Ruang rapat pagi itu terasa seperti medan perang. Aroma kopi di atas meja bahkan tak mampu menghapus ketegangan yang menggantung di udara.
Pak Yanto berdiri tiba-tiba, membanting map ke meja hingga semua terlonjak kaget.
“Kalian ini g****k! Kenapa bisa sampai begini?! Harusnya diperiksa dulu! Sekarang malah ada korban jiwa!”
Semua staf terdiam. Tak ada yang berani menatap mata Pak Yanto.
“Ternyata tanah itu sudah disewa preman oleh pemilik aslinya untuk melawan kita! Kalian pikir aku ini siapa?! Siapa yang berani melawan aku, akan aku hancurkan!”
Seorang staf memberanikan diri bersuara lirih.
“Maaf, Pak. Kami sudah mencoba pendekatan damai. Bahkan sudah kami tawarkan harga di atas pasaran... Tapi mereka menolak mentah-mentah. Sepertinya ada provokator di balik semua ini, Pak.”
Pak Yanto menatap tajam ke arah staf itu. Lalu ia menunjuk satu per satu yang hadir.
“Kalau aku sampai celaka tadi, kalian semua sudah aku penjarakan! Ngerti?! Masalah ini jadi panjang karena ada yang mati!”
Ia menoleh ke Gunawan yang duduk di pojok.
“Gunawan! Urus soal korban jiwa itu dengan kepolisian. Jangan sampai nama kita tercoreng. Aku tidak mau terlibat langsung. Bersihkan semua jejak!”
Gunawan mengangguk cepat. “Baik, Pak. Saya mengerti.”
Setelah itu, ruang rapat sunyi. Tak ada suara. Semua tertunduk, diliputi rasa takut.
Malam itu, Mirna duduk termenung di sudut kamar, hatinya gelisah. Ia merasa malu karena spanduk peringatan dari pihak bank kini terpampang jelas di pagar rumah. Kepalanya penuh pertanyaan bagaimana ia bisa menyelamatkan rumah itu?
Ayahnya datang menghampiri, duduk di sampingnya. Dengan suara pelan dan tatapan kosong, ia berkata:
“Nak, Ayah sudah nggak tahu harus bagaimana lagi. Kalau kita nggak bisa segera lunasi utang ke bank… rumah ini bisa disita, dijual paksa.”
Mirna menarik napas dalam. Ia mencoba tegar meski dadanya sesak.
“Iya, Yah… Mirna ngerti. Nanti Mirna cari jalan keluarnya. Ayah istirahat saja, jangan pikir yang berat-berat dulu. Besok Mirna cari kerja. Apa saja… asal halal, asal bisa bantu lunasi utang Ayah.”
Mata sang ayah berkaca-kaca. Ia menatap Mirna dalam diam lalu berkata:
“Maafkan Ayah, Nak. Ayah sudah merepotkan kamu…”
Ia beranjak pergi, meninggalkan Mirna sendirian di kamar.
Malam makin larut. Dalam keheningan, Mirna bersujud di atas sajadahnya. Tangisnya pecah. Ia berdoa dalam-dalam agar diberi kekuatan menjalani cobaan ini. Dua jam lebih ia menangis, hingga akhirnya matanya menatap satu benda yang tergeletak di meja: kartu nama Yanto Samara.
“Nama ini… kenapa terasa tidak asing?” pikirnya. “Mungkinkah dia bisa bantu? Kenapa tidak aku coba saja? Mungkin ini jalan keluarnya.”
Dengan harapan kecil di d**a, Mirna pun terlelap.
---
Keesokan harinya, Mirna terbangun dan tersentak ternyata hari sudah siang. Ia segera mengambil kartu nama itu dan memencet nomor yang tertera.
Tuut… tuut…
“Nomornya sibuk. Aku coba lagi nanti.”
Beberapa menit kemudian, ia mencoba kembali. Kali ini terdengar suara laki-laki:
“Halo, dengan siapa saya bicara?”
“Maaf Pak, saya Mirna… yang kemarin Bapak temui di Puskesmas…”
"Oh iya, tentu saya ingat! Kamu yang bantu sembunyikan saya waktu dikejar preman. Terima kasih banyak, kalau bukan karena kamu mungkin saya sudah tamat.”
“Sama-sama, Pak…”
"Jadi… ada apa, ya, kamu menelepon?”
“Begini Pak, saya lagi cari pekerjaan. Apa saja, asal halal. Kalau Bapak tahu ada lowongan, saya sangat berharap bisa dibantu.”
Yanto terdiam sejenak. Ia terdengar berpikir.
"Hmm… jujur saja, di perusahaan saya sekarang sudah nggak ada lowongan.”
Wajah Mirna langsung murung. Suaranya pelan.
"Baik, Pak. Kalau begitu, maaf sudah merepotkan.”
Saat ia hendak memutuskan panggilan, Yanto buru-buru berkata:
“Tunggu, Mirna! Jangan tutup dulu. Coba saja kamu datang ke kantor saya. Siapa tahu ada jalan…”
"Benarkah, Pak? Baik. Saya datang jam dua belas.”
" Baik, aku tunggu."
Pagi itu, Mirna sudah rapi. Setelah mandi dan sarapan seadanya, ia berpamitan kepada ayah dan ibunya yang duduk di ruang tengah.
"Ayah, Ibu... Mirna pergi dulu, ya. Ada tawaran kerja. Mohon doanya, semoga dilancarkan."
Ia mencium tangan keduanya, lalu melangkah pergi dengan harapan di d**a.
Perjalanan menuju kantor Yanto cukup jauh. Ia harus naik angkot beberapa kali hingga akhirnya tiba pukul 12.30 siang. Kantor yang ia datangi megah dan penuh aktivitas para staf marketing yang sibuk melayani klien.
Mirna berdiri ragu di depan lobi, merasa kecil di antara gedung mewah itu. Ia menarik napas, lalu mendekati meja customer service.
"Maaf, Mbak. Saya Mirna... bisa bertemu Pak Yanto?"
Petugas customer service memandang Mirna dari ujung kepala hingga kaki, dengan tatapan sinis.
“Maaf, sudah ada janji sebelumnya?”
"Saya diminta datang kemari. Beliau bilang ingin bertemu langsung."
Sang petugas terlihat ragu, namun akhirnya menghubungi Yanto lewat interkom.
"Pak, ada tamu atas nama Mirna."
"Silakan antar ke ruang saya," jawab suara di seberang.
Petugas itu pun mengantar Mirna ke ruangan Yanto.
---
Di dalam ruangan, Pak Yanto berdiri dengan penampilan santai namun berwibawa. Kemeja putih, celana jeans, dan aura karismatik yang kuat. Ia menyambut Mirna dengan ramah.
"Halo, Mirna. Senang bisa bertemu kamu lagi. Duduk, yuk. Mau minum apa?"
"Teh saja, kalau tidak merepotkan."
"Tidak sama sekali."
Yanto menuangkan teh dari dispenser khusus di ruangannya. Setelah duduk, ia sempat terdiam, lalu menatap ke luar jendela dengan wajah penuh pertimbangan.
"Mirna... aku undang kamu ke sini karena kamu terlihat gadis yang baik dan tulus."
Ia berbalik, menatap Mirna serius.
Ketika kamu menolongku ditempat itu, terlintas dipikiran ku akan hal ini."
" Mirna, aku ada satu permintaan namun ini mungkin sangat berat bagimu, tetapi untuk kebaikan anakku
Bisa kau menolongku ? "
Mirna terlihat bingung. Ia tidak menjawab segera lalu Mirna bertanya
" Bapak, perlu pertolongan seperti apa ? Apa yang Mirna bisa bantu?
"Aku ingin menjodohkan kamu dengan anakku, Joshua."
Mirna terkejut. Ia tak sempat menyela, tapi dibatinnya berteriak
" Apa! Aku kesini mau cari kerja , bukan untuk menikah."
"Gila! Ini sudah ga masuk akal."
" Sedang bermimpi kah , aku ini.?"
Pak Yanto lalu meneruskan perkataannya.
"Anakku... terlalu sering berganti pacar, dan semuanya hanya mengincar kekayaan. Aku lelah melihat itu. Aku ingin dia menikah dengan seseorang yang benar-benar baik."
"Kamu tak perlu kerja. Aku akan bantu keuanganmu, bahkan aku bersedia beri kamu 100 juta dan segala keperluanmu aku tanggung.,tapi syaratnya: kamu harus menikah dengan Joshua."
Mirna terpaku. Ia bahkan tak bisa bicara. Ini terlalu cepat. Terlalu aneh.
"Kamu tak perlu jawab sekarang. Pikirkan saja dulu. Kalau kamu setuju, aku akan siapkan semuanya."
---
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka.
Langkah kaki mendekat. Seorang pria tinggi muncul dari balik pintu. Wajahnya teduh. Senyumnya hangat. Itukah… Joshua?
"Pa, sorry ganggu. Aku mau minta tanda tangan dokumen pembelian rumah."
Ia melirik Mirna, lalu tersenyum ramah.
"Halo, perkenalkan. Aku Joshua."
Mirna hanya membalas dengan senyum kecil. Dalam hati, ia bergumam pelan:
“Jadi... ini orangnya? Ini calon suamiku?”