Pertemuan tak terduga

855 Words
Lalu lintas di jalan raya mulai macet akibat perkelahian antar preman yang saling berebut lahan tanah sengketa. "Tolong... tolong!" teriak seorang ibu dengan panik. Toko-toko di sekitarnya buru-buru menutup sementara demi keamanan.Beberapa pedagang kaki lima membereskan dagangannya takut terkena imbas dari pertikaian itu. Beberapa pejalan kaki berlarian menghindari bentrokan tersebut. Suara klakson bertubi-tubi dari antrian mobil yang mengalami kemacetan parah. Lalu teriakan sekumpulan preman yang bertarung terdengar menggelegar membuat udara didaerah itu menjadi kian memanas. Pak Yanto yang sedang berdiri di ujung jalan melihat pertikaian tersebut mulai gelisah.Ketika salah satu anak buahnya tewas, dan keadaan semakin tak terkendali. Kelompok preman itu makin beringas, membawa senjata tajam. Salah satu dari mereka mendekati pak Yanto sambil membawa parang. Ketika melihat sekumpulan preman bayaran itu makin mendekat kearahnya , Ia perlahan mundur karena keadaan semakin berbahaya dan beberapa dari anak buahnya menjaganya, lalu Ia memerintahkan untuk menahan sekumpulan preman bayaran itu , setelah itu Ia berlari kearah menuju Puskesmas. Preman yang wajahnya penuh amarah, lalu berteriak, "Heh! b*****t! Jangan lari! Kali ini kutebas kepalamu!" PakYanto yang saat itu sedang berlari dan beberapa orang dari anak buahnya mengikutinya.Ia memerintahkan untuk menghalaunya tapi karena kalah jumlah, mereka kewalahan. Yanto yang dalam keadaan terpojok segera berlari menuju puskesmas dan Saat Ia melihat sebuah kamar kosong yang tak terkunci, pak Yanto bergegas masuk dan sembunyi di dalam ruangan itu. Saat hendak masuk pak Yanto terkejut karena di dalamnya, ada seorang perempuan yang sedang beristirahat sendirian. Ia menghampirinya dan berbisik pelan, "Maaf, Neng... tolong aku. Mereka mengejarku. Kalau mereka tanya, bilang saja kamu nggak lihat siapa-siapa, ya," katanya sambil memohon dengan wajah ketakutan. Perempuan itu terkesima dan wajahnya tampak ketakutan. Ia memegang erat selimut , belum sempat menjawab, Yanto sudah berlari dan bersembunyi di balik tirai jendela. Tiba-tiba gSuara keras terdengar di balik pintu itu. BRAK! Pintu itu didobrak hingga rusak, membuat Mirna terkejut. Suara langkah-langkah kasar menghentak lantai, disusul bayangan besar tiga preman yang memasuki ruangan dengan tatapan setajam pisau. Salah satu dari mereka mendekat, wajahnya hanya berjarak sejengkal dari Mirna. Orang yang berada didekatnya itu membawa sebuah parang, membentaknya. "Heh, kamu! Ada lihat seseorang masuk ke sini?!" "Ti... tidak. Aku sendirian aja. Nggak ada siapa-siapa dari tadi," jawab perempuan itu gugup. Preman-preman itu menggeledah ruangan, tapi mereka tidak menemukan Yanto. Salah satu dari mereka mendapat telepon dari bosnya. "Bro, polisi datang! Cepat kabur! Lain kali aja kita cari dia lagi." Mereka langsung pergi, meninggalkan perempuan itu sendiri di ruangan. Yanto bernapas lega dari balik tirai tempat persembunyiannya. Setelah yakin keadaan aman, ia keluar dan mengintip dari jendela, memastikan mereka benar-benar sudah pergi jauh. Begitu preman itu menghilang. Yanto melangkah keluar, napasnya masih sedikit terengah engah namun rautnya jelas menunjukkan kelegaan. Ia mendekat disertai perkenalan singkat tentang dirinya. Sesaat sebelum kata-katanya selesai, matanya tertahan pada wajah Mirna—tatapan yang dalam, seolah ia berusaha menyimpan setiap detail raut itu di ingatannya, seperti khawatir suatu hari tak akan bisa melihatnya lagi. Sebelum meninggalkan kamar, Yanto mendekati perempuan itu. "Neng, makasih, ya... Ini kartu namaku. Nama aku Yanto. Kalau kamu butuh bantuan apa-apa, silakan hubungi aku. Oh iya, nama kamu siapa?" Perempuan itu hanya menjawab pelan, "Mirna." Mirna masih trauma dengan kejadian barusan. Yanto berkata lagi, "Sekali lagi, terima kasih. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku udah mati." Mirna hanya mengangguk, tanpa sepatah kata pun. Yanto tersenyum dan menyalami Mirna, lalu segera keluar dari kamar itu dan berlari menemui anak buahnya. Setelah Yanto pergi, Mirna memandang kartu nama yang tadi diberikan padanya. Ia tertegun sejenak. --- YANTO SAMARA DIREKTUR UTAMA PT. Agung Karsa Properti – Real Estate --- "Jadi... dia seorang direktur utama? Tapi kenapa dikejar-kejar preman seperti itu?" pikir Mirna dalam hati. Ia mengkhayal sejenak, “Mungkinkah aku bisa bekerja di sana...? Ah, mana mungkin... Aku kan bukan lulusan tinggi...” Mirna tersenyum getir. Pikirannya masih kalut, mengingat utang-utang ayahnya. Ia pun teringat bahwa hari ini ayahnya sudah diperbolehkan pulang dari Puskesmas. Ia segera menuju ke kamar sang ayah. Saat masuk, ternyata ayahnya sudah duduk bersiap, terlihat sehat dan hendak pulang. Ibunya juga ada di samping tempat tidur. "Alhamdulillah... sekarang Ayah sudah sehat," ucap Mirna bahagia. "Iya, Nak. Ayah juga senang," jawab sang ayah. Ada senyum yang terpancar dari wajah lelahnya. Mirna lalu membereskan administrasi di bagian kantor Puskesmas. Semuanya gratis karena ditanggung BPJS. Mereka pun berjalan pulang ke rumah naik kendaraan umum. Sesampainya di gang rumah, ketika hendak masuk ke halaman, mereka sempat menyapa beberapa tetangga dengan ramah. Tapi sebagian tetangga justru terlihat sinis dan acuh. Mereka baru menyadari kenapa. Di pagar depan rumah mereka, terpampang sebuah tulisan besar: --- "RUMAH INI DALAM PENGAWASAN BANK ASIA. DILARANG MENJUAL DAN MENYEWAKAN TANPA PERSETUJUAN PIHAK BANK." --- Mirna terdiam lama menatap tulisan itu. RUMAH INI DALAM PENGAWASAN BANK ASIA. Kata-kata itu seperti beban berat yang membelenggu di hatinya. Ayahnya berdiri di sampingnya, tangan yang dulu kuat kini hanya bisa menggenggam bahunya pelan, dengan tatapan lelah tetapi penuh kasih. “Mirna… kita sudah melewati banyak badai, ini bukan yang terakhir,” ucapnya lirih, berusaha menenangkan sekaligus menguatkan. Ibu Mirna muncul dari dalam rumah, wajahnya menunjukkan kepedihan yang sama, namun bibirnya bergetar memberi senyuman “Kita masih punya satu sama lain. Itu yang terpenting.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD