CHAPTER 25

1267 Words
Kondisi di rumah sepertinya sedang tidak kondusif. Ayah sibuk bolak balik keluar kota, sedangkan bunda dan Evelyn juga disibukkan dengan agenda entah apa hingga tinggal aku saja sendiri di rumah seperti biasa. Bahkan aku tidak sempat mengatakan pada ayah dan bunda kalau aku sudah mendapat pekerjaan sampingan dari kak Mario. Bunda tidak menjelaskan secara rinci apa yang terjadi dengan kondisi pabrik ayah, tapi dari raut wajah ayah saat terakhir kami bertemu, sepertinya masalah di pabrik benar benar berat. Seandainya sekarang aku sudah lulus kuliah, ingin sekali aku membantu bisnis ayah walaupun aku tidak tahu sama sekali soal bagaimana cara menjalankannya. Aku hanya bisa berdoa semoga urusan ayah cepat selesai dan keadaan di pabrik segera membaik. Aku membuka pesan yang ada di telephone genggamku, ternyata sedari tadi kak Mario menghubungi. "Bisa datang ke kantor saya sekarang?" begitu isi pesan kak Mario "Siap" balas ku singkat. Kemarin dia sempat memberikan alamat kantor pusat PT. Wijaya Abadi (Persero) kepadaku, dan sampailah aku sekarang di depan sebuah gedung megah tujuanku. Aku memasuki kantor yang katanya milik keluarga kak Mario itu. Sebelum aku sempat bertanya dengan siapapun, seorang satpam sudah menghampiriku dan mengantar ku menuju sebuah ruangan di lantai paling atas gedung ini. "Silakan masuk nona" Kak Mario tersenyum melihat kedatanganku, iapun meletakkan berkas yang ia pegang kemudian bangkit dari duduknya lalu menghampiriku. "Silakan duduk Bella." "Terimakasih" Tanpa basa basi, kak Mario menjelaskan apa yang mesti aku kerjakan saat bersamanya. Ternyata ia memintaku untuk menjadi asistennya, menemaninya saat ia berada di lapangan ataupun saat bertemu dengan klien. Kak Mario menjelaskan dengan bahasa yang begitu mudah di mengerti, halus, hingga bukannya aku mendengarkan penjelasannya, aku malah terbuai dengan cara ia berbicara denganku. Sadar Bella, kamu lagi kerja sekarang!!! Aku mengerjapkan mataku berkali kali, tak ingin kak Mario menyadari aku sedang terpukau dengan parasnya. "Sudah jelas Bella?" tanyanya. "Iya kak...ehm...apa saya tetap panggil kak Mario atau..." "Panggilan lagi ya...ehm...kamu boleh panggil bapak kalau kita sedang bersama orang lain, tak masalah kan?" Aku mengangguk sembari tersenyum. Kak Mario.... tampan, pintar, dan juga kaya. Benar benar limited edition. Telephone genggam kak Mario berbunyi, ia meninggalkanku untuk berbicara dengan seseorang, dan aku di suruh membaca berkas berkas yang ia berikan tadi. Bukannya membaca berkas berkas yang ada di hadapanku, aku malah sibuk memperhatikan pria tampan yang berada di depanku. Kemeja warna biru pastel yang dipadukan dengan celana warna navy, sangat pas melekat di tubuh atletis kak Mario. 'Jangan menyia nyiakan pemandangan indah yang ada di depanmu Bella' gumamku sendiri sembari senyum senyum Sesekali kak Mario melirik ke arahku, walau masih sibuk berbicara di telephone. "Ya sudah kakak tunggu ya...." kak Mario menutup panggilannya, kemudian kembali berdiskusi dengan ku. "Cukup sampai disini dulu Bella, kalau ada yang kurang jelas, kamu bisa hubungi saya, atau saat kita bertemu besok." Kak Mario mengantar ku sampai ke lantai bawah kantornya. Sebenarnya aku sedikit merasa risih, karena bagaimanapun ia bos disini, dan para karyawannya menatap kami dengan tatapan penuh selidik. Namun disisi lain aku merasa sedikit bangga bisa berjalan dengan pria tampan seperti kak Mario, kapan lagi bisa dapat kesempatan cinderella seperti ini. "Hati hati di jalan Bella, maaf saya tidak bisa mengantar" "Tidak apa apa kak, terimakasih atas semuanya. Saya akan berusaha dengan baik" jawabku penuh semangat. Kak Mario tersenyum, Oh My GOD...senyumnya...gak kuat aku lihatnya. *** Sudah hampir sebulan Bella bekerja pada Mario. Bella merasa sudah semakin nyaman dan sedikit menguasai apa yang harus di kerjakannya, dan Mario dengan sabar menuntun dan mengajari Bella. Bella jadi semakin sibuk dan sering sekali melupakan keberadaan Amanda. "Kita jalan deh....jangan ngambek gitu dong Man..." goda Bella pada sahabatnya itu yang sering sekali uring uringan karena hubungannya dengan Fendy sedang tak lancar dan Bella yang sedang sibuk bekerja. Akhirnya Amanda setuju untuk mereka nongkrong di cafe langganan mereka sejak SMA dulu. "Maaf ya Man...kamu tahu sendiri keadaan keluargaku sekarang sedang bagaimana..." "Iya Bella...aku yang harusnya minta maaf, aku malah nambahin pikiran kamu dengan masalahku ini." Kedua gadis itu saling mengeratkan tangan, menguatkan satu sama lain. Saat Bella tanpa sengaja mengalihkan pandangannya, ia melihat sang bunda sedang duduk di cafe yang sama dengan seorang wanita cantik seusia bundanya pula. "Man, itu kayaknya bunda deh...aku kesana dulu ya..." Amanda mengangguk, Bella pun berjalan meninggalkan Amanda dan menghampiri bundanya. "Bunda..." Pertiwi menoleh ke arah Bella kemudian tersenyum. Bella duduk di samping bu Pertiwi, kemudian mencium punggung tangan bundanya itu. "Kamu disini...?" "Iya bunda, sama Amanda. Tuh..." Bella menunjuk Amanda yang sedang duduk tak jauh dari tempatnya sekarang. "Bunda sama..." "Ini tante Annita Bella, kamu inget?" Bella tersenyum kemudian menghampiri wanita paruh baya yang masih cantik itu, meraih tangannya, kemudian mencium punggung tangan wanita yang bernama Annita itu. "Tante..." Annita mengelus pucuk kepala Bella sembari tersenyum. "Bella tambah cantik ya..." "Terimakasih tante." Bella kembali duduk di samping bu Pertiwi. "Bunda, Bella sama Amanda lagi ya..." "Iya sayang...jangan pulang malam ya..." "Iya bunda.." Belum sempat Bella beranjak dari duduknya, seorang pria yang ia kenal menghampiri bu Annita dan berdiri di sampingnya. "Mama jadi pulang?" ucapnya "Kak Mario" "Bella" mereka beradu pandang, membuat para ibu di sampingnya mereka menatap denagn pandangan bingung. "Kamu kenal, Bella?" "Kalian saling kenal?" Mario pun duduk di samping bu Annita, tanpa rasa canggung ia bercerita soal mereka yang sudah lama saling kenal. "Wah jeng Tiwi...sepertinya kita bisa besanan..."Canda bu Annita yang di sahuti senyuman oleh bu Pertiwi, membuat wajah Bella merona "Tante Annita ada ada aja...."jawab Bella kikuk Dan reaksi Mario hanya tersenyum. Bu Annita meminta putra nya untuk mengantar Bella pulang, sementara ia masih ingin mengobrol dengan bu Pertiwi. Di mobil, Mario dan Bella hanya saling diam, sementara Amanda yang berada di kursi belakang merasa tak dianggap keberadaannya. 'Ternyata dunia ini sempit' batin Amanda. *** "Ada yang ayah ingin sampaikan" Pak Handoyo mendudukkan kedua putrinya serta istrinya di ruang tengah. "Pabrik ayah ada masalah, dan sepertinya kita tidak bisa mempertahankan rumah dan pabrik lagi" Penjelasan pak Handoyo membuat Bella dan Evelyn kaget, namun bu Pertiwi mencoba bersabar menghadapi cobaan ini. Bella langsung memeluk pak Handoyo, ia tahu begitu kerasnya ayahnya dalam mempertahankan pabrik tauco selama puluhan tahun hingga bisa sebesar ini. "Sabar ya yah...semoga kita bisa melewati semua ini." Pak Handoyo hanya mengangguk, ia tak bisa menangis dihadapan kedua putrinya, ia harus terlihat tegar walau hatinya merasa sangat lelah dan hancur. "Kita harus pindah dari sini." "Kemana bunda?" tanya Evelyn "Kita balik ke Malang, besok kita mulai beres beres, mungkin minggu depan kita pergi." jawab bunda. "Kuliah Bella gimana bunda? Bella pindah kampus atau gimana?" Bella merasa bingung karena ia baru sampai semester 6, masih satu tahun lagi untuk lulus. Berbeda dengan Evelyn yang sudah lulus SMA, tinggal menunggu masuk kuliah. "Bella...ada yang mau ayah sama bunda sampaikan sama kamu" Pak Handoyo memegang kedua tangan Bella, menatap kedua mata putri sulungnya itu dengan tatapan bersalah. "Bella untuk sementara disini dulu sampai Bella lulus kuliah." bu Pertiwi memulai. "Bella ngekost gitu yah?" Bella menatap pak Handoyo bingung. "Bella inget teman bunda yang namanya tante Annita kan?" Bella mengangguk "Bella nanti sementara tinggal di tempatnya tante Annita. Kemarin kemarin bunda dan ayah sudah membicarakannya dengan tante Annita dan suaminya, dan mereka setuju." jelas bu Pertiwi dan semakin membuat Bella melongo mendengarnya. "Apa Bella tidak bisa ngekost aja ayah? Bunda? Kan gak enak numpang di tempat orang yang gak kita kenal" jelas Bella "Tante Annita dan Om wijaya, suaminya, akan menjadi calon mertua kamu nanti Be... Mereka bukan orang asing." penjelasan terakhir bu Pertiwi sukses membuat Bella tercengang. Sementara pak Handoyo tak kuasa untuk berkata apapun kepada putri kesayangannya itu. Sudah cukup baginya menerima banyak bantuan dari keluarga Wijaya, dan mereka hanya bisa menerima saat bu Annita meminta Bella untuk bertunangan dengan Mario, putra sulung keluarga Wijaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD