EPS 4

1063 Words
"Selamat siang di Grand Hotel, ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai yang berjaga diresepsionis. "Iya mba,saya ingin bertemu dengan pak Kevin." "Oh, mba ini yang mau mengantarkan Handponenya pak Kevin ya?" Mitapun tersenyum dan mengangguk. "Mari mba saya antar." Sambil menunjuk ke sebuah lorong. Mereka berdua berjalan menuju lorong kecil yang diantara lorong tersebut tampak terlihat lukisan-lukisan abstrak terpampang dikanan dan kiri temboknya. Mita berjalan sambil menoleh melihat kanan dan kiri setiap lukisan itu, tiba-tiba Mita kaget akan kemunculan wanita cantik yang keluar dari arah ruangan dipojok sana. Tampak muka wanita cantik itu menangis sambil berlari kecil pergi melewati mita dan pegawai tanpa kata-kata hanya terdengar sisa isakan tangisnya. Dalam hati Mita bertanya-tanya siapakah wanita cantik itu dan apakah yang ditemuinya Kevin. "Mba, ruangan pak Kevin yang dipojok itu?" tunjuk Mita ke arah pintu yang masih sedikit terbuka karna kemunculan wanita tadi. Pegawai hotelpun mengangguk. "Kalo begitu mbanya sampe sini saja, biar saya sendiri yang langsung masuk enggak apa-apa kan?" Pegawai itupun mengiyakan karna bosnya sedari tadi memang menanti kedatangan Mita yang akan mengantarkan handponenya. Pegawai itu balik kembali ke lobby hotel sedangkan Mita melanjutkan langkahnya untuk menemui Kevin. Setelah Mita sampai didepan pintu ruangan yang masih sedikit terbuka.Ketika Mita ingin mengetuk pintu itu Mita tiba-tiba berhenti sejenak karna ia mendengar hentakan meja yang dipukul. Mita pelan-pelan mengintip dibalik pintu, terlihat Kevin dengan posisi membungkuk dengan kepala yang merunduk serta tangan yang bergetar mengepal diatas meja. Beberapa detik kemudian Kevin memegangi kepalanya lalu badannya sempoyongan.Disaat itu Mita langsung berlari masuk menghampiri Kevin dan langsung memegangi tubuh bosnya. Karna Mita terlalu berat menopang tubuh Kevin mereka berduapun jatuh duduk, Kevin yang setengah sadar ketika berada dipangkuan Mita akhirnya tumbang pingsan. Mita panik dan langsung berteriak meminta pertolongan. *** Kevin mulai membuka matanya sedikit demi sedikit,mencoba mengembalikan kesadarannya,ternyata dia telah berada dikamar rumah sakit. "Kamu udah sadar? Alhamdulilah," ucap Mita bersyukur melihat bosnya sudah sadarkan diri.Mitapun beranjak dari duduknya yang berada jauh dari ranjang Kevin untuk mendekat. "Kenapa saya?" "Aku juga enggak tahu kenapa kamu bisa pingsan, pas aku mau masuk ruangan kamu, tiba-tiba kamu jatuh,"kata Mita menjelaskan. Kevin mengingat-ngingat kejadian tadi, iapun hanya menghela nafas panjang. "Tolong,ambilkan saya minum," tunjuk Kevin.Mitapun membantunya bangun untuk duduk lalu Kevinpun minum. "Saya ingin pulang sekarang,"ucap Kevin sambil mencoba menurunkan satu kakinya. "Tunggu!!,"kata Mita melarang. Tapi Kevin memaksa, dia beranjak bangun namun ketika dia akan melangkah Kevin mulai sempoyongan. Mita sergap memegang Kevin, mereka saling bertatapan beberapa detik. " Apa aku bilang, kamu jangan maksain. Nanti malah aku yang tambah repot," kata Mita memecahkan suasana yang beberapa detik membuat keadaan kikuk. "Sebenarnya aku melihat wanita itu keluar dari ruanganmu, sebelum kamu pingsan." Mita berharap Kevin bercerita kepadanya.Mita mulai menatap mata Kevin yang sayu. Tak pernah ia melihat bosnya selemah ini selama Mita tinggal bersama. "Dia mantanku." "Aaah.....!!!!, aku tau pasti dia mengajak kamu balikan lalu kamu menolaknya karna dia sudah membuatmu kecewa. Iya kan?," tanya Mita yang yakin akan tebakannya. "Karna ketika dia keluar dari ruanganmu dia menangis," jelas Mita. Namun Kevin hanya diam mendengarkan Mita.Mita menjadi bingung karna tidak ada reaksi dari Kevin. Beberapa saat ruangan hening. "Dia istri adiku" Kevin kembali bersuara namun kali ini Mita yang diam dalam kebingungannya. Yang Mita tahu bosnya memendam kepedihan yang teramat sangat karna terlihat jelas dari kedua matanya yang mulai berkaca-kaca menahan tangis dan emosinya. Mita refleks langsung memeluk Kevin agar Kevin tidak terpuruk akan masalalunya, apapun yang menimpanya saat itu. Mita sudah tidak ingin mendengar cerita Kevin yang semakin membuat Kevin kembali terluka karna mengingatnya. Dalam dekapan Mita Kevin merasakan kenyamanan, Kevinpun menyambut dekapan Mita dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Mita. Mita kaget Kevin melakukan hal itu kepadanya karna yang dia tau selama ini Kevin adalah sosok laki-laki yang dingin dan Keras, ia tidak pernah menyangka laki-laki yang ada didekapannya saat ini begitu rapuh ketika melihat wanita dimasa lalunya. Disisi lain Mita sangat penasaran kenapa Kevin bisa sampai setrauma ini akan masa lalunya. Namun disisi lain juga Mita tak ingin mengorek luka lama Kevin, toh ini juga bukan urusannya fikirnya. *** Esok harinya Kevin sudah pulang kerumah. "Selamat pagi!!!!" Sapa Mita yang membawa sarapan pagi ke Kamar Kevin. Kevin hanya memberi senyum tipis pada Mita. Kenapa dia begitu terlihat mempesona ketika dia tersenyum ucap Mita dalam hati. "Apa yang sedang kamu fikirkan Mita," kembali Mita bergumam. "Ini roti isi selai kacang yang kamu minta. Owh ya, hari ini aku ada janji bertemu dengan dosen pembimbingku, jadi sepertinya aku akan pulang telat." Kata Mita. "Boleh-boleh saja, asal kamu jangan lupa memasak untuk saya," kata Kevin sambil mengunyah rotinya. " Tentu." " Satu lagi," kata Kevin. " Apa lagi." " Kamu masih punya hutang hukuman sama saya." " Kamu baru saja sembuh tapi langsung menyebalkan, kenapa....., "belum selesai Mita bicara, mereka mendengar bell berbunyi. Teeeet.... Teeeet..... Teeeet.....!!!!!! " Kenapa bell itu berbunyi disaat yang tidak tepat,"ucap Mita sambil melangkah pergi. " Mita, saya sedang tidak ingin menerima tamu." teriak Kevin. " Iya iya akan aku usir orang dibalik pintu itu, kamu tenang saja." Kata Mita sambil berlalu pergi. Saat Mita membukakan pintu ternyata yang datang adalah ibu Penti dan seorang laki-laki muda yang sangat tampan bak artis korea. Putih, bersih dan mempesona.Iya, laki-laki tersebut adalah Rian.Mita terpaku dibuatnya. "Mita,boleh kami masuk,"ucapan ibu Penti memecahkan lamunan Mita. " Maaf nyonya, tapi tuan sedang tidak ingin ditemui, "kata Mita agar keduanya pulang. "Ijinkanlah kami masuk dulu, perjalanan kami jauh untuk sampai kesini, jadi kami ingin berisitirahat sejenak didalam," tutur ibu Penti. Akhirnya Mita tidak bisa mengelak. "Silahkan," kata Mita sambil membuka pintu lebar. "Permisi saya kebelakang dulu." Pamit Mita. Mita menuju ke dapur dan mulai membuatkan minuman untuk keduanya, sambil mengaduk minuman Mita berfikir apa laki-laki yang datang bersama ibu Penti itu adiknya Kevin. "Ah... Aku harus memberitahu bos dulu," Mita langsung mengambil handponenya lalu menelpon Kevin. Mita merunduk dibawah meja dapur. "Ada apa?," kata Kevin ketika mengangkat telepon Mita. "Tamu yang datang itu nyonya bersama laki-laki muda yang sangat tampan. Apa itu adikmu?" tanya Mita. " Kenapa semua wanita tersihir olehnya."gumam Kevin. " Apa??, jadi benar laki-laki tampan itu adikmu." Kata Mita tak percaya. " Berhentilah mengatakan dia tampan, aku lebih tampan bila dibandingkan dengannya, Lagi pula dia sudah beristri. Carilah yang masih sendiri." " Mengapa kamu marah? Aku hanya bertanya dia adikmu bukan, lagi pula aku bukan wanita perusak hubungan orang. Aku hanya mengagumi ketampanannya tidak lebih dari itu." Kata Mita. Kevin kesal dan menutup telponnya begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD