Bab 2

1219 Words
Aurel terpaku, napasnya memburu, tubuhnya gemetar di lantai marmer yang dingin. Tatapan tajam Samuel menusuk seperti bilah pisau, membuat udara di sekitarnya seolah membeku. Ia mencoba berdiri dengan tergesa, namun rasa nyeri tiba-tiba menusuk pergelangan kakinya. Ia kehilangan keseimbangan, tubuhnya miring dan hampir jatuh untuk kedua kalinya hingga sebuah tangan kuat menangkapnya tepat sebelum ia membentur lantai. Samuel memegang pinggangnya dengan satu tangan, sementara tangan satunya menopang bahu Aurel. Wajah mereka begitu dekat hingga Aurel bisa merasakan napas hangatnya di kulit. Tatapan mereka bertemu dalam keheningan yang menegangkan. Waktu seolah berhenti di antara jarak yang begitu sempit itu. Kesadaran tiba-tiba datang. Aurel buru-buru menunduk dan berusaha menjauh. “Ma—maaf…” gumamnya terbata, berusaha menarik diri dari genggamannya. Tapi belum sempat ia menapak, Samuel menatapnya tajam dan berkata, “Jangan bergerak.” Nada suaranya datar namun penuh perintah. Aurel membeku di tempat, tak berani menolak. Dalam satu gerakan, Samuel membungkuk, menyelipkan satu tangannya di bawah lutut Aurel dan satu lagi di belakang punggungnya. Ia mengangkat Aurel dengan mudah, menggendongnya dalam posisi bridal style tanpa ekspresi sedikit pun di wajahnya. Aurel tersentak kaget. “Tu-tuan, tidak perlu—” “Diam.” Hanya satu kata, tapi cukup untuk membuatnya menutup mulut dan menunduk. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga hampir memekakkan telinganya sendiri. Ia bisa mencium aroma maskulin samar dari tubuh Samuel. Samuel membawanya ke meja makan yang besar, lalu menurunkannya perlahan ke kursi. Ia jongkok di hadapannya, menatap pergelangan kaki Aurel yang kini memerah. “Aku tidak apa-apa…” ucap Aurel pelan, berusaha menolak. Tapi Samuel tidak menjawab. Ia justru mengulurkan tangan, memegang pergelangan kakinya dengan hati-hati. Sentuhan itu membuat Aurel menahan napas. “Apa kau hendak makan?” tanyanya tanpa menoleh. Aurel terdiam, sedikit ragu untuk menjawab. “Aku… belum makan sejak pagi,” katanya akhirnya. Samuel menghela napas pelan, berdiri, lalu berjalan menuju lemari dapur. Dalam beberapa menit, ia kembali membawa kotak kecil dan sebuah kantong es. Ia duduk kembali, membuka kotak itu. Tanpa banyak bicara, ia mengoleskan sedikit salep di pergelangan kaki Aurel. Aurel berusaha menarik kakinya, tapi Samuel menahan dengan satu tangan, tetap tenang namun tak memberi ruang untuk melawan. “Sedikit saja,” katanya datar. “Ini hanya terkilir ringan.” Setelah itu, ia memasukkan batu es ke dalam kantong kecil, membungkusnya dengan kain, dan menyerahkan pada Aurel. “Kompres pergelangan kakimu dengan ini. Cukup dua puluh menit.” Aurel menerima kantong itu dengan canggung, menatapnya seolah tak percaya pria dingin seperti Samuel bisa memperhatikannya sedetail itu. Ia hendak berterima kasih, namun Samuel sudah berdiri, memutar badan, dan melangkah ke arah kompor yang masih menyisakan air panas di panci. Tanpa berkata apa pun, ia mengambil bungkus pasta instan yang tadi sempat disentuh Aurel. Membuka bungkus, menuangkan pasta ke dalam air, lalu mengambil beberapa bahan dari lemari pendingin seperti sebutir telur, sedikit keju parut, dan sejumput garam. Aurel memperhatikannya dari kursi, setengah tak percaya. Seorang ketua mafia, pria yang dikenal dingin dan tak punya belas kasihan, kini berdiri di dapur tengah malam, memasak untuknya. Samuel memecahkan telur dengan satu tangan, mengaduknya perlahan. Suara sendok yang beradu dengan panci menjadi satu-satunya bunyi di ruangan itu. Aroma hangat mulai memenuhi udara, membuat perut Aurel kembali bergejolak lapar. Ia ingin berkata sesuatu tapi entah kenapa kata itu sulit keluar. Beberapa menit kemudian, Samuel mematikan kompor. Ia meniriskan pasta, menaruhnya di piring, lalu menambahkan telur dan keju parut di atasnya. Ia mengambil garpu, meletakkannya di sisi piring, lalu mendorong piring itu ke arah Aurel. “Makanlah,” katanya singkat. Aurel memandang piring itu, lalu menatap Samuel yang kini berdiri di hadapannya dengan tangan terlipat. “Apa Tuan juga tidak ikut makan—” “Makan,” potongnya dingin. “Jangan bicara banyak.” Aurel menunduk, mengambil garpu, dan menyuapkan pasta pertama ke mulutnya. Rasanya sederhana tapi hangat, dan entah kenapa membuat dadanya terasa sesak. Ia menelan pelan, lalu mengangguk kecil. “Terima kasih,” ucapnya lirih. Samuel tidak menjawab. Ia hanya menatapnya sebentar, lalu memalingkan pandangan, berjalan menuju rak kaca, mengambil segelas air, dan meletakkannya di sebelah Aurel. “Minum itu setelah makan.” Suasana hening kembali mengisi dapur. Hanya suara pelan dari sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring. Samuel berdiri diam, menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong, seolah pikirannya berada jauh di tempat lain. Namun sesekali, matanya melirik ke arah Aurel, gadis yang kini duduk di kursi besar, dengan rambut kusut, gaun kusam, dan wajah lelah, namun tetap memiliki tatapan mata yang jujur dan polos. Aurel menaruh garpunya, ia mengambil air minum yang diberi oleh Samuel. Tapi saat mata mereka bertemu, Aurel terbatuk. Ia tersedak dan dengan sigap Samuel memberikan selembar tisu. “Terima kasih,” ucap Aurel pelan, kembali menunduk. Ia tak berani menatap Samuel yang berdiri tak jauh darinya. “Makanlah pelan-pelan,” suara Samuel terdengar datar. “Tak ada yang memburumu.” Aurel menghapus sisa air di ujung bibirnya, lalu memberanikan diri menatapnya sejenak. Tatapan mata Samuel yang tajam membuatnya kembali gugup, tapi rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutnya. “Apakah Tuan… tidak makan juga?” tanyanya ragu. Samuel menatapnya beberapa detik, lalu bibirnya melengkung tipis membentuk senyum samar. “Aku hanya mendengar suara dari dapur,” ujarnya pelan. “Aku lupa kalau mulai malam ini, kau tinggal di sini.” Aurel menoleh dengan heran, tak tahu harus menanggapinya bagaimana. “Kenapa tidak ada makanan apa pun? Aku hampir bingung mau makan apa,” katanya sambil menyuapkan sisa pasta di piringnya. Samuel menarik napas pendek, lalu menjawab dengan nada dingin, “Pelayan tidak diperbolehkan masuk ke rumah utama setelah jam sepuluh malam. Jika kau lapar, kau bisa ambil persediaan makanan di gudang. Besok pagi, Marina akan menunjukkan tempatnya padamu.” Aurel mengangguk pelan, meski hatinya terasa canggung. “Baik.” Ketika Aurel selesai makan, Samuel mengambil piringnya tanpa berkata apa pun, mencucinya sendiri, lalu berkata tanpa menoleh. “Setelah ini, istirahatlah. Jangan berjalan sendirian di malam hari.” Nada suaranya tetap dingin, tapi Aurel bisa merasakan sesuatu yang berbeda di baliknya entah kepedulian yang tersembunyi, atau sekadar peringatan agar ia tidak menjadi beban. Aurel berdiri perlahan. Setiap langkah yang ia ambil terasa menyakitkan. Ia menahan napas, berusaha tidak menunjukkan rasa sakit itu di hadapan Samuel. Langkahnya tertatih melewati meja makan, hendak menuju tangga menuju lantai dua. Namun sebelum mencapai lorong, langkahnya terhenti. Ia menoleh, memandangi sosok pria itu yang berdiri di depan wastafel, membelakanginya, masih sibuk mengeringkan piring yang tadi ia cuci sendiri. “Tuan Samuel,” panggil Aurel pelan. Pria itu menoleh sedikit, sekilas, tanpa ekspresi. “Terima kasih. Karena… sudah mau membantuku.” Samuel terdiam sejenak, lalu menaruh handuk kecil di meja. Senyum sinis perlahan muncul di sudut bibirnya saat ia berjalan mendekat. Setiap langkahnya terdengar berat dan pasti, membuat jantung Aurel berdetak semakin cepat. Ia mundur sedikit, tapi langkah Samuel tak berhenti sampai jarak di antara mereka hanya sejengkal. Tangan dingin pria itu terangkat, ujung jarinya menyentuh dagu Aurel dan memaksanya menatap ke arah mata kelam itu. “Kau pikir semua ini gratis?” suaranya rendah, nyaris berbisik. “Setiap hal yang kudapat atau kuberikan… selalu ada harganya.” Aurel menatapnya, tak bisa mengalihkan pandangan. Napasnya tersengal, jantungnya berdetak cepat, rasa takut dan sesuatu yang tak ia pahami bercampur jadi satu. Samuel mendekat perlahan, jarak di antara wajah mereka semakin sempit, hingga hanya tersisa satu sentimeter. Aurel memejamkan mata refleks, tubuhnya menegang, menunggu entah apa yang akan Samuel lakukan padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD