3

1303 Words
Max hanya terganggu sedikit saat seorang wanita cantik masuk ke dalam ruang kerjanya. Wanita yang meski pun memakai baju seperti laki-laki tapi masih terlihat begitu anggun dan memesona. "Apa Mr. Lykalos yang tampan ini tidak bosan terus bekerja?" ucapnya sambil merangkul leher Max. "Alesia, katakan apa yang kamu inginkan. Kakak tahu kamu pasti menginginkan sesuatu." Ya, wanita itu adalah adiknya tersayang. "Apakah aku harus selalu menginginkan sesuatu saat menemuimu, Kak?" "Tentu saja, mengingat kamu tidak pulang sudah satu tahun ini dan bahkan mungkin kamu sudah lupa jika kamu masih memiliki kakak di rumah ini." Alesia berjalan menuju jendela dan menatap Laut Aegea. "Kakak tahu bukan sebabnya kenapa aku tidak bisa tinggal di sini?" Max terdiam, dia tahu kesedihan adiknya saat tinggal di sini dan karena itulah dia tidak pernah meminta Alesia untuk pulang tapi Max tidak pernah melepaskan pengawasannya pada adiknya. Max mengutus pengawal kepercayaannya untuk mengawasi adiknya setiap saat. Damaris sangat kesal saat ia memintanya menjaga Alesia, mereka tidak pernah memiliki hubungan yang baik, dia tidak tahu sebabnya tapi hanya Damaris yang akan Max percayakan untuk menjaga Alesia. "Katakan? Ada apa jadinya hingga kamu pulang sekarang?" "Aku ingin Kakak menyuruh laki-laki itu berhenti mengikutiku," ucap Alesia menatap Max. "Kamu tahu Kakak tidak bisa sebab dengan adanya Damaris yang mengawasimu hingga aku mengizinkanmu tinggal di luar sana selama ini karena aku tahu kamu akan aman saat dia yang menjagamu." "Tapi aku tidak menyukainya, Kak. Dia tidak pernah mau menuruti perintahku dan dia mengatakan hanya perintah Kakak saja yang akan dia dengarkan," ujar Alesia merasa sangat marah. Max tertawa mendengarnya, "Maaf Alesia, aku tidak akan meminta Damaris berada di dekatmu lagi hanya jika kamu kembali tinggal di rumah ini lagi." "Baiklah." Sontak Max menatap adiknya. Apa aku salah dengar? "Aku bilang baiklah, Kak. Jadi minta dia menjauh dariku," ucap Alesia sambil menatap Damaris yang saat ini sedang berada di depan pintu menunggu Alesia. Max kemudian menganggukkan kepala kepada Damaris dan laki-laki itu langsung pergi dari sana. Alesia merasa belenggunya sudah terlepas saat ini dan dirinya menghembuskan napasnya dengan lega. Dia selama ini tidak tahu jika Max meminta seseorang mengawasinya dan dari banyaknya para pengawal yang dimilikinya, dia sungguh tidak mengerti kenapa Max harus meminta laki-laki itu. Dia baru tahu saat dia pergi ke kelab malam bersama teman-temannya, dirinya mabuk-mabukan di sana untuk menghilangkan kenangan akan seseorang yang begitu di cintainya dan sangat dekat dengannya. Saat itu dia bertekad untuk minum obat perangsang yang dia beli dari temannya, sebelum itu dia sudah memilih satu laki-laki yang akan menghilangkan keperawanannya karena dia baru tahu jika keperawanan seseorang bisa sangat berbahaya, jadi itulah sebabnya dia ingin menghilangkannya. Hanya saja dia tidak bisa melakukannya dengan sukarela jadi hanya obat perangsang saja yang bisa dia pikirkan untuk membantunya agar berani. Tapi saat dia baru mau meminum obat itu, Damaris dengan sangat menjengkelkan membawanya pergi dari sana dengan menggendongnya di bahunya tanpa memedulikan Alesia yang berteriak-teriak agar dia melepaskannya. Mungkin sekaranglah saatnya aku harus kembali ke rumah ini. Aku tidak bisa membiarkan Kakak terus sendirian di sini karena bukan hanya aku saja yang merasa kehilangan, tapi Kakak juga pasti merasakannya dan dengan egoisnya selama ini aku tidak memedulikan dirinya dan hanya memikirkan diriku sendiri. "Jadi? Apakah kamu serius ingin kembali ke rumah ini?" "Ya, Kak. Aku harus menghadapi semuanya, jika aku terus menghindarinya maka aku tidak akan pernah bisa menerimanya." Max merangkul Alesia ke dalam pelukannya. "Maafkan, Kakak. Kakak sudah gagal melindungi kalian." "Ini bukan hanya salah, Kakak. Ini juga salahku yang tidak bisa menjaga kembaranku sendiri hingga bahkan masalahnya sudah begitu berat dan aku baru mengetahuinya setelah semuanya terlambat," ujar Alesia merasa sangat sedih. Saudara kembarnya-Alessa-bunuh diri setahun yang lalu dan hanya menitipkan sebuah diary untuk mereka. Diary yang berisi kisah cintanya dengan seorang laki-laki yang hanya menginginkan keperawanannya dan kemudian mencampakkan Alessa saat mengetahui Alessa hamil dan karena takut mempermalukan keluarganya, Alessa memilih jalan itu, jalan kematian untuknya dan bayinya yang tidak berdosa. Itulah sebabnya Alesia ingin menghilangkan keperawanannya karena dia baru tahu jika keperawanan bisa menyebabkan hal itu pada seseorang. Menyebabkan seorang laki-laki berengsek mengincarnya. "Baiklah, Kak, aku ingin menemui Addie, aku sudah sangat merindukannya." Addie-lah yang telah merawat dirinya dan Alessa sejak mereka lahir dan Addie merasakan kehilangan Alessa sebesar dirinya kehilangan kembarannya itu. "Addie!" seru Alesia saat menemukan wanita itu sedang berada di dapur. "Alesia!" balas Addie dan menangis terharu melihat anak asuhnya datang. "Kenapa kamu sudah lama tidak datang? Aku sangat merindukanmu." "Maafkan aku, aku akan menebusnya. Mulai hari ini, aku akan kembali ke rumah ini." "Benarkah?! Aku senang mendengarnya dan mungkin dengan kehadiranmu akan membuat kakakmu bisa tenang dan tidak mengamuk-ngamuk lagi setiap harinya." "Kak Max? Aku tadi baru menemuinya dan dia terlihat baik-baik saja." "Hanya padamu dan mungkin pada wanita itu tapi kami semua menjadi tempat pelampiasannya." "Wanita?" "Ya, namanya Emerald. Dia sangat cantik dan memiliki kulit sehalus porselen. Matanya berwarna hijau, sehijau batu permata yang seperti namanya dan kakakmu terobsesi untuk memilikinya hingga dia menculiknya dan menyekapnya di rumah ini. Entah apa yang Kakakmu itu pikirkan." "Aku sangat penasaran sekali, di mana wanita itu?" "Kakakmu menempatkannya di tempat favoritnya." "Ohhh..." Alesia mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Alesia merasa sepertinya wanita itu memang sangat spesial untuk Max hingga Max menempatkan wanita tersebut di kamar itu. "Bolehkah aku bertemu dengannya?" "Silakan saja tapi jangan sampai dia melarikan diri karena kakakmu akan membunuh kita jika sampai itu terjadi. Bahkan sekarang saja dia begitu ingin membunuh kita hanya karena selalu ditolak oleh wanita itu." Alesia tersenyum, dirinya semakin penasaran siapa wanita itu. Alesia bergegas menuju ke kamar Goa. Itulah sebutan Max untuk ruang itu. Saat Alesia masuk seorang wanita menatapnya dan benar yang di katakan Addie, wanita tersebut sangat cantik sekali. Emerald hanya menatap saja saat seorang gadis masuk ke dalam kamarnya. Sesaat tadi dia mengira jika itu Max dan bahkan mengharapkannya. Emerald kemudian ikut tersenyum saat di lihatnya wanita itu tersenyum padanya. "Halo, perkenalkan namaku Alesia Lykalos." "Aku Emerald Leandre," balas Emerald sambil menerima uluran tangan gadis itu. Apakah dia istri Max? Tapi tidak mungkin, jika dia istri Max mungkin saat ini aku sudah dibunuhnya, jadi dia pasti adik Max karena aku bisa melihat kemiripan di antara mereka. Mata birunya sangat mirip dengan Max. Jika Max sangat tampan, gadis ini terlihat sangat cantik. Kecuali tatapan kesedihan di matanya, yang mungkin sedikit memudarkan kecantikannya. "Maafkan kakakku karena sudah menculikmu." "Ya, itu bukan salahmu. Yang menculikku saja tidak merasa bersalah jadi aku tidak akan menyalahkanmu," ucap Emerald sambil tersenyum. "Apa kamu tahu kenapa kakakku menculikmu?" "Aku tidak tahu, dia hanya mengatakan jika dia jatuh cinta padaku pada pandangan pertama dan memutuskan aku harus menjadi miliknya." Emerald kemudian memalingkan wajahnya menatap pintu kaca yang memperlihatkan Laut Aegea. "Tapi aku tidak bisa menerimanya, selain itu aku tidak mengenalnya," tambah Emerald kembali dengan suara pelan. Alesia mengerti sekarang, wanita ini juga menginginkan kakaknya tapi tidak terlalu mengenal kakaknya hingga dia takut menerimanya. Sepertinya tidak ada yang bisa kakaknya lakukan selain berusaha lebih mengenalnya. Dia hanya merasa heran saja sebab hal ini sama sekali tidak seperti kakaknya karena yang dia tahu Max tidak pernah bisa jatuh cinta lagi sejak wanita yang dicintainya meninggal delapan tahun yang lalu bahkan Max tidak pernah bersama wanita mana pun semenjak itu. "Bisakah kamu mengeluarkanku dari sini?" "Maaf, tidak bisa! Kakak akan membunuhku jika aku melakukannya, bahkan saat ini dia sudah ingin membunuh orang-orang di sekitarnya, apalagi jika aku melepaskanmu." "Ya, aku mengerti. Maaf karena meminta hal ini padamu." "Tidak apa-apa. Baiklah, aku harus merapikan barang-barangku dulu karena baru hari ini aku kembali ke rumah ini. Nanti kita akan berbincang-bincang lagi." "Ya, terima kasih. Aku senang memiliki seorang teman di rumah ini karena aku mungkin akan gila sebentar lagi, kakakmu terus mengurungku di sini." "Baiklah, aku keluar dulu. Sampai bertemu saat makan malam." "Kita tidak akan bertemu karena aku tidak pernah diizinkan keluar dari kamar ini." Alesia hanya menatap heran. Ada apa dengan Kak Max? Aku harus bicara dengan Kakak. "Maafkan aku." "Tidak apa-apa." "Sampai nanti, Emerald." "Hmmm." Emerald menganggukkan kepala sambil tersenyum. Setidaknya mulai hari ini dia akan memiliki seorang teman di rumah ini. Setelah di tinggalkan Alesia, Emerald kembali merasa sendirian lagi. Ia hanya bisa kembali memandang laut yang tampak dari kamarnya. Jika lebih lama lagi di sini, dia akan benar-benar menjadi gila. *** Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD