3. Berkejaran dengan Uang dan Waktu

1161 Words
Sinar mentari pagi menyapa gadis jelita bernama Alya dari sela jendela kamarnya. Netra Alya memicing. Jam berapa ini, ia bergumam seraya berusaha menjawab pertanyaan itu sendiri dengan ponselnya. Pukul 6.28 rupanya, Alya terperanjat sembari mengingat hari. Hari ini adalah hari Kamis, artinya jam 6.30 ini akan ada kelas kursus privat darinya untuk Fikri, salah seorang murid les Alya. Baru saja Alya berencana meregangkan tubuhnya sambil bergelayut manja pada si bantal kesayangan, sudah terdengar bunyi kentongan pagar rumahnya. "Mbak Alyaaaa!" pagar kembali dikentong. "Mbak Alyaaaaaa!" seorang bocah lelaki kelas 5 SD sedang mencoba untuk bertamu ke rumah Alya. Ia masih berada di atas sepeda kayuh berwarna biru, lengkap dengan sebuah tas ransel yang menggantung di pundaknya. "Iya Dek Fikri, tunggu bentar yaaaa!" jawab Alya setengah berteriak, berharap sang murid les mendengarnya. Alya bergegas membukakan pagar dan pintu rumahnya, mempersilahkan tamu kecilnya duduk di ruang depan yang biasa mereka gunakan untuk belajar, dan meninggalkan bocah itu sejenak. Alya membasuh wajah ayunya dan menggosok gigi, sebelum ia mulai dengan pekerjaan paginya. 90 menit lamanya Alya berjibaku dengan segala angka di dalam buku tugas Matematika Fikri. Bagi Alya, tak ada persoalan yang terlalu sulit, jika itu tentang pelajaran sekolah para murid privatnya. Lain cerita jika itu adalah tentang persoalan hidup keluarganya, atau tentang persoalan mencari cinta sejati untuk dirinya. Ha ha ha, Alya tertawa dalam hati. Ia mengakhiri sesi pembelajaran pagi ini dengan sempurna. - - Mbak Rina Agency Memanggil "Halo, pagi Mbak Rina. Gimana Mbak?" "Halo Alya, besok jadi ya, event kecap mantap nya. Middle shift jam 12 siang sampai jam 8 malam, Jumat sampai Minggu ya Al." "Oke Mbak Rin. Seragam sama produk sampling dan hadiah gimana?" "Seragam size S kan? ready sih Al, udah tinggal pakai aja, udah di dry clean. Jangan lupa bawahan jeans item ya, higheels bebas pokoknya 9 cm. Sampling sama hadiah, ambil aja di kantor ya, hari ini." "Siap Mbakku, kaya biasa yah berarti. Btw, hari ini kayanya aku nggak bisa ke kantor deh Mbak. Full banget kuliahku, paling kelar jam 6 sore. Abis itu ada ngajar privat Mbak, di daerah Klampis. Besok sebelum ke lokasi boleh?" "Yaudah atur aja Al, kaya anak baru aja. Outletnya di Hiro Supermarket ya, yang di Indrapura." "Siap Boss. Thank you Mbak Rina job nya." "Yuhu." Alya berbinar. Hari lepas hari hidupnya tak lepas dari menghitung rupiah demi rupiah dari segala sumber usahanya. Gadis itu memang berbeda dari para muda-mudi sebayanya. Semenjak perusahaan miras tempat kerja Benny, ayahnya, gulung tikar. Ayah 1 anak itu mencoba peruntungan dengan berwiraswasta, namun sayang, usaha tersebut malah kandas akibat tertipu rekan bisnis Benny. Indah, istri Benny, yang merupakan pegawai Bank BUMN pun sampai turut berada di ujung tanduk karirnya, akibat terlibat utang-utang yang menumpuk guna mem-back up dampak kebangkrutan Benny. Dan kini Alya, adalah sebuah harapan masa depan bagi Benny dan Indah. - - Dewangga Pramudya, pemuda sederhana yang sore hari kemarin sempat memikat hati seorang Alya Sasikirana, pagi ini tersenyum sumringah saat berpapasan dengan Alya di lobi kampus. Senyum itu, senyum tulus yang mengharap balasan itu, terabaikan begitu saja oleh sang gadis. Dewa menunduk dan mempercepat langkahnya menuju parkiran. Seolah tak peduli pula pada sapaan tak bersambut yang ia lakukan tadi. Ia fokus pada motor miliknya, hendak mengambil sebuah flashdisk yang tertinggal di bagasi. Alya sadar ia tengah terlambat 10 menit masuk ke kelas Ekonomi Makro. Padahal minggu lalu, sang dosen telah mengumumkan akan adanya kuis di 15 menit awal pertemuan minggu depan. Alya panik. Beruntung, dosen pun rupanya baru saja memasuki ruang kelas. Fiuh, hembusan nafas lega Alya menyelaraskan kembali tubuh dan pikirannya. Pagi ini, ia siap menjalankan tantangan berikutnya. - - Ekonomi Makro, Matematika Bisnis, dan Kewirausahaan. 3 mata kuliah yang telah Alya ikuti sepanjang hari itu. Ia bergegas menuju kantin kampus sembari menunggu jadwal mengajar privatnya malam ini. "Bu, indomie soto 1 ya..." baru saja Alya hendak melanjutkan request nya, sang Ibu pemilik kantin mendahuluinya "Kuahnya banyak, cabenya dua di rebus, pake telor di orak-arik," kata Ibu itu menirukan gaya Alya. "Nah, itu dia kurang satu lagi Bu, ha ha ha," sela Alya merasa menang. "Apanya yang kurang satu? minumnya? Teh manis anget, gulanya setengah. Bener apa bener?" goda sang Ibu. Keduanya terkekeh. Alya memang selalu memesan dengan rincian seperti itu jika sedang ingin makan indomie di Kantin Kampus Bu Surti. Sikap akrab dan hangat Alya, seringkali membuatnya diperlakukan serupa oleh siapa saja, termasuk Surti, sang pemilik kantin. -- "Al, senen siang bisa nge-jam di resto karyawan Nusantara Selular nggak? Marsha barusan masuk rumah sakit, kayanya nggak mungkin maksain dia nyanyi deh senen besok." -- Alya membaca sebuah pesan di ponselnya. Pesan itu dari Putra, pemain bass di salah satu grup musik yang digeluti Alya. Gadis itu mencoba membuka aplikasi notes miliknya untuk melihat jadwal kelas. Pas sekali, hari Senin ia hanya punya 2 jadwal mata kuliah. Jam 8.30-10.00 dan jam 16.00-17.30 Dengan segera Alya memainkan jarinya di atas ponsel untuk membalas pesan Putra. -- "Ok Put, aku bisa. Kapan latihan? Lagunya apa aja nih?" -- jawab Alya. Tak lama Putra langsung menelepon Alya untuk membahas detil rencana itu. Rupanya itu adalah job regular di resto perusahaan selular nomer satu di Indonesia. Konsepnya adalah band akustik, untuk mengiringi istirahat dan makan siang para karyawan PT tersebut. Adapun jadwalnya adalah mulai 11.30 sampai 13.00 dengan pilihan lagu-lagu dalam negeri yang easy listening. Nantinya, Alya akan tampil sebagai vokalis menggantikan Marsha, bersama seorang gitaris, bassis, dan drummer yang akan diganti dengan cajoon. Alya paham. List lagu pun sudah dikirimkan Putra, Alya cukup hafal dan terlatih untuk membawakannya. Hanya perlu satu kali bertemu di studio musik untuk sinkronisasi nada dasar dan bait. "Gimana dagangan asesorisnya? laris?" Surti meletakkan mie instan dan teh hangat pesanan Alya sembari bertanya tentang bisnis kecil-kecilan sang gadis. "Wah, Bu Surti inget aja saya jualan itu. Laris sih enggak, tapi ada aja Bu yang beli. Paling sering ya murid-murid les privat saya. Temennya ditawarin, mau, pesen lagi, diliat temen lainnya, mau juga, pesen lagi. Kaya gitu-gitu lah Bu," jawab Alya menanggapi perhatian Surti. "Bagus dong. Itu namanya iklan dari mulut ke mulut. Apatuh Al, bahasa gaulnya?" "Apaan Bu? Word of Mouth?" "Nah... cocok. 100 buat Alya, he he he" "Asik! Mana Bu?" Alya menadahkan telapak tangannya dengan manja. "Nih... ambil aja kembaliannya," balas Surti seolah tengah bersedekah pada pengamen jalanan. Tawa keduanya kembali pecah, sebelum akhirnya Alya segera melahap pesanannya yang sedari tadi telah menunggu untuk disantap. Begitulah Alya. Di usianya yang masih belasan tahun, ia mengisinya dengan berbagai kesempatan untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah. Memang, jika sekadar untuk makan sehari-hari, terkadang Indah pun masih sanggup memenuhi itu dengan sisa gajinya setelah mencicil berbagai utang peninggalan dampak kebangkrutan Benny 3 tahun silam. Namun bagaimana dengan uang saku harian Alya? Transportasinya? SPP tiap semesternya? Biaya fotokopi materinya? Atau bahkan, hiburan untuk ongkos beli pulsa, baju, sepatu, jalan-jalan ke Mall, dan sejenisnya? Anak remaja pada umumnya saja sangat membutuhkan pergaulan, apalagi Alya? Bahkan bukan sekadar pergaulan yang ia perlukan, namun juga penyeimbang segala lelahnya berkejaran dengan uang dan waktu di tengah masa belianya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD