TINGGAL SERUMAH DENGAN YUDA

1301 Words
"Setelah acara perkenalanpun, Akhirnya Keluarga Yuda dan kedua orang tuanya pamit undur diri. Sepanjang jalan menuju rumah Yuda Dira tidak banyak bicara. Hanya sesekali menimpali itupun kalau kedua orang tua Yuda bicara dan bertanya padanya. Jadi bagaimana kalau beberapa hari ini kalian tinggal dulu bersama kami Yud? mama ingin mengenal Dira lebih dekat lagi, bagaimana menurut Papa ucap Sasti Ibu Yuda. Pak Ari angkat bicara, kalau Papa sih terserah mereka berdua saja mah. Bagaimana Yud ucap Sasti lagi bertanya pada Yuda. Tidak untuk sekarang mah, pah, Yuda sibuk mengurus perusahaan yang sedang kacau.Mungkin nanti kami akan kerumah mama, Papa kalau waktunya sudah santai. Tapi bukankah selama ini juga kamu tinggal bersama kami. Lagipula rumah barumu itu bukannya mau kau hadiahkan kepada Sela untuk hadiah pernikahan kalian ucap Sasti lagi. Deg..... Jantung Dira berdebar. Ternyata Yuda dan Keluarga nya sudah menyiapkan semuanya dengan mateng untuk Sela. Sedangkan Dira bukan apa -apanya. Mah jangan bahas itu ucap sisuami merasa tidak enak pada Dira. Sasti tersadar dan mengusap lengan Dira.. Maaf Dira mama tidak bermaksud untuk mengatakan ini padamu, tapi selama Yuda kenal dengan Sela beberapa tahun ini kami sudah menganggapnya sebagai anak sendiri. Yuda juga sudah sangat yakin akan menikah dengan Sela tapi kenyataannya jadi seperti ini. Sudahlah mah, untuk apa mama bicara seperti itu padanya. Dia tidak tau apa yang terjadi ketus Yuda. Kamu tidak boleh bicara begitu Yud, bagaimana pun juga Dira sekarang sudah jadi istrimu dan dia berhak tau apa yang terjadi. Setelah mengantarkan kedua orang tuanya pulang Yudapun membawa Dira kerumah barunya. Rumah besar dua lantai yang akan dihadiahkan untuk Sela saat menikah, tapi rencana itu hancur berantakan. Dira begitu terpesona pada rumah baru Yuda tersebut. Rumah baru itu didesain sesuai permintaan Sela dan Yudapun mengabulkannya. Rumah orang tua juga besar dan mewah. Tidak mungkin kalau sebenarnya Yuda bangkrut begitu saja. Pasti cuma ada sedikit masalah. Begitu sampai mobil langsung berhenti didepan pekarangan rumah besar itu. Yuda turun lebih dulu dan segera menutup pintu mobil bagian depan. Dira diam saja belum berani turun, dirinya masih ragu, melihat sikap Yuda yang dingin dan selalu ketus padanya. Cepat turun, apa kau mau diam saja didalam mobil ? Dira pun langsung turun dan menyeret kopernya yang sudah diturunkan Yuda. Dira mengekor dibelakang Yuda. Saat Dira kesusahan membawa kopernya tidak sedikitpun niat Yuda untuk membantunya. Keadaan didalam rumah Yuda juga luas dan besar. Semua perlengkapan rumahpun semuanya sangat lengkap. Dilantai bawah ada dua kamar besar dan satu kamar ukuran kecil. Ada tangga juga menuju lantai atas ,Dira pun belum tau bagaimana keadaan dilantai atas tersebut. Begitu Yuda menuju lantai atas, Dira segera mengikutinya. Melihat Dira terus mengikutinya Yudapun menghentikan langkahnya. Untuk apa kau terus mengikutiku? Aku ingin istirahat. Dira yang bingungpun ikut menghentikan langkahnya. Aku bingung ,kamar yang mana yang harus aku tempati ucap Dira menatap Yuda. Jadi kau pikir,karena kita telah menikah, kita akan tidur satu kamar begitu ! jangan mimpi. Aku tidak pernah bermimpi untuk menikah dengan wanita seperti dirimu. Lihat dibawah banyak kamar, buka matamu kalau kau tidak buta. Ingat ini adalah rumahku. Jangan pernah beraninya kau masuk kedalam kamarku ataupun naik kelantai atas. Kau cukup berada dilantai bawah.Dan satu lagi jangan beraninya kau memegang atau memakai barangku. Ucap Yuda sinis. Dira tidak menyangka Yuda bisa berubah sekejam itu. Tapi kita kan suami istri Yuda. Aku ini istri mu. Lalu..... ucap Yuda menatap nyalang pada Dira. Seharusnya kita kan..... Cukup Dira, apa kamu tidak mendengar apa yang sudah kukatakan tadi. Aku juga tidak pernah menganggapmu istri, kau hanya orang lain bagiku. Ingat jika ada orang yang bertanya siapa dirimu, katakan saja kau pembantu dirumah ini. Nyut.... ada yang berdenyut didada Dira. Dira merasa hatinya begitu sakit. Apakah dirinya sebegitu buruknya dimata Yuda. Walaupun dihati Dira juga belum ada cinta untuk Yuda, tapi Dira berusaha akan menjadi seorang istri yang baik, Walaupun tidak di anggap ataupun dihargai. Dira menunduk dan menganggukan kepalanya. Setelah itu Yuda segera naik kelantai atas. Sedangkan Dira turun lagi dan mencari kamar untuknya. Setelah memilih kamar Dirapun masuk dan mencoba untuk istirahat. Dira berusaha memejamkan matanya, tapi tidak bisa. Dira tidak menyangka kalau hidupnya akan jadi seperti ini. Bayanngan masa lalunya muncul, saat ibunya masih hidup, Dira menangis, sosok ibunya begitu sangat Dira rindukan. Karena terlalu lama menangis Akhirnya Dira pun tertidur. Keesokan harinya Dira sudah bangun untuk melaksanakan sholat subuh. Karena Dira memang sudah terbiasa bangun pagi. Dira pun keluar kamar, Dira ingin melihat isi dapurnya Yuda. Perutnya lapar minta diisi. Dira mengedarkan pandangannya, sepertinya Yuda belum bangun karena rumah masih sepi. Dira melihat isi kulkas, tidak ada apapun isi didalamnya. Apa yang harus dirinya lakukan dirumah ini, Dira benar -benar bingung sendiri. Dira pun mencoba duduk dimeja makan dan akan menunggu Yuda bangun saja. Tidak ada yang bisa dirinya lakukan selain menunggu. Dira tidak berani naik kelantai atas bahkan hanya untuk membangunkan Yuda. Yuda kemarin sudah memperingatinya dan mengancamnya. Hampir satujam lamanya Dira menunggu Akhirnya sosok yang ia tunggupun keluar juga. Yuda turun dari lantai atas sudah dengan keadaan rapi. Sepertinya Yuda sudah bersiap untuk berangkat bekerja. padahal waktu baru menunjukan angka tujuh pagi kurang. Yuda melirik kearah Dira yang juga sedang melihat kearahnya. Yuda pun mendengus. Entah mengapa Yuda tidak suka saat melihat penampilan Dira yang serba tertutup. Yang terlihat hanya matanya saja ,Karena memang Dira memakai cadar. Dira bangkit dari duduknya dan menghampiri Yuda. Maaf Yuda, apa yang harus aku lakukan dirumah ini, aku bingung suara lembut Dira terdengar. Terserah apa yang akan kau lakukan aku tidak perduli, Ingat pesanku kemarin jangan berani naik kelantai atas dan memakai barangku atau apapun itu. Tapi aku lapar, apa tidak ada makanan sama sekali, Dira mencoba bertanya. Tunggu saja sebentar lagi, seseorang akan datang kesini untuk melakukan tugasnya. Ingat, kau bukan tanggung jawabku, aku tidak akan memberikan nafkah lahir ataupun batin padamu, jadi kau jangan pernah mengharapkan itu dariku. Aku hanya akan memberimu makan dirumah ini sebagaimana tugas seorang pembantu. Bersihkan seluruh ruangan bagian bawah dan luar rumah, bagian atas aku sudah menyuruh seseorang untuk memberesihkannya. Ting... Tong... Benar saja seseorang muncul dan membawa beberapa kantong belanjaan. Permisi Den, maaf bibi baru datang ucap wanita setengah baya, bernama Bi Irah. Tidak bi, justru bibi datang tepat waktu. Lakukan tugas bibi dengan baik, ingat pesanku semalam ucap Yuda menatap tajam bi Irah. Baik Den ucap Bi Irah patuh. Setelahnya Bi Irahpun masuk kedalam rumah dan langsung menuju dapur. Setelah bi Irah masuk, Yudapun keluar rumah untuk berangkat bekerja. Sebenarnya perusahaan Yuda tidak bangkrut, hanya ada sedikit masalah, Tapi Sela sepertinya salah paham dan salah menduga saat Yuda mengatakan perusahaannya sedang dalam masalah yang sulit, beruntung Yuda dapat menyelesaikannya secepatnya. Setelah Yuda pergi Dira pun menyusul kedapur. Dira melihat Bi Irah sedang memasukan belanjaannya kedalam kulkas. Hm..... Maaf bi, apa ada yang bisa Dira bantu ucap Dira ragu. Karena Dira belum mengenal sosok yang ada didepannya. Tidak usah Non, ini juga sudah mau selesai ucapnya sambil tersenyum kearah Dira. Apa bibi ikut tinggal disini juga ?ucap Dira kembali bertanya. Tidak Non, bibi tinggal dirumah nyonya besar. Bibi hanya sesekali mengantarkan belanjaan ini kesini dan membersihkan lantai atas sesuai perintah Den Yuda, setelahnya bibi kembali kerumah tuan besar ucapnya lagi. Bibi akan datang kesini seminggu sekali. Dan untuk semua belanjaan ini, pesan Den Yuda harus cukup selama seminggu untuk Non. Saya Dira bi, jangan pake Non panggil nama saja. Bibi tidak enak Non maaf ucap si bibi lagi. Biasanya bibi suka kerumah ini seminggu tiga kali untuk membersihkan rumah ini. Tapi bibi juga ga tau sekarang disuruh datangnya seminggu sekali saja, itupun hanya mengantarkan belanjaan dan membersihkan lantai atas saja. Mungkin karena sudah ada Non Dira disini, jadi Den Yuda menyuruhnya seperti itu. Bibi tau siapa saya ucap Dira lagi. Tau Non, bibi sudah diberitahu oleh nyonya besar. Dirapun menganggukan kepala mengerti. Apa saya boleh bertanya lagi? Silahkan Non tanyakanlah apa yang ingin Non tanyakan. Ucap si bibi lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD