Tiba mereka di Rumah Sakit Bekasi, ketika masuk ke dalam kamar UGD, Joshua terbaring dengan kaki penuh perban. Pandangannya langsung jatuh pada Mirna yang ikut menjenguk. Wajahnya tampak menahan diri, menutup rapat emosi dan perasaan yang tak bisa ia ungkapkan karena kehadiran papanya di situ. Pak Yanto yang lebih dulu memecah keheningan. “Jos! Bagaimana sekarang keadaanmu?” “Sudah baikan, Pa… tapi masih sakit, belum bisa lancar jalannya.” “Mulai hari ini, Papa melarang kamu naik mobil. Pakai sopir saja! Papa tidak mau kamu mengalami kecelakaan lagi!” Joshua hanya terdiam. Ucapan itu terasa seperti tekanan psikologis. Ia sadar dirinya memang terlalu sembrono, dan kini, setelah peristiwa itu, rasa takut untuk kembali menyetir tiba-tiba menghantui. Mirna sejak tadi berdiri di samping P

