Ayah Mirna terkena serangan jantung

869 Words
“Aaayahhh!” teriak Mirna, suaranya memecah kesunyian gang sempit. Para tetangga terperanjat. Beberapa berlari, beberapa hanya berdiri mematung melihat Pak Darto tergeletak di lantai rumahnya yang sempit. “Ada apa?!” teriak seorang ibu. Suasana langsung ricuh—napas panik, suara sandal berlari, bisik-bisik ketakutan. Beberapa dari Mereka panik, dan mencari tahu apakah sedang terjadi? Kenapa teriaknya keras sekali? Seorang ibu muda berjilbab bertanya penuh kecurigaan " Ada apa sih, rame rame . Apa ada yang terbunuh? Teriakannya itu, bikin jantungan aja" Dibalas sama ibu ibu lainnya" Bukan! Tampaknya ayahnya Mirna kena serangan jantung ". Diantara kerumunan orang yang makin ramai tetangga, Bu Yani berteriak. "Pak Darto kenapa?!" "Ga tau, Bu. Tapi kemungkinan sakit jantung.tiba tiba pingsan ga sadarkan diri." Seseorang dari mereka menjawab. Sementara kejadian di luar rumah , beberapa pemuda mulai berdatangan mencegah para Debt kolektor main hakim sendiri. Diantaranya ada beberapa pemuda yang ikut mendorong para debt collector yang masih berdiri dengan wajah garang. "Hei! Kalian jangan seenaknya masuk ke rumah orang tanpa permisi." "Urusan kami sama keluarga ini. Jangan ikut campur!" jawab salah satu penagih, menantang. "Maaf pak, kalian siapa ? Saya ketua RT disini." timpal Pak Umar. " Kami dari bank Asia , ini surat penagihan yang belum dibayar oleh pa Darto. Debt colector itu mengambil berkas hutang yang tertera di perjanjian hutang piutang. " Begini aja,pak. Nanti bisa dibicarakan kembali , sekarang ini lebih baik ditunda dulu.Kalau bapak memaksa saya tidak dapat menjamin keselamatan bapak semua." Pak RT melakukan intimidasi Salah satu debt collector menatap tajam. "Mereka punya utang. Kami hanya nagih. Kami sudah sabar tetapi mereka belum juga melakukan pembayaran sedikit pun." " Saya mohon bapak bapak segera meninggalkan tempat ini. Jangan salahkan kami kalau kami melakukan kekerasan." Tegas pak RT. Situasi makin memanas. Warga semakin banyak berdatangan. Para penagih mulai mundur perlahan, terintimidasi kerumunan. " Guys, untuk sementara waktu kita mundur dulu. Keadaan makin tidak aman." Kata salah satu debt colector itu Sementara itu, tubuh ayah Mirna diangkat warga menuju puskesmas. Mirna hanya bisa terduduk di tanah, menangis dalam diam, hatinya penuh sesal. Di puskesmas, Mirna berusaha menenangkan diri, tapi wajahnya tetap pucat. Jantungnya berdegup kencang, seolah ikut merasakan detak jantung ayahnya yang kini bergantung pada alat bantu medis. Ketakutan akan kehilangan orang yang paling ia cintai menyelimuti hatinya. Petugas medis segera memasang alat pemicu jantung di d**a Pak Darto. Tiga kali kejutan listrik diberikan. Tit... tit... tit... Mirna yang duduk di lantai langsung sujud, berdoa dengan suara lirih tapi penuh harap. “Tuhan... jangan ambil ayahku. Aku belum siap…” Detik berikutnya, layar monitor mulai menampilkan detak kembali. Mata Mirna membelalak. Ia bangkit dan memandangi alat monitor itu berdetak kembali! “Terima kasih, Tuhan... Kau kembalikan ayahku…” Tangan ayahnya perlahan bergerak. Kelopak matanya terbuka, perlahan, hingga cahaya lampu menyilaukan retinanya. “Mirna...? Itu kamu?” “Iya, Ayah… aku di sini.” Pak Darto tersenyum lemah. “Syukurlah… aku masih bisa melihatmu…” Mirna menggenggam tangan ayahnya erat-erat, air mata terus menetes. “Ayah... jangan pikirkan utang dulu. Istirahatlah. Mirna akan cari jalan keluarnya…” Setelah napas ayah stabil sedikit, Mirna menempelkan kepala di bantal samping, merasakan kelegaan. Mirna memandang kearah jendela pemandangan bertemu kerumunan yang bergerak cepat di seberang jalan. Ada sesuatu yang gaduh di sana, suara orang berteriak dan langkah kaki yang terburu-buru—sesuatu yang terasa tak kalah berbahaya dari masalah mereka sendiri. Sementara itu, di seberang jalan puskesmas, sebuah konflik lain sedang memanas… Di saat bersamaan sesosok lelaki paruh bayah sedang berjalan bersama sekelompok orang ingin menuju tempat pembebasan lahan. Ia memberikan perintah kepada beberapa anak buahnya " Amankan lahan kosong yang ada di sebelah puskesmas. Kalau perlu lakukan tindakan kekerasan bila melawan. Mengerti kalian!" Orang itu adalah Yanto pengusaha properti yang kaya raya. ia menguasai seluruh tanah di daerah Pandeglang, Banten, bahkan gubernur dan aparat kepolisian hormat dan segan kepada nya. Wajah Yanto dingin, emosinya tak tampak diwajahnya . Ia berjalan dengan tenang, langkah terukur, seolah setiap instruksinya sudah dipikirkan sampai detail. Anak buahnya tunduk mendengar perintahnya, sebuah wibawa yang membuat orang biasa memilih mundur untuk tidak bermasalah dengannya. Bagi sebagian orang menganggap pria seperti pak Yanto bukan hanya kaya tapi ia juga punya cara membuat orang takut kepadanya. Tiba tiba sekelompok preman yang menjaga lahan tanpa aba aba melakukan p*********n membabi buta. " Ayo! Serang ...jangan biarkan mereka mengambil lahan ini." Kericuhan tak terhindari, suara besi saling bentrok, teriakan nyaring terdengar di sekumpulan yang sedang bentrok.Salah satu preman mengayunkan parang dengan garang tapi tebasannya meleset. Anak buah Yanto bergerak cepat—pegangan, serangan terkoordinasi, satu hantaman keras ke belakang kepala preman membuat tubuhnya ambruk. Tanah bercampur darah, dan bau besi memenuhi udara saat semua terlena pada benturan itu. Orang itu dan anak buahnya terkejut.mereka belum siap menghadapi serangan yang mendadak.. Anak buah nya berpencar dan berlarian melakukan perlawanan. Salah satu dari preman itu berusaha mengayunkan parang ke yanto namun tidak kena . Ketika preman itu lengah , anak buah yanto terlebih dahulu menghantam dari belakang . Bruk!!! Preman itu tersungkur, bersimbah darah. Cairan merah gelap merembes dari pelipisnya, menetes di lantai membentuk genangan.Kelompok dari pak Yanto terdiam , kemudian melanjutkan serangan ke arah preman bayaran. Sedangkan preman yang tergeletak hanya terdengar suara napas beratnya yang semakin pendek, lalu Ia menghembuskan nafas terakhirnya....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD