Theresia yang ditemani salah satu temannya segera berlari menuju rumah sakit tempat adiknya berada. Wanita cantik itu benar-benar merasa terpukul dan tidak percaya. Bagaimana bisa adik satu-satunya itu meninggalkan dia begitu saja dengan cara yang sangat tragis? Bunuh diri, mengapa mereka bisa menyimpulkan hal seperti itu pada adiknya?
Wanita itu berlari menyusuri lorong rumah sakit yang ramai, namun baginya tempat itu begitu hampa. Hentakan kakinya menggema mengiringi luka yang dia rasakan. Pandangan kosong itu hanya tertuju pada suatu ruangan dimana adiknya berada.
Kamar may*t, ya, berapa pihak berwajib sudah berdiri di depan pintu kamar mayat tersebut. Napas Theresia kini terengah-engah, sontak saja deru napas Theresia dan satu rekannya mencuri perhatian para petugas yang sedang menjalankan kewajibannya saat ini. Mereka memandang penuh tanya kedatangan Theresia dengan teman wanita cantik tersebut.
“Apakah aku salah memasuki sebuah ruangan? Mengapa kakiku melangkah ke kamar mayatt?” Theresia bergumam sambari mengucur deras air matanya.
“Kau harus bisa melewati ini semua,” ucap teman Theresia menguatkan.
Theresia berpikir apa dia kurang peduli terhadap adiknya sehingga membuat Sophia berpikir harus mengakhiri hidupnya. Theresia tidak pernah tahu bahwa adiknya itu memiliki beban yang sangat berat sampai harus mengakhiri hidupnya. Apa alasan mendasar Sophia sampai hati meninggalkan kakaknya seorang diri di dunia yang teramat sangat kejam kepada mereka?
Selama ini adiknya terlihat biasa-biasa saja dan terdengar sangat bahagia saat setiap kali menghubungi Theresia. Bahkan Sophia tidak pernah sedikitpun terdengar mengeluhkan sesuatu kepadanya. Setiap kali Theresia bertanya keperluan dan kebutuhan Sophia, gadis itu akan menjawab jika semuanya telah terkendali. Kini Theresia merasa menjadi kakak yang paling buruk di dunia karena telah menyebabkan adiknya mengakhiri hidup begitu saja.
“Apakah benar Anda keluarga dari Sophia?” tanya petugas kepada Theresia.
Wanita itu menganggukkan kepalanya meski terasa berat. “Benar. Saya adalah kakaknya,” jawab Theresia dengan nada suara bergetar hebat.
Petugas mempersilahkan Theresia memasuki kamar may*t, mereka meminta Theresia memastikan kembali apakah benar sosok yang terbujur kaku di atas ranjang kematian tersebut adalah adiknya.
Hatinya hancur bagai tercabik-cabik terlebih saat dia melihat tubuh yang terbujur kaku di atas bangsal rumah sakit. Langit cerah seakan berubah menjadi gelap gulita. Mata indahnya berubah menjadi merah. Air matanya seketika mengalir deras, bibir bergetar seperti ada belati yang menusuk jantungnya saat itu juga. Dia tidak kuasa saat akan membuka kain putih yang menutupi tubuh itu.
‘Aku berharap ini bukan Sophia adikku, aku berharap sosok di depanku adalah Sophia yang lainnya,’ batin Theresia seraya menggemakan doa-doa kepada Tuhannya.
Dengan perlahan dan tubuh bergetar Theresia membuka penutup tubuh jasad itu. Wanita cantik tersebut menahan napasnya tatkala rambut jas*d di depannya telah terlihat oleh netranya.
“Sophia … tidak mungkin,” teriak Theresia histeris saat membuka kain penutup jasad dan wajah pucat adiknya yang dia lihat.
Theresia langsung memeluk tubuh itu, dia menggoyang-goyangkan jas-ad yang terbujur kaku tersebut. Bagaikan diguncang kenyataan, harapan Theresia benar-benar pupus seketika. Harapan tentang sosok di depannya adalah orang lain, bukan adiknya, kini terpatahkan oleh kenyataan bahwa gadis itu merupakan Sophia adik kandungnya, saudara satu-satunya di dunia ini.
“Bangun Sophia, bangun, ini tidak lucu.” Theresia benar-benar tidak percaya.
Tubuhnya menjadi lemah tak berdaya, dia tidak terlihat seperti Theresia yang kuat, yang mampu bertahan meski di terjang badai. Inilah Theresia sesungguhnya hanya wanita lemah yang tak berdaya, selalu berpura-pura tidak memiliki masalah, yang mampu menutupi kesedihan dengan senyumnya.
Theresia berpikir mengapa dunia begitu kejam terhadapnya, merenggut semua yang dia sayangi, apa Tuhan telah begitu membencinya sehingga menghukumnya seperti ini. Apa Tuhan tak mengijinkannya merasakan kebahagiaan barang sekejap saja? Bukankah bahagia itu tidak termasuk suatu dosa besar? Mengapa kebahagiaan tak pernah hadir di dalam hidup mereka berdua?
Seorang polisi menghampirinya, meminta Theresia menyerahkan kartu identitas dirinya sebagai bagian dari pendataan.
“Permisi, Nona Theresia, saya Ethan polisi yang menangani kematian adik Anda ini,” ucap polisi itu sambil mengulurkan tangan.
Theresia menghapus air mata yang mengalis di pipinya dan membalas uluran tangan polisi tersebut. Pandang mata berkaca-kaca tidak mampu membuat Theresia mengamati sosok tampan di hadapannya saat ini.
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan adik saya?” tanya Theresia penuh rasa penasaran.
“Adik Anda di temukan tak bernyawa di kolam renang apartemennya.” Polisi itu memberitahu Theresia bahwa adiknya mati tenggelam.
Seketika saja Theresia membelalakkan matanya. Apa dia tidak salah dengar?
“Apartemennya?” Theresia bingung.
Bagaimana bisa sedangkan selama ini yang dia tahu Sophia tinggal di sebuah asrama kecil dan sederhana—termasuk fasilitas dari kampusnya.
“Iya, apartemen yang dia sewa satu tahun belakangan ini,” jelas Petugas Ethan kepada Theresia.
Pernyataan polisi tersebut semakin membuat Theresia bingung. Petugas Ethan menyerahkan dokumen kepemilikan apartemen mewah tersebut kepada Theresia sebagai pembuktian dugaan bunuh di-ri yang mereka simpulkan atas kema-tian Sophia.
“Kapan terakhir kali Anda bertemu dengan Sophia? Dan … dimana?” tanya Petugas Ethan kepada kakak kandung Sophia.
Theresia memberitahu bahwa mereka selalu bertemu di tempat makan, atau tempat rekreasi. Tidak mungkin Theresia menemui adiknya di asrama adiknya.
“Tapi … adik saya tidak mungkin tinggal di apartemen semewah itu.” Theresia benar-benar tak percaya dengan apa yang di katakan polisi tersebut.
Selama ini Sophia tidak pernah bercerita jika dia menyewa tempat semewah itu, darimana adiknya itu bisa mendapatkan uang untuk menyewa apartemen? Makan sehari-hari saja Sophia menikmati layanan di kantin kampus dan asrama.
“Kami belum tahu apa motif adik Anda bunuh diri, kemungkinan semalam dia mabuk berat dan jatuh ke dalam kolam entah unsur kesengajaan dia menjatuhkan diri atau murni kecelakaan dia terjatuh karena mabuk berat.” Polisi itu menjelaskan kronologi kematian Sophia.
“Adik saya tidak mungkin melakukan itu, dia tidak pernah mabuk.” Theresia terus menyangkal pernyataan polisi tersebut.
“Bagaimana Anda tahu dia tidak mabuk selama ini, sedangkan sudah lama tidak tinggal bersamanya?” Polisi itu menegaskan semuanya kepada Theresia.
Wanita malang itu terlihat begitu frustasi, dia merasa telah benar-benar gagal menjadi kakak yang bisa melindungi adiknya. Setelah mendengar pernyataan polisi tentang kematian Sophia gadis itu merasa tidak percaya bahwa adiknya menjadi seorang pemabuk. Sejak kapan Sophia menjadi seorang pemabuk? Theresia tidak pernah mengetahui kebiasaan seperti itu pada adiknya.
Theresia teringat sesuatu bahwa Sophia pernah berkata telah memiliki pekerjaan. Pikiran Theresia melayang jauh, dia berpikir apa selama ini adiknya bekerja menjadi seorang gadis penghibur yang tinggal bersama lelaki kaya.
“Tidak mungkin … tidak mungkin,” ucap Theresia perlahan menepis pikiran buruknya. Dia tahu bahwa Sophia bukan gadis seburuk itu.
“Kami akan melakukan otopsi agar dapat mengetahui penyebab kematiannya.” Polisi itu memberikan sebuah berkas kepada Theresia, “tandatangani berkas ini jika Anda setuju untuk melakukan otopsi, permisi,” ujar Ethan lalu meninggalkan Theresia.
Theresia kini merasa bimbang, apa yang harus dia lakukan dengan jasad adiknya? Apa dia harus mempercai polisi itu dan segera mengkremasikan jasad adiknya atau dia harus melakukan otopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya? Wanita yang berprofesi sebagai tenaga pendidik sekaligus pelayan café part time itu terlihat menggenggam berkas yang di berikan polisi tadi.
Theresia kembali memeluk tubuh adiknya dengan erat. Dia menangis histeris. “Aku yakin, kau tidak melakukan hal seburuk itu, tetapi mengapa kau bisa seperti ini?” Theresia larut dalam isak tangisnya.
“Maafkan aku telah menjadi kakak yang buruk untukmu, maafkan aku tidak bisa menjagamu. Mengapa kau tak banyak bercerita kepadaku, mengapa kau menghukumku seperti ini, Sophia,” ujar Theresia kepada jasad adiknya.
Wanita itu merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjadi kakak yang baik. Selama ini mungkin Theresia lebih fokus untuk mencari uang dan uang. Padahal Theresia juga berusaha semampunya selalu bertukar kabar dengan adiknya.
“Ayah, ibu maafkan aku telah gagal menjaga Sophia.” Theresia terus menerus menangis di hadapan jasad adiknya.
Di kejauhan Mikael diam-diam memandang Theresia. Saat itu juga dia begitu merasa bersalah atas kematian Sophia. Mikael adalah alasan utama mengapa Sophia sampai menghembuskan napas terakhirnya. Dan dengan begitu jahatnya, Mikael malah mencoreng nama baik Sophia di penghujung hayatnya. Sungguh, Mikael tak memiliki jalan keluar lain. Dia harus mengamankan dirinya sendiri serta menjaga martabat keluarganya.
Jikalau Mikael mampu, mungkin Mikael akan mengungkapkan alasan di balik meninggalnya Sophia. Anne, wanita k**i itu memegang kunci utama kemati*an adik kandung Theresia.
“Seandainya aku tak meminta Sophia untuk menemaniku malam itu, mungkin hal ini tak akan terjadi,” ujar Mikael menyalahkan dirinya sendiri.
Lelaki tampan itu mengepalkan tangannya, wajahnya merah padam terlihat kemarahan yang begitu besar. Di lubuk hatinya yang paling dalam lelaki itu ingin memeluk dan menenangkan hati Theresia, tetapi sayang rasa berdosa di hati Mikael membuatnya mengurungkan niatnya.
Mikael hanya dapat menatap Theresia yang menangis histeris sambil memeluk ja-sad Sophia dari kejauhan. Pandangannya terus menatap ke arah Theresia, dia merasakan kesedihan wanita itu yang begitu mendalam. Matanya ikut berkaca-kaca. Penuh sesal mendalam dia rasakan.
Teman Theresia segera mengabarkan berita duka ini kepada Joseph, karena yang dia tahu hanya Joseph lah yang selalu ada saat Theresia sedang terpuruk serta sangat peduli kepada wanita itu. Theresia sendiri sudah tidak memiliki saudara di negara ini. Kini hidupnya benar-benar menjadi sebatang kara. Harusnya musim gugur ini menjadi musim yang indah untuk mereka berdua, sayangnya semua itu kini hanya tinggal harapan yang sia-sia.
Rencana yang sudah tersusun rapih sirnah sudah tinggal harapan belaka. Tempat makan mewah, liburan panjang, malam natal bersama kini sudah hancur bersama perginya Sophia untuk selamanya. Thersia tidak yakin bisa melanjutkan hidupnya kembali tanpa adik yang dia sayangi.
Theresia dan Mikael larut dalam kesedihan dan penyesalan yang berbeda. Tubuh mereka lemah tak berdaya. Keduanya duduk bersandar di dinding. Daun yang jatuh seakan mewakili jatuhnya harapan dan mimpi mereka.
Theresia terus memandang tubuh yang terbujur kaku di atas bangsal.
Gugur …
Semua harapan dan mimpi.
Gugur ….
Seperti daun yang berjatuhan.
Tidak ada lagi yang bisa kuharapkan.
Tidak ada lagi yang bisa kulakukan.
Semua seperti mimpi buruk yang menerpa di atas hamparan langit cerah.
Seperti Guntur yang menggelegar menghantap seluruh jiwa.