CHAPTER 24

1457 Words
Bella menyesap segelas es capucinno yang berada di tangannya. Tatapannya kosong, pandangannya entah berfokus pada apa, pikirannya melayang tak tertuju dengan Amanda yang sedari tadi nerocos tak ada hentinya. "Ya kan Be?" hanya itu kata yang ia dengar dari bibir sahabatnya, dan ia hanya mengangguk tanpa berkomentar. "Be Bella Bella..." Amanda menyenggol lengan Bella dengan sikunya, minta perhatian. Bella melihat ke arah yang di tunjuk Amanda. Dan seorang pria mendatangi mereka dengan senyuman. "Boleh saya duduk disini?" Tanyanya tanpa menunggu persetujuan dari kedua gadis itu, ia langsung saja duduk dihadapan mereka. "Iya silakan" jawab Amanda cepat, dengan tatapan masih terpaku dengan pria yang ada di hadapannya. "Terimakasih. Ternyata kalian mahasiswi di kelas yang saya ajar nanti ya..." Pria itu tersenyum, melirik ke arah Bella yang sedari tadi hanya diam. Amanda terlihat antusias pada pria dihadapannya itu, namun si pria yang bernama Mario Wijaya itu hanya menatap ke arah Bella. "Saya Mario, kalau boleh kenal..." Mario mengulurkan tangannya ke arah Bella, namun buru buru di sambut oleh Amanda. "Saya Amanda" Mario tersenyum, kemudian melepas tangan Amanda, kembali mengulurkan tangannya ke arah Bella, dan kali ini Bella menyambutnya, walau masih dengan ragu ragu. "Bella" jawabnya singkat "Ehm pak Mario, masih muda sekali namun sudah menjadi dosen?" Amanda mulai kepo Mario tersenyum " Sebenarnya saya hanya membantu bapak Indrawan saja sebentar, karena beliau katanya ada urusan, saya dulu juga kuliah disini loh...." "Owh.. benarkah pak?" "Bisa jangan panggil pak? apa saya terlihat sudah bapak bapak?" canda Mario "Anda masih sangat muda pak" Bella mulai buka suara "Saya baru 25 tahun, mungkin tidak berbeda jauh dengan kalian..." "Tapi sepertinya kurang pantas kalau kami hanya memanggil anda dengan nama sapaan saja pak." jawab Bella "Baiklah, yang penting kalian nyaman" Pelayan membawakan secangkir kopi pesanan Mario, dan ia mulai menyesapnya. "Secangkir kopi di kafe yang ramai dengan di temani dua gadis cantik, sungguh sore yang sempurna" ucap Mario Amanda tertawa, ia merasa sepeti ABG yang sedang jatuh cinta, tersihir ketampanan mario yang sempurna bak dewa Yunani. Wajah dengan garis rahang tegas, hidung mancung, bibir yang s*****l dan tatapan mata sendu, sempurna. Saat bibir nya menyentuh pinggiran cangkir kopi. kemudian menyesapnya, persis seperti melihat iklan di televisi, Amanda begitu terpukau, tanpa memperhatikan raut wajah sahabatnya yang berada di sebelahnya yang sudah berubah sendu sedari tadi. "Pak Mario sudah menikah?" Tanya Amanda tanpa basa basi "Belum... Bisa carikan buat saya?" candanya Amanda tertawa agak keras yang membuat Bella dan Mario tertegun "Ah...bapak bisa aja...apa kami terlihat seperti mak comblang?" jawab Amanda masih dengan tawanya "Kalau kamu?" tatapan Mario beralih menatap manik mata Bella. Pandangannya memang tak teralih sedari tadi dari Bella, Apakah ada ketertarikan Mario pada Bella? "Kalau saya sih udah punya pak...Kalau dia sih masih jomblo pak...jomblo sejati."Yang ditanya Bella eh ini malah Amanda terus yang jawab. Merasa di perhatikan terus oleh Mario, membuat Bella jadi salah tingkah, ia mengalihkan pandangannya. "Syukurlah...." gumam Mario Dan obrolan mereka berakhir, karena Bella sudah di telphon bundanya untuk segera pulang karena hari hampir petang. *** Entah ini suatu kebetulan atau bagaimana, selain saat di kelas, Bella jadi sering bertemu dengan Mario. Entah saat di kantin , di cafe depan kampus, bahkan sekarang saat ia sendirian di sebuah toko pakaian pun ia bertemu dengan Mario. Orang bilang kalau sekali dua kali kita bertemu dengan seseorang tanpa sengaja itu adalah sebuah kebetulan, namun kalau berkali kali apakah ini bisa disebut takdir? "Kita bertemu lagi" ucap Mario dengan ramah, Bella hanya mengangguk. Sebenarnya ia sedikit merasa aneh dengan pria yang berada di sampingnya kini. Ia merasa seperti sedang dibuntuti. Hampir di setiap tempat Bella sering sekali berjumpa dengan Mario, bahkan pria itu seperti sengaja mendekatinya. "Pak Mario tidak sibukkah?" tanya Bella "Tidak, saya sangat senggang. Kenapa? Mau ngajak jalan?" Bella bingung dengan jawaban yang di berikan pria itu, benar benar to the point sekali. "Saya tidak ingin punya masalah dengan istri bapak" "Saya kan sudah bilang sama kamu kalau saya belum menikah..." jawabnya sembari tertawa kecil "Pacar?" "Tidak ada... Kenapa? Mau jadi pacar saya?" Sepertinya Bella salah memberikan pertanyaan pada pria itu. Mario tipikal orang yang tak suka basa basi ternyata. "Bapak..." "Jangan panggil saya bapak Bella" "Kalau begitu...abang..."candanya "Kamu pikir saya abang tukang bakso?" Bella tersenyum, ia membalik balikkan baju baju yang ada di depannya untuk mengalihkan perhatian "Ya...yang itu bagus. Cocok dipakai kamu" Mario menunjuk baju yang tanpa sengaja di pegang Bella "Ehm ha? Yang ini pak?" "Sudah saya katakan jangan panggil bapak"Mario mengacak ujung kepala Bella, membuat ia bertambah tidak fokus. "Saya bingung....." mata mereka beradu tanpa sengaja, Mario tersenyum dan membuat hati Bella kembali bergetar, 'begitu mirip...'batinnya "Kakak...bagaimana?" saran Mario, dan Bella pun mengangguk. Mario membayar seluruh belanjaan yang di bawa Bella. Sebuah kemeja panjang bunga bunga kecil, sebuah sepatu berwarna putih dan sebotol parfum beraroma buah favorite Bella. Bella benar benar merasa tidak enak dengan sikap Mario yang berlebihan padahal mereka tak ada hubungan apapun. "Traktir saya makan enak kalau kamu merasa tidak enak" Begitu balasan Mario. Mendengar jawaban Mario, membuat Bella semakin tidak enak. Mario menawarkan untuk mengantar Bella, karena khawatir Bella pulang sendirian naik taxi, Bella tidak enak menolak seluruh kebaikan Mario. "Sampai ketemu lagi di kampus" "Terimakasih untuk hari ini kak..." Mario mengangguk, mengantar Bella sampai depan gerbang rumahnya dan pergi setelah memastikan Bella masuk kerumahnya. Bella meletakan belanjaannya di atas meja belajarnya. Ia melempar tubuhnya di atas ranjang, menelentangkan tubuhnya, pandangannya menerawang ke langit langit kamarnya. Pikirannya melayang, tiba tiba bayangan Mario yang tersenyum padanya muncul. Namun cepat cepat ia tepis bayangan Mario dari matanya, ia sama sekali tak berniat menjalin hubungan selama study nya belum selesai. Ia tidak ingin terpuruk seperti tiga tahun yang lalu, saat ia jatuh cinta dengan Renno. Jatuh kedalam pesona Renno, hingga hilang akal sehatnya. *** Pagi ini tak seperti biasanya,Pak Handoyo terlihat lebih sibuk dari biasanya, dan Bella yang biasa sering bermanja manja dulu dengan ayahnya saat sang ayah berada di rumah, kini merasa sedikit terabaikan. "Ayah kenapa bun?" Bella memberanikan diri untuk bertanya. "Ada sedikit masalah di pabrik" jawab bu Pertiwi singkat namun Bella tahu bahwa ini pasti bukan masalah kecil sampai sampai pak Handoyo begitu panik tanpa melihat Bella yang berpapasan dengannya. Padahal Bella berencana untuk meminta uang kepada ayahnya guna membayar biaya semester, namun di urungkannya. "Sepertinya aku mesti nyari kerja sampingan deh Man" Bella menceritakan apa yang terjadi dengannya di rumah pada Amanda saat mereka bertemu di kantin kampus. "Maaf ya Be... aku belum bisa bantu..." "Gak papa Man...aku cuma pengen tukar pikiran saja sama kamu..." "Mau kerja di tempat saya?" Mario tiba tiba datang entah darimana, kemudian duduk disamping Bella Bella dan Amanda menoleh ke arah Mario dengan tatapan bingung . "Saya baik baik saja kak, saya akan atasi sendiri" ucap Bella, merasa dirinya bukan siapa siapa Mario dan merasa tidak enak mendapat bantuan dari orang asing. "Saya hanya ingin menolong, tolong jangan menolak Bella." Mario dengan sopan dan tersenyum menatap Bella Bella menundukkan wajahnya, dalam hatinya ia butuh bantuan, namun setengah hatinya tak ingin berhutang budi dengan orang yang sama sekali tak ada hubungan apapun dengannya. "Kerja apa kak Mario? Jangan jangan Bella di suruh yang aneh aneh ya... jangan mau Be..." canda Amanda "Kamu pikir saya apaan??" Mario tertawa, Bella hanya tersenyum menanggapi. "Sebenarnya keluarga saya punya usaha konstruksi, kamu bisa kerja pada saya, kalau kamu mau." jelas Mario. "Soal jam kerjanya fleksibel, ngikutin jam kuliah kamu. Tapi tak ada hari libur" Tambah Mario "Saya ngapain nantinya? Apakah butuh kuli untuk mengaduk semen?" tanya Bella pura pura bodoh Mario tertawa, di sambung Amanda. "Kamu ada ada aja Bella... Masa saya suruh mahasiswi seperti kamu untuk ikut mengaduk semen?" "Tapi pantes kok kak, Bella suruh aja nata batu bata juga dia ok." timpal Amanda Bella melotot ke arah sahabatnya itu, Amanda berhenti tertawa seketika. "Ikut saya ke lapangan, kemudian untuk membuat rencana di proyek saya. Bukankah itu sesuai jurusan kamu? Kamu juga sekalian belajar untuk terjun langsung dalam bidang yang kamu pelajari." Benar juga yang dikatakan Mario, sambil menyelam minum air ini namanya. Ia bisa menghasilkan uang sekaligus belajar. Kapan lagi ada kesempatan emas seperti ini? Namun apakah ayah bundanya akan mengijinkan? Tanpa menunggu persetujuan dari kedua orang tuanya, Bella langsung mengiyakan tawaran Mario, dan Mario menyambut antusias jawaban Bella. "Apa kamu gak ngerasa kalau kak Mario itu baik sekali padamu Be?" ucap Amanda sesaat setelah kepergian Mario Bella memang sudah merasa seperti itu sejak kemarin kemarin, namun pikirannya itu ia tepis karena merasa tidak enak berpikran negatif pada orang yang sudah baik pada kita. "Mungkin memang kak Mario orangnya seperti itu" jawabnya "Tapi ini berbeda Bella, kebaikan serta perhatiannya padamu seperti..." "Kamu mau bilang kalau kak Mario naksir aku gitu?" Bella langsung memotong ucapan Amanda "Dia emang orang nya baik Man...." Amanda tak menyauti lagi. Cukup lega baginya kalau sahabatnya itu mendapat penyelesaian dari masalah yang sedang dihadapinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD