EPS 5

1069 Words
"Kenapa ditutup telponnya? Dia selalu membuatku naik darah. Ya Allah berikan aku kekuatan untuk menjalani ini semua."Kata Mita sambil berdiri dan melanjutkan membuat minuman untuk kedua tamunya. Mita kembali menemui ibu Penti dan Rian di ruang tamu. "Silahkan nyonya, tuan," kata Mita menyuguhkan teh hangat dengan sepiring bolu kering buatannya. "Terimakasih," ucap ibu Penti dan Rian bersamaan. "Jika boleh tau gimana keadaan Kevin saat ini?" tanya Rian. "Tuan baik-baik saja." "Kamu yakin?" tanya ulang Rian. "Iya tuan, saat ini tuan Kevin baik-baik saja. Saya permisi kebelakang nyonya, tuan," kata Mita karna takut diberi pertanyaan yang membuat dia semakin bingung menjawabnya. "Jika begitu kami bisa menemuinya bukan? Mamahku sangat menghawatirkan anak kesayangannya." Kata Rian sambil melirik ibunya. Mita mulai bingung dengan apa yang harus ia lakukan dan apa yang harus dia katakan. "Sebelumnya maaf tuan seperti yang saya bilang dari awal bahwa tuan Kevin sedang tidak mau bertemu dengan siapapun saat ini." Kata Mita. "Kamu tidak usah takut bila Kevin marah, aku akan membelamu nanti." Kata Rian meyakinkan Mita. "Maaf tuan bila saya lancang, saya tidak tahu akan permasalahan keluarga ini. Saya hanya bekerja kepada tuan Kevin dan harus menuruti apa yang tuan Kevin perintahkan. Permisi!!! " Kata Mita sambil buru-buru pergi takut semuanya menjadi runyam. Sesampainya didapur Mita kebingungan untuk mencari ide bagaimana caranya agar membuat tamu-tamunya segera pergi. Mita berjalan mondar mandir di dapur, menenggak segelas air untuk menenangkan fikirannya agar mendapat ide namun tetap saja dia buntu, akhirnya Mita kembali jongkok dibawah meja dapur dan mencoba menelpon Kevin lagi untuk meminta pendapatnya. " Ada apa lagi Mita?" tanya Kevin yang masih kesal karna percakapan telpon sebelumnya. " Aku mau lapor." " Lapor apa lagi!!! " " Sepertinya mereka tidak akan pulang sebelum kamu menemuinya," kata Mita. "Itu urusanmu, yang jelas saya tidak akan menemui mereka.Lagi pula siapa suruh kamu ijinkan mereka masuk," kata Kevin. "Aku yang menyuruhnya," jawab Rian yang ternyata sedari tadi merebut handpone Mita. Ya Allah..... Aku belum tahu hukuman apa yang akan aku terima nanti tetapi saat ini sepertinya aku akan menerima double hukuman, kata Mita dalam hatinya. "Turun dan temuilah kami Vin," kata Rian. "Siapa kau menyuruh-nyuruhku dirumahku sendiri," kata Kevin. "Turun atau perlu aku seret kau dari persembunyianmu," namun Kevin hanya diam. "Dari dulu kamu tidak pernah berubah, tidak pernah mau berani menghadapi yang seharusnya kamu hadapi. Dasar pecundang!!!! " Kata Rian. Tiba-tiba dari arah belakang Kevin langsung memegang pundak Rian lalu membalikan tubuhnya, seketika bogem mentah mendarat di muka Rian, Rianpun jatuh tersungkur. Keadaan semakin kacau, perkelahian antara kaka beradik ini tidak dapat terelakan lagi. Mita berteriak, ibu Pentipun datang dan ikut berteriak untuk melerai kedua anaknya yang saling baku hantam dihadapannya, namun tidak ada yang mau mengalah,semua usaha melerai sia-sia. Semuanya berakhir ketika security datang menengahi. *** "Aw.....aw......!!!!pelan-pelan saja," ucap Kevin sambil menahan memar yang sedang Mita obati. "Ini sudah sangat pelan, tadi ketika adikmu menghajarmu kenapa kamu tidak merasakan sakit sedikitpun. Sekarang aku hanya mengompres pelan kamu begitu terlihat sangat kesakitan," kata Mita. "Kalau saja kamu tidak membawa mereka masuk pasti semua ini tidak akan terjadi, saya tidak akan terluka seperti ini, semua ini salahmu!!!! " "Aku??? " kata Mita sambil menunjuk hidungnya sendiri. "Kevin, Semua ini bukan hanya salahku.Kalau kamu tidak menghajar adikmu, luka ini tidak akan pernah ada disini," kata Mita sambil menekan luka Kevin dengan kompresan yang dia genggam. "Aw.......!!!!" Kevin teriak kesakitan. "Bisakah diam sebentar saja," Mita mengompres samping bibir Kevin yang membiru, mereka seketika saling menatap beradu pandang membuat keduanya terpaku beberapa saat.Mitapun tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya. "Lukanya sudah selesai aku obati," Kata Mita sambil buru-buru membereskan kompresan lalu beranjak meninggalkan Kevin. " Hey..... Mita!! saya masih belum selesai bicara denganmu,"panggil Kevin agar Mita kembali namun Mita tidak menghiraukan panggilan Kevin. *** " Bagaimana keadaan mamah?"tanya Rian pada Flo yang baru saja masuk kamar sambil membawa obat dan kompres untuk suaminya. " Mamah sudah tidur pulas sejak meminum obatnya." Flo mendekati suaminya lalu mencoba melihat luka suaminya, Flopun mulai mengompres luka suaminya.Seketika Rian menghindar memalingkan wajahnya. " Sudahlah,"sambil menepis tangan istrinya yang mencoba memegang wajahnya. " Tapi lukanya harus diobati," kata Flo sambil mencoba memegang wajah suaminya lagi. " Mengapa kalian jadi berkelahi seperti anak kecil? "Flo mulai mengompres luka di wajah suaminya. " Dia yang mulai memukulku," " Kenapa kamu membalasnya?" " Apa aku harus diam?" Rian menoleh menatap istrinya. " Lalu kenapa kamu menemuinya tanpa seizinku? "tangan Rian memegang pergelangan tangan Flo yang sedang mengompresnya. " Maafkan aku, aku kira kejadiannya tidak akan seperti ini," kata Flo. " Lain kali jika mau melakukan hal apapun kepada kakakku, jangan dibelakangku.Mengerti?" " Aku hanya ingin memperbaiki semuanya tapi malah membuat menjadi bertambah rumit seperti ini," Flo tidak kuasa menahan sedihnya mengingat kejadian kemarin ketika Kevin mencoba mengusirnya dan enggan menerima kedatangannya, air matanya menetes. Rianpun tidak tega melihat istrinya menangis Rian yang tadinya marah pada istrinya mencoba menenangkan istrinya dengan memeluknya. *** " Mita.... Mita....!!!" " Iya, aku segera datang,"Mita datang menghampiri Kevin yang sedang berada di ruang TV,duduk sambil menumpangkan salah satu kakinya di atas sofa. "Kamu tahu kenapa saya memanggil kamu?" Mita hanya menggeleng "Kamu masih ingat dengan kesalahan kamu kemarin?" "Iya aku mengingatnya." "Saya akan memberi tahu hukumannya. Karna kamu sudah membantu merawat saya ketika sakit kemarin, hukuman kamu akan saya ringankan," "Ku mohon hukumannya jangan terlalu berat, aku sedang mengerjakan skripsiku, aku harus punya banyak waktu untuk itu," kata Mita sambil mengepalkan kedua tangannya dibawah dagunya dan memasang muka mengiba. "Justru gara-gara kamu selalu mengerjakan skripsimu terus-menerus jadi kamu mengabaikan rumah ini. Iya kan?" mata Kevin mulai melotot menatap Mita,dagunya naik. Mita tersenyum membenarkan apa yang diucapkan tuannya. "Seharusnya kamu tahu mana dulu yang harus kamu kerjakan. Apa kamu mau saya pecat? " "Tidak. Aku minta maaf,lalu apa hukumannya?" Mita menunduk pasrah. "Hukumannya tidak berat.Kamu hanya perlu melayani saya lebih dari biasanya,seperti membuka dan memasang sepatu, menyiapkan pakaian yang akan saya pakai, memijit saya ketika saya lelah, menyuapi sa........," "Cukup!!!!!" teriak Mita sambil memejamkan matanya.Ini keterlaluan dalam hati Mita menggerutu. "Saya belum selesai menjelaskan hukumanmu,diam dan jangan kamu potong ucapan saya, jika tidak saya tambah hukumannya menjadi lebih berat." Kevin menghela nafas panjang. "Intinya kamu lebih melayani saya dan itu berlaku selama 3 hari. Ah, karna tadi kamu tidak sopan berani memotong pembicaraan saya, tambah 1 hari lagi jadi 4," kata Kevin sambil mengacungkan jarinya. "Apa!!!!" Kevin menambah acungan jarinya menjadi 5 karna Mita seolah tak terima akan keputusannya. Melihat itu Mita semakin kesal namun ia lebih menahan emosinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD