06

1676 Words
Sudah dua minggu sejak kepulangan dari pesta itu, Rachel menjauhi Arga. Ia paling malas jika harus berkaitan dengan calon suaminya yang bisu itu. Sebisa mungkin, kuliah menjadi alasannya menolak permintaan Mamanya tiap kali ia disuruh menamani Arga inilah, itulah atau apapun itu. Mamanya selalu berusaha membuat mereka dekat layaknya orang pacaran yang akan menikah. Tapi semakin kesini, pikiran Rachel semakin terganggu dengan tanggal pernikahan mereka yang tak lama lagi, hanya hitungan hari. Ia semakin pusing memikirkan bagaimana masa depannya hidup bersama manusia satu itu. Bagaimana dirinya nantinya akan tertekan batin karena cueknya Arga dan ikut-ikutan latihan bisu setelah beradaptasi dengan sifat Arga yang menjadi satu-satunya orang yang tinggal bersama, serumah dengannya. Apakah ia bisa mempertahankan rumah tangganya dengan keadaan mereka yang masih belum memiliki pegangan sama sekali? Ia juga takut jika wajahnya akan cepat keriput setelah tinggal bersama Arga yang tak pernah tersenyum sebagaimana sifat Rachel yang ceria. Semua lamunan-lamunan itu menjadi beban berat bagi Rachel, hingga teman-temannya membuyarkan khayalan buruknya. "Woiii..ngelamun aja" pekik Lidya tepat di telinga Rachel. "Ck" gadis itu hanya bisa berdecak menanggapi pekikan temannya, sambil tangannya mengusap telingannya yang panas dan terasa pengang. "Kenapa lo? Makin deket pernikahan, makin sering aja ngelamun?" Ruth mengangguki ucapan Megan. Rachel menghela nafas dengan bimbang, ia ragu menceritakan bebannya ini pada ketiga sahabatnya itu. Ia yakin jika sahabatnya mendengar bebannya itu, ia akan menjadi bahan bully-an mereka yang akan menertawakannya dengan terbahak-bahak. Namun pada akhirnya, apapun tak bisa ia sembunyikan dari ketiganya. Ia juga bukan orang yang bisa menyimpan beban sendirian, sampai akhirnya ia menceritakan semua yang mengganggu pikirannya. Dan benar saja, mereka tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ceritanya, membuat beberapa orang di kantin Kampus yang terletak di lantai dasar terusik dengan tawa teman-temannya. "Tuh kan, ini alasan gue ragu cerita sama kalian" dengkus Rachel sebal "Oke-oke, sorry. Kita lucu aja soalnya. Masa lo udah mikirin sampe sana aja sih?" ujar Ruth yang pertama kali menyadari kekesalan Rachel. "Kan gue harus pikir panjang. Lagian lo tau sendiri, pak Arga kayak gimana dinginnya" ringis gadis itu ngeri sendiri. "Eh, Bapak itu nggak sepenuhnya dingin loh. Buktinya Bapak itu peduli sama nilai kita di matakuliah dia" kata Megan menanggapi. "Dia bukan peduli sama lo. Dia cuma nggak mau lo ngulang di matakuliah dia, sampai dia harus melihat muka yang itu-itu aja" ujar Rachel menyatakan pemikirannya. "Terserah lo deh, Ra. Pokoknya pak Arga itu nggak sepenuhnya cuek" bela Megan, di setujui Lidya dan Ruth dengan senyum penuh makna masing masing. Rachel kembali menyeruput lemon tea-nya untuk menghilangkan kesal terhadap teman temannya yang membela Arga, sampai ia terganggu dengan kehadiran seseorang, sekaligus keriuhan Kantin. Rachel menoleh ke sampingnya dengan ragu, takut-takut kalau yang mendekatinya adalah Albert, cowok yang tak pernah menyerah mendekatinya dengan berbagai cara. Ia hanya tak siap menghindari ajakan pria itu untuk nonton, makan, ajalan atau sebagainya. Arga. Wajah itu yang pertama kali menghiasi pandangannya saat menoleh ke sisi kiri. Ternyata kehadiran Arga yang membuat riuh kantin, apalagi para cewek-cewek yang langsung memasang aksi masing-masing untuk menarik perhatian Arga. Percayalah, ini mungkin terasa manis jika dalam novel atau film yang Rachel tonton, tapi sangat menjijikkan saat ia mengalami langsung. Saat membaca novel dan tepat pada adegan seperti ini, ia mungkin akan tersenyum seperti orang gila. Saat ia menonton film atau drama dan mendapat adegan ini, ia mungkin akan berteriak senang sambil membayangkan pemeran utama wanita adalah dirinya, tapi begitu terjadi saat ini, ia ingin lenyap dari Muka Bumi saat ini juga. "Bapak ngapain disini?" tanyanya pelan. Ia melirik depan, kanan dan kiri dengan hati-hati. "Duduk" jawabab singkat itu sukses membuat Rachel kesal. Siapapun tau Arga sedang duduk, namun tidak bisakah Arga yang sudah dewasa dan menyandang status dosen mengerti maksud pertanyaannya. Apa ini juga termasuk pertanyaan berat bagi pria itu? Ini kan bukan kode. "Kenapa harus di samping saya Pak? Meja lain masih banyak kosong" komentar gadis itu benar-benar tak suka, apalagi ia mulai mendengar bisikan-bisikan setan di sekelilingnya yang mencibirnya. Arga menoleh singkat ke arah calon istrinya "Saya maunya sama kamu" bisiknya. Teman-teman Rachel melayangkan godaan lewat mata mereka ke arah Rachel. Dan bisikan itu terasa bagaikan bisikan dari setan, menurut Rachel. Ia saja sampai merinding dibuatnya. "Pak, Bapak nggak b***k kan untuk mendengar bisikan mereka yang mencibir saya?" sindirnya tanpa menatap Arga. "Enggak" "Jadi tunggu apa lagi Pak, silahkan pindah meja. Saya belum siap jadi selebritis dadakan. Bapak ke kantin ini aja udah cuku bikin mereka ribut, apalagi dengan duduk dekat saya" "Saya mau bicara" tegas Arga dengan suara datar seperti biasanya. Ia mulai peduli dengan protesan Rachel, itulah sebabnya ia langsung mengutarakan niatnya. "Nggak ada yang perlu di bicarakan Pak, saya nggak nyaman dengan keadaan seperti ini" keluh Rachel menyampaikan isi hatinya. "Saya tidak akan pergi kalau begitu" kekeuh pria itu. "Biar saya yang pergi Pak" Rachel memutuskan agar ia yang meninggalkan dosennya itu. "Ya sudah" Rachel benar-benar bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan Arga bersama teman-temannya, namun ternyata Arga tidak diam begitu saja di tinggalkan calon istrinya, ia menyusul kepergian gadis itu. "Please deh Pak, saya nggak nyaman dilihatin begini sama yang lain. Bapak jangan ngikutin saya" "Sampai kapan kamu mau manggil saya Bapak?" Arga bahkan tak mengindahkan ucapan Rachel. "Saya nggak mungkin panggil nama aja ke Bapak. Di sini Bapak adalah dosen" "Tapi di luar Kampus, kamu juga manggil saya Bapak. Saya ingin dipanggil Arga saja" ujar Arga menyampaikan keinginannya untuk di panggil nama depan "Oh ya, kita perlu bicara" Dengan terpaksa Rachel mengikuti langkah Arga yang membawanya ke parkiran, menaiki mobil pria itu untuk mencari tempat yang jauh dari keramaian orang-orang yang mengenal mereka. *** Sampai di sebuah cafe, keduanya turun dan langsung memasuki cafe. Rachel sebenarnya cukup bingung mengapa Arga membawanya sejauh ini dari Kampus. Apakah pria itu tak berpikir kalau ia akan ada kelas atau kesibukkan lainnya setelah ini. Pria itu bahkan tak bertanya atau meminta persetujuannya terlebih dahulu. "Apa yang mau Bapak bicarain?" tanya Rachel tak ingin berlama-lama. Ia tak cukup nyaman dekat dengan Arga. "Kamu marah sama saya?" tanya Arga menaikan kedua alisnya menanti jawaban calon istrinya. Ia dapat melihat bahwa Rachel menghindarinya dan nada suara gadis itu lebih jutek dibandingkan sebelumnya. Rachel mengerutkan dahinya "Marah kenapa? Saya rasa itu perasaan Bapak aja" "Ya, mungkin begitu" ujar cowok itu singkat. Arga tak pandai untuk memperpanjang masalah dan itu sudah cukup jelas bagi Rachel. Dan hal itu juga sukses membuat Rachel jengkel. "Jadi Bapak cuma mau nanya itu?" keluhnya. Arga mengangguk santai. "Sangat tidak berfaedah dan membuang waktu" Sungut gadis itu berdiri, hendak meninggalkan Arga sendirian, namun Arga sudah menarik tangannya. “Saya lapar dan belum makan Ra” Rachel memutar tubuhanya dan menatap Arga dengan bingung “Lalu?” “Temani saya makan dulu, nanti saya antar” “Saya ada jadwal jam 1:50” “Matakuliah apa?” “Bua tapa nanya begitu?” sewot Rachel. “Saya hanya ingin memastikan kalau kamu tidak berbohong dan saya jelas tahu jadwal kelas kamu, jadi jangan mencari alasan” “Bapak ngestalking saya ya?” tuding Rachel dengan mata menyipit curiga. Arga menarik Rachel dan menuntun gadis itu untuk duduk dengan matanya yang melirik ke arah kursi “Saya ingat kalau kelas kamu adalah yang paling sering mencari alasan untuk tidak ganti kelas kalau saya ada kesibukan, makanya saya minta jadwal kalian kepada komting kamu” Rachel memutar bola matanya malas begitu tahu kalau alibinya tak cukup kuat untuk menghindari Arga. Ia hanya duduk pasrah saat Arga memanggil pelayan cafe dan mulai memesan. Mau tak mau Rachel juga memesan. Ia tak mungkin hanya menjadi penonton Arga makan dan membiarkan ludahnya terus diteguk berulang kali. Setelah kepergian pelayan cafe, Arga kembali mengamati Rachel selagi mereka bersama. Setiap kali ada pertemuan dengan gadis itu secara pribadi atau bersama keluarga, Arga pasti tak pernah lupa untuk mengamati gadis itu dalam diam. Ia tak cukup pandai untuk berkata-kata atau mencairkan suasana, jadi ia memilih mengetahui bagaimana Rachel hanya dengan tatapannya saja. Rachel mengangkat pandangannya dari ponsel dan matanya bertemu dengan mata Arga “Bapak ngapain ngelihatin saya?” tanyanya sinis. “Ingin” jawab Arga singkat. “Apakah menurut Bapak, Bapak bisa melakukan apa saja yang Bapak inginkan?” “Tidak” Arga menggelengkan kepalanya. “Kalau begitu jangan lihatin saya terus. Saya merasa tidak nyaman” “Melihat kamu bukan sesuatu yang akan merugikan diri kamu kan” “Kalau begitu, saya ingin mencium Bapak karena saya ingin. Apa saya bisa?” tanya Rachel setelah berpikir panjang untuk mendebat Arga. “Jelas tidak” “Kenapa?” “Karena itu bukan sesuatu yang boleh dilakukan secara bebas” “Apa Bapak merasa dirugikan?” “Jelas iya, saya merasa harga diri saya turun jika kamu yang mencium saya. Seharusnya saya yang mencium kamu” Rachel membulatkan mulutnya tak percaya. Niatnya bukan memancing Arga untuk membahas tentang ciuman, tetapi sebagai contoh saja, sayangnya pria itu malah menangkap maksud lain. “Bapak tahu maksud saya bukan begitu. Saya hanya ingin mengatakan kalau saya tidak nyaman dilihat oleh Bapak, meski itu tidak merugikan saya sama sekali” Bibir Arga terangkat kecil membentuk senyuman, namun itu sama sekali tak tampak bagi siapapun. Rachel yang berada dekat dengannya saja tak menyadari kalau pria itu sempat tersenyum dengan caranya sendiri “Kalau kamu memang mau mencium saya, saya sebenarnya tidak keberatan” godanya. “Bapak apaan sih?” desisnya malu sendiri. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah. “Makan dulu Ra” Arga menunjuk makanan yang telah dihidangkan pelayan cafe di depan mereka. Arga masih tak menyangka bahwa ia bisa membuat anak gadis orang menjadi malu-malu kucing. Ternyata ia benar-benar laki-laki. Saat Rachel sudah menyentuh sendoknya untuk menyantap makanannya yang begitu menggiurkan, suara Arga seperti teguran memalukan untuknya “Saya yang pimpin doa atau kamu?” Oh, God. Ia saja tak pernah ingat berdoa jika bersama teman-temannya. Kalau makan ya tinggal makan, meski kalau di rumah ia tak lupa mengucapkan syukur. Rachel tersenyum kikuk dan menunjuk Arga dengan dagunya “Bapak aja” ujarnya pelan. Arga memimpin mereka dalam doa makan untuk sejenak, lalu keduanya makan dalam hening. Rachel tertegun dengan sikap religius Arga yang baru dilihatnya. Ia bahkan tak menduga kalau ada laki-laki yang tak malu untuk menyuarakan ucapan syukurnya. “Saya pikir, saya jadi yakin untuk memahami Bapak setelah kita menikah” ujarnya dengan senyum kecil. “Terima kasih sudah memberikan saya kesempatan, Ra”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD