Part 11

1301 Words
Brandon tiba di hotel dan langsung mengetuk kamar Anna. Anna membuka pintu dan langsung memeluk Brandon erat. "Syukurlah kau sudah kembali dengan selamat. Aku takut kau tertembak disana. Aku takut terjadi sesuatu padamu." Seru Anna menangis dalam pelukan brandon.   Brandon membalas pelukan Anna dan membelai kepala Anna sambil tersenyum. "Anna mengkhawatirkan aku? Benarkah?" Batin Brandon senang dalam hati. Anna melepaskan pelukannya dan brandon serasa kehilangan sesuatu. "Siapa orang gila itu? Kenapa dia menembaki kita?" Tanya Anna mendongak menatap ke wajah Brandon. "Dia Alvaro, saingan Bisnisku." Sahut Brandon sambil mengusap air mata di pipi Anna. "Kau menangis untukku?" Tanya Brandon dengan tatapan menggoda. Anna langsung menjauh dari tubuh Brandon dan berbalik melangkah masuk ke dalam kamar sambil mengomel. "Iya tentu lah! Dasar bodoh! Memangnya disini ada siapa lagi yang perlu kutangisi! i***t!" Omel Anna penuh kesal.   Brandon langsung mengekor dan saat Anna berhenti di tengah kamar, Brandon langsung  memeluk Anna dari belakang, tangan Brandon melingkar di bahu dan perut Anna.  Anna terkejut dan meronta ingin dilepaskan namun Brandon menahannya. "Sebentar saja, biarlah seperti ini." Ucap Brandon dan Anna berhenti meronta. "Terima kasih. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Sudah lama sekali tak ada yang mengkhawatirkan aku bahkan menangis takut terjadi sesuatu padaku. Terima kasih dear..." Bisik brandon di telinga Anna dan mengecup pipi Anna.   Anna hanya diam menerima semua perlakuan Brandon saat ini. Hatinya merasa turut sedih mengetahui Brandon selama ini hanya sendiri tanpa ada yang mengkhawatirkan dirinya. Anna mengangkat tangan brandon dan berbalik menghadap Brandon. Tangan Brandon kembali melingkar di pinggang Anna.  Anna menatap Brandon dan kedua tangannya terulur ke atas menangkup wajah Brandon. Tanpa kata hanya membelai pipi Brandon dengan ibu jarinya, Brandon memejamkan matanya merasakan belaian Anna di wajahnya.   "Sebaiknya kita segera ke restaurant untuk makan malam, atau sebentar lagi kau yang akan ku makan diatas tempat tidur." Ucap Brandon masih dengan mata terpejam. Anna tersentak kaget menghentikan perbuatannya itu lalu menjauh dari Brandon. "Aku juga sangat lapar. Ayo!" Ajak Anna mengambil handbag dan berjalan keluar kamar melewati Brandon. Brandon hanya tersenyum senang lalu berbalik mengikuti Anna keluar dari kamar. Selama makan, Brandon terus menatap Anna. Dentingan alat makan itu terus berbunyi namun tak ada satupun suapan yang masuk ke mulut Brandon.   "Tuan, makanlah! Jangan menatapku terus!" Ucap Anna merasa kikuk ditatap oleh Brandon. "Jangan panggil aku Tuan! aku senang saat kau memanggilku Brandon." Sahut Brandon lalu mulai menyantap makanannya. "How about Uncle Brandon? Huh?!" Tanya Anna menolak memanggil Brandon hanya nama saja. "Just Brandon!" Tegas Brandon. "Baiklah."sahut Anna menurut tanpa perlawanan apapun seperti biasanya. "Kenapa?" Tanya Brandon heran. "Apanya?" Anna balik bertanya. "Tanpa perlawanan? Hanya menurut begitu saja? Kenapa?" Tanya Brandon heran sambil menyeka mulutnya dan berhenti makan. "Aku takut kau tinggalkan di jalanan, ini negeri orang dimana aku orang asing disini. Jadi lebih baik aku menurut saja padamu." Sahut Anna polos dan terus menyantap makanan dihadapannya.   Brandon tersenyum menggelengkan kepala. "Aku sudah selesai, aku akan naik ke kamar dulu. Kau selesaikan saja makananmu." Ucap Brandon dan segera berdiri. "Tunggu! Aku juga sudah selesai. Aku ikut naik." Ucap Anna tergesa-gesa minum lalu ikut berdiri. Brandon melihat ke arah meja, Anna belum sempat menikmati dessert yang tadi dia pesan, makanannya pun belum selesai. "Kau yakin?" Tanya Brandon dan Anna hanya mengangguk. "hmm...baiklah ayo kita istirahat." Ajak Brandon lalu melangkah ke lift.   Di dalam lift hanya hening, tanpa suara. Anna sesungguhnya masih merasa lapar, namun dia trauma takut kejadian tembakan itu terulang lagi. Brandon melirik ke samping, sepintas melihat Anna yang memegang perutnya. "Apakah dia masih lapar?" Batin Brandon dalam hati. "Kenapa dia memaksa untuk ikut beristirahat juga? Ah mungkin dia juga sangat lelah." Batinnya lagi.   Ting. Bunyi tanda lift sudah sampai ke lantai yang mereka tuju. Brandon dan Anna pun melangkah keluar dari lift, dan menuju ke kamar masing-masing yang bersebelahan. "Good night."ucap Brandon. "Good night" sahut Anna. Mereka bersamaan masuk ke dalam kamar masing-masing.  Anna benar-benar masih merasa sangat lapar. Dia mencoba untuk tertidur namun tak bisa. Rasa laparnya mengalahkan kantuk dan lelah tubuhnya yang mengalami sedikit jetlag. ---   Pagi hari yang cerah namun tak cerah bagi Anna. Tubuhnya demam menggigil, matanya terasa panas, kepalanya pusing. Semalaman dia tak bisa terlelap, sangat lelah tapi lapar jadi tak bisa tertidur. Anna meringkuk dalam selimutnya.   Tok....Tok..Tok... Pintu kamar Anna diketok dari luar. "Pasti itu Brandon." Ucap Anna lirih mencoba berdiri dan melangkah sekuat tenaga mencapai pintu dan membukanya. "Hai, kau baru bangun?" Sapa Brandon. Anna tiba-tiba terjatuh dan pingsan dihadapan Brandon. Brandon dengan sigap menangkap tubuh Anna sehingga tidak jatuh ke lantai. "Astaga! Badanmu panas sekali. Apa yang terjadi?!" Brandon langsung mengangkat tubuh Anna dan membaringkannya di tempat tidur.   Brandon meraih ponselnya dan segera meminta Pete untuk menghubungi dokter dan segera membawanya kemari untuk Anna. Tak lama Pete datang bersama seorang dokter. Dokter itu segera memeriksa kondisi Anna dan bertanya pada Brandon. "Apakah dia sedang menjalani diet? Bagaimana bisa perutnya sampai kosong dan dia sangat kelelahan." Tanya dokter pada Brandon. "Setahuku dia tidak sedang diet apapun. Bagaimana kondisinya sekarang? Perlu kubawa dia ke rumah sakit?" Tanya brandon. "Tak perlu, saya sudah memberinya infus, biarkan dia beristirahat. saat bagun nanti berikan makanan bergizi padanya, perbanyak kandungan  lemak supaya dia memiliki tenaga." Pesan dokter pada Brandon.   Setelah dokter pergi dari kamar Anna diantar oleh Pete. Brandon merutuk dirinya sendiri. "s**t! Bagaimana bisa aku tidak peka saat melihatnya memegangi perut semalam. Dia pasti menahan lapar. s**t!!" Rutuk Brandon pada dirinya sendiri.   3jam berlalu sejak anna pingsan. " Eugh.." Anna mulai sadar. "Kau sudah sadar?" Tanya Brandon pelan. "Agh! kepalaku sakit sekali. Agh! " Anna kesakitan saat akan menggerakkan tangannya yang diinfus. Anna berusaha untuk duduk bersender pada senderan tempat tidur. "Kau butuh apa? Biar aku ambilkan" ucap Brandon. "Air, aku haus." Ucap Anna pelan. Brandon langsung meraih gelas berisi air minum disampingnya dan memberikan pada Anna. Brandon memegang kening Anna hendak memeriksa suhu tubuh Anna. Demamnya sudah mereda. "Maaf, maafkan aku" ucap Brandon saat Anna sudah selesai minum. "Kenapa?" Tanya Anna bingung. "Karena tidak peka bahwa semalam kau sebenarnya masih lapar." Sahut Brandon. "Bukan salahmu, aku yang memutuskan tidak menyelesaikan makananku." Ucap Anna. "Kenapa kau memaksa ikut naik jika masih lapar?" Tanya Brandon. "Aku takut...aku takut jika orang gila semalam itu masih mengikuti kita. Jika aku sendirian pasti dengan mudahnya dia akan menembakku. " Jelas Anna. "Ouh my GOD.... Maafkan aku. Aku tak tahu kalau kau masih trauma dengan kejadian tembakan semalam. Maafkan aku." Ucap Brandon dan langsung memeluk Anna. Hati Brandon bagi disayat pisau tajam mendengar ucapan Anna. "Bagaimana bisa aku tak memperhatikan Anna sedikitpun, padahal Anna sudah mengkhawatirkan diriku." Batin brandon dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Anna.   "Brandon, sakit.." ucap Anna lemah dan Brandon segera melepaskan pelukannya. "Maaf" ucap Brandon. Anna tersenyum "Tak kusangka kau bisa juga meminta maaf seperti ini." Ucap Anna "Jangan mulai memancingku." Sahut Brandon. "Hari ini kita di hotel saja, kau harus beristirahat untuk memulihkan kondisimu. Kau ingin makan apa? Aku akan meminta Pete membelikannya untuk mu juga aku." Ucap Brandon. "Terserah kau saja, aku tak paham dengan makanan di negara ini." Sahut Anna. "Bagaimana dengan sup seafood dari kedai Chinese food?" Tanya Brandon meminta pendapat Anna. "Boleh, apapun yang kau beli pasti aku makan." Sahut Anna tersenyum, membuat Brandon gemas sekali. Brandon menyentil pelan hidung Anna karena gemas. "Dasar kau ini...selalu membuatku gemas!" Ucap Brandon lalu berdiri dan menghubungi Pete melalui ponselnya.   "Maaf, aku jadi merepotkan kau dan uncle Pete." Ucap Anna. "Tak apa, ini juga salahku karena semalam tak mau menunggu sampai kau selesai menghabiskan makananmu." Sahut Brandon yang kini sudah duduk kembali di pinggir tempat tidur Anna. "Besok aku janji akan menemanimu seharian berkeliling kota ini. Hari ini aku tak sanggup berjalan jauh." Ucap Anna. "Hari ini aku yang akan menemanimu disini. Adil kan?!" Sahut Brandon. Mereka berdua pun tertawa bersama. Seketika tawa itu hilang dan berganti dengan tatapan canggung dari keduanya. "Terima kasih." Ucap Anna. "Heh? Untuk apa?" Tanya Brandon. "Karena kau sudah mau merawatku saat sakit begini."sahut Anna. "Terima kasih juga kau sudah mengkhawatirkan aku semalam." Ucap Brandon.   Kembali hening hanya saling menatap. Brandon memajukan wajahnya mendekat ke wajah Anna. Anna hanya terdiam tak mampu bergerak ataupun berkata apa. Brandon menangkup wajah Anna dengan kedua tangannya.   Cup. Brandon mengecup pipi Anna dengan lama dan mendalam. Anna tak menolak, juga tak meronta ataupun marah. Anna tersenyum saat kecupan itu berakhir. "Terbawa suasana lagi huh?!" Ucap Anna menyindir, membuat Brandon salah tingkah, tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD