CHAPTER 21

1044 Words
Sudah beberapa hari sejak kejadian terakhir Renno mengantar Bella pulang ke rumah. Tak ada lagi antar jemput seperti biasa, perhatian lebay Renno, chat nya yang sekedar say hai, menunggu Bella pulang di gerbang sekolah dan itu semua membuat Bella merasa rindu. Bahkan seolah Renno menganggap Bella tak ada, saat beberapa kali mereka tanpa sengaja berpapasan di kantin, di perpustakaan atau di gerbang sekolah. Hati dan pikiran Bella telah di penuhi oleh Renno, perhatian Renno, dan sentuhan sentuhan tak terduga Renno yang membuat tubuh Bella merasakan desiran aneh yang membuat seluruh darah di tubuhnya mendidih. "Kamu gak mau baikan lagi sama Renno Be?" Amanda mulai kepo Dan tak ditanggapi apapun oleh Bella, ia memilih berpura pura sibuk dengan handphone nya. "Nanti sore Fendy ngajak kencan, kita double date yuk...dia ngajak teman cowo loh..." "Aku mau tidur saja di rumah" "Tidur teruuuuusssss...tuh lihat pipi udah tembeb kaya kucing mandung gitu tidur mulu..." Amanda menyodorkan sebuah cermin kecil ke muka Bella dan hanya di tepisnya. *** Sore nya Amanda sudah sampai di rumah Bella, memaksa gadis itu mandi dan berdandan. "Aku pakai yang ini aja" Bella memilih memakai jaket hoodie navy dan skirt putih dari pada pilihan Amanda, sebuah dress pink feminim. "Gak mau kembaran sama aku..." "Kan yang mau kencan kamu sama Fendy...aku cuma nemenin." Bella benar benar tak bersemangat. Kalau tidak ingat karena jasa Bella dan Renno ia bisa jadian dengan Fendy, sudah di tinggalkannya sahabatnya itu. "Sayaaaannnkkkk...." teriak Amanda sembari melambaikan tangan dan tersenyum oada Fendy yang sedang mengantri tiket masuk. Fendy membalas senyum dan lambaian tangan Amanda, kemudian menghampiri kekasih dan sahabat kekasihnya itu. Amanda langsung merangkul lengan Fendy, persis anak monyet yang nemplok ketemu induknya. Bella langsung membuang muka, ia benar benar merasa seperti obat nyamuk di depan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta ini. "Aku udah beli pop corn sama soft drink juga..." "Teman kamu mana sayang?" Fendy melirik jam yang melingkar ditangannya kemudian melihat sekeliling. "Harusnya sih udah datang. Kita masuk dulu, nanti dia nyusul, tiket aku titipkan ke counter tiket aja." Mereka pun memasuki gedung bioskop yang ternyata tiket yang di bawa Bella, berada berjauhan dengan tempat duduk yang di pesan Amanda dan Fendy. Terpaksa Bella duduk sendirian di pojok tanpa seorangpun di kanan kirinya, hanya di temani sebungkus popcorn dan segelas soft drink. "Tau gini mending tidur di rumah..." Lampu bioskop mulai dipadamkan. Film horor bertema zombie mulai di putar , adegan demi adegan mulai di tampilkan, membuat Bella menikati sedikit ketegangan walau  hanya duduk sendirian. Dan saat zombie zombie itu mulai berkejaran memangsa, Bella mengalihkan pandangannya ke kanan karena ketakutan. Tak disangka ada seseorang yang merangkul kepalanya, dan itu membuat Bella membuka mata dan melihat siapa orang yang berada di sebelahnya. "Rennoo..." matanya membulat dan bibirnya masih menganga tak percaya. Pria yang berhari hari bersikap dingin padanya, yang sangat ia rindukan, sekarang berada di sampingnya. Wajahnya yang tampan dengan senyumnya yang mematikan, sukses membuat Bella terpana selama beberapa detik. Renno mengecup bibir Bella sesaat, sembari menangkup kedua pipi Bella. "Jangan menatapku seperti itu, nanti kamu bisa semakin jatuh cinta"  Bella tersadar, ia kembali fokus menonton layar besar bioskop, namun jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Antara kaget, bingung dan pastinya bahagia. Renno mengenggam tangan kanan gadis itu, dan Bella tidak menolaknya. Ia ingin sekali melepas rindu dengan pria-nya. *** Film belum selesai, Renno mengajak Bella keluar bioskop. Entah kemana Renno membawa Bella, dan gadis itu menurut saja. Mobil Renno berhenti di tepi jalan yang lumayan sepi. Untuk sesaat mereka hanya saling diam, tak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Hanya sesaat tedengar suara kendaraan yang berlalu lalang. "Kamu apa kabar?" Mereka bertanya hampir bersamaan "Baik..." "Baik..." Dan kembali hening. Baik Renno maupun Bella hanya memutar mata mereka melihat sekeliling, merasa canggung dengan keadaan seperti ini. "Aku kangen kamu Bella" akhirnya Renno buka suara "..." Walau tak menjawab sepatah katapun, namun wajah Bella memerah mendengar pernyataan Renno. "Aku gak bisa jauh dari kamu Be,,," Renno memberanikan diri menyentuh tangan gadis itu, membuatnya memalingkan wajah menghadap dirinya. "Aku benar benar serius Bella, aku minta maaf kalau caraku salah. Tapi aku serius..." ekspresi wajah Renno yang memelas memohon membuat Bella tersenyum. 'Aku bisa tambah gila kalau gini terus...'batin Bella. Di peluknya pria yang ada dihapannya itu, dan pelukannya terbalas. "Aku juga kangen kamu Ren...kangen banget..." gumam Bella, tak terasa air mata bahagia mengalir di pipinya. "Aku tau...Amanda bilang kamu sering ngelamunin aku, kamu bawaannya juga emosi terus..." Mendengar jawaban Renno, Bella melepas pelukannya, membuat ia merasa sedikit malu. "Amanda bilang gitu? Dasar pengkhianat..." Renno tertawa melihat reaksi Bella "Kenapa kamu ketawa?" gantian Renno dijadikan sasaran emosi Bella. "Kamu lucu kalau lagi marah." Bella memonyongkan bibirnya, yang langsung di kecup oleh Renno. "Ren,,," di pukulnya pundak prianya itu, Renno terkekeh. "Jangan jangan ini juga rencana Amanda sama kamu ya..." Renno mengangguk, Bella ingin kesal namun hatinya menolak. Dalam hati ia berterima kasih pada sahabatnya itu karena telah mempertemukannya dengan pria yang ia rindukan selama beberapa hari ini. "Jadi udah gak marah lagi?" ledek Renno, Bella menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. "Berarti kamu nerima aku lagi?" "Kapan kita jadian?" Renno terkekeh mendengar pertanyaan balik Bella. "Kalau gitu aku langsung lamar kamu malam ini juga ke rumah orang tua kamu gimana?" "Kita masih sekolah Rennoooooo..." Dan kembali Renno memeluk Bella dengan erat, tak ingin kehilangan lagi, tak ingin berpisah lagi dengan gadisnya ini. Tak lupa ia memberikan lagi cincin berlian yang kemarin sempat di kembalikan Bella padanya. "Jangan pernah dilepas ya..." pinta Renno dan dibalas anggukan. "Tapi kalau surat surat atau ATM aku gak bisa terima Ren..." "Loh, kenapa?" "Aku gak mau dianggap sebagai p*****r yang menerima bayaran setelah melakukan itu..." jawab Bella polos. "Siapa yang anggap kamu seperti itu Be??? Itu hanya perasaan kamu aja...Aku benar benar berharap kalau kamu jadi milikku, dan apa yang jadi milikku juga menjadi milik kamu Bella..." "Pokoknya aku gak bisa Ren? Atau kamu biasa memberikan seperti itu pada gadis gadis lainnya juga Ren?" "Kamu pikir aku pria macam apa? Aku baru melakukannya juga dengan kamu Bella? Aku tidak pernah menyentuh gadis manapun sebelumnya...." Bella menahan tawanya, ia kaget dengan pernyataan Renno, suasana kembali hening. "Jangan pernah berfikir untuk meninggalkan aku Bella Handoyo, aku tidak akan pernah mengijinkanmu bersama dengan pria manapun selain aku..."  Ucapan Renno ditutup dengan ciuman hangat yang di sambut Bella, 'Aku janji Ren...' bisiknya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD