Renno
Aku tersenyum sendiri saat teringat kejadian di perpustakaan siang tadi. Ekspresi kaget Bella serta sikap refleknya saat menampar pipiku membuatku sedikit malu. Tapi ada perasaan berbeda saat aku berada di dekatnya. Sikapnya yang polos dan sedikit aneh menurutku itu sungguh menggemaskan. Ditambah setelah aku mengetahui bahwa ciuman pertamanya adalah aku, kenyataan itu membuatku merasa besar kepala sampai tidak sengaja aku mengucapkan "terimakasih" padanya.
Sepertinya aku sudah mulai gila. Aku sadar orang orang menganggapku sempurna secara fisik, hanya saja aku tidak memanfaatkan karunia Tuhan ini untuk bersikap yang tidak tidak pada lawan jenisku.
Dan sekarang aku memang merasa sudah sedikit nyaman dengan Bella. Mungkin karena kebersamaan kami beberapa waktu ini membuatku merasakan getaran padanya.
Mungkin aku sudah mulai menyukai nya. Ya, menyukai gadis polos yang terlihat tak ada spesialnya itu. Dan sama pula dengannya, aku juga baru merasakan mencium seseorang.
Baru tadi siang kami bertemu di sekolah, dan sekarang aku sudah merindukannya.
Sadar Ren sadar!!! Jangan main main dengan hati seseorang! Kau bisa terjebak dan tak bisa lari kemanapun!!!
Tapi rasa rindu ini begitu mengusik konsentrasiku. Bahkan saat Gerald dan teman teman lainnya mengajak tanding footsal pun, aku tetap memikirkan Bella.
Sepertinya gadis itu sedang berlarian di otakkku sambil memonyongkan bibirnya dan menggerutu mengumpatku seperti biasa. Dan aku memang menikmati saat bisa membuat kesal Bella. Membuat dia kesal sungguh menghiburku.
Saat break pertandingan, ku ambil telepon genggamku lalu menghunginya.
Dengan ketus ia menjawab telphonku. Aku mencari ide agar aku bisa bertemu dengannya. Tapi Bella menolak, aku sedikit kesal karena aku pikir masih lama lagi sampai besok kami bertemu di sekolah. Dan akhirnya aku punya ide yang akan membuatnya tak mampu menolak pertemuan kami sekarang.
Dan lihatlah, Bella-ku sekarang sudah datang. Dengan ekspresi imut nya dia menjinjing beberapa kantong plastik berisi minuman untukku dan kawan kawanku. Ups tunggu, aku menyebutnya apa tadi??
BELLA-KU??? hahahaha...aku mulai berhalusinasi bahwa dia benar benar pacarku. Tapi sudahlah, kan memang satu sekolah juga sudah tau kalau kami pacaran.
"Rennoooooo" teriak Bella sambil menyodorkan kantong plastik berisi minuman kepadaku. Akupun menerimanya dengan bahagia.
Teman temanku sampai menyorakki kami karena kedatangan Bella.
"Cieeeeeeeeee"
"sweet sweet......"
"Romantis banget sih pasangan ini"
Aku tersenyum berbunga bunga, berbeda dengan Bella yang terlihat kesal karena sikap teman temanku.
"Terimakasih beib..." bisikku pada Bella yang di balas dengan tatapan tajam dia.
"Mana soal sama jawabannya?" tanyanya setengah berbisik
"Tunggu sebentar lagi selesai" balasku.
Akupun meninggalkan Bella untuk berpamitan dengan teman temanku.
Mereka mempersilakan karena mereka juga memahami bagaimana rasanya saat sedang dimabuk asmara.
WAIT..... aku dimabuk asmara?????
Iya.
***
Bella
Aku mengikuti Renno dari belakang.
Sialan!!!! sI KUTU KUPRET ini benar benar memanfaatkan ku. Tapi sebenarnya ini tidak bisa dikatakan memanfaatkan sih... Lebih tepatnya simbiosis mutualisme. Aku membawakannya minuman, dia menukarnya dengan soal dan jawaban ulangan kimia besok. Hehehehe...kan lumayan, aku jadi perlu berpikir keras untuk belajar. Memang benar otakku ini pas pasan.
Kami berada di parkiran.
"Masuk ." ucap Renno sambil membukakan pintu sebelah kiri mobilnya.
"Ngapain?" Tanyaku bingung
"Kan katanya mau dapat soal ulangan besok."
"Ngapain aku harus masuk? Kamu tinggal ambil aja terus kasihin ke aku kan udah beres."
"Iya, terus ada yang lihat, terus ketahuan kamu dapat contekkan dari aku. Kelar deh kita dapat hukuman nanti."
Mendengar jawaban Renno benar juga. Ini harus dilakukan diam diam.
Aku pun menuruti ucapannya. Aku masuk kedalam mobil diikuti Renno.
Renno mengambil tas rangselnya yang berada di jok belakang kemudian membukanya.
Mengeluarkan beberapa lembar kertas, kemudian menyerahkannya padaku.
Aku menerimanya dengan tersenyum, sesaat aku bertanya penasaran.
"Darimana kamu dapat Ren?"
"Tadi pagi kelasku baru ulangan. Itu Gerald yang ambil untuk di cocokkan dengan jawabanku." jelasnya
Buru buru kumasukkan kertas kertas itu kedalam tas ku.
"Terimakasih. Aku pulang dulu"
Disaat aku akan membuka pegangan pintu, ternyata pintu terkunci.
"Tidak bisa dibuka Ren?" Tanyaku bingung
"Jangan pulang dulu" jawab Renno sembari menarik leherku.
Ia mencium bibirku LAGI.
Aku melonjak kaget, ku hempaskan badannya tapi tak kunjung jua ia lepaskan bibirku dari bibirnya. Malah Renno semakin kencang dan dalam menciumku.
Mata kami saling berpandangan, mata yang indah dengan iris berwarna kecoklatan itu sedang menatapku lembut.
Dadanya bersentuhan dengan dadaku. Dan dapat kudengar jantungnya berdebar sangat kencang. Aku tidak tau itu efek dia sehabis olah raga, ataukah efek dari kegiatan yang sedang kami lakukan ini. Aku menghentikan perlawananku.
Kucoba nikmati saja adegan romantis ini.
Renno menyadarinya dan menurunkan tempo ciumannya menjadi sedikit lembut.
Aku tidak bisa membalas ciumannya karena memang aku yang tidak berpengalaman.
Menyadari nafasku yang mulai tersengal, Renno melepaskan ciumannya.
Dia menempelan dahinya di dahiku hingga hidung kami saling bersentuhan dan kami berbagi oksigen bersama.
Walau AC dalam mobil menyala, tapi sepertinya udara menjadi tersa panas dan gerah. Renno tersenyum ke arahku.
"Sepertinya aku sudah kecanduan bibirmu" ucapnya