PART 8 - GORESAN

1101 Words
"Adibah, dimana Sarah?" "Kak, aku tidak yakin bisa sekuat Naila, gadis kecil itu." Ucap Anisa ketika Zufar mencoba memeriksanya. Laki-laki itu tersenyum. Setelah seharian kemarin mengajak Naila untuk menemui Anisa, dan secara perlahan memberitahukannya tentang penyakit yang sedang dideritanya. Akhirnya Anisa bisa berlapang d**a menerima penyakitnya, setelah melihat gadis kecil bernama Naila mempunyai semangat hidup yang lebih dari padanya. "Naila, sekecil itu saja bisa, apalagi kamu Anisa. Yang terpenting sekarang, kamu meyakini bahwa tidak ada cobaan yang tidak bisa dilalui oleh hamba-Nya. Dengan penyakit itu, Allah melebur segala dosa-dosa dimasa lalumu. Seperti Hadist Riwayat Al-Hakim yang dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Shohih Jami'is Shoghirno. Bahwa sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji hamba-Nya dengan penyakit, sehingga ia menghapuskan setiap dosa darinya." Ucap Zufar yang membuat Anisa berkaca-kaca matanya. "Aku akan jauh lebih kuat, kalau Kak Zufar ada didekatku." Ucap Anisa tanpa sadar. "Apa?" Zufar pura-pura tidak mendengar. Sering sekali pasiennya berkata itu, karena menganggap Zufar adalah dokter yang baik dan bisa mengerti pasiennya. "Tidak, maaf Kak." Anisa sadar dia salah berkata. Tok tok tok Terdengar suara ketukan dari luar kamar rawat. "Itu pasti Ibu kamu." Ucap Zufar sembari tersenyum kearah Anisa. Dan suara pintu terbuka pun terdengar. Namun, pandangan perempuan itu langsung berubah dari sebelumnya setelah mengetahui siapa yang sedang masuk kekamar rawatnya. Seperti ada rasa benci yang amat dalam, terlihat dari wajahnya yang memerah dan matanya yang membelalak tidak suka. "Assalamualaikum." Suara lembut terdengar, dan begitu familiar ditelinga Zufar. Laki-laki itu segera menoleh, mencari sumber suara yang membuatnya penasaran. "Waalaikumsalam warrahmatullah." Jawab Zufar, tidak dengan Anisa. Perempuan itu sama sekali tidak mengeluarkan suaranya ketika mengetahui siapa yang datang untuk menjenguknya. "Kak Zufar." Ucap perempuan yang tadi datang, setelah melihat siapa dokter yang sedang memeriksa Anisa. "Adibah." Layaknya Adibah, Zufar juga heran. Ada hubungan apa antara Adibah dan Anisa? Perempuan itu melangkahkan kakinya, dengan sekeranjang buah ditangannya. "Maaf Anisa, aku baru bisa menjengukmu sekarang." Ucap Adibah lembut, namun Anisa tidak membalasnya, bahkan dengan senyuman saja dia enggan menampakkannya. "Aku bawakan buah untukmu." Ucap Adibah lagi dengan senyumannya. "Gue nggak butuh apapun dari lo! Dan gue juga gak berharap lo dateng jenguk gue!" Ucap Anisa ketus. Yang sontak membuat Zufar menoleh ke perempuan itu. Wajahnya memerah, bak seperti api yang membara sedang membakar hatinya. Dilihatnya perempuan yang ada diseberang sedang meletakkan keranjang buah itu diatas nakas, wajah perempuan itu tidak berubah bahkan terlihat santai dan tetap tersenyum. "Tanpa kamu berharap pun, aku akan tetap menjengukmu Anisa..." Ucap Anisa setelah meletakkan keranjang buah dan beranjak mendekat kearah Anisa dan Zufar yang sedang memasang infus. Anisa melengos, tidak perduli dengan semua yang dikatakan Adibah. "Dokter, bagaimana keadaan Anisa sekarang?" Tanya Adibah dengan bahasa formalnya. Zufar mengernyitkan alisnya. Kenapa perempuan yang sekarang sedang ada diseberangnya seperti tidak mengenalinya? Apa yang sebenarnya dia sembunyikan? Adibah menyimpulkan senyumnya kearah Zufar, seperti memberi kode. Entahlah apa maksud dari kode itu, tapi kali ini laki-laki itu akan mengikuti apa yang dimau oleh perempuan yang sedang menyembunyikan sesuatu. "Baik, keadaan Anisa sudah mulai membaik. Tapi setiap hari dia harus tetap dikontrol." Jawab Zufar. "Tuh Anisa kamu dengarkan, keadaanmu sudah membaik. Kamu harus menjaga kesehatanmu ya." Ucap Adibah sembari menyentuh tangan perempuan yang terbaring diatas ranjang ssmbari membuang muka padanya. Namun saat tangan Adibah mwnyentuh lengan Anisa, perempuan itu menampiknya, sampai-sampai membuat Adibah yang tadinya terlihat santai, melonjak kaget. "Berhenti drama lo! Jangan hanya karena ada orang lain, lo pura-pura sok peduli sama gue!" Sentak Anisa kearah Adibah. "Anisa, aku hanya..." Adibah mencoba menjelaskan tapi perempuan yang emosinya mulai memuncak itu tidak peduli dengan semuanya. "Lo tidak ada bedanya dengan orang munafik! Didepan gue lo sok malaikat, tapi sebenarnya lo pengen hidup gue hancur kan? Apa lo belum puas setelah lo ngambil semuanya dari gue? Ayah gue? Kebahagian gue? Lo seneng haa? Lo seneng hidup gue seperti ini? Lo seneng gue bisa mati sewaktu-waktu? Setelah lo ngambil kebahagian gue, lo juga pengen gue diambil oleh..." Anisa benar-benar tidak terkendali. "Cukup! Anisa berhenti." Ucap Zufar diperkeras. Disisi lain, dia takut kesehatan Anisa kembsli drop, tapi disisi lain pula, dia tidak mau perempuan yang ada diseberangnya mendapat hinaan dari Anisa. "Kamu harus jaga emosimu, kesehatanmu belum benar-benar pulih." Tambah Zufar. "Aku pulang dulu Anisa, maaf aku sudah mengganggumu. Maaf maaf." Ucap Adibah pamit, tidak perduli Zufar yang masih menenangkan Anisa. Perempuan itu melangkahkan kakinya lebar, untuk cepat-cepat keluar dari kamar rawat Anisa. "Tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu Anisa." Ucap Zufar selepas kepergian Adibah. "Kak Zufar tidak tahu apa-apa.. Aku mau sendiri." Ucap perempuan itu. "Baiklah, setelah ini Ibumu akan kesini kok." Ucap Zufar. "Assalamualaikum." Setelah merapikan peralatannya, laki-laki itu segera berpamitan dan cepat-cepat keluar. Entah kenapa perasaannya khawatir dengan perempuan yang tidak lama sebelumnya keluar. Setelah Zufar sudah berada diluar kamar, matanya menelusuri tiap lorong yang ada dikiri dan kanannya. Mencari perempuan yang seharusnya masih ada disekitar situ. Dan benar, matanya menangkap perempuan itu sedsng berjalan pelan dilorong kanan. "Adibah." Panggil Zufar yang sudah berhasil menjangkau Adibah. Merasa namanya dipanggil, perempuan itu segera membalikkan badannya kearah sumber suara. Dilihatnya seorang laki-laki dengan tegapnya sudah berdiri dibelakangnya, yang tidak luput dengan wajah cemasnya. Kecemasan laki-laki itu semakin bertambah ketika melihat Adibah terisak dengan airmata yang sudah membanjiri pipinya. "Kamu menangis?" Tanya Zufar. Mengetahui Zufar melihatnya menangis, Adibah dengan segera mengusap airmatanya. Seharusnya dia bisa tegar, setegar didepan Anisa. Adibah menggeleng. "Menangislah, tidak apa-apa." Tambah Zufar. "Tidak, aku tidak menangis Kak." Elak Adibah tidak mengakui kalau dirinya sekarang sedang sangat menyedihkan. "Apa aku bukan orang yang kamu percaya untuk tempatmu menangis?" Ucapan Zufar benar-benar menyentil hati Adibah. Percaya, aku percaya. Namun aku takut, rasa percaya itu akan menyakitkan nantinya. Ucap lirih dalam hati Adibah. "Bukan itu maksudku Kak." Ucap Adibah salah tingkah, merasa tidak enak dengan Zufar. Zufar tersenyum. "Kamu sudah mau pulang?" Zufar mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau Adibah tidak nyaman berbicara dengsnnya. "Iya Kak, sebenarnya aku masih mau disini, tapi..." Perempuan itu kembali terlihat bersedih. "Pulang naik apa?" Tanyanya lagi, tidak perduli dengan jawaban yang akan membuat perempuan itu kembali bersedih. "Seperti biasanya Kak, taksi atau angkot bisalah." Jawab Adibah. "Berhubung kamu bertemu denganku, kamu harus pulang bareng denganku." Ucap Zufar. Yang berhasil membuat Adibah terhenyak. "Kamu memaksaku Kak?" Tanya Adibah dengan mengerutkan keningnya. "Ada yang gratis, kenapa tidak?" Ucap Zufar sembari alis sebelahnya terangkat. Membuat Adibah tersenyum geli. "Tapi kamu masih ada pasien Kak, nanti malah membuatmu terburu-buru." Jawab Adibah. "Sekarang jam kontrolnya sudah selesai kok, dan aku tinggal prepare untuk pulang. Jadi tidak ada yang merasa dibebani kan?" Jelas Zufar. Adibah kembali tersenyum. "Baiklah kalau begitu, aku nurut." Ucap Adibah pasrah. Kenapa laki-laki itu selalu baik denganku, apa dia tidak sadar, rasa lain muncul dari persembunyian hati ini. Gumam Adibah dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD