Volkan Ardonio, pria berusia dua puluh delapan tahun, berdarah Indonesia dan Amerika. Memiliki tinggi semampai dan fisik yang bisa dibilang sangat sempurna. Tidak heran jika banyak wanita tergila-gila terhadapnya. Karena selain memiliki wajah tampan, tubuh kekar nan seksi, dia juga seorang aktor sekaligus model papan atas. Bahkan, dia juga pernah memenangkan penghargaan kontes pria di bawah naungan World Beauty Association S.A, yaitu Mister Supranational.
Bola mata coklat terang yang biasa dimiliki burung elang, Volkan juga mengantonginya. Pria itu juga memiliki alis yang tebal nan hitam. Sementara rahangnya terlihat tegas, ujung dagunya terbelah, dan hidungnya mancung bak perosotan.
Meskipun terlahir dengan gen darah asing, Volkan tidak suka jika wajahnya tertutup brewok seperti bule pada umumnya. Dia rajin mencukur jika terdapat bulu-bulu halus yang hendak menutupi mulut. Itu akan menyembunyikan bibir seksinya yang mampu membuat para wanita lebih memilih mencicipinya daripada es krim terlezat di dunia.
Panas dan seksi. Itu merupakan kalimat simpel yang bisa menggambarkan sosok Volkan Ardonio. Seakan api langsung menyala dalam diri pria itu ketika para kaum hawa memandangnya. Namun, dari sekian banyaknya wanita cantik di dunia ini, hanya satu yang mampu membuatnya tergila-gila, yaitu tak lain adalah Liona Laverine.
Volkan sangat gembira saat lamarannya untuk mempersunting sang pujaan diterima dengan senang hati oleh Liona. Segala hal telah dipersiapkan untuk menyambut hari besar tersebut. Bahkan beberapa media dan stasiun TV siap meliput dan menyiarkan secara langsung acara pernikahan sang aktor tersebut. Namun, semuanya kacau saat seorang wanita bernama Rhea, yang juga merupakan seorang aktris tiba-tiba datang dan mengaku tengah mengandung anaknya.
Volkan terkejut, marah, juga sedih. Semua perasaan bercampur aduk bergulat di dalam benaknya. Dia merasa amat yakin, kalau dia tidak pernah melakukan hal keji semacam itu. Meniduri wanita dan membuatnya hamil? Sekalipun Volkan tak pernah terpikir untuk melakukannya. Yah, kecuali dengan Liona. Dia rela melakukan apa saja dengan gadis pujaannya tersebut.
Kedua bola mata Volkan sibuk memandangi para wartawan yang mencoba menerobos pagar halaman. Kericuhan benar-benar membuat telinganya panas sekaligus muak. Ia tak pernah menyangka, kalau wartawan dan media yang harusnya meliput berita gembira, malah menjadi bumerang baginya. Setelah kejadian ini, pasti karirnya sebagai seorang aktor dan model akan hancur. Media akan mencetak berita yang belum tentu benar dan menggorengnya sebagai santapan para netizen bodoh yang hanya menelan mentah-mentah berita tersebut.
Ah, semua ini gara-gara satu orang! Rhea!
Volkan memicingkan mata saat melihat wanita itu berdiri di depan para wartawan dan tengah berakting menangis. Entah apa yang dikatakannya pada para media, yang jelas hal itu benar-benar menyudutkan pihak Volkan.
"Tuan Volkan, sebaiknya anda tidak keluar rumah terlebih dahulu. Menetaplah di dalam sampai para wartawan ini bubar." Jackie, yang merupakan manager Volkan tampak memberinya nasihat.
"Mereka sudah mengusirku!" jawab Volkan dingin.
"Apa?"
"Cepat siapkan saja mobilku dan antar aku keluar dari keributan ini!" perintah Volkan.
"Tapi, Tuan Volkan—" Jackie langsung terdiam saat sorot mata Volkan menatap tajam ke arahnya. Bola mata pria itu memang indah, tetapi terlihat menakutkan saat sedang marah. Yah, memang tidak lebih seperti mata elang yang siap menerkam.
"Kalau lo nyuruh gue balik masuk, sana bicara sama Martha!" ujar Volkan lagi dengan suara ketus.
Jackie langsung menelan ludah. Aura ketakutan semakin terpancar dari wajahnya. Menghadapi bosnya yang tengah marah sudah membuat nyalinya meredup, apalagi menghadapi wanita bernama Martha itu. Jackie tahu betul seberapa mengerikannya saat Martha marah. Bahkan bisa saja ia ditelan bulat-bulat. Tidak! Jackie masih ingin hidup di dunia ini. Dia tidak mau kehilangan nyawa hanya untuk berbicara dengan Martha.
"Kenapa? Sana bicara dengannya!"
"T-tidak ah. Saya takut kalau sama dia," ucap Jackie dengan sedikit gemetar.
"Kalau begitu cepat siapkan mobilku dan bantu aku keluar dari sini!"
"B-baik, Tuan." Jackie mengangguk setuju. Gegas ia berjalan mencari celah dari berbagai wartawan. "Ah, sial betul hari ini."
"Menyebalkan!" Volkan menggaruk kepala bagian belakangnya yang sama sekali tak gatal itu. Ia mondar-mandir sembari menunggu kabar dari managernya.
Tak lama akhirnya Jackie kembali berhasil masuk kembali ke halaman rumah setelah melewati berbagai wartawan. Dia tidak sendirian, melainkan bersama lima sekuriti yang siap untuk mengawal Volkan menuju kendaraannya.
"Tuan Volkan, mari!"
Volkan mulai berjalan dengan dibentengi para sekuriti. Begitu melewati pagar, semua wartawan mencoba mengerumuninya dengan menodongkannya microphone, ponsel, dan alat rekaman lainnya. Terdengar ricuh suara mereka yang saling melontarkan pertanyaan dengan inti yang sama.
"Volkan, apakah benar anda telah berselingkuh?"
"Volkan, apakah benar anda berkencan dengan Rhea dan membuatnya hamil?"
"Apakah anak yang dikandung rekan artismu itu merupakan darah dagingmu?"
"Apakah anda akan menikahi Rhea dan meninggalkan kekasihmu, Liona?"
Persetan!
Semua pertanyaan itu benar-benar membuat telinga Volkan terasa seperti tersengat api. Apalagi saat matanya menangkap seorang reporter yang tengah berbicara di depan kamera dan menayangkan berita tersebut secara live.
"Seorang aktor tampan idola kita semua, Volkan Ardonio, hari ini gagal menikah dengan kekasihnya, Liona. Hal itu dikarenakan Rhea Thania tiba-tiba datang dan mengaku sedang mengandung anaknya. Seperti yang kita ketahui, Rhea adalah lawan main Volkan dalam film terbaru mereka yang rilis sebulan yang lalu. Apakah itu artinya mereka tengah menjalin kedekatan secara diam-diam?"
Sialan!
Volkan mengumpat dalam hati. Ingin sekali ia menjahit mulut reporter tersebut yang membicarakan hal yang belum tentu kebenarannya.
"Tuan Volkan, jangan bertindak gegabah yang akan semakin menyudutkanmu!" Jackie berbisik tepat di telinga Volkan. Sebisa mungkin ia menahan tuannya untuk tidak emosi di depan media, karena itu akan semakin merusak citra karirnya nanti.
"Ayo, kita pergi saja!" Gegas Jackie membawa Volkan untuk menyingkir dari para wartawan.
"Volkan!" Terdengar suara wanita yang memanggilnya. Dia adalah Rhea. Wanita itu menangis dan mencoba mengejar Volkan yang sudah berhasil mencapai mobilnya.
"Volkan, tunggu!"
Serupa angin lewat, panggilan wanita itu sama sekali tak digubris olehnya. Kini Volkan segera masuk ke dalam mobil. Sementara managernya segera membawa mobil itu enyah dari keramaian.
"Volkan!" Rhea menjerit tangis. Mengacak-acak rambut pirangnya. Semua wartawan mengerumuninya dan kembali mewawancarainya.
Sementara itu, di dalam rumah Martha mencoba untuk menidurkan putrinya, Elsa.
"Ma, ada apa di luar sana? Kenapa ribut sekali? Kenapa mereka mengatakan kalau Tante Ona nggak jadi nikah sama Om tampan?" Elsa selalu memanggil Volkan dengan sebutan 'Om Tampan', dan memanggil Liona dengan sebutan 'Tante Ona'. Padahal, Liona suka marah kalau dipanggil 'Ona'.
"Husst … nggak ada apa-apa. Kamu tidur aja, ya!" perintah Martha.
"Elsa nggak bisa tidur. Telinga Elsa sakit. Di luar rame sekali, Ma." Elsa berkata dengan wajah menggemaskan sembari membungkam kedua telinganya dengan kedua tangannya.
"Mama juga muak. Sebentar ya, kamu tunggu di sini dulu." Martha beringsut dari ranjang. Bergerak menuju lemari dan mengambil sebuah kotak berisi mercon. Martha ingat betul, saat ulang tahun anaknya, Volkan yang memberikan hadiah itu pada Elsa.
Saat itu Martha marah besar. Bagaimana tidak, anak berumur lima tahun dikasih hadiah mercon. Apalagi anaknya itu perempuan, bukan laki-laki. Jelas-jelas menyalahi aturan. Meskipun Volkan sudah menjelaskan kalau ia salah beli, yang harusnya bunga api malah beli mercon, tetapi tetap saja, tidak ada seorang pun yang bisa mendebat seorang Martha Martiana.
"Mama mau ke mana?" tanya Elsa yang bangun dari baringnya.
"Ngusir tawon!" ucap Martha begitu saja sembari tergesa-gesa keluar kamar.
Martha berjalan dengan emosi menuju ruang tamu, kemudian bergerak ke arah pintu rumah dan membukanya. Dilihatnya para wartawan masih saja setia di depan pagar rumahnya sana. Dan itu benar-benar membuatnya emosi seperti orang kerasukan.
"Woy ... lo pada bubar atau gue bom mulut kalian!" ancamnya.
Sayang sekali peringatannya tersebut tak digubris oleh mereka.
"Tawon-tawon sialan itu kalau nggak di bom emang nggak mau bubar!"
Marti mengambil salah satu batang mercon dari kotak dan mulai memantikan api. Begitu sumbunya mengeluarkan asap, Martha langsung buru-buru melemparkannya ke arah pagar. Detik berikutnya suara ledakan terdengar nyaring. Tentu saja itu membuat mereka semakin ricuh dan panik.
"Bubar atau gue masukan mercon ke mulut kalian satu-satu!" teriak Martha lagi. Wanita itu memang tidak kenal takut. Tidak peduli namanya akan tercetak jelek di media massa, yang jelas ia hanya ingin rumahnya damai dari kerumunan massa.
Kembali Martha melemparkan mercon untuk kedua kalinya. Dan beberapa dari mereka sudah mulai angkat kaki dari sana untuk menjauh. Terlihat pula Rhea yang digiring managernya untuk segera memasuki mobil.
"Oh itu si jalang akar masalahnya! Lihat saja kalau gue ketemu lagi sama tuh jalang, gue bom langsung!" sungut Martha.
Lima menit kemudian, pekarangan rumah kembali sunyi. Para wartawan sudah lenyap kabur entah ke mana. Martha segera masuk ke dalam rumahnya kembali dan menguncinya rapat-rapat.
"Ada apa? Kok ribut banget suaranya tadi?" tanya Kalendra yang baru sampai di ruang tamu. Ia melihat sebuah kotak berisi mercon yang istrinya pegangi. "Mereka udah pada pergi, ya?" tanyanya lagi.
"Sudah gue bom satu-satu mereka!" jawab Martha ketus.
Kalendra sedikit tertawa. Agaknya ia sudah terbiasa dengan sikap istrinya tersebut.
"Ternyata ada gunanya juga Volkan ngasih hadiah itu ke Elsa," ujar Kalendra seraya tertawa kecil.
"Liona gimana?" tanya Martha kemudian.
"Aku suruh dia istirahat."
"Kamu biarin dia sendirian? Bagaimana jika dia bertindak bodoh lagi? Dia bisa melukai dirinya lagi."
"Tenang saja, aku yakin Liona nggak akan lakuin itu," ucap Kalendra dengan suara rendah dan wajah menunduk, seakan ada sedikit keraguan di dalam benaknya. "Oh iya, Elsa di mana?" sambungnya bertanya.
"Di kamar," jawab Martha sembari berjalan ke arah suaminya.
Tiba-tiba terdengar suara benda yang terjatuh.
"Elsa!" Kalendra dan Martha mengucap serempak. Lantas mereka bergegas menuju kamar dengan wajah kepanikan.
Sesampainya di kamar, ia melihat putrinya yang duduk di atas ranjang sembari asyik bermain gadget. Di dalam sana juga terlihat baik-baik saja. Lantas, dari mana suara keributan tadi?
Detik berikutnya kembali terdengar suara seperti benda yang terbanting.
"Liona?!" Kalendra dan Martha mengucap serempak.
"Ndra, ayo lihat adikmu! Jangan-jangan dia nekat mau bunuh diri lagi."
Kalendra dan Martha berlari bersamaan, tergesa-gesa menuju kamar Liona dengan wajah kepanikan.