CHAPTER 22

1244 Words
Begitulah cinta, ia akan kembali pada tempatnya, dimana ia merasa nyaman. Dan aku kembali pada cintaku. Kemarin aku sedikit bingung, ragu dan egois, namun sekarang aku sadar bahwa ini benar benar nyata, dia benar benar kembali dan ada untukku. Aku harap kebahagiaan ini nyata dan memang untukku. Bella Handoyo... *** Bella berangkat sekolah dengan semangat, hari hari nya tak lagi sepi tak seperti kemarin saat ia memutuskan untuk lari dari Renno. Ia ingin mengejar kebahagiannya, disamping ia harus mengejar impiannya pula di sekolah. Namun sekarang Renno sudah masuk dalam daftar masa depan yang di rencanakan Bella. "Nanti dikerjakan di tempatku aja." Renno meminta Bella untuk mendatangi penthousenya sepulang sekolah untuk mengerjakan makalah yang ditugaskan padanya dari sekolah. "Cuma berdua?" tatapan Bella penuh selidik dan dibalas tawa oleh Renno "Apa kamu berharap kita cuma berdua saja?" Bella memalingkan mukanya, ia sedikit merasa canggung. "Gak Be...ada Gerald dan teman temanku yang lain, kalau kamu mau ajak Amanda juga gak papa..." Bella menghela nafas lega, ia tidak ingin ada hal yang tak di inginkan terulang lagi. Ia ingin menjaganya setidaknya sampai mereka lulus SMA, walau sudah pernah terjadi diantara mereka sebelumnya, namun cukup sekali kesalahan itu terjadi. Bella dan Renno telah berjanji mereka tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dua kali. *** "Please dong...jangan pada ribut..." Teriak Amanda heboh yang mengerjakan makalah dari tadi tidak selesai selesai. Teman teman Renno yang lain sedang asyik main PS dan mengobrol di ruang tengah. Cowok cowok kalau lagi pada kumpul emang lebih heboh dari pada cewek. Bella hanya tersenyum melihat wajah kesal Amanda, ia kembali sibuk di depan leptop nya. Renno mendatangi Bella dan duduk disamping Bella di atas karpet sembari memberikan minuman. "Minum dulu Be..." "Terima kasih" Bella tersenyum menerima segelas soft drink dari Renno. "Ini bikin mabok gak?" bisiknya pada Renno "Gak...tapi kalau kamu pingin yang itu aku bisa kasih..." Bisik Renno dengan nada genit. Bella memukul lengan Renno dan yang dipukul hanya tertawa. "Kalian ngomongin apa siihhhhh...kok pake bisik bisik...?" Amanda kepo "Bella minta di cium" "Apaan sih Ren??? Gak Man...bohong tuh..." Bella kembali memukul lengan Renno Amanda tertawa melihat ekspresi sahabatnya itu, dan ia ikut bahagia melihat Bella dan Renno bersama lagi. Bella bangkit dari duduknya, pamit ke kamar mandi. "Kamu tinggal disini sendirian Ren?" dan di balas anggukan oleh Renno "Keluarga kamu?" lanjut Amanda "Di luar negri" sepertinya Renno malas membahas soal keluarganya, ia hanya membalas singkat pertanyaan pertanyaan dari Amanda. Amanda mengangguk nganggukan kepalanya, mengedarkan pandangannya, betapa mewah pent house milik Renno, yang pastinya keluarga nya pastilah kaya raya. Renno berdiri, meninggalkan Amanda dan menghampiri Bella yang berada di kamar mandi, berdiri di samping pintu kamar mandi, menunggu Bella keluar. Dan saat gadisnya itu keluar, Renno langsung menghimpit tubuh Bella ke tembok dan menguncinya dengan kedua sikunya yang berada di kanan kiri Bella. Tubuh mereka sekarang tanpa jarak. Bella yang tingginya hanya sampai sebahu Renno, terlihat sangan kecil di dekapan Renno. "Jangan gini Ren, nanti anak anak lihat, gak enak" Bella terlihat risih "Kenapa? biarkan saja...toh mereka juga sudah dewasa. Gak cuma kita aja yang ngerasain, mereka juga pernah..." Renno tanpa ragu mengecup bibir Bella namun Bella memalingkan wajahnya, alhasil bibirnya mendaratkan ciuman di pipi Bella. "Rennn..." berusaha sekuat apapun Bella untuk mendorong Renno, namun tak bisa. Renno menarik dagu Bella kemudian memagut bibir ranumnya, awalnya pelan namun lama lama menjadi ciuman yang panas. Bella merangkul pundak Renno, dan memperdalam ciuman mereka. Membalas tiap ciuman Renno, memainkan lidah mereka, berbagi saliva, sampai nafas mereka tersengal namun tak kunjung dilepaskan tautan bibir mereka. Renno membopong tubuh Bella, masih dengan ciuman mereka yang tak terlepas. Dengan susah payah, Renno berhasil membuka pintu kamar nya, berjalan masuk, mengunci pintu kamarnya kemudian merebahkan tubuh Bella diatas ranjangnya. Renno melepaskan ciumannya, memandangi wajah manis Bella, dan membelai pipi gadisnya itu. Mencium kening gadisnya itu, Bella memejamkan matanya, merasakan sentuan Renno. Entah bagaimana seragam mereka sudah berserakan di lantai, dan mereka sudah dalam keadaan full naked. "Aku ingin merasakannya dengan posisi sadar Ren..." tanpa basa  basi Bella mengucapnya Dan disambut dengan seringaian oleh Renno. Lelaki mana yang akan menolak keadaan seperti ini, terlebih Renno pria normal. Ia mencintai Bella dan menginginkan gadis itu. Makalah terjadilah untuk yang kedua kali nya. Mereka melakukannya lagi, namun kali ini dengan sadar. Renno berkali kali menghujamkan 'junior' nya ke 'inti' Bella, desahan demi desahan mereka bersautan memenuhi kamar Renno. Renno menghisap n****e Bella bergantian semabri terus menggoyangkan pinggulnya, membuat gadis itu memekik nikmat sembari meremas ujung bantal. "Ren...." "Aaaaahhhhhh..." Mereka sudah benar benar hilang akal, rambut Bella sampai acak acakkan di bolak balik oleh Renno. Renno memekik, cairan kental hangat ia semburkan ke dalam dinding rahim Bella. Tubuh mereka basah oleh keringat, Renno ambruk di atas Bella tanpa melepas penyatuan mereka, namun hanya sesaat. Ia bangkit sembari menarik tubuh Bella, kemudian mendudukannya diatas tubuhnya. Mengangkat gadis itu berkali kali untuk bergoyang di atas tubuhnya, Bella menghela nafas karena lemas. "Udah Rennn.... capek" "Sebentar lagi sayank...." Renno kembali mengangkat pinggang Bella, agar gadisnya itu bisa bergerak naik turun, mengurut 'junior' nya yang benar benar gila kepuasan. Renno menciumi bibir Bella yang sudah membengkak akibat ulahnya. Renno membalik tubuh Bella agar memunggungi tubuhnya. Renno memompa tubuh Bella dari belakang dengan tempo yang sangat cepat., membuat Bella menjerit nikmat namun agak kesakitan. "Renno please Ren...." kemabli Bella mendesah, benar benar hampir habis tenaga dan nafasnya. Dan akhirnya, Renno mencapai puncaknya, ia mencapai pelepasan yang begitu nikmat setelah sekian kalinya. Mereka melakukannya hampir 2 jam, sampai tubuh Bella ambruk lemas tak berdaya. Renno memeluk tubuh gadisnya itu, menciuminya dan tersenyum. "Makasih Be...aku benar benar bisa merasakannya...." "Aku hampir mati Ren..." gumam Bella Renno tersenyum, mengelus rambut Bella. "Bella, bangun, teman teman kita masih di depan...ayo buruan..." seketika Renno teringat bahwa mereka disini tak sendirian, masih ada teman teman mereka di luar. Bella dengan langkah gontai bangun dari tempat tidur, tanpa mengenakan sehelai benangpun ia berjalan lemas menuju kamar mandi. Berkali kali Bella hampir terjatuh karena lemas, dan renno memegangi agar Bella tak terjatuh. Tak berapa lama, mereka sudah keluar dari kamar Renno. Karena jarak kamar Renno yang jauh dari ruang tengah dimana teman teman mereka berkumpul, tak ada yang tau apa yang telah terjadi antara Bella dan Renno beberapa jam yang lalu. "Kalian dari mana saja sih?" Amanda yang sudah capek dan kesal menunggu jadi emosi melihat kedatangan Bella dan Renno. "Tadi keluar sama Bella bentar cari udara segar..." jawab Renno gugup "Pacaran mulu kalian... Udah nikah aja habis lulus." sorak Gerald Renno tersenyum dan masih merangkul Bella yang wajahnya terlihat pucat. "Kalian kalau masih betah disini silakan, aku antar Bella pulang dulu." Setelah berpamitan dengan teman temannya, Renno mengantar Bella pulang. *** "Kamu beneran gak mau makan dulu Be..." Renno terlihat cemas melihat Bella yang hanya terkulai lemas di jok depan mobil. "Aku pengen tidur Ren...aku capek banget... Kamu behnar benar gila tadi" suara Bella melemah "Kamu yang minta tadi, aku cuma nurutin..." Bella tak membalas, ia merasa tubuhnya begitu remuk, terlebih selangkangannya yang benar benar terasa sakit, perih dan panas walau hanya untuk buang air kecil. "Istirahat ya Be...." Renno mengecup kening Bella, dan hanya di balas anggukan oleh gadis itu Renno melihat Bella sampai gadis itu benar benar masuk ke dalam gerbang rumahnya, baru ia memutar mobilnya untuk kembali ke pent house nya. Renno tersenyum puas, bahagia, ia merasa Bella adalah miliknya sepenuhnya. "Dengan melakukan ini padamu, maka tak ada pria lain yang bisa memilikimu Bella. Hanya aku yang boleh dan hanya aku yang bisa memilikimu." Renno menyeringai, ia merasa menang, entah dari siapa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD