"Astaga, Lio. Kenapa lagi sih?" Kalendra mengerutkan dahi saat melihat barang-barang yang tercecer di lantai. Ia mengamati barang-barang tersebut yang semuanya ia tebak itu pemberian dari Volkan.
"Nggak ada apa-apa kok. Aku hanya mau hancurin barang-barang nggak berguna ini saja," kata Liona sembari terus mengeluarkan berbagai hadiah pemberian Volkan yang ia simpan di dalam lemari. Liona memiliki lemari bermaterial kaca yang khusus ia gunakan sebagai tempat menaruh hadiah-hadiah yang Volkan berikan selama menjalin hubungan.
"Astaga, kamu bikin kaget kami saja. Kirain kamu bakal mau bunuh diri lagi, ternyata lagi buang barang-barang mantan," ujar Martha.
Liona menghentikan aksinya sejenak. Mendengar kata 'mantan' yang keluar dari mulut Marthi benar-benar membuatnya teramat sedih. Meskipun ia tahu kalau kakak iparnya itu suka asal ngomong, tetapi tetap saja itu merupakan sebuah kebenaran yang menyakitkan. Selama ini ia tak pernah berpikir kalau ia akan berpisah dengan Volkan.
Liona mengambil boneka pengantin berbahan kaca bening, kemudian membantingnya begitu saja. Itu merupakan hadiah yang Volkan berikan saat pulang dari syuting di New York, dan sekarang benda tersebut harus menjadi serpihan kecil yang mustahil untuk bisa disatukan kembali.
"Sudah-sudah, hentikan!" Kalendra mendekat ke arah Liona dan menarik tubuhnya untuk menghambur di pelukannya.
Liona kembali membocorkan air matanya.
"Sudah … sudah," kata Kalendra mengelus rambut adiknya.
Martha melangkah lebih dalam lagi, memilih jalan agar kakinya tidak terkena pecahan kaca.
"Lio, kalau lo berencana mau buang semua barang-barang ini, mending jangan deh. Sayang loh ini, semuanya mahal-mahal. Mending lo jual, bisa jadi duit. Yah, setidaknya barang pembelian mantan ada gunanya buat lo," saran Martha.
Kalendra menoleh ke arahnya seakan mengisyaratkan untuk tutup mulut.
Martha memutar mata pasrah. Memandangi sekitarnya yang berantakan. Ia menggelengkan kepala sembari menyemburkan napas. Lantas merendahkan tubuh, berjongkok, dan mulai memunguti pecahan kaca tersebut supaya tidak melukai orang.
***
Malam itu Martha mencoba menidurkan Elsa yang tak kunjung juga terlelap. Putrinya itu mengeluh kepalanya sakit. Padahal ibunya sendiri juga tengah pusing.
"Minum obat ya, Nak?" Martha mengambil sirup dan membantu Elsa meneguknya.
"Kepala Elsa masih sakit, Ma," keluh Elsa. Suaranya lemas sekali.
"Buat tidur aja. Nanti juga sembuh," perintah Marthi. "Kepala kamu sakit karena kebanyakan main handphone. Mulai besok kurangi main handphone, ya!"
Elsa terdiam sejenak. Kemudian mulai berbicara, "Ma, tadi Elsa liat kartun Frozen. Namanya juga Elsa sama dengan namaku. Dia punya kekuatan bisa membuat orang menjadi es batu. Apakah nanti Elsa juga bisa punya kekuatan seperti itu, Ma?"
"Kamu nih ya, kalau diajak bicara serius suka ngalihin topik pembicaraan. Pokoknya besok nggak boleh main handphone dulu, oke?"
"Ma, jawab dulu. Apakah Elsa akan punya kekuatan seperti yang di kartun itu?"
Marthi menyemburkan napas pasrah. Anaknya itu akan terus bertanya jika tidak diberi jawaban. "Iya," jawab Martha asal.
"Yey! Kalau Elsa udah punya kekuatan, Elsa mau sihir jadi es orang yang sudah membuat Tante Ona menangis. Aku kasihan sama Tante Ona, Ma."
Andai kamu tahu kalau yang membuat tantemu menangis itu om kesayanganmu. Martha membatin.
"Iya, nanti kamu sihir orangnya jadi es. Sekarang ayo tidur dulu, sudah malam. Nanti kepalamu sakit lagi, loh." Martha membaringkan tubuh putrinya. Ia juga berbaring di sampingnya dan memeluknya. Mengelus rambutnya membantu sang putri untuk terlelap.
"Ma, apa Papa masih nemenin Tante Ona?" tanya Elsa lagi.
"Iya. Nanti papamu juga ke sini."
"Tapi aku nggak bisa tidur kalau belum dipeluk sama papa."
"Untuk sementara, kamu tidurnya nggak usah rewel, ya. Papa lagi nemenin Tante Ona. Katanya kamu kasihan sama dia. Nanti kalau Tante Ona nangis lagi gimana?"
"Hmm …." Elsa mengerucutkan bibir, membuat anak itu semakin terlihat menggemaskan saja. "Ma, tadi Mama sama Papa berantem ya sama Om Tampan? Kok Mama mau mukul Om sih."
"Enggak kok. Kami nggak berantem. Kamu kan tahu sendiri kalau Mama sama Volkan emang suka berantem, tapi itu nggak beneran, kok."
"Tapi yang aku lihat tadi beda, Ma. Wajah Mama kayak hantu, Papa juga. Sampai nyekik leher Om Tampan. Memangnya Om Tampan salah apa?" Terdengar suara kekecewaan yang terlontar dalam setiap kalimat Elsa. Karena selama ini, Volkan selalu berhasil mengambil hati Elsa dan membuat anak itu menempel padanya.
"Kami nggak berantem. Kami hanya main saja tadi. Sudah nggak usah dipikirin. Cepat tidur, nanti kalau nggak mau tidur mama taruh kamu di luar. Mau?"
Elsa menggeleng cepat. "Aku hanya nggak mau kalian berantem. Apalagi sampai memarahi Om Tampan. Elsa kan sayang banget sama Om Tampan."
Martha menyemburkan napas. Putrinya itu memang benar-benar seperti magnet saat berada dekat dengan Volkan. Bahkan, saat tahu Volkan mau nikah dengan Liona, Elsa menangis seharian tiada berhenti-henti. Hal itu karena sebelumnya Liona bercanda kalau Volkan tidak akan menjadi temannya lagi setelah menikah.
"Ma, tadi aku juga lihat Mama berkata kasar sama Om Tampan. Kenapa begitu, Ma? Om Tampan kan selalu baik sama Elsa. Dia satu-satunya teman Elsa yang selalu membuat Elsa gembira."
"Kamu nih udah dicuci otaknya sama dia. Makanya nempel mulu kayak permen karet," canda Marthi.
"Memangnya otak bisa dicuci ya, Ma? Nyucinya pakai apa, Ma? Sabun yang seperti punya Elsa kalau dibuat mandi, ya?"
Martha menggaruk pelipisnya. Terkadang ia merasa jenuh dengan semua pertanyaan putrinya.
"Kamu ini cerewet banget. Sudah jangan jadi anak cerewet. Ayo tidur saja."
"Kan aku cerewet mewarisi sikap dari Mama." Elsa selalu punya balasan dalam setiap perkataan ibunya.
"Hah? Siapa yang bilang gitu?"
"Om Tampan," jawab Elsa dengan lugunya.
"Volkan memang sialan. Benar-benar orang itu sudah meracuni anakku," gumam Marthi ketus.
"Ma—"
"Elsa, kalau kamu nggak tidur Mama taruh di luar terus mama kunci biar kamu dimakan Halloween. Mama capek, mama mau tidur!"
Setelah mengucap demikian, Elsa langsung menutup mulut. Menarik selimut dan menyembunyikan sekujur tubuhnya. Elsa sangat takut dengan 'Halloween'. Menurutnya, Halloween adalah nama hantu kepala labu dengan mata yang menyala-nyala. Padahal, sebenarnya Halloween adalah perayaan atau festival orang-orang barat yang diperingati pada tanggal 31 Oktober.
Tiga puluh menit berlalu, setelah susah payah menidurkan anaknya, akhirnya kini Marthi lega karena Elsa sudah terlelap dan asyik menjelajahi bunga tidurnya.
Bunyi daun pintu yang bergeser merasuk gendang telinga Martha. Disahut pula derap langkah kaki yang mendekat. Marthi menoleh, menyadari suaminya yang berjalan menuju ranjang.
"Liona gimana keadaannya?" tanyanya sembari membangunkan tubuh.
"Tadi aku sudah menyuruhnya tidur sih." Kalendra duduk di pinggiran ranjang. Menarik napas panjang tanda kelelahan. "Elsa sudah tidur, ya?" Matanya kini melirik sang putri yang terlelap.
"Setelah susah payah akhirnya dia mau tidur juga. Dia nggak pernah mau tidur cepat kalau bukan kamu yang menidurkan." Martha memberi jeda sejenak, menatap suaminya yang seperti tengah kecapekan beban serta pikiran.
"Kamu cepat tidur. Kelihatannya kayak layu gitu."
"Ehm." Kalendra mengangguk.
"Ndra, tadi Elsa tanya soal kita yang memarahi Volkan. Dia kan tadi juga lihat kamu nyekik leher Volkan."
"Hmm." Kalendra berdehem.
"Kamu tahu sendiri kan, anakmu ini lengket banget kalau sama Volkan. Entah apa yang Volkan lakukan sampai dia cinta mati banget sama dia. Kurasa dia pakai jampi-jampi deh," ujar Marthi sekenanya.
"Kamu nih ada-ada saja." Kalendra menyungging senyum kecil, kemudian memandangi wajah putrinya, lantas mengulurkan tangan mengelus bagian kening. "Ya kita harus hati-hati, jangan sampai kita bertindak kekerasan di depan anak kita."
"Ya habisnya aku tadi emosi banget sama Volkan."
"Aku juga sampai nggak bisa mengontrol emosiku tadi. Melihat Liona nangis kayak gitu, hatiku rasanya langsung sakit."
"Emang si Volkanik itu buangsat banget sih. Gue sumpahin dia dibakar di neraka!"
"Hust, nggak usah doain yang jelek-jelek. Nanti balik lagi ke kita."
"Tapi perbuatannya ke Liona itu udah kurang ngajar, Ndra! Kamu nggak lihat betapa sakit hatinya adikmu."
"Iya, aku tahu. Tapi kita juga nggak bisa nyalahin Volkan sepenuhnya, karena kita belum tahu kebenarannya seperti apa. Mungkin wanita itu hanya pura-pura hamil dan mau menjebak Volkan saja."
"Entahlah, aku juga punya firasat seperti itu. Kita lihat ajalah nanti perkembangannya gimana. Aku mau tidur. Sumpah kepalaku cenat-cenut." Martha meremas keningnya dan membaringkan tubuhnya di sebelah sang putri. Sementara Kalendra masih terdiam duduk di pinggiran ranjang.
***
"Kamu sudah minum terlalu banyak, apa tidak sebaiknya sudahi saja?" seorang bartender tampak memberi saran pada Volkan yang terus menyodorkan gelas ke arahnya.
"Sudah diam! Tugasmu itu hanya melayani para pengunjung. Harusnya kamu senang kalau banyak pengunjung yang memesan lebih. Lagian, bukannya aku sudah membayarmu banyak tadi?" Volkan tampak membantah.
"Iya, tapi aku hanya sedikit khawatir saja—" Bartender itu hendak melontarkan perkataannya lagi, tetapi langsung menutup mulut saat garis mata Volkan yang tegas serta bola matanya menatap tajam ke arahnya.
Bartender tersebut meneguk ludah. Mencoba tersenyum ramah dan kembali menuangkan anggur ke dalam gelas bening.
Volkan langsung meneguknya hingga tandas. Sudah banyak ia minum, tetapi belum juga bisa menghilangkan rasa stres di ruang kepala. Padahal, ia sebenarnya bukan pria pemabuk. Ia selalu menjalani rutinitas pola hidup sehat, apalagi Liona sangat membenci pria pemabuk. Namun, hari ini, karena masalah yang menggerogotinya, Volkan harus duduk di sebuah bar yang dipenuhi oleh berbagai minuman memabukkan.
Volkan sesekali melirik sekitarnya. Matanya menangkap seorang wanita pemandu yang memandangnya layaknya seiris daging segar ditambah wine khas Italia. Sementara di sisi lainnya, para pria tampak berbisik-bisik sembari melemparinya tatapan tajam. Volkan yakin betul, mereka pasti sedang menggibah tentang dirinya yang terlibat skandal. Dan pasti beritanya sudah menyebar kemana-mana.
Sialan! Apa sekarang mulut pria sudah berubah menjadi beranda f*******: yang selalu menayangkan berita hoax setiap hari?
Sebuah benda pipih berteknologi canggih tiba-tiba berdering mengalihkan perhatian Volkan. Pria itu melirik ke arah meja bar, melihat nama sang manajer yang terus menghubunginya. Namun Volkan bersikap tak acuh. Bahkan saat kedua orang tuanya menghubunginya pun ia tak mempedulikannya. Ia hanya berharap panggilan dari satu orang dan pasti akan ia terima, yaitu Liona.
Kepala Volkan mulai pusing. Matanya menyapu pandang sekitar, dan semuanya tampak berputar-putar kemudian memudar. Ia meremas pelipisnya, itu semakin menambah rasa pening saja.
"Hei, apa kamu baik-baik saja?" tanya seorang bartender.
Volkan mengangguk. "Aku rasa sudah cukup untuk malam ini." Volkan menyambar ponselnya dan memasukkannya dalam saku jaket. Kemudian mulai mendirikan tubuh, mencoba berjalan tetapi langsung terhuyung.
Si bartender hendak menolongnya, tetapi Volkan memperingatkan untuk tidak menyentuhnya.
"Aku baik-baik saja. Urus saja pekerjaanmu!" ujarnya dingin. Lantas ia mulai berjalan lunglai, melewati orang-orang yang sudah kehilangan kesadarannya seakan berada di dunia yang fana. Namun ada beberapa yang masih kurang ajar memandangi Volkan dengan tatapan penuh penghakiman.
Ah, Persetan!