Brandon menyiapkan makanan yang dibawa Pete ke peralatan makan, lalu membawanya ke dekat tempat tidur Anna.
"Aku suapi saja, tangan kanan mu masih di infus, pasti sulit untuk makan." Ucap Brandon. Anna hanya mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih." Ucap Anna. Brandon tersenyum sambil menyuapkan sesendok sup ke mulut Anna.
"Enak? kau suka?" Tanya Brandon sambil akan menyuapi Anna lagi.
"Enak, kau juga harus mencobanya." Sahut Anna lalu mengarahkan sendok ditangan Brandon ke arah mulut brandon.
"hm... Enak..tapi harus kau dulu yang makan, kau kan masih sakit." Ucap brandon. Anna tersenyum.
Selesai makan, Anna kembali berbaring di tempat tidur. Infusnya sudah hampir habis, tinggal beberapa tetes saja mungkin. Brandon mengamatinya sejenak lalu melepaskan jarum infus itu dari tangan Anna dan memakaikan plester pada bekas infus tadi.
"Kau sudah bisa bergerak bebas" ucap brandon tersenyum.
"Terima kasih, perawatan mu jauh lebih intens daripada perawat yang sesungguhnya." Ucap anna tertawa.
"Jangan mulai mengejekku, kau bisa membuatku kehilangan kendali." Ucap Brandon agak mengancam. Anna hanya tertawa.
"Kau istirahatlah, aku akan menonton tv di sampingmu." Ucap Brandon.
"Aku belum mengantuk, aku ingin membaca buku saja. Aku bawa diklat materi kuliahku, karena aku harus selalu siap jika dosen memberikan test dadakan. Aku tak mau beasiswaku dicabut." Ucap Anna seraya meraih sebuah buku di laci nakas samping tempat tidur.
"Dasar gadis kuper, kemanapun selalu membawa Diklat kuliah!" Brandon sinis melirik buku di tangan Anna. Anna hanya cuek saja, tetap membaca bukunya.
Brandon mengganti-ganti acara televisi, namun tak menemukan program yang cocok dan asik untuk ditonton. Gadis di sebelahnya lebih menarik untuk ditonton. Brandon bergeser mendekat ke Anna, menjulurkan wajahnya lebih dekat untuk mengintip isi dari bacaan Anna. Brandon membaca judul bab yang sedang dibaca Anna.
"Psikologi amarah orang sukses?!" Ucap Brandon sinis mencoba memancing perhatian Anna.
"Ish... Kau ini mengganggu saja!" Sahut Anna kesal sambil memukul lengan Brandon dengan bukunya.
Brandon hanya meringis namun senang berhasil mencuri sedikit perhatian Anna. Tapi kini Anna sudah kembali membaca bukunya lagi.
"Apa kau membacanya untuk mengatasi dirimu sendiri?!" Tanya Brandon menyindir, Anna tak menggubris.
"Tapi gak mungkin juga sih, mengingat sekarang kan kau belum jadi orang sukses." Lanjut Brandon terus mengganggu Anna.
Anna mulai kesal karena ocehan2 Brandon membuat fokusnya hilang dan tak bisa membaca lagi. Anna menutup bukunya lalu meletakkannya di meja nakas sebelah tempat tidur. Anna masih tak menggubris Brandon, Anna justru membaringkan tubuhnya dan menarik selimutnya.
"Kau mau tidur?" Tanya Brandon.
"hm..!" Sahut Anna singkat dan memejamkan matanya.
Tiba-tiba tangan Brandon bergerak menyusup diantara bantal dan kepala Anna, sedang tangan yang satu lagi mulai melingkar di pinggang Anna.
"Kemarilah, aku akan menjagamu." Ucap Brandon. Anna terkejut dan membalikkan badan menghadap ke brandon, melepaskan semua tangan brandon. Posisi mereka sangat dekat saat ini dan berhadapan.
"Awas kau kalau berani menyentuhku! Sana menjauhlah!" Ucap Anna kesal sambil menggerakkan tangannya memberi tanda untuk Brandon bergeser menjauh. Brandon tidak bergeser justru kembali memeluk Anna.
"Aku sudah beberapa kali menyentuhmu, kau ingat?!" Ucap Brandon memeluk erat Anna hingga Anna tak bisa meronta lagi.
"Tidurlah, aku akan menjagamu. Siapa tahu orang gila semalam itu datang lagi kemari." Ucap Brandon menakuti Anna. Anna langsung teringat kejadian semalam dan kembali merasa takut.
"Hii......, Kau jangan meninggalkan aku sendiri ya? Janji?!" Ucap Anna sambil merinding ketakutan.
"Janji! Aku gak akan pernah meninggalkanmu, kau milikku." Ucap Brandon dengan hati bergetar.
"Aku bukan milikmu!" Anna protes.
"Kau milikku!" Tegas Brandon tetap memeluk Anna.
Anna berusaha keluar dari pelukan Brandon. Lalu menatap Brandon.
"Sejak kapan aku jadi milikmu?!" Tanya Anna kesal. Brandon menatap Anna dan tersenyum.
"Sejak kau memberikan first kiss mu padaku." Sahut Brandon dengan santai. Anna semakin emosi dibuatnya.
"Aku tak pernah memberikannya padamu! Kau yang merampasnya dariku! Lebih tepatnya kau mengambil paksa dariku! Pencuri!" Seru Anna penuh kekesalan. Brandon hanya tetap tersenyum.
"Apalah itu namanya, yang jelas first kiss mu adalah milikku, bukan kekasihmu yang entah berada dimana, itu berarti kau milikku." Sahut Brandon tetap santai.
"Ish....aku bukan milikmu!" Seru Anna kesal.
"Kau milikku." Sahut Brandon.
Anna sangat kesal dan membuat Brandon tersenyum menang, karena ini yang Brandon rindukan dari tadi. Sepi rasanya jika Anna hanya diam membaca buku dan tidur.
"Kalau aku ini milikmu?! Lantas Apa kau juga jadi milikku hah?!" Seru Anna menantang tatapan mata Brandon.
Brandon tak sanggup membalas ucapan Anna. Brandon hanya menatap Anna mendalam. Brandon hanya diam, tangannya menyingkirkan rambut Anna dari keningnya dan akan mengecup kening Anna. Anna berusaha menjauhkan kepalanya, namun Brandon sudah memegang belakang kepala Anna. Anna tertahan tak bisa menjauh dan Brandon mengecup kening Anna dengan lama dan mendalam.
"Mungkin nantinya aku jadi milikmu, tapi sekarang tidak." Bisik Brandon setelah melepaskan kecupannya.
Anna merasa teriris hatinya, sakit nyeri. Anna menyadari Brandon masih mencintai Elsa. Air mata Anna mengalir tak mampu ditahan lagi. Brandon mengusap air mata di pipi Anna.
"Kenapa?" Tanya brandon lembut dan Anna menggelengkan kepalanya.
"Kau egois!" Sahut Anna lalu berdiri dan berlari ke kamar mandi.
Anna menangis deras di dalam kamar mandi tanpa suara, hatinya sangat terluka. Brandon hanya terduduk di tempat tidur dan memandang pintu kamar mandi yang tertutup itu. Brandon mengacak rambutnya frustasi. Dia sudah membuat Anna kembali menangis karena perbuatannya.
Brandon memilih keluar dari kamar Anna, dan meninggalkan Anna sendiri di kamar mandi tanpa berusaha menghibur atau sekedar menanyakan keadaan Anna. Brandon sendiri masih ragu dan tak mengerti apa definisi dari rasa yang selalu hadir saat dirinya bersama Anna. Anna mendengar pintu kamarnya yang menutup. Sadar bahwa Brandon justru pergi meninggalkannya membuat Anna semakin meremas pakaian di dadanya. Nyeri sakit sekali.
Sesaat kemudian terdengar seseorang kembali menutup pintu kamarnya. Anna berpikir Brandon yang kembali masuk ke kamarnya, karena hanya Brandon yang memiliki kartu akses juga untuk bisa masuk ke kamarnya.
"Dia tak ada disini tuan" terdengar suara yang asing dan lebih dari satu orang yang masuk ke dalam kamarnya. Anna langsung menghentikan tangisannya. Ketakutan langsung meliputi diri Anna.
"Siapa mereka? Apa mereka itu orang gila yang semalam? Dimana Brandon? Bagaimana jika mereka menemukanku?" Batin anna tanpa suara dengan panik.
"Periksa seluruh ruangan! Kita harus mendapatkan gadis itu!" Teriak seseorang memerintah yang lain.
"Gadis? Apa yang dimaksud adalah aku? Kenapa aku?!" Anna sangat panik terlebih saat knop pintu kamar mandi mulai diputar oleh seseorang.
Anna berusaha mencari tempat persembunyian tapi ini kamar mandi, mana ada tempat yang bisa menyembunyikan dirinya. Anna hanya mampu berdoa memohon Tuhan untuk melindunginya. Pintu kamar mandi mulai dibuka dan Anna hanya mampu bersembunyi diam di balik pintu. Tapi percuma karena pengawal itu sudah melihatnya.
"Dia ada disini tuan! Aku menemukannya!" Seru pengawal itu dan langsung menarik tangan Anna. Anna menolak tapi dia kalah tenaga, pengawal itu terus menariknya keluar dari kamar mandi. Anna melihat sosok pria yang semalam berusaha menembak dirinya dan Brandon. Ya, Alvaro.
"Orang gila! Mau apa kau mencariku?!" Seru Anna.
"Gadis pemarah, aku suka!" Alvaro tersenyum menang.
"Buat dia diam! Jangan sampai ketahuan Brandon! " Perintah Alvaro pada pengawalnya.
Sedetik kemudian Anna sudah tak sadarkan diri. Dia di gendong ala bridal style oleh Alvaro. Lalu mereka segera keluar dari kamar itu membawa Anna, setelah seorang pengawal mendapat info melalui telepon bahwa keadaan aman karena Brandon sudah pergi dengan mobilnya.