Pagi yang indah bagi Mulya, ia terbangun dengan perasaan bersemangat. Harapannya terkabul dengan menjadikan Yuri sebagai orang pertama yang dilihatnya pagi ini. "Pagi," bisiknya, sementara Yuri wajahnya masih tampak bodoh, berusaha mengumpulkan jiwa-jiwanya yang sempat berkeliaran. Sesaat kemudian, Yuri tertawa lirih dan sedikit mendorong wajah Mulya tanpa tenaga. "Bikin kaget aja, pagi-pagi udah nyengir." Dikati begitu, Mulya malah makin nyengir. "Aneh, nggak, pas bangun tidur di sebelah kamu ada aku? Kalau aku, aku merasa senang." "Aneh tapi senang." Yuri menaikkan selimut membalut tubuhnya, matahari di luar belum sepenuhnya bersinar. Masih terlalu pagi untuk memulai kegiatan, tapi cukup pas untuk memulai harapan baru. Yuri tersenyum menatap Mulya. "Gimana? Jadinya bukan mimpi, ka

