“Abig—“ ucapan Mulya tercegat gelengan pelan disertai senyum masam Yuri. Mulya tampak ingin menjelaskan lebih tentang Abigail, tapi tidak dengan Yuri. Yuri yang masih tak suka mendengar apapun tentang dia. Mungkin akan jadi lain cerita jika dulu Abigail tidak ikut berpura-pura, sebab setelah Yuri pikir-pikir, sesungguhnya dia juga korban. Abigail menjadi jahat di mata Yuri karena sebagai sesama wanita yang merasa tidak diperlakukan adil oleh Mulya, dia mendiamkan apa yang terjadi pada Yuri. “Aku nggak terlalu peduli pertemanan kalian masih sekedat apa. Lebih tepatnya, sih, aku nggak mau tahu. Aku bahkan ragu kalian bisa berteman.” Yuri memperagakan tanda kutip dengan dua jarinya saat menyebutkan kata terakhir. Kata ‘teman’ antara Mulya dan Abigail sudah membuat Yuri skeptis sejak awa

