CHAPTER 17

674 Words
Aku dan Renno jalan jalan di sekitar Resort setelah selesai makan. Kami berjalan melewati kolam renang besar yang lumayan ramai, mungkin karena sedang liburan. Aku melihat sekeliling dan menikmati pemandangan, namun tidak dengan Renno, wajahnya masih saja muram semendung cuaca hari ini. Namun tidak mengurangi kadar kegantengannya.... Ha ha ha...aku tertawa sendiri merutuki hatiku yang mulai tergila gila oleh wajah tampannya. Sepertinya aku sudah mulai terhipnotis sama seperti gadis gadis di sekolah. "Kenapa Be?" Renno menghentikan langkahnya kemudian melihat ke arah ku. "Gak...gak ada apa apa..." jawabku gugup salah tingkah. "Ada kebun strowberry...kita kesana Ren..." tanpa sadar aku menarik tangan Renno. Setelah hampir sampai, aku baru menyadari kalau tanganku masih menggenggam tangan Renno. Mata kami beradu, seketika langsung ku lepaskan tangan Renno. Renno tersenyum, wajahku memerah. Namun karena tingkahku ini, aku merasa sedikit bahagia karena bisa membuat Renno tersenyum walau sesaat. Tak lama kemudian Renno meraih tanganku, menggenggamnya erat kemudian melangkah memasuki kebun strowberry. "Ayo.." Renno mengambil sebuah keranjang kecil, kemudian memberikannya padaku. Tangan kanannya memetik strowberry yang berada di polibag, kemudian memasukkannya di keranjang yang ku pegang dengan tangan kiriku, sementara tangan kirinya masih menggenggam tangan kananku. Kami berjalan menyusuri kebun strowberry dan memetik satu demi satu buah strowberry yang terlihat besar dan matang. Tiba tiba Renno menyodorkan sepotong strowberry yang sudah ia gigit separo ke mulutku. Seketika aku langsung memundurkan wajahku. "Kenapa?" tanya nya bingung. "Itu kan sisa gigitan kamu..." "Bukankah kita sudah berkali kali berciuman? Sudah sering berbagi saliva. Apa.." belum selesai Renno meneruskan ucapannya aku langsung membungkam bibirnya dengan kananku. Renno tertawa puas. "Apa itu pantas di ucapkan di depan umum?" bisikku Orang orang di sekitar kami menatap ke arah kami dengan tatapan aneh. Tiba tiba rintik hujan turun dari langit dengan sangat derasnya. Renno langsung menarik tanganku dan kamipun berlari. Karena kami berada di tengah kebun strowberry, maka jarak kami dengan tempat berteduh terdekat lumayan jauh. Kami kembali ke Restaurant tempat kami makan tadi. Kondisi tubuhku dan Renno basah kuyub. Aku memeluk tubuhku sendiri dengan kedua tanganku, sedikit menggigil. "Kamu basah kuyub. Kita ke parkiran kemudian plang bagaimana?" ucap Renno Aku mengangguk. Saat kami berjalan melewati teras Restaurant, kami melewati beberapa kerumunan orang yang sedang berteduh. "Maaf mengganggu kenyaman anda sekalian, namun jembatan yang berada di depan yang masih dalam tahap rekonstruksi, mengalami kerusakan akibat arus sungai. Mungkin akan ada perbaikan setelah hujan reda," Ku dengar seorang pria berpakaian rapi seperti pegawai Resort mengumumkan. Aku melihat ke arah Renno "Bagaimana ini Ren? Kita tidak bisa kemana mana? Aku juga tidak bawa baju ganti." Bisikku Tubuhku sudah menggigil dari tadi, dan kepalaku mulai terasa pusing. "Disekitar sini tidak ada toko pakaian lagi..." ucap Renno Renno menarik tanganku memasuki area Restorant. "Kita menginap disini semalam." ucapnya sembari berjalan tanpa melihat ke arahku Aku dan Renno masuk ke dalam Restorant kemudian menuju meja resepsionis yang berada di ujung ruangan. "Kami mau menginap, pesan dua kamar" ucapnya di meja resepsionis Aku hanya diam berdiri disamping Renno. "Tunggu kami cek dulu." "Kami tinggal satu suite room pak, semua penuh." Aku menarik kecil lengan baju Renno. "Gak usah Ren, kita bisa tidur di mobil aja." bisikku. "Dengan kondisi baju kita basah kuyub begini? kamu bisa sakit Be..." ucap Renno melihat ke wajahku yang sudah mulai memucat. "Kami ambil." "Bisa minta KTP?" Renno menyerahkan KTP. "Aku bisa tidur di sofa, suite room luas, kamu jangan khawatir, tak akan terjadi apapun." Bisik Renno yang membuatku sedikit lega. Renno mengangkat telephone genggamnya yang tiba tiba berbunyi, kemudian berjalan menjauhiku. "Silakan, ini KTP nya, ini kartu kamarnya." ucap resepsionis sembari memberikan dua kartu itu padaku. Aku masih berdiri di depan meja resepsionis, menunggu Renno selesai menelphone. Ku lihat dua kartu di tanganku, k*****a data diri Renno di KTP nya. Mataku tiba tiba membulat. "Ini ulang tahun renno? Hari ini..." aku melihat ke arah Renno yang sedang berbicara dengan seseorang di seberang sana dengan wajah serius. Di hari ulangtahunnya, seharusnya ia bersama mama nya yang ia ridukan, tapi ia malah disini terjebak hujan bersamaku... Ren...selamat ulang tahun, semoga kamu cepat menemukan mama kamu, dan kembali menjadi Renno yang dulu...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD