Terhitung sudah dua hari sejak Nana menandatangani surat kontrak dirinya yang kini resmi menjadi karyawan Ernesto Group. Di dalam surat kontrak itu tercantum jelas bahwa dirinya menjabat sebagai sekretaris sang assisten CEO, Neval Maxime sekaligus penanggungjawab pembangunan resort di Lombok. Jujur dalam hatinya, Nana masih belum yakin dengan keputusannya menerima tawaran ini.
Namun apa boleh buat, dia sudah terlanjur menandatangani surat kontrak kerjanya. Dia hanya berharap semuanya berjalan lancar untuk ke depannya dan dia sanggup memenuhi tanggungjawabnya dengan baik.
Kini Nana tengah duduk di dalam helikopter milik perusahaan yang akan membawanya menuju Lombok, area pembangunan resort lebih tepatnya. Duduk di sampingnya sang atasan, pria yang mengaku Bernama Neval.
Dalam pandangan Nana, memang benar dari segi penampilan pria itu memiliki kharisma yang sama seperti Araya. Tapi prilaku kedua pria itu jelas jauh berbeda.
Nana masih ingat bagaimana Araya dulu memperlakukannya dengan sopan saat dirinya menjabat sebagai sekretaris pria itu. Berbanding terbalik dengan Neval yang terkesan selalu memaksakan kehendaknya. Padahal setahu Nana, pria itu hanya menjabat sebagai assisten CEO, namun entah mengapa prilakunya menunjukan seolah dirinya seorang CEO, diam-diam Nana sebal pada sosok pria di sampingnya itu.
“Sebentar lagi kita sampai di lokasi.”
Nana tersenyum mendengar ucapan pria di sampingnya yang tiba-tiba itu. Tak berminat menjawabnya. Lalu dia melihat ke arah bawah, menyaksikan keindahan alam di sekitarnya jauh lebih membuat Nana tertarik daripada harus terlibat obrolan dengan sang atasan. Entah mengapa Nana merasa tak nyaman berada di dekat pria itu, berbeda jauh saat dirinya berdekatan dengan Araya.
Helikopter mendarat dengan perlahan di area kosong yang memang diperuntukan khusus untuk pendaratan helikopter. Semenjak turun dari helikopter, Nana mengikuti kemana pun Rex membawanya pergi.
“Ini area tempat tinggal para pekerja kontruksi,” jelas Rex, saat dirinya membawa Nana ke sebuah area dimana banyak tenda-tenda berukuran besar berdiri kokoh disana.
Nana menelisik menatap sekitarnya. Mengangguk mengerti saat mendapati beberapa pekerja terlihat keluar dari tenda. Area itu cukup bersih untuk ukuran tempat tinggal para pekerja yang keseluruhannya merupakan pria.
“Kita lihat area yang akan dibangun resort.”
Nana mengangguk lagi, tak menolak ajakan Rex.
Banyak pekerja yang menatap ke arah mereka selama perjalanan menuju lokasi pembangunan resort. Beberapa orang mengangguk hormat saat berpapasan dengan mereka berdua, membuat Nana berpikir pria di sampingnya itu pasti sudah sering mendatangi tempat ini. Lihatlah, para pekerja di sini terlihat begitu menghormati dirinya. Begitulah yang dipikirkan Nana. Tak curiga sedikit pun bahwa pria di sampingnya itu sebenarnya orang nomor satu dalam perusahaan Ernesto Group.
“Ini dia, lokasi yang akan dibangun resort nantinya.”
Nana mengamati area sekitarnya. Beberapa alat berat yang tengah menyala, menciptakan suara khas area kontruksi yang sebenarnya cukup membuat Nana tak nyaman. Inilah pertama kalinya dia berdiri di lapangan seperti ini, padahal biasanya dia hanya duduk cantik di dalam ruangan ber-AC. Mengingat dirinya mengambil alih tanggungjawab pembangunan resort ini, Nana tahu mulai sekarang dirinya harus membiasakan diri dengan semua kebisingan ini. Jangan lupakan panasnya terik matahari yang kapan pun terasa membakar kulitnya harus Nana rasakan setiap hari nantinya, seperti hari ini contohnya. Keringat tak hentinya menetes di balik pakaiannya.
Tak ada keanehan yang Nana lihat di area itu, hingga tatapannya tertuju pada hutan di sekeliling area yang belum dijamah. Hutan itu sangat lebat, gelap dan suram. Nana tak melihat satu pun penampakan hantu di sana, sesuatu yang tak wajar menurut Nana karena hutan yang tampak menyeramkan itu seharusnya dihuni banyak makhluk mistis.
“Kita periksa ke dalam nanti. Sekarang lebih baik kita istirahat dan makan siang dulu,” ajak Rex, mengalihkan atensi Nana sepenuhnya. Nana pun mengangguk tanpa penolakan.
Saat Nana membalik badannya hendak mengikuti Rex yang sudah berjalan lebih dulu di depannya, seketika langkah Nana terhenti. Dia merasakan hembusan angin menerpa kulitnya. Hambusan angin yang terasa aneh menurutnya karena angin itu mampu membangunkan semua bulu-bulu halus di tubuh Nana.
Nana membalik badannya secepat kilat. Meneguk salivanya dengan kedua matanya yang membulat sempurna. Tidak, dia masih tidak melihat satu pun penampakan hantu di sekitarnya, namun aura ini jelas dia rasakan sekarang. Aura jahat yang berasal dari pegunungan yang menjulang tinggi tak jauh dari area kontruksi.
Sebuah aura jahat yang mampu membuat sekujur tubuh Nana gemetaran hebat detik itu juga. Saat itulah Nana sadar, ada sesuatu yang tidak beres dan teramat berbahaya di dalam pegunungan itu, membuat Nana semakin yakin seharusnya dirinya tidak menerima tawaran itu dan berada di tempat ini.
***
“Jadi luas lahan ini sekitar 200 hektar. Bisa kamu bayangkan akan sebesar apa resort ini kan nantinya? Saya harap ...”
Rex menjeda ucapannya saat menyadari atensi orang yang dia ajak bicara tidak terfokus padanya. Wanita di sampingnya, Nana tampak sedang menundukan kepalanya dengan tatapan kosong seolah tengah ada hal rumit yang sedang dipikirkannya.
Rex mendesah frustasi, dia tak suka jika ucapannya diabaikan. Hei, dia ini seorang CEO yang selalu dihormati dan disegani oleh seluruh karyawannya. Dan Nana, si karyawan baru itu dengan berani mengabaikannya seperti ini.
Seandainya saja Rex tidak membutuhkan kemampuan Nana, dan seandainya saja dia tidak penasaran tentang hubungan Nana dengan rival abadinya, Araya. Dia pasti sudah menendang keluar wanita menyebalkan itu dari perusahaannya.
“Eheeemm.”
Rex berdeham cukup keras yang seketika sukses membuat kesadaran Nana yang sempat melayang entah kemana kini kembali ke dunia nyata.
“Kamu melamun?” Tanya Rex dengan kedua alisnya terangkat tinggi.
Nana geragapan, salah tingkah karena menyadari dirinya mengabaikan penjelasan sang atasan tadi.
“M-Maaf, Pak.”
“Tolong ya jangan melamun jika kita sedang bekerja.”
“Iya, Pak. Tadi ada yang sedang saya pikirkan. Tentang tempat ini,” jawab Nana dengan suara teramat pelan yang sayangnya masih tertangkap telinga Rex.
“Kenapa memangnya dengan tempat ini?” Tanyanya, penasaran.
Nana pandangi wajah pria di sampingnya. Berpikir keras haruskah dia menceritakan tentang perasaan tak nyaman yang dia rasakan saat berada di tempat itu. Namun jika dia sampai mengatakannya akan beresiko dirinya harus menceritakan tentang kemampuan terpendamnya juga. Jujur saja untuk saat ini dia belum mempercayai siapa pun di tempat kerjanya yang baru ini, termasuk pria di sampingnya belum bisa dia percayai sepenuhnya.
“Apa selama kegiatan kontruksi ini berjalan tidak ada kejadian aneh yang terjadi?”
akhirnya pertanyaan itulah yang dilontarkan Nana. Mencoba memancing pria di sampingnya untuk menceritakan semua hal yang berhubungan dengan tempat itu.
“Tidak ada. Semuanya lancar,” jawab Rex, lagi-lagi membohongi Nana.
Menurutnya karyawan baru seperti Nana yang belum tahu apa-apa, tak perlu mengetahui aib yang pernah terjadi di tempat ini, terutama peristiwa tewasnya salah satu pekerja disini yang janggal dan misterius.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
giliran Rex yang melontarkan pertanyaan.
“Tidak apa-apa, Pak. Syukurlah jika semuanya berjalan lancar,” jawab Nana, tak berniat menjelaskan alasan sebenarnya dia menanyakan hal itu.
“Kamu sudah melihat lokasi tempat ini kan? Jadi sudah ada gambaran mengenai desainnya?”
Nana mendesah pendek, lagi-lagi masalah desain resort yang dibahas. Padahal berulang kali dia mengatakan bahwa dia tak berbakat di bidang ini. Namun menyadari karena desain resort lah dirinya diterima bekerja di perusahaan Ernesto, Nana pun memutuskan untuk mencoba mengandalkan imajinasinya untuk merancang sebuah resort di tempat itu.
“Hmmm ... belum ada gambaran, Pak. Tapi akan saya pikirkan baik-baik mulai sekarang. Hanya saja sepertinya saya butuh waktu untuk lebih mengenal tempat ini. Saya juga ingin berkeliling di sekitar daerah ini jika diizinkan?”
“Berkeliling di daerah ini? Untuk apa?” Tanya Rex, tak mengerti jalan pikiran Nana.
“Karena kita akan membangun resort mewah yang tentunya bertujuan untuk menarik banyak wisatawan kemari, saya pikir kita perlu melihat keadaan di sekitar daerah ini. Mungkin ada objek lain yang bisa kita andalkan untuk menarik wisatawan agar mengunjungi resort kita.”
Rex mengangguk-anggukan kepalanya. Dia menyetujui sepenuhnya rencana Nana ini.
“OK, saya setuju. Kita bisa tinggal disini untuk beberapa hari. Kebetulan di sini juga ada hunian yang dikhususkan untuk tempat menginap para staff dari kantor pusat.”
“Syukurlah kalau begitu, Pak,” jawab Nana, merasa lega.
“Mari saya antar ke tempat huniannya,” ajak Rex, yang tak ditolak oleh Nana.
Mereka pun berjalan beriringan menuju tempat tinggal sementara mereka selama berada di area kontruksi.
Nana tertegun memandangi rumah mungil terbuat dari kayu yang ada di depannya. Rumah sederhana yang hanya terdiri dari ruang tengah, dua kamar, dapur dan kamar mandi itu akan dia tempati selama berada di area kontruksi. Nana tak berkomentar apa pun, menurutnya rumah itu cukup nyaman ditempati.
“Kamar kamu yang di belakang karena yang di depan itu kamar saya,” jelas Rex, detik itu juga Nana membulatkan matanya, terkejut.
“Pak Neval juga nanti menginap di rumah ini?”
“Iya, karena hanya rumah ini yang dikhususkan untuk staff. Sebenarnya ada rumah lain tapi menurut saya hanya rumah ini yang layak huni.”
Nana menggaruk pelipisnya yang tak gatal, entahlah ... dia merasa tak nyaman setelah mendengar hal ini.
“Kenapa? Kamu keberatan menginap di rumah ini karena ada saya?” Tanya Rex, mulai curiga dengan ekspresi Nana yang terlihat kecewa.
“Kita hanya tinggal berdua ya Pak, di rumah ini?”
“Begitulah. Kalau kamu merasa ragu karena takut saya berbuat macam-macam sama kamu, tolong ya jangan pernah berpikir seperti itu tentang saya. Saya ini pria baik-baik. Saya masih tahu batasan. Kita hanya sebatas atasan dan bawahan, tidak lebih,” tegas Rex, panjang lebar. Nana tersenyum kikuk mendengarnya.
“Iya, Pak. Saya mengerti. Saya juga tidak berpikir sejauh itu tentang anda. Saya percaya pada Anda.”
Nana tersenyum ramah mencoba meredakan suasana hati pria di hadapannya yang memburuk karena ucapannya tadi.
“OK, bagus kalau begitu. Kamu bisa istirahat sekarang. Saya masih ada pekerjaan lain.”
“Baik, Pak. Terima kasih.”
Rex pun melenggang pergi setelahnya.
Nana berdecak sebal, kenapa dirinya harus serumah dengan atasannya? Kenangan masa lalu tentang dirinya dan Araya saat di Bali pun kembali terlintas di ingatan Nana. Bagaimana saat itu mereka juga tinggal berdua di Villa yang sama. Awalnya Nana tak pernah berpikiran buruk tentang Araya, hingga peristiwa itu pun terjadi. Sebuah peristiwa yang tak akan pernah Nana lupakan seumur hidupnya karena saat itulah dia kehilangan mahkota berharga yang selalu dia jaga.
Nana menggeleng-gelengkan kepalanya guna menyingkirkan kenangan pahit itu. Dia harus berpikir positif sekarang. Meyakinkan hatinya bahwa atasannya yang bernama Neval ini pasti pria baik-baik.
Lalu Nana melangkah tanpa ragu masuk ke dalam rumah tersebut untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah setengah mati.
***
Waktu menunjukan pukul 22.43 saat ini. Langit malam tampak cerah dengan bulan berbentuk bulat sempurna yang tengah bersinar terang. Suara binatang malam terdengar saling bersahut-sahutan. Sesuatu yang sudah biasa terdengar di area tersebut.
Terlihat beberapa pekerja kontruksi masih ada yang berkumpul, mereka mencoba menghalau dinginnya angin malam dengan mengelilingi perapian yang mereka buat sendiri.
Canda tawa, suara pria saling bersahut-sahutan karena terlibat obrolan menjadikan tempat itu cukup ramai. Mereka tak takut suara kencang mereka akan mengganggu rekan mereka yang sudah terlelap di dalam tenda, toh tempat berkumpul mereka ini memang cukup jauh dari area tenda.
“Hei, Jaka. Kamu dari tadi muter-muter cincin di jari kamu terus? Itu cincin nikah kamu?”
Pria bernama Jaka yang memang sejak tadi tak menggubris rekan-rekannya yang tengah mengobrol dan lebih memilih menatap cincin di jari manisnya seraya memutar-mutarnya itu pun menoleh, dia tatap orang yang mengajaknya bicara barusan.
“Iya nih, Bang. Aku kangen sama istri,” Jawab pria berusia sekitar 22 tahun yang bernama Jaka tersebut.
“Emangnya kita-kita di sini gak kangen sama keluarga? Kita semua sama, Jak. Tapi mau gimana lagi, kita ada disini juga demi biayain keluarga kan? Sabar aja kamu. Sini gabung, ngobrol-ngobrol sama yang lain. Jangan melamun terus, nanti kesurupan.”
Jaka mengangguk, dia pun memilih maju ke depan lebih mendekat ke perapian, bergabung dengan rekan-rekannya.
“Kamu inget istri kamu kenapa? Kalian pengantin baru?” Tanya rekannya yang lain. Jaka menganggukan kepalanya seraya tersenyum tipis.
“Baru dua bulan nikah, Bang,” jawabnya jujur.
“Waah, masih anget-angetnya tuh. Kasihan istri kamu malah ditinggal. Harusnya nunggu dulu sampe setahunan baru kamu tinggalin dia.”
Jaka tertawa pelan, tak tahu harus merespon seperti apa lagi. Lantas obrolan mereka pun beralih ke hal lain, Jaka berusaha mencerna obrolan rekan-rekannya yang kali ini lebih fokus membicarakan tentang pekerjaan mereka. Jika saja Jaka tak merasa perutnya tiba-tiba melilit sakit.
“Bang, aku ke toilet sebentar ya?” Pamit Jaka, yang diangguki rekan-rekannya serempak.
Jaka pun berlari, sudah tak tahan lagi ingin segera tiba di toilet sekarang juga.
Toilet para pekerja terletak tepat di belakang tenda, jarak yang cukup jauh dari tempat Jaka berada sekarang.
Jaka meringis seraya memegangi perutnya yang semakin melilit sakit. Lalu berdecak kesal ketika dia melihat dari kejauhan ada beberapa pekerja lain yang tengah mengantri di depan toilet. Sesuatu yang biasa terjadi mengingat hanya ada tiga toilet di tempat itu, sedangkan jumlah pekerja keseluruhannya lebih dari 20 orang.
“Duuh ... sakit banget nih, mana harus ngantri dulu lagi,” gerutu Jaka pada dirinya sendiri.
Jaka merasa mendapatkan durian runtuh saat mengingat ada sebuah parit yang sengaja mereka buat tak jauh dari area kontruksi. Parit yang biasa mereka gunakan untuk mencuci baju, mandi atau sekadar membersihkan diri jika toilet sedang penuh. Jika resort mulai dibangun nanti, tentu parit itu akan ditimbun kembali.
Tanpa berpikir panjang dan tanpa mempedulikan area kontruksi yang hanya diterangi cahaya remang-remang dari sedikitnya lampu yang dipasang di sana, Jaka melangkahkan kakinya menuju parit. Letaknya tak terlalu jauh dari tempatnya berada.
Kesunyian dirasakan Jaka begitu memasuki area kontruksi, padahal jika siang hari di tempat itu sangat ramai dan bising dengan suara dari peralatan berat. Jaka tak memungkiri dia mulai merinding dengan suasana mencekam itu. Namun Jaka tak berniat kembali, yang terpenting untuknya sekarang bisa sesegera mungkin mengeluarkan penyebab perutnya melilit sakit.
Setibanya di parit, tanpa melepas sandal yang dia kenakan, dia masuk ke dalam parit. Membuka celananya dengan terburu-buru, lalu berjongkok tanpa memperhatikan sekitarnya.
“Haah ... lega,” gumamnya, mengembuskan napas lega. Perutnya sudah tak terlalu sakit lagi.
Di saat Jaka tengah fokus dengan kegiatan buang air besarnya di dalam parit, dia tersentak ketika ekor matanya menangkap sesuatu bergerak dengan cepat dari salah satu pohon yang menjulang tinggi tak jauh dari parit.
Jaka memutar lehernya guna memeriksa pohon itu. Dia gulirkan bola matanya menatap satu demi satu pohon yang tumbuh di sana. Angin bertiup kencang tiba-tiba, pohon-pohon itu terlihat berayun mengikuti hembusan angin yang menerpanya. Jaka tertegun, suasana mencekam ini mulai membuatnya takut.
Jaka pun bergegas menyelesaikan aktivitas buang air besarnya. Lalu tak membuang waktu lagi, dia berjalan cepat hendak keluar dari parit.
GGGGRRRRRR
Langkah Jaka terhenti, tak salah lagi telinganya menangkap suara geraman menyeramkan yang lebih mirip seperti suara geraman binatang buas.
“Apaan tuh? Jangan-jangan harimau lagi,” gumamnya, bergidik ngeri.
Angin yang berhembus menerpa kulit Jaka semakin terasa dingin dan menyeramkan. Bulu kuduk Jaka dibalik pakaiannya meremang hebat. Dia benar-benar ketakutan sekarang.
Jaka tak berjalan santai lagi, kali ini dia berlari secepat yang dia bisa. Dia harus keluar dari area kontruksi itu sekarang juga dan segera kembali ke tendanya.
Sekali lagi Jaka tersentak, ekor matanya kembali menangkap pergerakan sesuatu di belakang tubuhnya, yang bergerak secepat kilat. Bahkan suara geraman itu semakin keras terdengar.
Jaka membalik badannya meski rasa takut luar biasa menghantam kesadarannya. Napasnya terengah dengan peluh yang mulai berjatuhan dari pelipisnya meski udara begitu dingin menusuk hingga ke tulang.
“Siapa itu?!!” Teriaknya, sejauh mata memandang dia tak melihat penampakan apa pun baik di belakangnya maupun di sekitarnya.
“Jangan nakut-nakutin ya, nggak lucu!!” Teriaknya lagi, mencoba berpikir positif bahwa itu ulah salah satu rekannya yang tengah menakut-nakuti dirinya.
Jaka pun melanjutkan langkahnya, kali ini dia tak berlari. Dia berjalan tegap sok berani, niatnya dia ingin menunjukan pada siapa pun orang yang sedang mengerjainya ini bahwa dia tak takut sama sekali.
“Sialan! Dia kira aku ini penakut apa? Maaf, maaf aja, aku bukan penakut,” gumamnya, menyombongkan diri.
Kurang dari sepuluh langkah dia berjalan, Jaka meneguk salivanya susah payah saat telinganya kembali mendengar suara geraman itu. Jaka berhenti, memegangi tengkuknya yang merinding hebat. Suara itu dia yakini berasal dari arah atas.
Sempat ragu, namun rasa penasaran lebih dominan dia rasakan. Dengan mengerahkan seluruh keberanian yang dia punya, dengan gerakan sangat perlahan dia mendongakkan kepalanya ke atas. Dan itulah kesalahan terbesar yang dilakukan Jaka sepanjang hidupnya.
Jaka tak mampu berkutik bahkan sekadar menggerakan tubuhnya pun Jaka sudah tak sanggup lagi, karena belum sempat dia bergerak dari tempatnya, makhluk yang lebih pantas disebut monster itu kini tengah menyeringai padanya dia atas pohon yang tumbuh tepat di samping Jaka.
Makhluk itu melompat turun dengan kecepatan yang bahkan mustahil bisa diikuti mata telanjang manusia. Dia menerjang tubuh Jaka, seketika membuat Jaka ambruk di tanah yang teramat keras.
Jaka membuka mulutnya hendak berteriak yang sayangnya sebelum sempat suaranya keluar, makhluk itu mencengkram mulut Jaka dengan kedua tangan besarnya. Kedua tangan makhluk itu memegangi kedua sudut mulut Jaka. Menariknya berlawanan arah yang dalam hitungan detik mulut Jaka robek hingga terbelah menjadi dua bagian.
Makhluk itu mengaum kencang, mungkin merasa puas karena tindakannya telah melenyapkan nyawa mangsanya dalam sekejap. Lantas makhluk itu menggenggam kepala Jaka erat, memutarnya berulang kali hingga kepala itu terlepas sempurna dari lehernya.
Makhluk itu membuka mulutnya lebar, memasukkan kepala Jaka ke dalam mulutnya. Mengoyak dengan mudahnya kepala Jaka yang keras itu dengan taring-taring tajamnya. Lalu mengunyahnya seolah tengkorak manusia yang keras tak berarti untuk gigi-gigi kuatnya.
Kurang dari satu menit, kepala Jaka sudah habis dimakan oleh makhluk itu. Dia pun beralih melepaskan bagian-bagian tubuh Jaka yang lain. Kedua tangan dan kaki Jaka dia lepaskan dari tubuh utamanya. Lalu dia lemparkan begitu saja seolah tak berminat memakannya.
Air liur makhluk itu yang bercampur dengan darah Jaka dalam mulutnya, menetes-netes keluar. Tatapan makhluk itu bagaikan singa lapar yang sudah tak tahan untuk segera menyantap habis daging di depannya.
Dia berniat membelah tubuh Jaka dengan cakar runcing dan tajamnya. Dia tusukkan cakarnya ke d**a Jaka lalu turun hingga ke perutnya. Tubuh Jaka pun terbelah dua tanpa perlu makhluk itu mengeluarkan banyak tenaganya.
Dia keluarkan organ dalam tubuh mangsanya. Usus-usus Jaka yang berlumuran darah itu dia genggam erat dalam kepalan tangan besarnya, lalu menyantapnya dengan rakus. Hanya menghabiskan waktu sepuluh menit saja, tubuh Jaka kini lenyap tak bersisa karena sudah berpindah tempat ke dalam perut si makhluk.
Makhluk itu berdiri menjulang tinggi dengan punggungnya yang sedikit bungkuk. Mengangkat tangannya yang berlumuran darah Jaka. Dia pun mengeluarkan suara tawa yang lebih mirip seperti suara auman harimau liar.
Lantas dia melangkah perlahan menelusuri area kontruksi dan tepat berhenti di pintu keluar area kontruksi saat matanya menatap lurus pada area perkemahan para pekerja.
Makhluk itu menggerak-gerakan jari-jarinya yang memiliki cakar-cakar panjang nan tajam. Lalu membentuk seringaian di wajah seramnya. Sudah tak sabar untuk menyantap mangsanya yang lain karena dia tak akan melepaskan manusia-manusia yang telah mengusik tempat kekuasaannya dan mengganggu ketenangannya.