotan dan minta beli. Tapi Mama nggak belikan. Dan akhirnya aku ngambek dan kabur dari rumah.”
Hahahhaa…. Gelak tawa ketiganya menggema di ruangan.
“Ya udah. Kita istirahat, Yuk!” ajak Nyonya Silvi.
“Mama duluan aja. Ntar Vinson dan Clary menyusul.”
“Ya udah. Jangan lupa matikan lampu ya, Vin!” seru Nyonya Claru sembari melangkah ke ambang pintu.
Perlahan keraguan Clary sirna. Ia jadi berpikir, tidak ada salahnya jika ia menuruti keinginan Nyonya Silvi. Lagi pula wanita itu tentu beritikad baik. Saat hendak berbalik ke pintu keluar, Clary menatap sebuah foto keluarga yang tergeletak di atas meja kecil yang ada di sudut ruangan. Foto yang tidak asing dimatanya.
“Vin, boleh aku lihat?” tanya Clary saat keduanya masih berdiri dalam ruangan
Sementara itu, Ibu Vinson sudah beranjak lebih dahulu. Vinson yang ditemani Clary masih tampak asik mebereskan beberapa barang yang berantakan di sana. maklum, Vinson adalah tipe orang pembersih. Ia paling tidak mau melihat jika barang-barang tampak berantakan.
“Foto itu?” tanya Vinson.
“Iya, foto itu.”
“Hmmm…. Lihat aja, Sayang.”
Karena sibuk membereskan barang-barang yang berantakan, Vinson tak memperhatikan Clary. ia pikir Clary menatap foto yang ada di dalam album, nyatanya mata Clary berkaca-kaca setelah menatap foto yang ada di tangannya.
Wanita hamil itu mengusap wajah yang ada dalam foto. Air matany menetes dari pelupuk matanya yang tampak sayu. Ia merindukan dua wajah yang ada di situ. Siapa lagi kalau bukan kedua orang tuanya. Foto itu mengingatkan Clary akan momen kepergian kedua orangtuanya di masa lampau.
“Cla?!” Vinson menatap wajah Clary yang tampak sembab.
“Kebapa foto ini ada di sini?” tanya Clary.
“Foto apa?” Vinson berusaha melirik foto yang ada ditangan Clary.
“Ini!” Clary menyerahkan foto tanpa bingkai itu pada Vinson.
“Oh, ini? Papa yang punya, Cla. Gue juga nggak tahu kenapa ada di sini.” Vinson menunjukkan ketidaktahuannya.
“Lo tahu itu siapa?”
“Nggak.” Vinson menggeleng.
“Itu Bokap sama Nyokap gue.”
“Lo serius, Cla?”
Clary mengangguk. Ia memang belum cerita banyak ke Vinson soal keluarganya. Apalagi tentang peristiwa yang paling menyakitkan yang pernah Clary alami. Bagaimana Joni Gempal menghabisi nyawa kedua orangtuanya kala itu.
Melihat wajah Vinson yang kebingungan, Clary tentu tidak bisa memaksa laki-laki itu untuk menjelaskan kehadiran foto kedua orangtuanya dalam ruang privacy keluarganya. Vinson meletakkan kembali foto itu ke atas meja. Rasa penasaran Clary menjadi tumbuh saat itu, bagaimana pun caranya, Clary harus mengungkapkan misteri itu. sebab, tidak mungkin keluarga Vinson menyimpan foto tersebut jika tidak memiliki satu rencana. Entah itu rencana baik atau rencana buruk, Clary harus bisa mengungkapkannya.