Cerita Di Ujung Jalan

1775 Words
Pagi-pagi sekali, Clary mengajak Nur Fatma berjalan di halaman rumah. Setelah puas menikmati bunga-bunga yang bermekaran di pekarangan, keduanya menuju ke jalan. Fatma menemani Clary berjalan kaki. Karena jalanan sepi, keduanya berjalan santai. Sesekali Clary menarik napas agar puas menghirup udara segar. “Segaaarrr banget….” Seru Clary sembari merentangkan kedua tangannya. “Gue sebenarnya paling suka kalau tinggal di desa seperti ini,” ucap Fatma tak mau kalah. “Gue juga.” Clary berdecak kagum. Dari jauh, keduanya melihat gunung yang menjulang tinggi. Puncak gunung tampak terselimuti awan yang perlahan naik ke langit. Hijau dedaunan yang masih tertees embun menambah semaraknya pagi itu. sudah belasan tahun lamanya Clary tidak menikmati suasana ini. Suasana desa yang selalu menumbuhkan kerinduan. Sementara itu, di ujung jalan, tampak sepasang petani yang hendak berangkat ke sawah. Mereka mengenakan caping dengan jinjingan perlengkapan dan perbekalan. Fatma yang mengenal kedua petani itu langsung menyapa. “Pak De!” “Hoy!” pria tua yang sedang memikul cangkul itu menoleh. “Fatma?” “Iya, Pak De. Ini Fatma,” seru Fatma sembari bergegas menyampiri sepasang petani itu. “Walah, udah besar kamu, Nduk?” si ibu menimpali. “Iya, Mbok.” Clary mengulur tangannya. “Ini siapa?” Pak De menatap Clary. “Ini Clary, Pak De. Istrinya Vinson,” Fatma menjelaskan. “Walah, cantik sekali Nduk!” si Mbok memberi pujian. “Ngomong-ngomong kapan si Vinson nikah? Tak pernah ada kabar di desa ini.” timpal Pak De. Mendengar pertanyaan Pak De, Clary menjadi tidak nyaman. Kondisinya yang tengah hamil besar tentu memunculkan tanya. Hal seperti inilah yang sejak awal ia hindari. Meski pun keluarga Vinson menerimanya, belum tentu masyarakat di desa itu menerima. Beruntung Nur Fatma segera memberi penjelasan yang masuk akal. “Am, gini Pak De, Bu De…. Clary dan Vinson nikahnya di kota kok. Iya, di kota.” “Kapan?” tanya Bu De kembali. “Udah lama, Bu De. Bahkan sekarang Clary sudah mengandung anak ke dua.” Jelas Nur Fatma ngasal. Ucapan Nur Fatma tentu saja membuat Clary hampir naik pitam. Dicubitnya pelan pinggul bodyguard-nya itu. Namun, Nur Fatma hanya menyeringai. Ia sadar jika apa yang diucapkannya tentu tidak sesuai dengan fakta. Tapi, demi melindungi harga diri Clary, terpaksa ia lakukan. “Ooo gitu toh. Ya udah kami mau berangkat ke sawah dulu Nduk. Kalian silakan dilanjutkan jalan-jalannya. Udara pagi masih segar lo. Bagus untuk kesehatan ibu hamil,” jelas Bu De sembari pamit utuk melanjutkan perjalanan. “A… iya, Bu De. Silakan!” Clary, menarik tangan Nur Fatma, lantas sedikit menepis pergelangan wanita itu karena telah bicara ngawur tadi. Namun, Nur Fatma malah tertawa geli melihat wajah Clary. sebab, Clay sedikit menampilkan wajah kesalnya. “Lo ngapain ngomong kayak gitu tadi?” “Hehehe,” Fatma menyeringai, “emang kenapa?” “Ya jangan dong!” “Terus…. Gue mesti bilang lo selingkuhan Vinson?” “Ssstttt….” Clary menutup mulut Nur Fatma. “Ih, lo bawel banget sih. ikuti aja triknya Vinson napa? Tau kan maksudnya?” Clary terdiam. Ucapan Nur Fatma ada benarnya juga. Mereka tak mungkin mengungkapkan keadaan yang sebenarnya. Namun, teringat akan niat Vinson untuk menikahinya, Clary semakin sadar kalau ucapan Nur Fatma itu salah. “Fat, lo bilang tadi kami udah nikah di kota,” “Iya. Emang kenapa?” “Lo salah, Fat!” “Lah, jadi gue harus bilang apa? Belum nikah gitu atau….” Bukan gitu, Fat! Kan vinson jani mau nikahin gue. Itu artinya di desa ini nanti ada pernikahan.” Clary menyela dengan cepat kebingungan Nur Fatma. “Astaga!” Nur Fatma menepuk jidatnya, “gue benar-benar lupa, Cla.” “Lo buat malu gue aja sih.” “Iya, ya. Gue minta maaf, Cla.” Clary mendengus kesal. Apa mau dikata, Nur Fatma tentu tidak bisa lagi menarik ucapannya. Meski pun sahabat sekaligus bodyguard-nya itu membuat kesal, Clary tak menampik jika usaha Nur Fatma melindungi dirinya patut diacungi jempol. Karena terlalu banyak ngobrol, keduanya tak menyadari jika berjalan terlampau jauh. Nur Fatma menghentikan langkah. Clary yang tak menyadari jika berjalan terlalu jauh terus bergerak sehingga membuat Nur Fatma menarik pergelangan wanita hamil itu agar ikut menghentikan langkah. “Apaan sih lo?” “Kita jalan udah jauh banget, Cla.” “Ah, masa sih?!” Clary menoleh ke belakang. Benar saja, bumbung rumah Vinson sudah tak nampak. “Tuh kan. Yuk! kita balik.” Nur Fatma menarik pelan tangan Clary. “Iya, pelan-pelan dong. Lo jangan tarik-tarik. Ntar juga pasti sampai kok.” Clary mendengus kesal. “Oh iya, gue lupa kalau lo lagi hamil,” Nur Fatma menyeringai. “Huuu….” Clary memukul perlahan pundak Nur Fatma. Meski pun bergerak perlahan, akhirnya mereka berdua sampai di halaman rumah. Tampak Nyonya Silvi tengah menyiram tanaman, sementara Vinson sedang duduk di teras sambil menimang Noel dalam pangkuannya. “Pagi, Ma.” Clary menyapa Nyonya Silvi. Wanita paruh baya yang tengah menarik selang air ke sudut taman segera menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh kepada dua wanita yang sudah dianggapnya anak sendiri. Nyonya Silvi mengelap telapak tangannya yang basah pada pakaian yang dikenakannya. “Kalian berdua dari mana?” sapanya ramah. “Jalan-jalan, Ma.” “Oh ya? Kok nggak ngajak mama?” “Tadi Mama belum bangun.” Clary menjelaskan dengan senyuman tak enak, sebab ia memang tak merencanakan kepergiannya pagi itu. “Iya, Tante. Tadi kami hanya berdiri di taman ini aja. nggak tahunya, Clary ajak ke jalan.” “Oh gitu! Ya udah nggak apa-apa. Jalan pagi itu sehat buat ibu hamil. Besok Mama ikut ya. Kita jalan ke arah sana.” Nyonya Silvi menunjuk arah yang berlawanan dengan perjalanan keduanya tadi. “Benaran, Ma?” “Iya, benar. Di sana ada hamparan sawah yang luas. Nanti bisa buat mata kamu jadi fresh melihat dedaunan yang hijau,” jelas Nyonya Silvi kemudian. “Ya udah, Mama lanjutin aja siram tanamannya, aku mau main sama Noel.” “Noelnya diajak berjemur ntar, Cla!” teriak Nyonya Silvi sembari melanjutkan pekerjaannya. “Iya, Ma.” Clary perlahan naik ke teras rumah. Menjumpai Vinson dan Noel yang tampak tersenyum riang menanti kehadirannya. Apa lagi Noel. Matanya yang bulat dan sedikit biru memandang Clary dengan kegirangan. Kakinya menyepak perlahan seakan minta digendong oleh wanita di hadapannya. “Jalan kemana, Sayang?” “Ke ujung jalan sana.” Clary menunjuk arah perjalanan mereka dengan gerakan bibir. “Ya udah, kamu mau teh hangat?” “Boleh. Sini Noel!” Clary meraih bayi mungil itu dari pangkuan Vinson. “Ya udah, Lo duduk ya, kan capek tadi jalan-jalannya.” Tanpa memperdulikan ucapan Vinson, Clary menimang Visnon. Harum bau bedak bayi masih melekat di sudut telinga Noel. Clary sangat menyukai aroma itu. Hingga berkali-kali ia mengecup telinga Noel. “Sayang sama Daddy ya tadi? Maafin Bunda ya. Tadi Bunda ninggalin Noel. Bunda ajak dedek dalam perut jalan-jalan. Nel nggak nakal kan tadi?” Clary mengajak Noel bicara. Tentu saja, Noel menjawab dengan bahasa bayinya yang sedikit sulit untuk dipahami. Kelucuan Noel menjawab omongan dirinya, membuat Clary terkekeh sendiri. Ia sangat mengagumi ciptaan Tuhan lewat bayi mungil bernama Noel. Berkali-kali, Clary menepuk lembut paha Noel karena merasa gemes. “Minum dulu, Cla!” Vinson hadir dengan segelas teh hangat ditangannya. “Iya. Letakkan aja dulu. Ntar gue minum.” “Noel tampak senang dengan lo.” “Iya dong. Kan gue bundanya,” jelas Clary bangga. “Makasih ya, Sayang. Kamu bisa lengkapi hidup kami jadi sempurna,” Vinson mengelus pelan kepala Clary. “Sini sama Daddy, Sayang. Kan bundanya lagi capek habis ajak dedek bayi jalan-jalan tadi.” Vinson meraih Noel dari pangkuan Clary. Karena memang merasa capek, Clary tak menahan gerakan Vinson. Tangan kanannya menyambar gelas teh hangat yang tersimpan di atas meja. Seporsi ubi ungu rebus terhidang di samping gelas teh. Clary sangat menyukai makanan itu, sudah lama ia tak menikmati. Baru kali ini, setelah belasan tahun lamanya, ia kembali menikmati makanan yang menurutnya sangat enak. “Hallo, cucu Oma. Udah bangun, Sayang?” Nyonya Silvi mengecup pipi Noel. Setelah membenah diri, wanita itu duduk bersama Clary. Vinson tampak asik menggendong Noel di taman sambil menikmati paparan sinar sang surya. Melihat kedekatan putranya dan bayi mungil itu, Nyonya Silvi memberi pujian. “Cocok sekali ya mereka? Senangnya Mama udah punya cucu. Nanti ada dua cucu kesayangan Oma.” ucap Nyonya Silvi gembira. “Iya, Ma. Vinson ternyata penyayang banget sama anak-anak. Aku juga salut. Dia bisa mengadopsi Noel seorang diri.” “Dia nggak bilang-bilang Mama loh kalau ngadopsi Noel. Tahunya pas Noel udah di bawa ke rumah,” jelas Nyonya Silvi. “Oh ya? Tapi Mama sama Papa setuju kan?” tanya Clary penasaran. “Setuju dong. Kami sebagai orang tua nggak pernah mengekang Vinson. Apa pun yang dia lakukan pasti itu hal terbaik. Termasuk memilih kamu, Cla.” “Ah, Mama. Aku jadi malu,” Clary tersipu. “Benaran, Sayang. Mama senang dapat menantu macam kamu ini. Enak diajak bicara. Apa lagi selama ini kami hanya punya anak tunggal. Keadaan rumah ini menjadi sepi ketika Vinson sudah besar. Makanya dulu Mama sering ajak si Fatma ke sini.” “Fatma beruntung bisa kenal Mama lebih awal.” “Fatma juga anak yang baik. Dulu dia tinggal di desa sebelah. Ketika kami masih tinggal di sana.” “Jadi? Ini bukan kampung Fatma?” “Bukan, Cla. Dia ada di desa sebelah. Papanya Vinson dulu tugas di sana.” “Rumah yang di kota siapa yang nempati, Ma?” “Udah dijual. Kami beli rumah di blog G.” “Blog G?” “Iya, kamu pernah ke sana?” Clary teringat daerah itu saat dirinya untuk pertama kali menjumpai Vinson. Rumah besar dan sedikit tidak terawat. Tapi, kondisi di dalamnya begitu mewah. “Lah, kok ngelamun? Ayo diminum tehnya!” “Iya, Ma.” “Oh ya, kamu masih lama kan di sini?” Nyonya Silvi meletakkan  gelas yang ada di tangannya. Tentu saja pertanyaan Nyonya Silvi membuat Clary kebingungan. Ia tak mungkin tinggal lebih lama di sini. Lagi pula, mereka berjanji hanya tiga hari saja di sini. belum lagi kalau wildan mencarinya. Ia tak mungkin terus membohongi laki-laki itu. “Kamu kan lagi hamil, Cla.” Sebaiknya nanti tunggu mau melahirkan saja kamu kembali ke kota.” “Am…. Nggak bisa, Ma. Seminggu lagi jadwal aku konsul ke dokter.” “Kan ada Vinson,” gurau Nyonya Silvi. Clary menimbang lagi ucapan Nyonya Silvi. Wanita itu tampak senang dengan kehadiran mereka. Apa lagi rumah yang sebesar ini hanya dihuni olehnya dan pembantu. Sejak kemarin, papa Vinson tidak nampak. Kata mamanya, papa Vinson sedang ada tugas ke dalam kota. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD