Kansa memperhatikan jalanan yang dilalui dari kaca samping. Tidak merasa terganggu meskipun suasana di dalam mobil terasa begitu tidak nyaman. Kansa sendiri bingung kenapa Sultan harus marah mendengar kata-kata manajer butik. Tentu saja bukan salah manajer butik. Kata-kata yang disampaikan oleh perempuan itu hanya pengulangan dari kata-katanya. Lalu dimana salahnya? Toh memang Sultan menganggapnya pembantu. Istri? Seperti yang Sultan katakan, tidak akan ada yang percaya. Jadi, Kansa hanya memperjelas semuanya. Kansa mendesah mengingat barang-barang yang ada di kursi penumpang belakang. Karena marah, Sultan mengambil barang-barang pilihannya sendiri. Tidak lagi meminta dirinya memilih. Dan yang dibawa keluar oleh pria itu lebih dari 10 barang. Padahal dia tidak butuh barang-barang itu.

