PART 7 – BUNGA MAWAR

1059 Words
"Umik tidak salah memilihmu menjadi sekretaris, kamu perempuan yang baik." Ucap Zufar sembari menyecap kopi disebuah cangkir. Dan perempuan yang ada didepannya itu tersenyum begitu manis. Mendengar sanjungan yang dilontarkan untuknya dari bibir laki-laki yang sejak pertama bertemu sudah membuatnya merasakan sesuatu yang aneh dihatinya, begitupun sekarang, ketika mereka sedang makan berdua setelah pulang kerja, hanya sekedar makan, ini sebenarnya bukan hal yang sudah direncanakan, tapi karena Umiknya yang belakangan ini selalu pulang duluan dan tidak mengabari Zufar. Membuatnya harus mengantarkan Adibah, sebagai seorang perempuan yang tidak boleh pulang sendirian dimalam hari. "Terimakasih sekali Pak Zufar sudah repot-repot mengantarkan saya pulang." Ucap perempuan itu yang sadar dari rasa tersanjungnya. Cepat-cepat beristighfar karena rasa bangganya setelah disanjung. Ini tidak benar, karena sanjungan itu bukanlah untuk dibanggakan, melainkan sebagai patokan untuk semakin baik. "Aku rasa kita seumuran, jadi tidak perlu bicara seformal itu denganku." Ucap Zufar. "Tapi Pak Zufar anak dari pemilik perusahaan tempat saya bekerja Pak." Suaranya benar-benar bening, dan membuat Zufar mendongakkan wajahnya untuk melihat perempuan yang sedang berbicara didepannya. Tidak hanya baik, perempuan itu juga memiliki wajah yang cantik, dengan balutan hijab berwarna coklat membentuk wajahnya yang oval dan hidung diantara pipinya yang merah terlihat mancung. "Aku anaknya, bukan termasuk bos didalamnya kan? Denganku, bersikap biasalah." Ucap Zufar yang kembali menundukkan wajahnya, mencoba mengecek ponselnya yang sedari tadi berdering. 1 pesan dari Umik Umik : Zufar, maaf Umik lupa mengabarimu. Umik sudah pulang duluan. Kamu langsung pulang saja ya nak. "Pasti dari Bu Fara ya Pak?" Ucap Adibah. Dan Zufar mengedikkan alisnya, tanda ada yang aneh dengan kalimat Adibah tadi. "Maksud aku, Kak Zufar." Zufar tersenyum simpul kemudian mengangguk. "Apa kamu sudah selesai makannya?" "Oh sudah kok." "Kalau gitu kita pulang ya?" "Iya Kak, sekali lagi maafkan merepotkanmu." Zufar kembali tersenyum dan berdiri, melangkahkan kakinya kekasir untuk membayar. Meninggalkan perempuan yang sekarang baru tersadar kalau sedang terpesona oleh laki-laki yang begitu baik dengannya. *** "Bun, Doktel Zuf baik sekali ya. Nai dapet otlat." Ucap gadis kecil dengan logat khas anak kecil berusia empat sampai lima tahun. Dan otlat adalah plesetan dari coklat, oh bukan plesetan, memang gadis itu menyebutnya otlat. Sarah tersenyum. Dan mengusap puncak kepala gadis kecil itu. "Nai sudah bilang terimakasih sama Pak Dokternya?" Tanya Sarah sembari membukakan bungkus coklat. Dan gadis kecil itu dengan antusias mengangguk. "Nai bilang. Makaci pak Doktel. Telus, Pak Doktelnya nyuluh Nai manggil Doktel Zuf." Jelas Naila. Yang berhasil membuat Sarah gemas dengan omongannya yang masih cadel. "Dokter Zuf ya? Bagus namanya." Ucap Sarah sembari menyodorkan coklat batang ke Naila. Dan gadis itu memakannya dengan lahap. "Nai, ingat. Setelah makan coklat, harus langsung sikat gigi ya." Sarah berdiri untuk mengambilkan air putih digelas untuk gadis kecil yang sangat dia sayang. Seperti ada tanggung jawab yang sedang dia pikul sekarang. Setelah selesai mengambil minum dan memberikannya pada Naila. Sarah berjalan keambang pintu, matanya menelusuri setiap bagian jalan yang ada didepannya, namun yang dia cari belum muncul, atau mungkin enggan untuk muncul. Itu karena dirinya, perempuan yang tidak tahu diri sudah masuk dalam kehidupan seseorang yang bahkan tidak pernah mengharapkannya. Dan perempuan itu masih tidak ada habisnya memandang jalanan didepan rumah yang mulai sepi dari lalu lalang kendaraan ataupun orang yang berjalan. "Bun, Nai ngantuk." Ucap Naila setelah selesai makan coklat dan berjalan kearah Sarah yang masih sibuk dengan pandangannya menelusuri jalan. "Kalau gitu kita tidur yuk." Ucap Sarah sembari menggendong gadis kecil itu kekamar mandi dulu, lalu membawanya keruangan berbentuk persegi yang dirombaknya dengan penuh bintang-bintang didinding juga tirai yang ada dijendela kamarnya. Sebuah pot kecil terlihat indah oleh bunga mawar berwarna putih didalamnya, disamping jendela yang setiap pagi memancarkan sinar matahari dari luar. Entah kenapa, tumbuhan itu tidak pernah habis bunganya, meski matahari dan udara tidak menghampirinya dengan sempurna. Kini Naila dan Sarah ada didepan jendela itu, sudah termasuk rutinitas untuk mereka setiap malam sebelum tidur. Memperhatikan dua ciptaan Tuhan yang selalu membuatnya merindukan malam. Bunga mawar putih, juga langit yang berpandaran cahaya bulan juga bintang. Sarah mengedarkan pandangannya ke gadis kecil yang sedang terlihat bahagia melihat kelangit. Matanya beralih ke bunga mawar putih yang ada disamping Naila. Bunga mawar yang terlihat cantik, namun sebenarnya ada begitu banyak duri ditubuhnya. Tapi cobalah lihat, apa mawar itu terlihat kesakitan? Tidak, tidak pernah. Duri itu tidak pernah menyakiti dirinya sendiri. Begitupun dengan gadis kecil yang selama ini dirawatnya, meski penyakit yang menyerangnya begitu ganas dan sewaktu-waktu bisa membunuhnya, tapi dia terlihat kuat, kuat seperti dihidupnya hanya ada kebahagiaan dan rasa senang. Apa gadis kecil yang tegar sepertinya, akan ditakdirkan untuk lebih dulu dijemput-Mu ya Rabb? Dengan perjuangannya untuk hidup, dengan keceriaannya menghadapi semua rasa sakitnya. "Bun..." Suara lembut khas anak kecil tiba-tiba menyadarkan lamunan perempuan itu. Matanya yang sudah sembab oleh airmata, segera dihapusnya. "Iya Nai?" "Abi sama Umik sekalang ada di sulga Allah kan?" Dengan lugunya, Naila bertanya. Sarah tersenyum simpul. "Naila kan pernah bilang, kalau Abi sama Umik sudah ada disurga. Mereka sudah bahagia karena melihat putrinya yang cantik dan selalu berdoa untuk kedua orangtuanya." Naila tersenyum. "Tapi Nai kangen sama Abi dan Umik." Naila menunduk. Wajar, meski Sarah sudah merawat dan selalu membuatnya merasa senang, rasa antara orangtua juga anaknya tidak akan ada yang mampu menandinginya. "Bunda punya cerita, Nai mau mendengarnya?" Tanya Sarah. Dan gadis itu mendongakkan wajahnya, melihat kearah perempuan cantik itu yang sedang mulai bercerita. Naila terlihat begitu antusias. "Dulu, ada dua sahabat Nabi saw. yang saling bersahabat, mereka adalah Auf bin Malik dan Sha'b bin Jutsamah. Tidak lama kemudian Sha'b meninggal dunia, dan dia datang ke mimpi Auf, Auf pun melihatnya di mimpi dan keduanya mulai berbincang. Didalam mimpi itu, Sha'b berkata kalau semua kabar tentang keluarganya sepeninggalnya, seluruhnya sampai kepadanya, bahkan kucing mereka yang barusan mati beberapa hari lalu, akan sampai padanya. Dan setelah itu Auf bergegas ke rimah Sha'b dan bertanya pada Istri Sha'b, apakah terjadi sesuatu di rumah ini? Istri Sha'b menjawab, tidak terjadi apa-apa, kecuali kucing yang mati beberapa hari lalu. Jadi, orang yang sudah meninggal akan sangat dekat dengan kita, saat kita sedang tidur. Dan mereka akan datang dimimpi kita." Jelas Sarah. "Kalau gitu, Nai mau tidul." Ucap Naila yang langsung pergi keranjang, dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang lembut. Tidak butuh waktu lama untuk Naila tertidur, mata mungil gadis kecil itu perlahan menyipit dan terlelap dalam gelapnya malam. Tapi tiba-tiba sinar yang silau, menyilaukan mata Sarah yang sedang ikut terbawa ketenangan tidurnya Naila, sinar itu berasal dari pintu yang terbuka. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD