2. Alya dan Sejuta Diary

1096 Words
Surabaya, 27 November 2007 Dear Luna, - Kita tidak pernah tahu apakah sebuah ketidaksengajaan bisa berganti jadi keajaiban. Kesempatan pertama berbincang dengan seorang yang amat berbeda dari duniaku, adakah ia merasa yang sama? Kurasa aku akan terasa begitu asing baginya seiring waktu yang berlalu. Mungkin, ini hanya sekadar pelangi, yang nampak setelah hujan. Atau hanya sebatas tanggal merah yang muncul di kalender saat pekan ujian akhir semester, ha ha ha. Apapun itu, terima kasih telah membuat senyumku terkembang sore ini, Dewangga Pramudya :) - - Alya menutup sebuah buku cantik dengan cover tebal berwarna peach muda dan aksen pita di bagian depannya. Buku diary yang amat feminin, yang ia beri nama LUNA. Entah sudah diary ke berapa yang ia tulis penuh sejak kelas 5 SD. Sejak ia merasa hari-harinya penuh warna. Saat usianya 11 tahun, saat pertama kali sang ayah mengajaknya ke "tempat kerja". Di tengah jalan-jalan malam minggu keluarga, Alya bersama kedua orang tuanya tiba-tiba mampir ke sebuah tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. - - Flash back, Surabaya, 14 Februari 1999 - - "Alya udah ngantuk? kita mampir bentar ke tempat kerja Papi ya?" Ayah Alya bertanya setelah sebelumnya berbincang penuh kode rahasia orang dewasa bersama sang istri. Alya mengangguk setuju. "Kantor Papi kan jauh, sejam lagi dong baru nyampe?" Jawab gadis itu penasaran. "Bukan kantor Papi Al, tapi... gimana ya jelasinnya, intinya salah satu tempat kerja Papi lah. Papi mau pantau penjualan dulu di sana. Gpp kan?" Sang Ayah memastikan putrinya tak keberatan. Alya hanya mengikut sebagaimana anak yang patuh pada orang tua. Namun dalam hatinya, ia merasa ada keraguan. Entah, ragu macam apa yang kali ini singgah di batinnya. Mereka tiba di parkiran. Benny dan Indah, kedua orang tua Alya, bergegas turun dari mobil. Indah tampak menyisir rambut ikalnya dan menyemprotkan sedikit parfum ke leher dan pergelangan tangannya. Estee Lauder Pleasure, wangi lembut menggoda kesukaan Indah. Wanita itu telah terlihat anggun sempurna. Benny tampak sibuk menelepon seseorang sambil berjalan menuju tempat itu. Tempat yang pertama kali Alya kunjungi dalam hidupnya. "Malam Pak Benny... waaah, bawa keluarga ya Pak?" Seorang wanita berusia 40 an menghampiri Ayah Alya di pintu masuk tempat itu. "Iya nih, Istri nggak mau ditinggal. Tadinya mau sendiri, nge-drop mereka pulang dulu abis malem mingguan keluarga, eh istri langsung sensi. Biar mereka tau aja, Mbak Selly, biar saya nggak pusing dicurigain mulu." Keluh Benny pada Selly. Selly yang adalah manager Espanola Executive Club mengangguk sambil tertawa. "Ah, masa iya sih? Suka nelpon Pak Benny terus denger suara cewek kali ya Bu? Itu mah biasa, anak-anak asuh Selly itu, ha ha ha. Tenang aja, Pak Benny dijamin aman. Kalo sampe neko-neko, nanti Selly laporin Ibu." Jawab Selly sembari mengakrabkan diri dengan Indah. Mereka saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri satu sama lain. Tak terkecuali Alya, ia pun diperkenalkan sebagai putri semata wayang pasangan Benny dan Indah. Selly mengawal keluarga itu masuk ke tempat kerjanya melewati security gate dengan 3 lembar free pass. Memasuki tempat eksklusif semacam itu, memang cukup merogoh kocek. Beruntung Benny adalah Manager Pemasaran di sebuah perusahaan miras ternama. Espanola Executive Club, adalah salah satu outlet pemasaran produk perusahaan Benny. Benny perlu memantau penjualannya di tengah event promosi di malam minggu. Terlebih, perusahaan Benny tengah menjadi sponsor acara malam itu, acara yang menghadirkan DJ Fransiska, DJ kenamaan dari Ibukota. Dum... Jedum jedum... Jedum jedum... Suara musik teramat keras menghentak seluruh ruangan, menembus detak jantung para umat manusia yang berada di dalamnya. Hingar bingar suasana club, sorot sinar lampu aneka warna menyeruak di segala arah, aroma pengharum ruangan beradu pekatnya asap rokok yang memerihkan bola mata. Alya memang tidak dipandang aneh oleh sekitarnya, karena tinggi gadis itu sudah mencapai 160 cm meski usianya baru 11 tahun. Rambutnya yang hitam dan panjang, penampilan modisnya, membuat Alya tak pernah disangka anak di bawah umur. Malam itu, anak di bawah umur tersebut, tengah risau oleh berbagai rasa tidak nyaman yang menyerang dirinya saat berada di tempat itu. Indah tersenyum menikmati suasana tempat itu dan sesekali menengok ke arah Alya. Dengan bahasa tubuh, Indah mengajak Alya menepuk-nepukkan tangannya ke atas untuk menikmati musik sekaligus memberi apresiasi pada sang DJ. Alya hening. Ia masih berproses dengan pikiran dan tubuhnya untuk beradaptasi dengan nuansa yang baru. Sedari tadi, ia hanya berulang menyedot coca cola dari gelas tinggi yang ia pesan. Baru 5 menit, isi gelas minuman Alya sudah tinggal setengah jengkal. Indah membiarkan Benny duduk terpisah dari mereka sembari mengurusi event yang berlangsung. Tak lama, Indah menyalakan korek api dan mengangkat apinya setara kepala, lalu seorang waiters menghampiri mereka. "Mau pesan minuman lagi?" Alya terkejut. Suara seorang lelaki mengagetkannya dari belakang. Cahaya korek api, memang adalah kode untuk memanggil waiters di tengah hiruk pikuk suasana club. "Ya Mas, saya orange juice ya. Alya mau apa?" Tanya Indah. "Air putih aja" Jawab gadis itu. Waiters ganteng itupun berlalu sambil menyuratkan bahasa tubuh yang artinya OKE, menanggapi pesanan Indah dan Alya. Tak lama pertunjukan DJ Seksi asal Jakarta itu pun usai dan berganti dengan Espanola Home Band. "Girl you're my angel... you're my darling, angel. Closer than my peeps you are to me, Baby..." Mendengar lagu favoritnya dibawakan secara live dan menghentak oleh Band tersebut, Alya mendadak tersenyum dan mengangkat tangannya sambil menepuk-nepuk seperti yang dilakukan Indah dan orang-orang di sekitarnya. Angel by Shaggy, memang lagu yang tak jarang diputar Alya di pemutar musik dalam kamarnya. Lagu kedua, Can't take my eyes of you. Berikutnya, Killing me softly. Semua lagu yang Alya suka dan hafal itu menggema di seluruh ruangan club. Alya mulai rileks dan menyukai tempat itu. Pengalaman pertama yang membuatnya tak nyaman satu jam yang lalu, berganti menjadi tempat yang menyenangkan dan seru baginya. - - Surabaya, 15 Februari 1999 Dear Kamila, - Malam ini, Pertama kalinya aku menemukan perasaan semacam ini Malam ini, Aku rasa masa remaja telah datang menghampiriku lebih awal Malam ini, Apakah pertanda buruk di hari esok? - - Flash back off - - Itu adalah tulisan pertama Alya di buku Diary pertamanya. Singkat dan sarat makna. Alya yang berprestasi di sekolahnya. Alya yang cukup dikenal sebagai gadis sopan, lemah lembut, dan alim itu, ingin menumpahkan perasaannya. Tidak mungkin baginya menceritakan emosi membuncah dan gejolak jiwa remaja itu kepada seseorang. Ia terlalu malu dan tak ingin disalahartikan oleh orang-orang di sekitarnya. Entah berapa buku diary yang telah penuh dengan segala kisah Alya. 1999 hingga 2007, bukan waktu yang singkat jika ia terus menulis setiap hari. Sebagian buku itu telah berada di gudang lantai 2 rumahnya. Jika suatu saat ia berhenti menulis diary, apakah artinya ia telah bertemu belahan jiwanya? Seseorang yang akan setia berbagi segenap rasa di setiap cerita hidupnya. Entahlah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD