15. Meminta Pertolongan

1388 Words
Raut wajah panik sudah kentara jelas di paras tampan lelaki itu. Kening Mikael berkerut heran, anak sulung seorang politikus itu memandang isi kolam renangnya. Mikael melihat ada yang aneh, mengapa juga banyak uang yang berserakan di dalam kolam renangnya? Apa sebenarnya yang terjadi saat dia tidak sadarkan diri? Alasan di balik banyaknya lembaran uang dollar mengapung beberapa di atas kolam renang, sedangkan sebagiannya lagi sudah berada di dasar kolam renang. Begitu banyak pertanyaan di dalam benak lelaki itu. Wajahnya kini semakin takut, dia mundur perlahan menjauh dari tubuh kaku tak bernyawa itu. Tidak, Mikael tidak boleh gegabah dan memegang Sophia yang sudah tidak bernyawa lagi. Jika dia melakukannya, maka Mikael akan dituduh sebagai pemu-nuh gadis malang itu. "Oh sh*t, bagaimana ini?" Mikael segera mengambil ponsel, awalnya dia berniat akan menghubungi polisi, tetapi lelaki itu mengurungkan niatnya. Jika dia menelepon polisi saat ini, mungkin polisi akan mencurigainya sebagai pembunuh Sophia. Terlebih alasan Sophia bisa sampai di apartemen mewahnya adalah karena undangan darinya. "Aish, mengapa juga hal ini bisa terjadi di apartemenku?!" keluh Mikael mengusap wajahnya frustasi. Sungguh, saat ini lelaki itu tengah dilingkupi kegelisahan. Isi hatinya yang paling dalam menginginkan menolong terlebih dahulu tubuh Sophia agar tidak mengapung seperti itu di atas air. Namun, di sisi lain dalam dirinya merasa ketakutan memikirkan bahwa Mikael adalah satu-satunya orang di sana. "Tidak, aku tidak mungkin melakukan keke-rasan kepada Sophia," gumam Mikael menggelengkan kepalanya. Dia bukan lelaki yang akan memaksakan kehendaknya untuk sesuatu hal di luar batas kemanusiaan. Dalam ketidaksadarannya sekalipun, Mikael tak mungkin sampai melakukan sesuatu yang membahayakan diri Sophia. Terlebih setelah mendengar penuturan Sophia, Mikael merasa iba dan justru terdapat niat memberikan pekerjaan layak sebagai ladang penghasilan gadis itu. Mikael merasa bingung apa yang harus dia lakukan, siapa yang bisa membantunya saat ini. Lalu kakak dari Joseph itu teringat sosok ayahnya. Dia yakin dengan segala kekuasaan yang dimiliki ayahnya akan bisa membantunya keluar dari kesulitannya saat ini. Mikael dengan tubuh basah segera berlari ke ruang tengah untuk mengambil ponsel miliknya. Dia menghubungi Carlos salah satu karyawan kepercayaan ayahnya. Lama sekali Carlos menerima panggilannya. Wajah Mikael tampak sangat pucat, dia juga terlihat sangat gugup. “Ayo, Carlos, lama sekali kau ini.” Mikael terus menghubungi Carlos sambil berdiri dengan tidak tenang. “Hallo, Carlos,” ucap Mikael saat Carlos menerima panggilannya. “Iya, Tuan,” jawab Carlos penuh wibawa. “Lama sekali kau ini, segera ke apartemenku.” Mikael dengan tegas meminta Carlos segera menemuinya. “Ada apa, Tuan?” tanya Carlos heran karena suara Mikael terdengar sangat gugup. “Cepat kemari, tidak ada waktu untuk menjelaskannya.” Mikael langsung mematikan ponselnya. Lelaki itu duduk bersandar di sebuah sofa berwarna putih. Dia mengambil sebatang rokok dan segera menyalakannya. Dari caranya duduk, Mikael terlihat sangat gusar. Mungkin dengan menghisap rokok dia jauh lebih tenang sambil menunggu Carlos tiba. Mikael benar-benar tidak habis pikir bagaimana gadis muda itu bisa tenggelam di dalam kolam miliknya. Carlos dengan sigap segera meninggalkan kantor untuk menemui Mikael. Di loby dia bertemu dengan Georgeus yang tidak lain adalah ayah Mikael. Carlos memberi penghormatan saat Georgeus melintas di hadapannya. Lelaki paruh baya itu menghentikan langkah kakinya saat melihat Carlos tergesa-gesa. Terbesit perasaan curiga, karena lelaki dua anak itu pula tak melihat batang hidung anak sulungnya. “Carlos,” teriak Georgeus dan membuat Carlos menghentikan langkahnya. Carlos kembali menghampiri Georgeus. “Iya, Tuan." “Kamu mau kemana? Kenapa tergesa-gesa begitu” tanya Georgeus menatap lelaki itu menelisik. “Saya akan ke apartemen milik Mikael, Tuan,” jawab Carlos sambil menundukkan pandangannya. “Ada perlu apa kamu ke sana?” pungkas Georgeus merasa ada yang aneh dengan gelagat Carlos. Apalagi semalam dirinya mendapat kabar dari istrinya bahwa anak sulungnya itu tidak kembali pulang ke rumah. Jika biasanya Joseph yang menghilang, Georgeus dan Alexa tak akan menanyakannya karena tahu bahwa Joseph adalah anak yang keras kepala. Berbanding terbalik dengan sang kakak, Mikael. “Maaf, Tuan, saya sendiri tidak tahu. Tadi putra sulung Anda menghubungi saya dan meminta saya untuk segera menemuinya.” Carlos menjelaskan semuanya kepada Georgeus. “Ada apa dengan anak itu?” ucap pria paruh baya itu sambil berpikir. Georgeus menepuk pundak Carlos. “Segera kabari aku jika terjadi sesuatu yang buruk,” lanjutnya lalu pria itu melanjutkan lagi langkah kakinya di ikuti para ajudannya. “Baik, Tuan,” jawab Carlos sambil memberikan penghormatan. Carlos segera bergegas menuju mobil dan mengendarai dengan kecepatan tinggi. Di jalan ponsel Carlos terus bordering, Mikael terus menghubunginya. Carlos terus mengendarai mobilnya hingga tiba di depan gedung tinggi pencakar langit itu. Lelaki itu segera menaiki lift dan menuju kamar Mikael. Di depan pintu Carlos meneken bel dan menunggu Mikael membuka pintu. Mikael sangat terkejut saat mendengar bel burbunyi. Dia takut jika ada orang lain yang mengunjungi apartemennya. Mikael berjalan dengan gugup sambil memikirkan apa yang harus dia katakan saat seseorang melihat tubuh terbujur kaku yang ada di ruangannya. Mikael mengintip dari celah kecil di pintu. Dia merasa sedikit lega saat melihat Carlos yang ada di depan pintu ruangannya. Mikael segera membuka pintu dan meminta Carlos segera masuk. “Silahkan masuk.” Mikael melirik kanan kiri dan segera menutup pintunya kembali. Carlos merasa heran mengapa Mikael basah kuyup dan terlihat grogi. “Ada apa denganmu?” tanya Carlos. Mikael segera manarik tangan Carlos menuju kolam renang. Lelaki itu terkejut saat melihat tubuh wanita muda terbujur kaku di tepi kolam. Carlos berpikir mengapa Mikael bisa melakukan hal seke-ji ini! “Ya Tuhan, apa yang kau lakukan.” Carlos benar-benar tidak habis pikir dengan perilaku Mikael. Padahal kedua orang tua Mikael selalu membanggakan lelaki itu daripada adiknya. Lantas peristiwa apa yang terjadi sampai lelaki itu dapat melakukan hal di luar batas yang mampu mencemarkan nama baik keluarganya. “Bukan aku yang melakukannya, Carlos.” Mikael memeluk Carlos dan menangis sejadi-jadinya. “Lalu, bagaimana gadis ini bisa seperti ini. Ya Tuhan.” Carlos merasa bingung, tetapi dia tetap berusaha tenang. “Aku sendiri tidak tahu, tapi aku sungguh tidak melakukan hal apapun kepadanya. Tiba-tiba saja seusai aku terbangun dia tidak ada di dalam, aku mencarinya dan ... dan menemukan dia di sini,” ucap Mikael sambil berjalan kecil di hadapan Carlos. Wajahnya terlihat sangat bingung sekali. Dia menceritakan kejadian semalam yang terjadi di apartemennya. “Aku memang mengundangnya kesini untuk jadi gadis teman minum, hanya itu saja. Dan kami pun tidak melakukan hal lain,” ucap Mikael sambil mengacak frustasi rambutnya. Kemudian lelaki itu menceritakan detailnya kepada Carlos. Dia bilang bahwa dia mengundang gadis itu melalui temannya. Sophia kemudian diutus untuk menemani Mikael minum malam ini guna menghilangkan kekesalan yang ada di dirinya saat itu. Mikael juga menceritakan bahwa dia menghabiskan kurang lebih lima botol wine dan setelah itu dia merasa mabuk dan kepalanya sangat berat. Lalu dia tidak mengingat apa-apa lagi. “Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, dan saat aku terbangun gadis itu sudah mengapung dan tak bernyawa.” Mikael menjelaskan semuanya. “Apa tidak ada perselisihan di antara kalian sebelumnya?” tanya Carlos meminta Mikael mengingat sesuatu. “Tidak ada, karena kami baru saling kenal semalam.” Mikael menegaskan kepada Carlos. Carlos semakin bingung, dia berpkir apa gadis itu ingin berenang dan terjadi sesuatu saat dia berenang seperti dia sakit, kram atau sesak napas. “Apa kau tidak mengingat sesuatu yang penting?” Carlos meyakinkan Mikael untuk mengingat-ingat lagi kejadian semalam. “Aku sangat yakin, kami tidak melakukan apa pun dan tidak ada perselisihan di antara kami. Gadis itu terlihat sangat baik dan tidak ada masalah sama sekali dengannya.” Mikael berpikir keras tentang gadis itu. “Apa dia bunuh diri?” Carlos menerka-nerka. “Tidak mungkin, dia gadis yang sangat ceria.” Mikael menggigit kecil bibirnya. Mikael merasa ragu dengan jawabannya. Semalam Sophia menceritakan beban hidupnya kepada lelaki itu. Mungkinkah Sophia memang sengaja menghilangkan nyawanya sendiri untuk mengakhiri hidupnya? Dia teringat sesuatu yang belum dia katakan kepada Carlos. Mikael kembali menarik Carlos ke tepi kolam. “Kau lihat itu, aku tidak tahu bagaimana uang itu bisa berserakan seperti itu,” ujar Mikael sambil menunjuk ke arah uang yang terlihat di dasar kolam. Carlos menatap seisi apartemen Mikael, terlihat beberapa CCTV yang terpasang di ruangan itu. Orang kepercayaan Georgeus itu berpikir mungkin akan menemukan pelakunya dengan melihat hasil dari CCTV di waktu kejadian. “Dimana ruang CCTV, kita harus bergegas untuk mengetahui mengapa gadis ini bisa seperti ini.” Carlos mengajak Mikael menuju ruang CCTV. Akhirnya mereka bergegas, sebelum segalanya semakin runyam dan tidak terkendali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD