Bab 1

1104 Words
“Aku tidak menikahi siapa pun karena belas kasihan,” katanya. “Aku tidak membutuhkan istri dari keluarga bangkrut. Aku tidak ingin beban,” lanjut Samuel Cortez. Ketua mafia Italia yang namanya seperti petir di dunia bawah. Di depannya, seorang pria paruh baya berwajah penuh kerut, Jonathan William, tampak berusaha tersenyum padahal tubuhnya gemetar. Ia, berlutut tanpa malu, tangannya gemetar di atas kedua lututnya. Di meja antara mereka, tergeletak selembar kertas tebal dengan tanda tangan pengacara di bagian bawah. Kontrak pernikahan. Tinta hitam di atas kertas putih itu seolah menjadi dinding pemisah antara hidup dan kebebasan Aurel Monica, anak dari Jonathan yang ia gunakan sebagai jaminan untuk melunasi hutang dari bisnisnya yang bangkrut. “Tuan Samuel, saya mohon. Aurel akan melakukan apa pun. Hanya satu tahun… setelah itu Anda bebas memutus pernikahan ini. Kami hanya butuh waktu untuk melunasi semua hutang.” Samuel memandang pria tua itu dengan jijik. Ia membenci orang yang lemah, apalagi yang menyerahkan darah dagingnya demi bertahan hidup. Namun di balik sinisnya, ada sesuatu dalam mata Aurel yang membuatnya berhenti menolak. Gadis itu tidak seperti yang ia bayangkan. Bukan gadis manja dari keluarga kaya yang hancur, melainkan seseorang yang berusaha tetap tegar meski dunia menelannya bulat-bulat. “Pergilah! Aku tidak bisa membantu,” ucap Samuel dingin, tegas. Ia melirik pada kedua pengawalnya, memberikan isyarat tersirat. Ketika pengawal hendak mengusir mereka, Aurel mendadak berdiri. Matanya berair tapi penuh keberanian. Ia berlutut di hadapan Samuel. Tubuhnya bergetar hebat, tapi suaranya lirih dan jelas. “Kalau pernikahan ini bisa menyelamatkan keluarga saya, saya akan melakukannya. Saya tidak akan menuntut apa pun. Tidak akan mengganggu hidup Anda. Tapi tolong… jangan biarkan mereka kehilangan segalanya.” Ruang itu sunyi. Samuel menatapnya lama, mencoba membaca ketulusan di balik ketakutan. Ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada kepalsuan seperti wanita yang biasa berputar di sekelilingnya. Ia sadar bahwa Aurel bukan gadis yang mencari keuntungan. Ia hanya berusaha bertahan. Samuel berdiri perlahan, langkahnya tenang menuju jendela besar di belakangnya. Ia menatap ke langit, seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih berat daripada bisnis atau kekuasaan. Satu tahun. Hanya satu tahun. Itu waktu yang singkat bagi seorang pria sepertinya tapi cukup lama untuk memastikan segalanya tetap terkendali. Ia berpikir, mungkin ini bisa jadi solusi politik juga, karena salah satu keluarga mafia yang ingin menjalin aliansi dengannya menuntut stabilitas. Seorang istri, meski palsu, bisa memberinya citra tenang di mata publik. Seorang pria berjas hitam melangkah mendekat, orang kepercayaan Samuel, Okan. Ia mendekatkan wajahnya, setengah berbisik. “Tuan, maaf jika saya lancang. Tapi, sepertinya ini adalah kesempatan bagi Anda untuk mengubah alur politik. Bagaimana pun, kita terdesak.” Samuel melirik ke arah Aurel yang tampak tegar meski tubuhnya bergetar. Akhirnya, ia mengangguk. “Baiklah,” katanya dingin. “Kita akan melakukannya. Satu tahun. Tidak lebih.” Jonathan menunduk, hampir menangis lega. Tapi bagi Aurel, kalimat itu seperti vonis. Ia tidak tahu harus merasa bersyukur atau hancur. Hari itu juga, pengacara keluarga Cortez menyiapkan berkas resmi. Tidak ada lamaran, tidak ada pesta, tidak ada doa restu. Pernikahan mereka hanya sebuah transaksi di atas meja kayu, disaksikan oleh dua saksi dan seorang notaris. Ketika pena menyentuh kertas, tangan Aurel gemetar hebat. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, membasahi lembar kontrak yang seharusnya kering dan formal. Ia menandatangani namanya di bawah kalimat yang mengikat hidupnya selama satu tahun penuh. Samuel memperhatikan tanpa ekspresi. Namun di balik wajah dinginnya, ada rasa aneh yang muncul, semacam penyesalan yang tidak ingin ia akui. Bukan karena kasihan, tapi karena ia tahu ia baru saja mengikat seseorang yang tidak pantas diseret ke dalam dunianya yang gelap. Setelah semuanya selesai, Aurel berdiri dengan kaki goyah. Jonathan mencoba meraih tangannya, tapi Aurel menepis perlahan. “Sudah cukup, Ayah,” katanya lirih. “Mulai sekarang, aku akan menanggungnya sendiri.” Samuel menatap ke arah mereka sebentar sebelum berbalik pergi. “Siapkan dia untuk tinggal di rumah Cortez malam ini,” ujarnya kepada Okan. “Baik Tuan,” jawab Okan sembari mengantar Samuel ke luar. *** Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya klasik Italia, berdiri megah di tengah halaman luas yang sunyi. Aurel keluar dari mobil. Di hadapannya, bangunan batu itu terlihat lebih seperti penjara mewah daripada tempat tinggal. Seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun menyambut di depan pintu. Wajahnya kaku tapi tidak sepenuhnya dingin. “Selamat datang, Nyonya Aurel,” ucapnya datar, sedikit menunduk. “Marina, bawalah Nyonya Aurel ke kamarnya,” ucap Okan sembari menyerahkan sebuah koper lusuh ke tangan Marina. Marina mengisyaratkan agar Aurel mengikutinya. Sepatu mereka menimbulkan gema lembut di lantai marmer yang berkilau. Setiap sudut rumah itu penuh lukisan tua, patung klasik, dan keheningan yang mencekam. Mereka naik ke lantai dua, melewati lorong panjang dengan pintu-pintu yang tertutup rapat. Marina berhenti di depan satu kamar besar dengan tirai abu-abu tebal. “Ini kamar Anda,” katanya pelan, menaruh koper di lantai sebelum berbalik pergi tanpa menunggu balasan. Begitu pintu tertutup, Aurel menatap sekeliling, kamar yang terlalu indah namun terasa asing. Ia duduk di tepi ranjang besar itu, dan akhirnya semua kekuatan yang ia tahan runtuh. Air matanya mengalir tanpa suara, jatuh satu per satu di atas gaun putihnya. Ia memeluk diri sendiri, menahan isak, menyadari bahwa mulai malam ini… ia bukan lagi gadis bebas, melainkan istri dari pria yang tidak mengenalnya, tidak menginginkannya, dan mungkin tidak akan pernah mencintainya. *** Malam berlalu dengan cepat. Jam di dinding menunjukkan pukul dua lewat sedikit ketika Aurel terbangun dengan perut yang melilit. Ia menatap sekeliling kamar gelap itu, menyadari kalau sejak pagi ia belum makan apa pun. “Astaga, kenapa aku tertidur dengan masih memakai gaun?” gumamnya. Dengan langkah hati-hati, ia keluar dari kamar, menyusuri koridor panjang yang diterangi cahaya remang lampu dinding. Setelah beberapa menit, ia menemukan dapur besar di ujung lorong. Tempat itu tampak rapi, terlalu bersih, tapi kosong. Lemari pendingin hanya berisi minuman keras dan botol-botol air. Tak ada makanan apa pun yang siap santap. Aurel menelan ludah, matanya kemudian tertumbuk pada sebuah bungkus pasta instan di rak. Tanpa berpikir panjang, ia mengambilnya. Tangannya gemetar menyalakan kompor gas besar, menaruh panci dan menuangkan air. Suara desis api terdengar lembut, memberi sedikit kehangatan di tengah sepi. Ia menunggu hingga air mulai bergelembung. Namun ketenangan itu pecah ketika terdengar langkah kaki berat mendekat dari arah lorong. Aurel panik. Ia segera bersembunyi di balik meja dapur, menahan napas sekuat mungkin. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Samuel yang berdiri dihadapannya. Aurel tersentak keras. Tubuhnya menegang, lalu tanpa sengaja tersandung kaki meja dan terjatuh. Jerit kecil keluar dari bibirnya, menembus keheningan malam. Saat ia mendongak, pandangannya bertemu dengan mata kelam Samuel dengan ekspresi tajam yang membuat jantungnya nyaris berhenti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD