Keadaan tidak berpihak kepada adik kandung Theresia. Sophia yang merasa terancam mengangguk mendengar ucapan Anne. Wanita itu tersenyum sinis dan menatap rendah Sophia. Anne rupanya tidak salah menebak, bahwa semua wanita yang datang silih berganti mencoba menggoda lelakinya tak memiliki tujuan lain selain mendapatkan uang Mikael.
Lelaki itu adalah keturunan darah biru yang keluarganya sejak dulu kala telah terjun ke dunia politik kenegaraan. Tidak heran jika banyak wanita mencoba merayu Mikael untuk bisa hidup enak mengingat latar belakang keluarga Mikael adalah golongan konglomerat di negaranya. Tentu saja Anne tidak akan membiarkannya, meskipun Mikael dari keluarga berada namun nama keluarga Anne jauh lebih tinggi dan dihormati karena pengaruh ayahnya di dunia pemerintahan.
Itulah mengapa Alexa selalu memaksa Mikael bersikap baik kepada Anne. Bahkan Alexa memberikan Mikael perintah menjalin hubungan dengan Anne meskipun lelaki itu sendiri tidak memiliki ketertarikan apapun kepada Anne. Yang ada, Mikael merasa hubungannya dengan Anne memang harus segera diakhiri, atau mereka akan saling melukai karena tiadanya perasaan cinta di tengah mereka berdua. Cepat atau lambat, hubungan tanpa dilandasi oleh cinta itu pasti menemui akhirnya.
Sikap cuek Mikael kepadanya hanya dianggap Anne sebagai sikap sebenarnya lelaki itu tanpa mencurigai bahwa lelaki yang dia cintai tak mencintainya. Anne terlampau mencintai Mikael, hingga di matanya terpaku untuk satu lelaki yang sebenarnya tak memiliki perasaan apapun kepadanya. Wanita itu kemudian dia melemparkan uang sebesar dua ribu dollar ke wajah Sophia dan jatuh berserakan di kolam renang yang ada tepat di samping Sophia berjongkok saat ini.
“Itu aku berikan uang dua ribu dolar untukmu, aku rasa uang sebesar itu cukup untuk membayar jasa atas pekerjaan kotormu,” ucap Anne sambil melemparkan uang.
Anne mencengkeram rahang Sophia, mendongakkan wajah gadis cantik itu ke arahnya. Anne tengah mengingat jelas-jelas wajah Sophia sebelum dia pergi dari sana. Jika Sophia suatu saat nanti masih kedapatan bersama dengan Mikael, maka Anne tidak akan segan melakukan cara yang lebih ke-ji dari pelajaran yang wanita itu berikan kepada Sophia. Selama Mikael masih dia cintai, maka tidak ada satu wanita pun di dunia ini yang dapat menyentuh Mikael atau sampai berpikir merebut Mikael dari sisi Anne.
Tidak wanita baik-baik sekalipun, apalagi hanya para wanita dari dunia malam seperti Sophia!
“Ingat pesanku, ambil uang itu dan segera pergi. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi di tempat ini.” Anne menarik rambut Sophia untuk terakhir kalinya.
Wanita itu menghempaskannya begitu saja dan meninggalkan Sophia. Dia berjalan sambil tersenyum sinis, kemarahannya masih belum reda. Anne melirik ke arah Mikael yang masih tertidur pulas, dia tidak ingin mengganggu tidur tunangannya itu. Meskipun kekecewaan jelas terpancar di sorot mata Anne, namun Anne tidak pernah tega sampai mengganggu atau mengusik lelaki yang dia cintai.
Ini bukan pertama kalinya Mikael hilang tanpa kabar darinya. Lelaki itu memang jarang memberikan dia kabar, terkadang Anne lah yang harus membuka percakapan dengan lelaki cuek tersebut agar dapat berinteraksi kembali dengan Mikael. Berkali-kali otaknya mengingatkan Anne bahwa hubungan yang dia jalani bersama Mikael hanyalah hubungan toxic. Walaupun otaknya sering berteriak mengingatkan Anne, wanita itu masih teguh mempertahankan cintanya.
“Beraninya kau menghabiskan waktu dengan wanita lain,” gumam Anne menyeka air mata yang muncul di sudut matanya.
Tak ingin semakin dirundung kekecewaan mendalam. Anne memilih segera pergi dari apartemen milik Mikael. Tidak ada gunanya pula dia memaki atau memarahi Mikael karena lelaki itu masih tidak sadarkan diri karena minuman berla-kohol yang dia tenggak bersama Sophia malam ini.
Anne mere-mas tangannya sendiri, air mata yang dia tahan sepanjang aksinya memberikan Sophia pelajaran pada akhirnya kini tumpah begitu saja. Padahal Anne sangat mencintai lelaki itu, Anne dapat merelakan tingginya ego di dalam dirinya demi Mikael. Semua orang di kota tahu bahwa Anne adalah anak politikus ternama, banyak pula para lelaki tampan dan terhormat datang silih berganti menawarkan uluran tangan mereka untuk menjalin hubungan dengan Anne. Lantas mengapa Mikael tidak pernah puas terhadap apa yang Anne miliki di dalam dirinya?
“Lelaki berengs*k,” umpat Anne mengusap air mata di pipinya.
Sophia masih berdiri di tepi kolam renang, air mata mengalir deras di pipinya. Kini gadis muda itu meluapkan semua kesedihannya, dia merasa harga dirinya telah di rendahkan oleh Anne. Tubuhnya tersungkur lemas mengingat kembali segala ungkapan kemarahan Anne yang sangat merendahkan harga dirinya.
Ini semua salahnya, seandainya saja Sophia tak memilih pekerjaan seperti ini mungkin orang lain tak memiliki kesempatan merendahkan harga dirinya. Bagaimana dia bisa menghadapi kakaknya lagi setelah ini? Wanita yang merangkap sebagai kakak sekaligus orang tuanya melakukan banyak pekerjaan sampingan selain sebagai guru taman kanak-kanak hanya untuk memberikan kehidupan layak tanpa kekurangan suatu apapun untuk Sophia.
Lihat saja apa yang sudah Sophia berikan kepada kakanya, mahasiswi dari universitas negeri dengan beasiswa di tangannya malah melakukan pekerjaan hi-na menurut pandangan orang lain.
Sophia menutup wajanya dengan kedua tangannya. “Aku tak melakukan pekerjaan sekotor itu, apa aku salah bekerja sepert ini?” Sophia menangis tersedu-sedu, “sungguh, aku tidak menjual tubuhku, aku bukan wanita ja-lang seperti yang kau pikir.”
Sophia menangis meratapi dirinya. Anne membuatnya merasakan sakit hati yang begitu dalam, wanita itu telah tega menuduh gadis muda itu sebagai pel*cur lelakinya. Apakah semua wanita akan seke-ji itu ketika menghina wanita lain pula?
“Meski aku terlahir dari keluarga miskin, tetapi aku tak serendah itu. Aku masih punya harga diri.” Sophia terus menangis.
Dia tahu dirinya bukan orang kaya tetapi, tidak sedikitpun dalam benaknya untuk bekerja menjadi w*************a atau menjadi simpanan dari pria kaya. Dia melakukan semua ini untuk memenuhi kebutuhannya dan membantu kakaknya bukan sekedar untuk bersenang-senang.
Sophia mengusap air matanya, dia teringat uang yang ada di kolam renang itu. Uang itu sangat berarti baginya, bagaimanapun itu adalah upah yang harus dia terima. Gadis muda itu berdiri tegak menatap ke arah kolam renang. Pandangannya terlihat kebingungan, harus mencari apa untuk mengambil uang-uang yang berserakan di kolam renang.
“Aku sangat membutuhkannya, bagaimana ini?” gumam Sophia menatap ke sekeliling ruangan mencari alat yang dapat dia gunakan meraih kembali uang-uangnya.
Dia bingung apa yang harus di lakukannya saat ini. “Ya, Tuhan, apa yang harus aku lakukan,” ujar Sophia sambil menatap uang yang mengambang.
Jika uang itu terlalu lama berada di air, mungkin akan rusak dan dia tak dapat menggunakannya sebagai alat tukar transaksi. Kepala Sophia semakin pening memikirkannya.
Sebagian uang terlihat sudah basah dan tenggelam. “Aku harus mengambilnya, tapi bagaimana. Tuhan, aku benar-benar bingung apa aku harus membiarkan saja uang itu.” Sophia meratapinya.
Gadis muda itu benar-benar dalam keadaan bimbang, apakah dia harus mengambil uang itu atau tetap meninggalkannya di kolam renang. Namun, di sisi lain dia sangat membutuhkan uang itu, dia bekerja karena ingin mendapatkan uang untuk membantu kakaknya. Jika Sophia merelakannya, lantas untuk apa dia menelan hinaan demi hinaan yang semula dia dengar dari mulut Anne. Kini uang dalam jumlah banyak berada di depan matanya dan gadis itu tidak ingin menyia-nyiakan begitu saja.
Meski wanita tadi telah merendahkannya tetapi uang yang dia berikan adalah haknya. Sophia terlihat sangat bingung, kini dia tahu bahwa dirinya tidak bisa berenang. Sophia memikirkan cara agar dia bisa mengambil uang itu.
Sophia mencari-cari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk mengambil uang itu. Tidak ada satu bendapun yang mampu menggapainya. Gadis muda itu mulai putus asa, tetapi ia menepis rasa itu kini yang ada di bayangannya adalah wajah Theresia. Dia memikirkan betapa bahagianya Theresia jika mendapatkan hadia itu.
Sudah lama sekali dia tidak melihat kebahagiaan di wajah kakaknya itu, ini kesempatan untuknya agar kembali melihat senyum bahagia di wajah Theresia kakak yang begitu menyayanginya. Sophia melihat lembaran uang kertas di depannya satu persatu telah tenggelam.
“Aku harus segera bergegas sebelum uang-uang itu hancur.” Air matanya mengalir karena dia tak ingin membuat kecewa kakaknya lagi.
Sophia terus memikirkan cara agar segera mengambil uangnya itu, jika terus berada di dalam air kemungkinan uang itu akan rusak. Tidak ada pilihan lain selain mengambilnya sendiri. Meski takut Sophia berusa untuk berani demi kakaknya itu.
Kini bayangan Theresia semakin jelas ada di hadapannya, dia melihat senyum indah yang terpancar dari bibir kakaknya karena bahagia telah mendapat kado darinya. Sophia tahu Theresia sangat membutuhkan outer itu untuk musim dingin yang akan mereka lewati bersama.
Perlahan dan pasti Sophia segera membuka sepatunya, dan mengambil ancang-ancang untuk dia segera menceburkan diri kedalam kolam itu. Mungkin itu terlihat dalam bagi gadis muda yang tak bisa berenang tetapi tidak ada pilihan lain. Ini satu-satunya cara yang harus dia ambil karena tidak ada pilihan lain.
Sambil memejamkan mata Sophia menjatuhkan diri kedalam air yang dingin, tubuhnya telah basah dan masuk terlalu dalam. Sophia berusaha membuka mata melihat kearah uang itu berada. Gadis muda itu berusaha menggapainya perlahan, dia yakin bisa melakukannya. Dengan senyum di bibir meski hatinya menangis dia berusaha mendekati uang yang berserakan itu.
“Aku bisa, sebentar lagi,” kata Sophia meyakinkan dirinya sendiri.
Sophia berhasil menggapainya dan mengambil satu persatu uang miliknya, dengan bergegas dia menarik dan menggenggamnya dengan kuat. Tiba-tiba dia merasakan kram yang tak terduga di sepanjang kakinya jenjangnya. Kaki Sophia tak bisa di gerakan. Gadis muda itu merintih kesakitan dan menangis. Dirinya tidak tahu apa yang terjadi seperti kakinya mengalami kram dan menjadi kaku, gadis itu hanya dapat merasakan kesemutan.
Sophia mulai kehilangan keseimbangan, tubuhnya tak mampu menahan berat badannya. Gadis muda itu mencoba bangkit namun, itu sangat sulit. Dia berteriak meminta tolong, tetapi tidak ada yang mendengarnya.
“Tolong … tolong … aku,” teriak Sophia.
Mikael masih dalam keadaan tak sadarkan diri, lelaki itu masih dalam pengaruh minuman beralkohol yang dia konsumsi semalaman sehingga tidak sedikitpun mendengar teriakan risau Sophia. Gadis itu mulai ketakutan, tubuhnya mulai terasa sangat dingin. Dia berusaha bangkit namun, tidak mampu, semuanya terasa kaku untuk dia gerakkan. Sophia tidak mampu menguasai dirinya lagi.
Kini yang ada di bayangannya hanya Theresia, dia merasa sudaj mengcewakan kakaknya itu dan menjadi adik yang buruk bagi Theresia. “Maafkan aku kakak, aku bukan adik yang baik untukmu,” ujar Sophia dalam hati.
Dia terus meminta maaf kepada kakaknya karena menjadi adik yang tidak penurut dan selalu menyusahkan kakaknya itu. Dia berpikir bahwa hidupnya akan berakhir. Sophia sangat menyayangi Theresia meski dia tak pernah menunjukannya, gadis itu merindukan kakaknya dan ingin sekali memeluknya sekali lagi saat ini.
“Kakak, tolong aku,” rintih Sophia dengan putus asa.
Tubuhnya benar-benar goyah, dia sudah tak merasakan apapun. Terlalu banyak air yang masuk kedalam tubuhnya sehingga membuat gadis itu kesulitan untuk bernapas. Uang yang ada di genggamannya mulai terlepas perlahan demi perlahan. Sophia mulai kehilangan kesadaran. Matanya tertutup yang terakhir dia bayangkan adalah Theresia dengan senyum indah, dia mengingat saat masih kecil mereka selalu ceria di temani ayah dan ibunya. Kini sudah tidak ada lagi keceriaan itu. Dia melihat kedua orang tuanya tersenyum dan menghampirinya membawa dia pergi bersama untuk meninggalkan Theresia selamanya.
“Semoga, Tuhan, seslalu melindungi dan memberimu kebahagiaan. Maafkan aku, kakak.” Suara terakhir yang bisa di ucapkan gadis muda itu perlahan.
Kini dia benar-benar kehilangan kesadaran dan tubuhnya terus masuk ke dalam kolam dengan kedalaman dua meter tersebut.