bc

Hujan Belum Menghapus Namamu

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
family
HE
second chance
friends to lovers
arranged marriage
boss
stepfather
bxg
bold
office/work place
childhood crush
secrets
love at the first sight
polygamy
addiction
like
intro-logo
Blurb

Bela mengira menikah adalah cara terbaik untuk melupakan masa lalunya. Namun setelah bertahun-tahun menjalani rumah tangga tanpa kehangatan, ia justru merasa semakin kehilangan dirinya sendiri.Sampai suatu malam, takdir mempertemukannya kembali dengan Winggar—lelaki yang dulu saling mencintainya dalam diam, tetapi tidak pernah sempat ia miliki.Winggar ternyata belum pernah melupakannya.Pertemuan mereka membangkitkan kembali perasaan lama yang seharusnya telah mati. Di tengah pernikahan yang mulai retak, Bela harus memilih antara bertahan pada tanggung jawab… atau kembali pada cinta yang sejak dulu belum pernah selesai.

chap-preview
Free preview
Jejak Kenangan di Tengah Keramaian Karnaval
Aku datang ke sekolah hari itu tanpa rencana khusus. Kebetulan pekerjaanku yang biasa kulakukan dari rumah sedang sedikit longgar, jadi aku memutuskan mampir ke acara reuni dan pameran sekolah. Sekadar bernostalgia, melihat perkembangan sekolah, dan mengenang masa-masa dulu yang perlahan mulai terasa jauh. Namun sebenarnya ada alasan lain yang bahkan sulit aku akui pada diriku sendiri. Jauh di sudut hati, ada harapan kecil yang terus mengganggu pikiranku sejak pagi: bagaimana jika aku bertemu Winggar lagi? Winggar adalah bagian penting dari masa mudaku. Kami tidak pernah benar-benar berpacaran, tetapi kami pernah saling menyukai begitu dalam. Dulu kami hanya saling menatap diam-diam di lorong sekolah, saling tersenyum penuh arti, dan menikmati kebersamaan sederhana tanpa pernah berani mengungkapkan semuanya secara terang-terangan. Lalu waktu memisahkan kami. Kesibukan, kehidupan, dan pilihan masing-masing membawa kami ke jalan yang berbeda. Kini usia kami sama-sama menginjak 29 tahun. Aku sudah menikah, sedangkan Winggar, menurut cerita teman-teman, masih sendiri. Aku tidak tahu mengapa kabar itu terus tertinggal di pikiranku selama bertahun-tahun. Saat sedang berjalan menyusuri halaman sekolah, langkahku mendadak terhenti. Di bawah pohon rindang yang dulu sering menjadi tempat kami mengobrol sepulang sekolah, aku melihat sosok yang sangat kukenal berdiri di sana. Winggar. Penampilannya masih sama sederhana, tetapi tetap terlihat tenang dan berkarisma. Jantungku langsung berdegup lebih cepat. Ada rasa gugup yang aneh, seolah aku kembali menjadi gadis SMA yang dulu sering salah tingkah saat berada di dekatnya. Seolah merasakan tatapanku, Winggar menoleh ke arahku. Senyum kecil langsung muncul di bibirnya. Senyum yang masih sama seperti bertahun-tahun lalu. Tanpa ragu ia berjalan mendekat. Aku berusaha terlihat tenang meski sebenarnya napasku terasa tidak beraturan. “Hey Bela, kamu datang juga?” Suara lain tiba-tiba memecah kecanggungan di antara kami. Aku menoleh dan melihat Bu Tri, guru favorit kami semasa sekolah dulu. “Iya Bu,” jawabku sambil tersenyum sopan. “Kebetulan lagi ada waktu luang, jadi sekalian mampir lihat acara.” Bu Tri mengangguk sambil tersenyum hangat. Namun beberapa detik kemudian matanya membesar ketika melihat Winggar berdiri di sampingku. “Lho, Winggar juga datang?” Winggar tertawa kecil seperti biasa. “Kalau Bela datang, ya saya harus ikut, Bu. Takut dia tersesat.” Candaan itu langsung membuat pipiku terasa panas. Dulu ia juga sering bercanda seperti itu, dan anehnya selalu berhasil membuatku salah tingkah. Bu Tri tertawa geli sebelum akhirnya berpamitan karena harus berkeliling ke stan lainnya. Tinggallah aku dan Winggar berdiri berdua di pinggir jalan sekolah itu. Suasana tiba-tiba terasa canggung. Winggar menatapku lama sekali, seolah sedang membaca sesuatu di balik wajahku. Tatapannya membuatku gugup karena rasanya ia bisa melihat semua hal yang selama ini kusimpan rapat-rapat. “Gimana kabarmu, Bela?” tanyanya pelan. “Baik,” jawabku cepat sambil tersenyum tipis. “Kamu sendiri?” Ia menghela napas kecil lalu tersenyum samar. “Aku masih sama,” jawabnya. “Masih sendiri, masih sibuk kerja.” Aku sedikit terkejut mendengar nada suaranya yang terdengar lelah. Entah kenapa rasa penasaran tiba-tiba muncul begitu saja. “Kenapa belum menikah?” tanyaku hati-hati. “Umur kita kan sudah hampir kepala tiga. Banyak teman kita yang bahkan sudah punya anak dua.” Winggar diam beberapa saat sebelum akhirnya menatap lurus ke depan. “Kalau tidak bahagia, buat apa menikah?” jawabnya pelan. Kalimat itu membuat dadaku terasa sesak. Aku tahu itu bukan jawaban biasa. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang terasa begitu dalam, seolah ia sedang berbicara tentang luka yang terlalu lama disimpan. Aku sendiri tidak bisa menyangkal kenyataan bahwa rumah tanggaku memang sedang tidak baik-baik saja. Dulu aku menikah karena merasa lelah dengan hidupku sendiri. Saat itu aku sedang berada di titik terburuk setelah mengalami luka besar yang membuatku hancur. Suamiku datang di saat yang tepat. Ia memberiku rasa aman, perhatian, dan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku pikir itu cukup untuk membangun sebuah rumah tangga. Ternyata aku salah. Beberapa tahun setelah menikah, hubungan kami perlahan berubah dingin. Kami memang tinggal serumah, tetapi rasanya seperti dua orang asing yang hanya menjalankan kewajiban. Tidak ada lagi percakapan hangat, tidak ada perhatian kecil yang dulu membuatku merasa dicintai. Aku menjalani hari-hari dengan perasaan kosong. Dan anehnya, Winggar seperti bisa melihat semua itu hanya dari tatapanku. “Bela,” katanya pelan. “Kamu kelihatan capek.” Aku langsung menunduk. “Kamu kelihatan sedang menahan banyak hal sendirian,” lanjutnya. “Kenapa kamu terlalu cepat memutuskan menikah dulu?” Pertanyaan itu membuatku terdiam cukup lama. “Aku menikah karena dia menjagaku,” jawabku akhirnya. “Dia datang waktu aku sedang hancur.” Winggar menggeleng pelan sambil tersenyum pahit. “Kamu enggak bisa bohong sama aku,” katanya lirih. “Aku terlalu kenal kamu.” Aku menggigit bibir bawahku pelan, berusaha menahan emosi yang mulai memenuhi d**a. “Kamu tahu enggak?” lanjutnya. “Aku masih hafal bagaimana wajahmu kalau benar-benar bahagia. Dan sekarang… kamu enggak terlihat seperti itu.” Kalimat itu terasa begitu menyakitkan karena itulah kenyataannya. Aku memang tidak bahagia. Selama ini aku hanya terlalu takut mengakuinya. Mataku mulai terasa panas. Aku segera mengalihkan pembicaraan sebelum air mataku benar-benar jatuh di depannya. “Sudahlah,” kataku cepat sambil berpura-pura melihat jam tangan. “Aku harus pulang. Masih ada pekerjaan.” “Aku antar,” katanya spontan. “Enggak usah. Aku bisa pesan ojek online.” Namun Winggar tetap bersikeras menemaniku. Sikap keras kepalanya ternyata tidak berubah sedikit pun sejak dulu. Sebelum pulang, ia mengajakku mampir ke sebuah toko komputer di pinggir jalan. Rupanya laptop miliknya sedang rusak. Di dalam toko yang berhawa dingin itu, aku berdiri di sampingnya sambil menunggu teknisi memeriksa perangkat tersebut. Tak lama kemudian, teknisi menggeleng pelan. “Maaf Mas,” katanya. “Kerusakannya sudah terlalu parah. Biaya perbaikannya malah bisa lebih mahal daripada beli baru.” Winggar hanya mengangguk santai lalu menerima kembali laptopnya. Setelah itu ia menoleh kepadaku sambil tersenyum kecil. “Mau makan dulu?” tanyanya. “Aku belum makan dari tadi.” Aku langsung menggeleng pelan. “Enggak usah. Aku harus pulang. Masih ada kerjaan.” Sebenarnya aku memang bekerja dari rumah. Dulu suamiku melarangku bekerja di luar karena ingin aku fokus mengurus rumah tangga. Namun belakangan semuanya berubah. Ia justru sering menyuruhku mencari kesibukan sendiri. Entah karena keadaan ekonomi, atau mungkin karena ia sudah mulai tidak peduli lagi. Ironisnya, pekerjaan itu justru memberiku sedikit kebebasan hari ini. Kebebasan yang akhirnya mempertemukanku kembali dengan Winggar setelah sekian lama. Saat kami keluar dari toko, langit sore mulai berubah jingga. Jalanan terasa ramai, tetapi anehnya dunia di sekitarku seperti mendadak sunyi. Aku berjalan di samping pria yang dulu pernah sangat aku cintai. Pria yang mungkin masih menyimpan rasa yang sama sampai sekarang. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa hidupku baik-baik saja, aku mulai bertanya dalam hati… Apakah selama ini aku benar-benar hidup bahagia? Tiba-tiba dari belakang seseorang wanita dengan pakaian sangat cantik dan seksi memanggil kami. "Winggar... Sudah lama tidak bertemu."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
721.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
958.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
346.7K
bc

Not just, the Beta

read
342.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook