Samuel menatap wajah Aurel dengan tatapan dingin. Mata Aurel yang terpejam membuat senyum sinis terukir di wajahnya. Saat jarak diantara keduanya tersisa satu sentimeter, Samuel menghentikan gerakannya.
“Aku tidak tertarik pada tubuhmu,” katanya datar, lalu menjauh tanpa ekspresi. “Jadi, tidurlah.”
Aurel membuka matanya perlahan, napasnya tercekat. Ia berdiri kaku, tak tahu harus merasa lega atau terluka. Samuel sudah membalikkan badan, kembali melangkah ke ruang kerjanya, seolah kejadian barusan tidak berarti apa pun.
Aurel menggenggam ujung gaunnya, menunduk dalam, lalu melangkah pergi dengan langkah tertatih, meninggalkan dapur yang kembali sunyi. Tapi saat mencapai tangga, hatinya berdebar aneh antara takut dan penasaran pada pria yang kini menjadi suaminya dalam kontrak.
Samuel membuka pintu besar di ujung lorong, ruang kerjanya yang gelap dan dingin, dipenuhi rak buku, berkas, serta aroma tembakau yang samar.
Begitu pintu tertutup, ia menyalakan lampu di atas meja kerja besar dari kayu mahoni, lalu menekan tombol kecil di bawah permukaan meja. Layar besar di dinding di hadapannya menyala, menampilkan rekaman dari beberapa kamera keamanan yang tersebar di seluruh rumah.
Pandangannya tertuju pada Aurel yang berjalan perlahan, tertatih, memegang pegangan tangga sambil menahan nyeri di kakinya. Gaun putihnya yang kusut dan rambut yang berantakan membuatnya tampak rapuh.
Dengan ujung jarinya, Samuel memperbesar tampilan. Kini wajah Aurel terlihat lebih jelas, ia tampak lelah, namun tetap berusaha tegar. Ada sesuatu di sana yang tak bisa ia abaikan. Bukan rasa iba, tapi semacam rasa ingin tahu yang tumbuh pelan, mengusik logika yang selama ini ia jaga rapat-rapat.
Samuel bersandar di kursinya, menatap layar tanpa ekspresi. Jemarinya mengetuk pelan meja kayu, seolah sedang memikirkan sesuatu. Senyum tipis, nyaris tak terlihat, muncul di ujung bibirnya.
“Sepertinya, hidupku akan mulai menarik.”
***
Ketukan pelan di pintu membuat Aurel terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap pelan, mencoba menyadari di mana dirinya berada.
Marina, bersama dua pelayan muda masuk perlahan tanpa menunggu perintah.
“Selamat pagi, Nyonya Aurel,” ucap Marina sopan dengan nada formal. “Air hangat sudah disiapkan. Kami akan membantu Anda bersiap.”
Aurel mengerutkan dahi, masih bingung dengan sapaan itu. “Ah… ya, terima kasih,” jawabnya canggung. Namun sebelum sempat berkata lebih banyak, dua pelayan itu sudah melangkah masuk dengan cekatan.
Mereka mendekat, salah satunya menatap Aurel seolah meminta izin, namun tangan lembutnya sudah menarik Aurel turun dari ranjang lalu perlahan melepaskan gaun putih yang masih ia kenakan sejak semalam. Aurel tersentak dan buru-buru menahan.
“Aku bisa sendiri!” serunya cepat, wajahnya memerah. Tapi Marina hanya menatap dengan ekspresi datar.
“Di rumah ini, tugas pelayan adalah memastikan semua tamu dan penghuni dalam keadaan rapi,” ucap Marina tegas. “Tuan Samuel tidak menyukai ketidakteraturan.”
Kata-kata itu membuat Aurel terdiam. Ia tak ingin membuat masalah di hari pertamanya tinggal di sini. Dengan enggan, ia membiarkan mereka membantu.
Para pelayan menuntunnya ke kamar mandi besar di ujung ruangan lebih luas dari kamar kos yang pernah ia tinggali.
Di tengah ruangan itu, sebuah bathtub marmer putih sudah terisi penuh air hangat, beraroma mawar dan lavender. Saat kakinya menyentuh air, Aurel menghela napas lega tanpa sadar. Rasa hangat menyelimuti tubuhnya, menghapus sedikit rasa nyeri di pergelangan kaki dan kelelahan di tubuhnya.
“Silakan bersantai, Nyonya. Sarapan akan siap dalam satu jam. Anda sebaiknya selesai setengah jam lagi,” ucap Marina sebelum keluar bersama dua pelayan itu, menutup pintu perlahan.
Aurel memejamkan mata, membiarkan air hangat menenangkan pikirannya yang kusut. Setelah beberapa saat, ia bangkit dan membungkus tubuhnya dengan handuk lembut. Ketika keluar dari kamar mandi, dua pelayan tadi sudah menunggunya, berdiri tegak dengan beberapa pilihan pakaian. Mereka memilihkan gaun selutut berwarna krem lembut, lalu menuntunnya duduk di depan meja rias besar.
Rambut panjangnya disisir rapi, sebagian diikat ke belakang. Wajahnya dirias tipis, hanya sentuhan ringan di pipi dan bibir. Dalam diam, Aurel membiarkan semua itu terjadi, masih belum terbiasa dengan perlakuan seperti ini.
Setengah jam kemudian, semuanya selesai.
Aurel menatap pantulan dirinya di cermin besar di hadapannya. Ia mengangkat tangannya, menyentuh pantulan di cermin seolah tak percaya.
“Apakah ini benar-benar aku?” bisiknya lirih.
***
Kini Aurel duduk di meja makan panjang yang tampak terlalu besar untuk hanya dua orang. Meja itu dipenuhi hidangan lengkap. Tapi Aurel hanya memandanginya dengan canggung, belum menyentuh apa pun. Ia tak tahu apakah seharusnya ia menunggu Samuel atau mulai makan sendiri.
Suara langkah kaki terdengar mendekat. Samuel muncul dengan pakaian yang rapi. Rambutnya disisir ke belakang, dan aura dingin khasnya langsung memenuhi ruangan. Tanpa berkata apa pun, ia menarik kursi di seberang Aurel dan duduk.
“Selamat pagi,” ucap Aurel gugup.
“Pagi,” jawab Samuel datar, sambil menuang kopi ke cangkirnya.
“Silakan makan,” ujar Samuel kemudian, tanpa menatapnya. “Aku tidak suka membuang waktu.”
Aurel segera mengambil roti dan mulai makan perlahan, menjaga agar tidak menimbulkan suara. Suasana di meja itu begitu hening. Setiap kali Aurel mencuri pandang, ia mendapati Samuel makan dengan tenang.
“Setelah sarapan, bersiaplah. Kita akan pergi dalam tiga puluh menit,” ucap Samuel tiba-tiba.
Aurel berhenti sejenak, menatapnya dengan bingung. “Pergi? Ke mana, Tuan?” tanyanya hati-hati.
Samuel menaruh garpu dan pisau di atas piring, lalu menatapnya. Tatapan matanya tajam, membuat Aurel menelan ludah.
“Pertemuan keluarga,” jawabnya singkat.
“Pertemuan keluarga?” Aurel mengulang pelan, seolah memastikan ia tidak salah dengar.
Samuel mengangguk, lalu menyeruput kopinya. “Setiap awal bulan, keluarga besar Cortez mengadakan pertemuan. Semua anggota harus hadir. Dan karena kau kini secara hukum adalah istriku, kau akan ikut.”
Aurel terdiam. Kata istri itu menggema di kepalanya seperti kenyataan pahit yang sulit diterima. Ia menatap piringnya, kehilangan selera makan.
“Apakah mereka… tahu tentang pernikahan ini?” tanyanya pelan.
“Mereka tahu aku menikah. Tapi tidak semua tahu alasannya. Jadi, cukup bersikap tenang dan jangan banyak bicara. Biarkan aku yang menjelaskan,” jawabnya tanpa perasaan.
Aurel menunduk dalam, jantungnya berdebar tak menentu. Ia belum siap menghadapi keluarga pria itu, keluarga mafia yang namanya saja sudah membuat banyak orang gemetar.
Samuel berdiri, merapikan jasnya. “Marina akan membantumu memilih pakaian yang pantas,” katanya datar. “Kita berangkat dalam tiga puluh menit. Jangan terlambat.”
“Baik, saya akan siap dalam tiga puluh menit,” jawab Aurel menahan detak jantungnya yang semakin cepat.
Setelah itu, ia melangkah pergi, meninggalkan Aurel yang masih duduk diam di kursinya. Tatapannya tertuju pada sisa sarapan yang kini tak lagi tampak menarik. Dalam hati, ia berusaha menenangkan diri karena sebentar lagi, ia akan memasuki lingkaran keluarga Cortez. Dunia baru yang penuh rahasia, kekuasaan, dan mungkin... bahaya yang belum ia bayangkan.