Bertemu Bella adalah hal yang membahagiakan saat ini untuk Renno.
Ia seperti menemukan mainan baru, obsesi baru dan tujuan baru, selain untuk mengalihkan pikirannya yang sedang kalut akhir akhir ini karena masalah keluarga yang sedang dihadapinya.
Sejak ibunya pergi, Renno memutuskan untuk tinggal sendiri di penthouse milik kakaknya, dan menghindar dari keluarganya yang ia tak mengerti mengapa sangat sulit untuk dipahami kerumitannya.
Dan Bella berhasil mengalihkan segala kekalutan pikirannya.
Bella, cinta pertamanya, dan ia harap gadis itu bisa menjadi cinta terakhir di hatinya, walau Renno belum yakin akankah cinta sejati ada di dunia ini.
Ia belum terlalu dewasa untuk mengerti seperti apakah keadaan dunia sesungguhnya.
'Aku akan memperjuangkan kita Bella' batinnya pasti.
***
Sudah beberapa bulan Renno tak terlihat ke sekolah, dan bella benar benar putus asa untuk mencari tahu.
Bahkan sampai hari ujian akhir sekolah dan hari kelulusan pun, Renno tidak muncul sama sekali.
Berkali kali ia menanyakan keberadaan Renno pada Gerald dan sahabat sahabat Renno yang lain, namun hasilnya tetap nihil.
Bolak balik Bella mendatangi pent house Renno, dan sesekali ia lancang masuk karena memang ia tahu pasword akses masuk pent house Renno, mencarinya di tiap sudut ruangan, dan tetap hasilnya sama.
Entah dimana Renno sekarang, tak ada yang mengetahui.
Bahkan pihak sekolah pun tak memberi keterangan apapun saat Bella mendatangi dan menanyakan keterangan keabsenan Renno di sekolah.
Kenapa Renno pergi tanpa pamit padanya?
Apa yang terjadi pada Renno sebenarnya?
Bella sempat berpikir buruk, apakah ada orang jahat yang menculiknya, lalu mengambil ginjalnya lalu membunuhnya?
Itu tidak mungkin.
Kalaupun itu terjadi, pasti ada beritanya di televisi ataupun media lainnya.
Lalu kemana Renno?
Bagaimana Renno tega pergi meninggalkannya begitu saja? Tanpa alasan tanpa penjelasan?
Padahal terakhir mereka bersama adalah hari yang begitu panjang, indah dan menggairahkan di hidup Bella.
Apa Renno bosan dan mencari yang lain setelah mempermainkannya seperti itu?
Air mata Bella tanpa terasa menetes, begitu terasa sesak di dadanya hingga ia susah bernafas.
Ia sudah memberikan harta paling berharganya di dunia ini dan sekarang pria itu menghilang.
Tanpa jejak tanpa kata.
Bella memandangi cincin yang tersemat di jari manisnya, cincin pemberian Renno, tanda kepemilikan dari pria itu.
"b******k kamu Renno..." umpatnya sembari terisak.
Sendiri di pojok kamar, tanpa seorangpun yang tahu dan mendengarnya.
Menyesal pun juga percuma, nasi sudah menjadi bubur.
Ia akan menanggungnya seumur hidup.
Cukup ini menjadi rahasianya sendiri.
Ayah, bunda, atau siapapun tak akan ia beritahu tentang rasa sakit yang benar benar menusuk hingga ke relung hatinya.
Merasa terkhianati, oleh janji manis yang dinamakan 'cinta'.
Sebenarnya tidak bisa menyalahkan cinta, karena memang ini semua karena kebodohannya, ia terlalu mencintai Renno, dan menginginkan pria itu, hingga ini semua terjadi.
***
Tiga tahun berlalu, dan Bella kini sudah menjadi seorang mahasiswi semester 6 program study Arsitektur di sebuah Universitas terkemuka di Ibukota.
Menjadi gadis dewasa yang menawan, namun tetap Bella yang lugu seperti dahulu.
Ia serius belajar, tak seperti waktu dirinya di SMA.
Bella ingin meraih cita citanya sebagai seorang Arsitek dan mandiri serta membuat kedua orangtuanya bangga.
Tak berbeda dengan Bella, Amanda juga mengambil jurusan yang sama dengan Bella.
Kedua gadis ini benar benar kompak, kemanapun besama.
Namun tak jarang bila Amanda tetap mengajak Fendy diantara mereka.
Ya... Amanda masih tetap bersama Fendy, pacarnya sejak SMA sampai sekarang ia berada di bangku kuliah.
Dan Bella masih setia dengan status jomblo sejatinya.
Berkali kali Amanda menjodohkan Bella dengan teman teman mereka di kampus namun Bella selalu menolak dengan dalih ia ingin fokus kuliah dan mengejar kesuksesan.
Amanda hanya menghela nafas kasar menanggapi jawaban omong kosong sahabatnya itu.
Ia yakin betul kalau sahabatnya itu masih mengharapkan kehadiran Renno kembali.
Karena cincin pemberian Renno masih saja melingakar di jari manis Bella, masih walau telah berlalu tiga tahun lamanya.
"Kamu masih mengharapkan Renno Be?"
Bella berpura pura sibuk tak menghiraukan pertanyaan Amanda.
"Mungkin Renno sudah mati Be...Mau sampai kapan kamu nungguin si kutu kupret itu?"
Bella bahkan sampai lupa kalau ia dulu sering mengumpati Renno dengan panggilan KUTU KUPRET.
"Apa kamu gak pingin punya pacar lagi, menikah, gendong anak gitu?"
Bella meletakan hand phone nya di atas meja, menoleh ke arah sahabatnya, kemudian tersenyum.
"Kamu nikah buruan sama Fendy, punya anak yang banyak, nanti aku pinjam satu anak kalian..." canda Bella
"Susah deh ngomong sama kepala batu kaya kamu..."
Dan yang disindir hanya bereaksi nyengir kuda.
Tiba tiba meja mereka didatangi seseorang.
"Maaf mau tanya, kalau kantor sekretariat dimana ya?"
"Ah..ehm..." Amanda melongo samapi gugup tak bisa menjawab, terkesima karena begitu tampannya pria yang bertanya pada mereka.
"Anda lurus terus, mengikuti lalu belok kiri ada tangga ke atas, ruangan nomer dua." Bella menjelaskan.
"Terimakasih nona nona cantik"
Pria itu berlalu namun sebelumnya sempat mengerlingkan matanya kepada Bella dan Amanda.
"Tutup tuh mulut... hampir banjir meja ini gara gara iler kamu..." ucapan Bella menyadarkan lamunan Amanda yang sedang terkesima.
Amanda mengelap bibirnya, masih tetap terpaku melihat pria sexy yang baru berlalu dari mereka, sementara Bella kembali sibuk dengan Handphone nya.
"Ganteng banget Be...."
"Biasa aja..."
"Sumpah, baru lihat cowok sexy di kampus ini setelah kuliah bertahun tahun."
"Apa Fendy kurang sexy? Aku laporin nih..." ancam Bella sembari pura pura menekan handphone nya memanggil Fendy, Amanda langsung meraih tangan Bella.
"Jangan gitu dong Be... ini namanya kan sedang menikmati rahmat Tuhan. Kalau Fendy sih tetep yang tercinta selalu dihati..." Bella memonyongkan bibirnya, mendengar pembelaan Amanda.
"Yuk ah ke kelas, udah mau mulai nih..."
Mereka pun masuk kelas, duduk di bangku sebelah tengah paling belakang.
Tak berapa lama dosen pembimbing masuk ke dalam kelas, memberikan sedikit basa basi kemudian memperkenalkan seseorang yang akan menjadi dosen tamu di kelas Bella.
Amanda kembali terperanjat, pria yang tadi bertanya, masuk ke kelas mereka dan untuk sementara menjadi dosen tamu.
"Saya Mario Wijaya, mohon bimbingannya"
"Yang tadi Be... yang ganteng tadi...'"Amanda heboh sekali, girang.
Sebenarnya Bella juga ikut terpesona dengan ketampanan dosen tamu tersebut, namun ia hanya menyimpannya dalam hati.
Dan tidak hanya mereka berdua yang kegirangan, hampir setengah kelas yang dihuni kaum hawa ini ikut heboh.
Dimanapun cowok ganteng emang selalu bikin heboh.
Pria yang bernama Mario itu seperti mengenali Bella dan Amanda, orang yang ia tanyai tadi di luar kelas.
Mario pun melempar senyum dan menganggukkan kepalanya kepada Bella dan Amanda.
Membuat Amanda semakin heboh" dia senyum ke aku Be..."
"Hanya perasaan kamu aja Man..." jawab Bella, walau hatinya ikut deg degan sebenarnya.
Bella merasakan jantungnya berdetak lebih cepat ketika bertatapan dengan Mario, walau dari jauh.
Matanya, senyumnya, membuat ia teringat pada seseorang.
Ya, senyum Mario dan cara pria itu menatapnya sepeti seseorang yang lama ia kenal, seseorang yang lama ia rindukan.
"Renno...." tanpa sadar nama itu terucap dari bibir Bella
Amanda menoleh ke arah Bella, menatap lekat sahabatnya yang sedang terpana melihat Mario, dan tatapannya beralih pada Mario.
Benar saja, pantas Amanda seperti tak asing dengan pria itu, Mario memang mirip sekali dengan Renno.
Mata Bella berubah sendu, kerinduan yang telah ia kubur dalam dalam kini menyeruak kembali.
***