PART 6 - NAILA

772 Words
Perempuan berjilbab biru bemotif bunga-bunga sedang duduk disebuah cafetaria yang ada disamping rumah sakit. Seorang ibu-ibu menghampirinya dengan membawa nampan berisi jus jambu kesukaannya dan satu gelas s**u putih. "Ini nak, jus jambu dan s**u putihnya." Ucap ibu-ibu itu ramah. "Terimakasih bu..." "Jam segini biasanya sudah tidak ada dokternya loh nak." Ucap ibu-ibu itu lagi. Dia seperti sudah tahu betul dengan rumah sakit yang ada disampingnya ini. Sarah hanya tersenyum. "Memangnya jam berapa kalau saya bisa bertemu dengan dokternya Bu?" Tanya Sarah. "Yaa kalau jam-jam kerja saja nak, jam delapan sampai empat sore. Kalau jam tujuh malam kayak gini, sudah pulang dokternya." Ucap ibu-ibu itu antusias menjelaskan. "Begitu ya Bu?" "Iya nak..." Jawab ibu-ibu itu, dan dibalas senyuman oleh Sarah. Tidak lama kemudian, wanita itu berbicara kembali, tapi dengan pandangan yang tidak lagi kearah Sarah, namun ke sosok laki-laki yang sedang berjalan kearahnya sembari membawa tas berbentuk koper kerja. "Dokter belum pulang?" Sapanya wanita itu, dan berhasil membuat Sarah mendongakkan kepalanya. Dan yang pertama kali ia dapatkan adalah senyuman manisnya yang terurai dari bibirnya dibawah cahaya yang mulai meremang. "Belum Bu, masih ada satu pasien yang harus saya periksa. Dan sekarang sudah selesai..." Ucapnya ketika tanpa disadari seorang gadis kecil berlari kearah Sarah setelah melepas genggamannya dari laki-laki yang mengantarkannya. "Tolong buatkan kopi s**u jahe biasanya ya Bu." Tambahnya, dan ibu-ibu itu segera bergegas pergi kedalam stan berukuran persegi. "Naila, dia adikmu? Atauu, anakmu?" Tanya Zufar setelah mengambil posisi duduk berhadapan dengan Sarah yang sekarang sedang sibuk meminumkan segelas s**u putih ke gadis kecil bernama Naila. Sekilas perempuan itu tersenyum. "Dua-duanya." Jawabnya yang kembali fokus meminumkan s**u. "Kenapa bisa begitu? Bisa beritahu alasannya?" Tanya Zufar semakin penasaran. "Dokter yang mesti beritahu ke saya, kenapa sekarang bukan Dokter Evan lagi yang mengecek kesehatan Naila?" Ucap Sarah. "Baiklah akan saya beritahu, Dokter Evan sedang dalam masa prakteknya diluar negeri, jadi sementara pasien kanker yang dalam penangannya dialih pindahkan menjadi saya yang menangani. Sudah mengerti kan? Sekarang coba jelaskan apa maksud dari jawabanmu tadi?" Ucap Zufar. Sarah mengernyitkan dahinya sekilas kemudian mulai membuka suara, setelah selesai memberi minum Naila, dan sekarang gadis kecil itu sedang bermain boneka kesayangannya. "Kenapa Dokter seperti ingin tahu sekali?.. Oke, aku akan memberi tahu alasanku kenapa aku menganggap Naila sebagai adik juga sekaligus anakku." Ucap Sarah mulai membahas topik yang sekarang sedang Zufar ingin tahu sekali jawabannya, karena setiap dia temui di rumah sakit, Naila selalu ditemani oleh Sarah. "Aku mempunyai kakak perempuan, dan dia adalah ibu dari Naila, suatu ketika kecelakaan menyebabkan ibunya juga ayahnya meninggal, saat itu aku merasa terpuruk, sedih memikirkan gadis kecil seumuran dirinya yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya malah ditinggalkan oleh mereka. Tapi gadis kecil inilah yang menyadarkanku, dia mengusap airmataku dan bicara dengan sangat manis kalau kedua orangtuanya sudah bahagia di Jannah-Nya, meyakinkan aku kalau semua ini akan ada hikmahnya, begitupun juga dengan kenyataan kalau dia sedang mengidap kanker otak. Apa Allah sedang mengujinya lagi? Menguji gadis kecil yang seharusnya dimasanya ini penuh dengan kebahagiaan." Ucap Sarah yang diakhir katanya berlinang airmata, dan segera mengusapnya, karena tidak ingin keponskannya itu mengetahuinya sedang menangis. "Tapi ketika melihat Naila, aku ingat, Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa menguji hamba-hambaNya untuk menilai siapa yang memang benar-benar memiliki ketulusan iman. Siapa di antara hamba-hambaNya yang sabar, yang sanggup bertahan, karena dengan itu Allah sangat mencintaiku, dan sangat dekat denganku juga Naila." Ucapnya lagi, yang mencairkan rasa menggebu-gebunya. "Laa ba'sa thahuurun, insya Allahu ta'ala" Ucap Zufar yang membuat hati Sarah tiba-tiba dingin. Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam saat beliau menjenguk orang sakit. Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam senantiasa mengucapkan, "Laa ba'sa thahuurun, insya Allahu ta'ala" Tidak mengapa, insya Allah menjadi pembersih atas dosa-dosamu. Inilah yang dimaksud bahwa Islam memandang sakit bisa bermakna cinta. Cinta dari Sang Ilahi agar hambaNya tidak mendapatkan azab di akhirat, maka Dia membersihkan segala noda dan dosanya di dunia. "Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam pernah bersabda, 'Sesungguhnya besarnya pahala sangat ditentukan oleh besarnya cobaan. Dan jika sekiranya Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji dan memberikan cobaan kepada mereka.' jadi musibah apapun itu, selalu anggaplah itu bentuk cinta dari Allah... Seperti artinya, Naila adalah karunia yang sangat berharga, yang dihadiahkan oleh Allah untuk kalian." Ucap Zufar. Yang berhasil membuat Sarah tersenyum. "Besok kembali lah kerumah sakit dengan Naila." Tambah Zufar. "Tapi, besok tidak ada jadwal kontrol Dok." Jawab Sarah. "Tidak, aku tidak sedang ingin mengecek kesehatannya. Aku hanya ingin mengajaknya ke seseorang." "Tapi apa aku boleh ikut mengawasi Naila?" Tanya Sarah. "Tidak perlu, kamu sedang sibuk dikantor. Biar Naila, aku jemput dan aku antar pulang. Kamu tidak perlu khawatir." Ucap Zufar meyakinkan. Sarah beralih pandangannya kearah Naila yang sedang duduk disampingnya membawa boneka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD