PART 10 - PENGGANTI

954 Words
Malam ini diseluruh masjid maupun musholla, berlomba-lomba untuk menggemakan lantunan sholawat yang dihadiahkan untuk junjungan para muslim, Nabi Muhammad SAW. Rasul Allah yang sangat mencintai umatnya, dengan penuh pengharapan agar kelak umatnya dilingkupi dengan kesejahteraan dan kehidupan yang damai.   Salah satu refleksi dari kecintaan seseorang kepada Baginda Nabi Muhammad SAW adalah membaca shalawat untuknya. Hal ini dipertegas dalam Alquran surah al-Ahzab ayat 56. Bahwa sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. Dengan membaca sholawatpun akan senantiasa mendapatkan cinta Rasulullah sollallohu 'alaihi wa sallam bahkan bertambah dan berlipat ganda. Dan itu termasuk ikatan Iman yang tidak sempurna kecuali dengannya, karena seorang hamba bila senantiasa menyebut nama kekasihnya, menghadirkan dalam hati segala kebaikan-kebaikannya yang melahirkan cinta, maka cintanya itu akan semakin berlipat dan rasa rindu kepadanya akan semakin bertambah, bahkan akan menguasai seluruh hatinya. Tetapi bila ia menolak mengingat dan menghadirkannya dalam hati, maka cintanya akan berkurang dari hatinya. Tidak ada yang lebih disenangi oleh seorang pecinta kecuali melihat orang yang dicintainya dan tiada yang lebih dicintai hatinya kecuali dengan menyebut kebaikan-kebaikannya. Bertambah dan berkurangnya cinta itu tergantung kadar cintanya di dalam hati, dan keadaan lahir menunjukkan hal itu. "Allohumma sholli 'ala sayyidina muhammad, bi adadi man sholla alaih.. Washolli 'ala sayyidina muhammad, bi adadi man lam yusholla alaih.." Suara yang lembut melantun dengan merdunya disudut keheningan yang mencoba merayapi hatinya.  Perempuan bernama Maisarah itu sedang duduk didepan rumahnya sembari menghadap kejalan, ditemani gadis kecil dipangkuannya. Mendengarkan lantunan sholawat yang tak jarang ditirukannya. "Washolli 'ala sayyidina muhammad, kama tuhibbu ayyusholla alaih.. Washolli 'ala sayyidina muhammad, kama amarta ayyusholla alaih.." Lanjut perempuan itu dengan matanya yang memejam, meresapi setiap kalimat yang bermakna menjunjung tinggi Rasul Allah. "wa 'ala alihi wa shohbihi ajmain.." Naila ikut melantunkan bait terakhir dari sayyidus sholawat tersebut. Yang membuat Sarah menunduk, memperhatikan Naila yang ada dipangkuannya sedang memejamkan matanya, menirukan apa yang dilakukannya tadi. Sarah tersenyum, gadis kecil itu tidak hanya kuat, tapi dia juga cerdas. Semoga Rasulullah mendoakan umat kecilnya ini, yang berharap penuh untuk kehidupannya nanti. "Subhanallah.." Suara bariton terdengar dari pelataran rumah perempuan itu. Dan dilihatnya, laki-laki bertubuh tegap dengan kemeja hitamnya sedang berdiri sembari menyunggingkan senyum manisnya. "Assalamualaikum." Tambah laki-laki itu. "Waalaikumsalam waarrahmatullah." Jawab Sarah. "Dokter, kemarilah." Gadis kecil itu segera berdiri dan berlari menghampiri Zufar yang masih tertegun ditempatnya. Naila menarik tangannya, dan membawanya ketenpat Sarah duduk. Melihat keponakannya yang dengan antusiasnya menarik Zufar untuk mendekat kearahnya, dia segera berdiri dan menyunggingkan senyum layaknya laki-laki itu. "Maaf mengganggumu." Ucap Zufar. "Tidak apa-apa Zufar, silahkan duduk." Jawab Sarah yang mempersilahkan Zufar untuk duduk diseberangnya. Dan Naila kembali kepangkuan Sarah. "Mendengarmu sholawatan, aku jadi ingat saudara sepupuku. Dia jago sekali masalah tilawah atau sholawatan." Zufar ingat Ilham. sejak SMA, Zufar sering main kerumah Ilham hanya untuk memintanya melantunkan sholawatan. Bahkan setiap Ilham diundang untuk tilawah diacara-acara, Zufar menyempatkan dirinya untuk menemani. "Dia pasti Ilham kan?" Tebak Sarah. "Loh, bagaimana kamu bisa tahu Ilham itu sepupuku?" Tanya Zufar yang heran saat perempuan itu tau sepupu yang disebutnya. "Iyalah, dia kan yang pernah kamu ceritakan. Kamu lupa?" Ucap Sarah mengingatkan. Dan Zufar menerawang, dimana saat berada dimobil untuk mengantar Sarah dan Naila pulang, dia pernah menceritakan sepupunya itu. "Oh iya aku ingat." Jawab Zufar langsung sembari cengengesan. "Tapi aku tidak pernah mendengar sholawat yang kamu lantunkan tadi Rah." Tambahnya. Sarah tersenyum sembari berdiri dan berjalan kearah rak yang berisi berbagai mainan. Dibawanya, dan diberikannya ke Naila. "Itu adalah Sayyidus Sholawat." Jawabnya singkat sembari kembali duduk diseberang Zufar. "Sayyidus Sholawat? Kenapa bisa disebut seperti itu? Bukannya sholawat itu sama saja?" Tanya Zufar. "Memang, Sayyidus Sholawat ini adalah Sholawat biasa, tapi mempunyai perbedaan, sama halnya dengan makhluk Allah yang tak selalu sama. Perbedaannya dengan sholawat yg lain adalah ketika membaca Sayyidus Sholawat ini berarti sama dengan membaca jutaan sholawat pada umumnya, serta yang dianjurkan oleh Nabi, sebagaimana hadist tersebut bukanlah jenis pujiannya tetapi berapa banyak jumlah sholawat yang diamalkan. Oleh karena itu sholawat ini di sebut Sayyidus Sholawat, rajanya Sholawat." Jelas Sarah. "Kalau begitu, kamu mau mengajariku lafal sholawatnya? Aku ingin membacanya." Ucap Zufar yang mulai tertarik dengan sayyidus sholawat itu. "Tunggu sebentar." Sarah segera membuka tas yang ada disampingnya, menarik kertas putih bertulis ayat-ayat. "Ini, sayyidus sholawat ijazah dari Kyai Imam Bukhori Al-Habsy Al-Ayubbi dari guru besarnya Syekh Al-Ayyubi di Mesir. Kamu bisa membacanya, setiap selesai sholat, insyaallah hatimu akan terasa lebih dekat dengan Rasulullah... Oh ya, itu dibawanya ada sayyidud dua', kamu juga bisa membacanya sebelum berdoa." Ucap Sarah. Zufar mengernyitkan dahinya. Dan Sarah tahu apa yang laki-laku itu mau. Menjadi temannya baru beberapa hari saja sudah bisa mengetahui apa yang diinginkannya. "Kyai Imam Bukhari Al-Habsy Al-Ayyubi itu ulama' besar yang dulunya menempuh S3 Ilmu Feqih di Mesir, yang juga sekaligus murid dari Syekh Al-Ayyubi. Beliau juga pemilik pondok pesantren Al-Azhar, dan sekarang sedang merintis Tahfidzul Quran. Dan insyaallah, Naila ingin mondok disana, sekaligus Tahfidz Quran. Menurut kamu gimana? Apa kesehatannya mendukung untuk dia mondok?" Tanya Sarah setelah menjelaskan tentang sejarah Sayyidus Sholawat, dan keinginannya untuk memasukkan Naila ke pondok pesantren. "Aku yakin, dia akan baik-baik saja. Atau bahkan dia akan kembali sehat, dengan bantuan doa dari Kyai-nya dan kesungguhannya... Aku yakin itu. Dan ini.." Zufar mengangkat kertas ditangannya, menunjukan ke Sarah. "Aku akan menghafalkan sayyidus sholawat ini, terimakasih ya sudah memberikan aku satu amalan yang akan menghantarkan aku pada kasih sayang dan naungan Rasulullah." Ucap Zufar dengan wajah sumringahnya. Sarah tersenyum. "Sama-sama, kapan-kapan aku akan mengajakmu ke pondok pesantren dan langsung bertemu dengan Kyai." Ucapnya. "Dengan senang hati.. Aku akan segera tagih janjimu itu." Ucap Zufar yang berhasil membuat Sarah tertawa geli. "Oh ya, nanti aku mau kamu sharing dengan sepupuku tentang sayyidus sholawat, dia juga pasti senang. Dan datanglah nanti sore kerumahku untuk sholawatan bareng. Ucap Zufar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD