CHAPTER 15

1032 Words
Aku menatap mata Renno, deru nafasnya tepat beradu dengan wajahku. Aroma anggur kuat sekali dalam tiap hembusan nafasnya. Tatapannya yang tajam seperti elang membuatku tak mampu berkutik, dengan posisiku yang terkungkung dibawah tubuhnya. Namun tak sampai menunggu jawabanku, ia kembali mengarahkan bibirnya ke bibirku, kemudian melumatnya, lembut namun dalam. Aku mencoba membalas ciumannya, merangkul tengkuknya dengan kedua tanganku ke pundaknya, sembari masih menatap matanya. Ya... aku memang menikmatinya, menikmati setiap sentuhan Renno padaku. Bibirnya yang lembut, mulai sering kurindukan. *** Ciuman Renno turun ke caruk leher Bella, mengecupinya, membuat darah di tubuh Bella serasa mendidih, merasakan sensasi geli di sekujur tubuhnya, hingga tanpa sadar ia melepaskan desahan yang nikmat. "ah..." Renno menyeringai senang. Segera ia melepaskan kancing piama Bella satu persatu sembri menurunkan ciumannya ke kedua gundugan kenyal milik Bella yang tak ditutupi apapun. Meremasnya pelan, kemudian mengulum n****e Bella kanan kiri bergantian. "Rennooooo...." ucap Bella masih mendesah "Hmmm...." jawab Renno masih dengan mulutnya yang mengulum n****e Bella Tiba tiba Bella tersadar,'ini salah' ucap Bella dalam hati Matanya tiba tiba saja membulat kemudian reflek tangannya mendorong Renno. Renno tersentak kaget. Bella menutup dadanya dengan piyama nya yang belum sempat ia kancing. "Ini salah Ren....tolong jangan lakukan" ucap Bella. Renno terduduk, ditatapnya gadis yang sekarang berada dihadannya itu dengan ekspresi tak terbaca. Bella beranjak dari duduknya, segera berlari meninggalkan Renno yang masih terdiam, menuju kamarnya. Nafasnya masih belum teratur, jantungnya berdetak sangat kencang seperti pantulan bola yang terlemapr dari langit ke bumi ke langi lagi. Bella melompat ke atas ranjang kemudian menyembunyikan dirinya di bawah selimut, masih bingung dengan keadaannya tadi dengan Renno. Sementara Renno, dengan mata sayu nya, kemudian merebahkan dirinya diatas sofa ruang tengah, tertidur. Sepertinya sobotol anggur yang ia minum tadi sudah membuat dirinya mabuk sampai hampir hilang kendali. *** Pagi ini aku duduk semeja dengan Bella, wajahnya memerah dan ia tak berani menatapku . Ku curi curi pandang ke arahnya. Sedikit terbersit rasa malu sebenarnya, tapi aku mencoba untuk menahannya, aku akan berpura pura seolah olah tidak terjadi apapun pada kami semalam, aku benar benar malu kalau kalau dia membahasnya. Beberapa makanan terhidang di meja karena bi Jum memang datang untuk bersih bersih seperti biasa. Aku mengatur nafasku, mencoba mencairkan kecanggungan yang aku rasakan ini. "Makan yang banyak Be..." ucapku. Bella hanya mengangguk dengan mata masih tetap fokus menghadap ke piringnya yang hanya berisi dua sendok makan nasi dan sepotong ayam goreng. Aku menawarinya sayur namun Bella menolak, dan masih tak mau melihat ke arahku. Memang salahku, aku mabuk semalam sampai hampir kelepasan melampiaskkan hasratku pada nya. Selesai makan, aku menghamipiri Bella, berdiri dihadapannya. "Be...aku mau pergi hari ini?" ucapku sambil menatap wajahnya Bella memandangku balik "Kemana?" "Aku ada janji dengan orang hari ini, mungkin pulang sorean. Kamu aku tinggal disini sendirian gak papa ya...Kan ada bi Jum sama pak Agus." "Iya..." ia menjawab singkat kemudian mengalihkan pandangannya. Aku maju mendekatinya, Bella memundurkan langkahnya karena jarak kami semakin dekat. Sebenarnya ingin sekali aku mengecup bibirnya, hanya saja aku masih merasa canggung dengan keadaan kami, jadi kuurungkan niatku. Ku pegangi kepalanya, kemudian ku kecup kening Bella. Bella hanya terdiam, tubuhnya yang hanya se tinggi pundakku, membuatku gampang untuk merangkulnya dalam pelukku. "Aku pergi dulu bi, titip Bella ya..." pesanku pada bi Jum. "Baik den" Aku menstarter mobilku, kemudian keluar dari halaman rumah. *** Renno pergi entah kemana, dan aku hanya ditinggal sendirian di rumah yang besar ini. Apakah ini yang namanya liburan?? Aku melangkahkan kaki ku menaiki tangga, namun langkahku terhenti karena panggilan bi Jum. "Non Bella, bibi sama pak Agus mau ke pasar dulu, non bibi tinggal sendiri sebentar gak papa?"  Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. "non Bella suka masakan apa? nanti bibi masakin."  "Bella pemakan segalanya Bi...bukan pemilih, apa aja deh bi" jawabku Usai berganti pakaian, bi Jum dan pak Agus pergi. Cuaca hari ini cerah sekali, sayang sekali kalau di lewatkan dengan bersantai di dalam rumah saja. Tiba tiba aku teringat kolam renang yang ada di belakang rumah. Sepertinya segar kalau siang siang begini berenang. Mumpung keadaan rumah sedang sepi, aku bisa memakai bikini yang kemarin Renno belikan kemarin. Langsung saja aku berlari ke kamar, menanggalkan semua pakaian yang melekat ditubuhku, kemudian menggantinya dengan bikini. Aku berdiri di depan cermin, bikini ini dungguh sexy, hanya menutupi area sensitifku serta kedua buah n****e ku saja. Tubuhku memang tidak sexy, namun aku tidak kurus ataupun gemuk, tubuh yang biasa biasa saja untuk ukuran gadis remaja. Ukuran bra ku saja cuma 34, bisa dikatakan kecil bila dibandingkan cewek cewek sexy sekelas Sydney di sekolah, aku tidaklah sebanding. Tapi aku tetaplah bersyukur, tak pernah terbersit sedikitpun di otakku untuk melakukan permak apapun pada tubuhku yang biasa ini. Ku ambil bathrobe yang berada di dalam kamar mandi untuk menutupi tubuhku yang hany terbalut bikini ini. Ke dapur untuk mengambil jus dan beberapa cemilan yang bisa ku letakkan di samping kolam renang. Tanpa pemanasan apapun, ku ceburkan langsung tubuhku ke kolam renang. Waaaahhhh.....segarnya... Berenang bolak balik, menghirup udara, kemudian meliuk liukkan tubuhku. Ini baru liburan...walau sepi, tak apalah...dari pada hanya berdiam diri dikamar saja. Aku naik dari kolam renang, duduk di tepinya dengan kaki masih terendam, kemudian meminum jus jeruk yang tadi aku ambil dari kulkas. Nikmat manakah yang kau dustakkan nak?  Ha ha ha...aku tersenyum sendiri sembari mengepak ngepakkan kakiku di air. *** Renno menggeragapi laci mobilnya, mencari telephone genggamnya. "Sepertinya tadi aku taruh sini" gumamnya sendiri. Ia meminggirkan mobilnya, mencari lagi di jok samping, tapi tidak di temukan juga. "Apa mungkin ketinggalan?" Iapun bergegas memutar balik mobilnya. Renno sedang ada janji dengan seseorang, dan orang itu akan menghubunginya kalau ia sudah di jalan. Tapi telephone genggamnya malah tertinggal di villa, maka terpaksa ia harus memutar arah untuk kembali. *** Bella menyingkirkan gelas serta cemilan yang ia makan ke atas meja di ujung kolam renang. Sekali lagi ingin turun ke kolam renang sebelum semua orang pulang. Namun tiba tiba kaki sebelah kirinya kaku lemas dan alhasil tanpa kondisi siap ia terjun ke kolam renang. Tangannya mulai mengepak agar ia bisa berenang ke atas, namun kakinya serasa berat, kaku dan terasa sakit. Pikirannya mulai panik, nafasnya tersengal. Berkali kali ia mencoba mengapung, namun yang terjadi malah ia hampir tenggelam. ' ya Tuhan...aku masih muda, aku belum mau mati, siapapun tolong aku...' batin Bella.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD