bc

Antara Benci dan Cinta bersatu

book_age16+
33
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
drama
city
like
intro-logo
Blurb

."Seratus juta, dan kau akan menjadi menantuku."

Tawaran dari Pak Yanto terdengar seperti mimpi—atau kutukan. Mirna hanya perlu menikah dengan Joshua, pria dingin pewaris keluarga kaya, dan semua hutang ayahnya akan lunas.

Tapi bagaimana jika pernikahan itu bukan tentang cinta?

Joshua tak pernah menginginkannya. Dan Mirna tahu, ia dibeli, bukan dicintai.

Namun hari-hari berlalu, dan luka-luka lama berubah jadi pertanyaan baru:

Apakah bisa mencintai orang yang tak pernah kau pilih? Dan bagaimana jika perlahan hatimu memilihnya—justru saat kau sedang belajar membencinya?

chap-preview
Free preview
Kedatangan Debt collector
Di Ruang tamu yang kecil dan dinding dinding yang disekitarnya mulai terkelupas, perabotan yang seadanya. Lampu diruangan itu tidak begitu terang.Terdapat Ayah dan anak perempuan sedang berbicara serius. “Mirna, kamu tahu kan rumah ini harus dijual. Ayah punya utang yang tidak sedikit, dan Ayah harus lunasi bulan ini." kata Ayah perlahan namun tegas. Aku merasakan ketegangan yang mendalam dalam suara Ayah. Kata-katanya menggantung di udara, berat dan penuh kecemasan. Sebuah kenyataan pahit yang harus kami hadapi bersama. Udara di ruangan itu terasa berat, seolah beban masalah yang Ayah bicarakan turut mengisi setiap sudut. Suara jam dinding berdetak pelan, menghitung waktu yang kian menipis. Aku menatapnya tak percaya, dalam hatiku aku bertanya "Kenapa baru kali ini Ayah membicarakan tentang masalahnya?Sebelumnya Ayah tidak pernah sekuatir ini dan tampak kecemasan di wajahnya." Lalu aku mulai mendekati Ayah dan duduk disebelahnya. “Ayah, ini rumah satu-satunya yang kita punya. Tempat inilah Mirna dibesarkan. Kenangan kita... semua ada disini, Sayang kalau harus dijual." Suaraku kian melemah dan bergetar. Ayah duduk lelah di kursi rotan yang rusak sebagian terdapat bekas rayap yang menggerogoti hingga hampir tak sanggup lagi untuk menopang berat badan seseorang, tangannya yang gemetar menggenggam lengan kursi seolah mencari pegangan di tengah badai masalah ini. “Mereka terus menerus menagih ke tempat kita ,Mirna. Ayah sudah menunggak tiga bulan. Kalau tidak bisa bayar, rumah ini akan dilelang dan dijual paksa, dan kita bakal tak dapat sepersenpun bila terjual.Ayah bisa kehilangan semuanya,Nak." Aku diam. Bukan karena setuju, tapi karena tak tahu harus bilang apa. Di luar rumah, suara kendaraan berlalu-lalang seolah tak peduli bahwa hidup kami sedang mengalami masalah yang pelik. Kata-kata itu menggema di kepalaku, membuatku bingung dan takut. Aku hanya bisa terpaku, merasa tak berdaya menghadapi situasi ini. “Ayah nggak sanggup lagi,” sambungnya. “Sudah terlalu lama Ayah pendam ini.” Aku mendekat, berlutut di hadapannya. Aku merasakan kepedihan yang mendalam, kelelahan Ayah seolah ikut menyesakkan dadaku sendiri. “Ayah, aku bisa bantu. Aku akan cari kerja untuk melunasi hutang Ayah, kerja apapun yang penting halal . Asalkan Jangan jual rumah ini.” Matanya mulai berkaca, menatapku dengan campuran rasa takut dan harapan yang sirna ditengah badai kehidupan.o “ Ayah juga ngga mau jual rumah ini, tapi keadaan mendesak, Nak" Aku menunduk. Air mataku jatuh juga. “Tapi Ayah... tolong jangan sekarang. Beri aku waktu. Sebulan saja. Aku akan berusaha cari uang ” Dia menatapku lama, seperti menimbang-nimbang, berjuang antara putus asa dan percaya. “Mereka sudah mengancam, Mirna. Kalau sampai minggu depan belum ada kabar, mereka akan datang bawa orang.” Aku merinding, seluruh tubuhku ikut tegang. “Siapa mereka?” tanyaku cepat. Ayah terdiam. “Orang-orang dari kantor Bank... tapi mereka sepertinya akan bawa debt collector juga. Katanya, kalau tidak bayar minggu ini, mereka akan bertindak lebih lagi." Ketika mendengar perkataan Ayah , aku merasa sedih karena rumah ini bukan hanya tempat tinggal bagiku, tetapi juga kenangan yang tak terlupakan saat aku masih kecil dan tumbuh pada masa lalu Dan sekarang akan hilang begitu saja? Tidak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Belum sempat aku menjawab, terdengar dari luar suara berisik. Tampaknya ada sekumpulan orang datang ke tempat kami. Jumlahnya yg datang cukup banyak. Brak! Brak! Brak!. Suara ketukan pintu yang keras menggema semakin cepat dan kasar, seperti hentakan palu yang berusaha merobohkan segala harapan kami. Jantungku berdetak tak beraturan, udara di sekeliling terasa sesak, seolah seluruh rumah ikut menahan napas dalam ketakutan. Dua pria berbadan besar itu tidak hanya berdiri di depan pintu, mereka mengelilingi halaman dengan tatapan dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Salah satu dari mereka menggenggam sebuah tongkat besi, yang ia ayunkan dengan santai sambil terus mengancam. Suaranya kasar dan penuh amarah ketika berteriak "Buka pintu! Cepat keluar, pak Darto!" Teriaknya mengema keseluruh ruangan rumah. Ketukan pintu digedor makin keras. Aku makin ketakutan dan segera mengintip dari balik tirai. Rupanya dua pria berbadan besar yang berdiri di depan pintu , sambil berteriak. “Pak Darto! Ini peringatan terakhir! Kalau tidak ada pembayaran, kami akan ambil barang-barang rumah, dan jangan salahkan kalau kami bawa orang-orang kami minggu depan!” “Astaghfirullah...” bisik Ibu sambil menggenggam dompetnya yang kosong. Ia melangkah ke depan, tapi tangannya gemetar. Ibu yang tadi masih duduk , kini berdiri gemetar, wajahnya pucat dan matanya berkaca-kaca. Tangannya menggenggam erat kain di d**a, seperti berusaha menahan kehancuran yang akan segera melanda keluarga kami. Aku berusaha menguatkan diri, namun rasa takut menyelimuti seluruh tubuhku. Suara langkah kaki mereka yang berat dan suara bisik ancaman dari mulut mereka membuat bulu kudukku berdiri. Tiba-tiba, salah satu pria itu melompat pagar dengan mudah, masuk ke halaman rumah tanpa izin. Aku terdiam, tak tahu harus berbuat apa. “Ayah masuk kamar!” kataku cepat. Ayah menatapku bingung, lalu berjalan masuk ke dalam kamar, menyeret kakinya lemas. Salah satu dari pria itu melompat pagar. Aku ketakutan.Aku teriak sekuat tenaga. “Ibu... kita harus lapor RT! Atau polisi!” seruku panik. Tiba-tiba terdengar bunyi keras dari dalam kamar. Bum! “Ayah!” aku berlari masuk. Ayah tergeletak di lantai, tubuhnya melemah seolah seluruh tenaga yang ia miliki habis terkuras. Tangannya berusaha memegang dadanya yang terasa seperti diremas oleh beban yang sangat berat. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi, jauh berbeda dengan sosok Ayah yang biasanya kuat dan tegar. Suara nafasnya tersengal-sengal, seolah berjuang untuk tetap hidup, Ia berusaha menahan rasa sakit dan ketakutan yang selama ini ia sembunyikan. Tidak... Ayah...” aku segera mendekati Ayahku , jantungku berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Tanganku gemetar saat mencoba meraih tangan Ayah yang kini dingin dan berkeringat. Aku berusaha menenangkan diri, walau dalam hati rasanya hancur berkeping-keping. “Ibu! Ayah... Ayah kena serangan jantung!” teriak Mirna gugup.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
68.6K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook