PART 5 – JODOH LAUH MAHFUDZ

1117 Words
"Apa yang sebenarnya terjadi Dok?" Tanya Aminah, ibu Anisa. "GBSnya kembali menyerang sebagian tubuhnya, dan sekarang kedua tangannya lah yang mengalami kelumpuhan. Hal itu bisa saja disebabkan karena rasa capek dibagian tubuh itu. Kalau boleh tahu, sebelumnya Anisa melakukan apa Bu?" Tanya Zufar memastikan, kalau penyakit yang kambuh itu hanya perlu waktu sedikit untuk penyembuhannya. "Seperti biasanya, Anisa hanya bermain dengan laptopnya, yang terkadang menulis cerita, karangan puisi di blognya. Hanya itu Dok, apa itu juga mempengaruhi penyakit itu kambuh lagi?" Tanya Aminah. "Bisa jadi Bu, kalau karena hal itu membuat tangannya capek dan kelelahan. Tapi bisa dipastikan akan kembali berfungsi dalam kurun waktu satu minggu, insyaallah." Terang Zufar. "Bu Aminah, bisa kembali keruangan Anisa, dari tadi dia mencari Ibu." Tambahnya. Wanita itu menunduk, bukanny menyetujui ucapan Zufar untuk kembali keruangan putrinya. "Kenapa Bu?" Tanya Zufar. "Saya takut nanti Anisa menanyakan penyakitnya." Terang Aminah sedih. "Jadi Bu Aminah belum memberitahunya tentang penyakit GBSnya?" Tanya Zufar. "Bagaimana saya mampu untuk mengatakannya Dok, kalau melihatnya menangis kesakitan saja saya sudah sangat sedih, apalagi melihatnya menangis karena kenyataan yang harus diterimanya. Saya tidak mau Anisa merasa menjadi gadis yang selalu mendapat kesialan, saya tidak mau tangisnya yang dulu saat ayahnya pergi dengan wanita lain terulang lagi, butuh satu tahun dia pulih dari keterpurukannya itu Dok..." Ucap wanita itu yang kembali tidak bisa menahan airmatanya. "Maafkan saya, saya jadi cerita masalah pribadi saya... Sekali lagi maafkan saya Dok." Aminah menghapus airmatanya, ketika merasa keterlaluan menceritakan masalah pribadinya ke orang lain, bahkan ini ke seorang dokter yang seharusnya tidak perlu mendengar curhatan yang bukan pasiennya. Zufar tersenyum, dia memaklumi. Bukan hal mudah, menjadi seorang wanita yang hidup sendiri merawat satu tahun putrinya yang depresi karena perceraiannya, dan sekarang akan menghadapi kenyataan yang jauh lebih menyakitkan. "Tapi bagaimanapun juga, Anisa perlu tahu semua ini Bu. Saya tahu betul apa yang anda rasakan, saya sama sekali tidak memaksa anda untuk segera mengatakan ini ke Anisa, tapi akan lebih baik jika Anisa segera tahu dan kita bisa merangkulnya, menyemangatinya untuk tetap semangat meski dengan penyakit yang ada dalam tubuhnya." Ucap Zufar. Aminah menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan keras. Ada sebuah beban, bagaimanapun ini adalah hal yang terlalu sulit untuk dilakukannya. "Saya akan membantu Ibu... Sekarang Bu Aminah bisa kembali keruangan, kalau Anisa tanya masalah penyakitnya, bilang saja, saya masih belum bisa mendiagnosanya." Ucap Zufar yang diakhiri dengan senyuman. Wanita itu mengangguk mantap. "Terimakasih sekali Dok, terimakasih." Ucap Aminah sembari menelangkupan kedua tangannya. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam warrahmatullah." Jawab salam Zufar sembari kembali ke tempat duduknya. "Gue gak nyangka punya temen dokter sebaik lo." Suara bariton terdengar dari balik pintu, setelah Aminah menghilang dari tempat itu. Dan Zufar menyunggingkan senyum ketika wajah laki-laki yang tidak asing lagi nampak dari balik pintu. Laki-laki itu beranjak kearah Zufar setelah menutup pintu. "Lo bisa salam gak?" Sela Zufar yang membuat laki-laki itu tertawa. "Oke, Assalamualaikum Pak Dokter. Saya Naufal As-Sajid mau konsultasi." Ucap laki-laki bernama Naufal itu dengan memasang wajah lugu. "Saya tidak melayani konsultasi masalah hati Pak." Jawab Zufar yang membuat Naufal terperangah. "Eh lo kira gue cabe-cabean yang suka curhat sana sini. Gilak lo..." Ucap Naufal yang berhasil membuat Zufar cekikikan. "Sudah sudah, sekarang yang pasti. Ada apa lo kesini? Sekarang bukan jadwalnya Suster Alia jaga." Ucap Zufar yang mulai menetralkan suaranya. "Itu masalahnya... Gue bener-bener ngerasa jatuh cinta sama dia. Tapi pernikahan gue hampir aja terlaksana." Ucap Naufal bimbang. "Kita gak pernah tahu takdir kita, dengan membiarkan semuanya mengalir adalah pilihan kita." Ucap Zufar. "Lo salah, kalau kita membiarkan semuanya mengalir terus, bisa-bisa semua orang akan seperti lo, belum ada jodoh sampai sekarang." Ucap Naufal. "Jodoh? Semua orang mempunyai jodohnya sendiri-sendiri, sudah tertulis jelas nama kita berdampingan dengan jodoh kita nanti di Lauh Mahfudz. Jadi untuk apa mencari?" Ucap Zufar. "Lo salah lagi, memang jodoh sudah digariskan oleh Allah, tapi kita tidak bisa berdiam diri menunggunya. Kita juga perlu berusaha mencarinya." Elak Naufal. Setelah ini akan ada perdebatan panjang diantara mereka kalau tidak ada yang mau mengalah. "Sudahlah, ini membicarakan tentang lo. Bagaimanapun juga lo sudah punya calon istri, tidak benar kalau lo mencintai perempuan lain." Sela Zufar. "Calon istri yang tidak pernah gue kenal? Tidak pernah gue suka? Wajahnya pun masih samar diingatan gue, Zufar." Naufal gusar, mengacak-acak rambutnya yang mulai berantakan. "Itu yang bener. Sebelum menikah tidak ada rasa apapun, perkenalan pun sementara. Tapi nanti, setelah menikah, rasa itu tumbuh seiring dengan kehidupan lo bersamanya." Ucap Zufar. "Gue gak yakin... Yang menasehati gue saja belum pernah merasakan itu, gimana gue bisa yakin kalau itu akan terjadi sama gue." Jawab Naufal. "Kamvret lo, gue ngasih tau lo malah lo ungkit-ungkit kehidupan gue." Ucap Zufar. "Kenyataan kan Bro?" Ucap Naufal. "Terserah... Gak guna lo kesini, curhat ini itu kalau masukan gue gak lo denger." Ucap Zufar kesal. "Zufar please, sifat keperawanan lo jangan ditampakin ditempat kerja lo." Ucap Naufal mencoba membuat sahabatnya itu kembali seperti semula moodnya. "Sudahlah, gue masih ada pasien. Lo balik sana." Ucap Zufar sembari mengambil jas putihnya yang disampirkan dibelakang kursi. "Oke!" Ucap Naufal langsung berlalu. Biarpun bertengkar, setengah jam kemudian akan kembali lagi, seperti itulah mereka. "Jangan dateng dipernikahan gue ya. Gak akan meriah, kalau tidak menikah dengan Suster lo." Ucapnya lagi yang membuat Zufar berdecak. Sahabatnya itu memang benar-benar susah diatur. *** Langkah laki-laki itu berhenti ketika melihat sosok perempuan berjilbab biru sedang berdiri didalam lift yang akan ia masuki. "Silahkan masuk Pak." Ucap perempuan itu ramah. Sangat ramah, berbalik dengan sikapnya yang diam saat bertemu pertama kali, ketika sedang dibelanya dari Alena. "Iya, terimakasih." Zufar melangkahkan kakinya kedalam. Disana hanya ada dia dengan perempuan berjilbab biru yang baru diingatnya bernama Maisarah. "Maisarah kan?" Tanya Zufar membuka percakapan. Sarah pun mengangguk pasti. "Karyawan baru, sekaligus yang saya temui di rumah sakit." Ucap Zufar yang membuat Sarah tersenyum. "Hanya itu?" Ucap Sarah ambigu yang membuat Zufar mengernyitkan alisnya, meski tidak saling pandang. "Ingat perempuan yang anda sapa di masjid rumah sakit?" Tanya Sarah yang membuat Zufar menoleh kearahnya, laki-laki itu menilik setiap lekuk wajah perempuan disampingnya. "Maaf, saya tidak maksud melihat kamu seperti itu." Ucap Zufar sadar, dan kembali meluruskan pandangannya. "Saya ingat, dan saya ingat juga, kamu adalah pasien yang lari karena melihat dokter yang akan mengobati kamu itu saya." Jelas Zufar. Yaa, ingatannya benar-benar tersinkron. Sarah diam. Dan pintu lift pun terbuka. Perempuan itu pun beranjak keluar. "Mari Pak, Assalamualaikum." Sarah pergi, meninggalkan Zufar yang masih menunggunya berbicara, tapi malah ditinggal. "Waalaikum salam." Zufar beranjak pula, melangkah keruang direktur utama, tentunya ruang Umiknya, Fara. "Pak Zufar." Suara lembut teedengar dari balik tubuh Zufar. Dan laki-laki itupun segera berbalik. "Iya Adibah?" Ucap Zufar yang mengetahui siapa yang sudah memanggilnya. "Pak Zufar mencari Bu Fara? Maaf tapi, Bu Fara sudah pulang." Ucap Adibah. "Oh ya? Kenapa tidak bilang sama saya?" Tanya Zufar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD