PART 9 – PERSEMBUNYIAN HATI

1050 Words
"Aku memang perusak hidupnya, perebut kebahagiaannya. Mulai dari Ayahnya, kasih sayangnya, sampai penyebab penyakitnya." Ucap perempuan dengan suara seraknya, yang kini sedang duduk didepan Zufar dengan pandangan yang nanar. Kini mereka sedang berada di cafetaria dekat rumah sakit. Zufar berinisiatif mengajaknya untuk mampir makan, dan memberi waktu untuk Adibah bisa dengan leluasa menceritakan setiap unek-unek dihatinya, dia ingin dirinya bisa menjadi tempat perempuan itu untuk mencurahkan semua sakit yang membebani hati. "Bukan, kamu salah... Penyakit itu sama sekali tidak ada keterkaitannya dengan masalah itu." Jelas Zufar. "Ya, tapi yang lainnya, memang semua karenaku. Kalau saja aku dan Ibuku tidak hadir disaat kebahagiaan mereka terukir nyata, hidup Anisa tidak akan sesulit ini. Dia tidak akan merasakan semua rasa sakit ini." Perempuan itu masih berdalih menyalahkan kedatangannya dihidup Anisa. "Adibah, ketika seseorang mencintai orang yang salah, akan ada seseorang yang datang sebagai penggantinya. Mungkin pernikahan Ayah dan Ibu Anisa sama sekali tidak ada kebahagiaan didalamnya, dan disaat Ibumu datang, Ayah Anisa sadar kalau kebahagiaannya ada saat bersama orang lain. Ini bukan tentang rasa egois salah satu orang, tapi ini takdir, dan jodoh. Meski mereka sudah terikat dalam sebuah pernikahan, tapi itu bukan menjamin seseorang berjodoh. Karena Jodoh itu bukan Menyatukan dua hati yang berbeda, tetapi menyatukan satu hati yang terbelah menjadi dua." Jelas kembali Zufar yang mencoba menenangkan hati Adibah. "Kalau memang begitu, kenapa Allah menyatukan mereka disaat Ayahnya Anisa sudah mempunyai keluarga, dan sekarang? akhirnya malah menyakiti semua orang." Ucap Adibah gusar. "Kamu menyalahkan Allah?" Adibah terhenyak. "Kamu menyalahkan Allah?" Tanya Zufar lagi. "Allah yang membuat hati, Allah yang mempertemukan dan Allah pula yang menyatukan. Lalu kamu menyalahkan Dzat pemilik hati ini? Begini Adibah, kamu hanya melihat dari sisi dimana kamu dan Ibumu datang. Apa kamu pernah berfikir kehidupan mereka sebelum kalian datang? Mungkin saja mereka hidup dalam kebohongan, berbohong dengan hati mereka masing-masing." Zufar bukan ingin menghakimi Adibah, tapi perempuan itu terlampau menyalahkan dirinya sendiri. "Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang Kak? Dunia sudah menerima keluargaku, bahkan Ibu Aminah sendiri sudah mengikhlaskan dan mendukung kami. Tapi kenapa Anisa, masih begitu benci dengan aku dan Ibuku." Ucap Adibah dengan wajah gusarnya. "Dia tidak benci, dia hanya belum bisa menerima ini semua. Caramu tadi untuk menjenguk Anisa sudah benar meski dengan balasan seperti halnya Anisa lakukan tadi." "Aku tidak apa-apa Kak, kalau memang dengan cara itu Anisa mau memaafkan dan berbaik hati denganku, aku mau diperlakukan seperti tadi, sampai rasa tidak terimanya terhadapku habis." Zufar tersenyum. Perempuan didepannya begitu lugu, karena rasa bersalahnya dia mau melakukan apapun, meski itu bukan mutlak kesalahannya. Laki-laki itu masih menunduk, tidak berani memandang Adibah. "Aku akan bantu kamu, setiap pulang kerja datanglah kerumah sakit. Aku akan mengatur cara untuk kalian bisa bertemu." Ucap Zufar yang berhasil membuat Adibah menoleh kearahnya. Laki-laki itu begitu baik, apa itu hanya denganku saja? Atau semua orang? Tolong Zufar, jangan buat aku semakin membiarkan rasa ini tumbuh. Ucap Adibah dalam hatinya. "Terimakasih Kak, kamu begitu baik denganku. Entah bagaimana caranya aku bisa membalasnya." Kamu bisa membalasnya dengan sedikit menilik hatiku Adibah. Kini batin Zufar yang berbicara. "Tidak, kamu tidak perlu membalas apapun." Jawab Zufar. *** "Kak Zufar." Panggil seseorang dengan suara gemanya yang bariton. "Ilham." Zufar menoleh kearah laki-laki yang sekarang sedang melambaikan tangannya disebuah sofa merah. Dan segera melangkahkan kakinya kesana. Hari ini, hari libur memperingati Maulid Nabi. Zufar sengaja mengajak Ilham dan Naufal ketemuan di restoran yang tidak jauh dari tempat kerja Umiknya, untuk mengundang mereka sholawatan dirumahnya nanti sore, sekalian kumpul mumpung hari libur. "Naufal mana?" Tanya Zufar setelah sampai di sofa merah yang khusus dipesan mereka. Ternyata Ilham datang lebih awal dari Zufar ataupun Naufal yang sampai sekarang belum terlihat batang hidungnya. "Entahlah, yang buat janji siapa yang dateng terlambat siapa." Gerutu Ilham yang membuat Zufar tertawa geli. "Sifatmu sudah terinfeksi sama istrimu ternyata." Goda Zufar. "Ya begitulah rasanya punya istri." Jawab Ilham dengan wajah penuh tanda tanya. Zufar mengerutkan keningnya. "Kamu menyindirku?" Ucapnya setelah tahu arah pembicaraan Ilham yang sebenarnya. "Ya begitulah." Jawab Ilham dengan wajah yang terlihat menggemaskan. "Naufal mana sih?" Tanya Zufar sembari matanya tertuju pada pintu masuk. "Mungkin masih rindu dengan istri barunya." Celetuk Ilham. "Oh iya, dia sudah menikah ya?" Tanya Zufar. "Dia temanmu, tapi kamu tidak tau Kak? Astaghfirullah." "Bukan begitu, tapi dia..." Zufar menimang lagi kata-katanya. Bagaimana dia mengatakan sesungguhnya, baiklah, dia tahu sekali sepupunya itu sangat bisa menjaga rahasia, dan dia begitu percaya akan hal itu. Tapi mulai dari mana. "Sorry bikin kalian nunggu lama." Ucap seseorang dari balik tubuh Zufar yang berhasil mengejutkan mereka berdua. Laki-laki itu sibuk dengan ponsel yang ada ditangannya. "Lo sibuk Fal?" Tanya Zufar yang melihat Naufal sedang sibuk dengan ponselnya. "Sedikit. Ada perlu apa lo nyuruh gue kesini?" Tanyanya sembari duduk disamping Ilham. Tiba-tiba Ilham menyodorkan tangannya kearah Naufal yang masih sibuk dengan ponselnya. Mengetahui sikap aneh sepupu dari sahabatnya itu, membuatnya mengernyitkan dahi. Ilham tersenyum. "Selamat Kak. Selamat menempuh hidup yang baru, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah." Ucap Ilham. Tangan laki-laki itu disambut oleh Naufal namun tidak dengan raut wajahnya, dia hanya tersenyum miring membalas ucapan selamat dari Ilham kemudian sibuk dengan ponselnya lagi. Ilham yang bingung dengan sikap sahabat sepupunya itu membuatnya menoleh kearah Zufar dan memberi isyarat agar segera menjelaskan apa yang sudah terjadi. "Oh ya, gue minta maaf Fal. Gue gak bisa dateng dipernikahan lo." Tambah Zufar. "Memang sebaiknya gitu. Sekalian jangan ada yang dateng." Jawab Naufal. Dan Ilham sekarang tahu apa maksud dari kalimatnya itu. "Maaf Kak Naufal, tapi aku boleh berbicara tentang hal itu? Begini, Walimatu al-'urs atau resepsi pernikahan. Hal ini merujuk kepada sebuah keterangan tentang sebuah perintah Nabi saw kepada Abdurrahman bin Auf ra. saat selesai akad nikah. Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum mengadakan walimah adalah sunnah muakkad. Sunnah yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dan seharusnya Kak Naufal senang jika banyak yang hadir, bukan sebaliknya." Jelas Ilham. "Lo bener Ham. Tapi itu untuk pernikahan orang lain, bukan pernikahan gue." Jawab Naufal keras kepala. "Udah lah jangan bahas hal itu, ada perlu apa kalian nyuruh gue kesini?" Tambah Naufal, sepertinya laki-laki itu sedang tidak mood untuk berbicara. "Mmm, nanti sore ada acara sholawatan dirumah gue. Lo bisa dateng kan?" Jelas Zufar. Naufal terlihat menimang. "Gue usahain dateng, gue lagi sibuk banget nih. Gue balik dulu ya, gak apa-apa kan?" Ucap Naufal, laki-laki itu terlihat buru-buru. "Oh oke, gak apa-apa." Jawab Zufar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD