Part 06

1282 Words
Seminggu sudah Brandon berada di Toronto dengan kesibukannya. Pete sudah berhasil menemukan siapa pengirim paket di meja kerja Brandon. "Tuan, saya sudah menemukan siapa orang yang menyuruh kurir itu mengirim paket pada anda." Lapor Pete siang ini di kantor kerja Brandon. "Tuan Alvaro yang membayarnya dengan mahal, tanpa mengatakan apa isinya." Lanjut Pete melaporkan semuanya. "Sudah kuduga, terus awasi Anna dalam jarak yang tidak terlalu dekat! aku tak ingin dia terluka oleh Alvaro namun aku juga tak ingin kebebasan hidupnya terganggu." Ucap Brandon dingin sambil terus memeriksa laporan di meja kerjanya.   "Baik tuan, ada satu hal lagi yang perlu tuan ketahui. Ada beberapa orang yang bukan pengawal kita juga selalu berada di sekitar Anna mengawasinya." Ucap Pete langsung menimbulkan reaksi pada Brandon. Brandon langsung mengalihkan perhatiannya tidak lagi tertuju pada kertas-kertas laporan. "Siapa mereka?!" Tanya Brandon menatap Pete tajam. "Menurut laporan pengawal kita, mereka adalah anak buah Alvaro, melihat dari seragam yang mereka pakai dengan lambang pisau hitam tajam berdarah di lengannya." Ucap pete.   Brandon segera berdiri dan langsung meraih jas di senderan kursi kerjanya, memakai jas itu lalu melangkah menuju pintu. "Siapkan segera pesawatku! Sekarang juga kita berangkat ke New York! Aku tak ingin terlambat sedetikpun seperti dulu." Perintah Brandon saat masuk dalam lift diikuti oleh Pete dibelakangnya.   Pete dengan sigap menganggukkan kepala. Pete sangat paham apa yang dimaksud oleh tuannya. Brandon pernah sekali datang terlambat beberapa menit setelah timah panas menembus d**a Ruby adik satu-satunya yang sangat dia sayangi. Brandon hidup dalam penyesalan dan dendam yang mendalam setelah kejadian itu. Meski Brandon telah berhasil membunuh orang yang membunuh adiknya itu, namun penyesalannya tak pernah hilang.   Saat dalam perjalanan ke bandara, Brandon menghubungi seseorang lewat sambungan telepon.   "Dixie, aku butuh bantuanmu saat ini." "Katakan sobat apa yang harus aku bantu." "Kirimkan semua pengawal terbaikmu untuk menjaga Anna namun jangan terlalu dekat." "WHAT'S?!!! ANNA?!!! Are you kidding me?!" "Aku serius! Alvaro sudah mengincar Anna untuk menghancurkanku." "Kau tak takut dihancurkan oleh Elsa karena mendekati salah satu anaknya?!!! Kau benar-benar gila!!!" "Kau mau membantuku atau tidak?!! Jangan sampai aku melakukan sesuatu pada bisnismu!" Ancaman Brandon berhasil membuat Dixie menyerah. "Baiklah baiklah, aku akan kirimkan semua pengawal terbaikku." "Terima kasih. Sekitar 1jam lagi aku tiba di New York." Ucap Brandon mengakhiri sambungan telepon.   Jika Xander adalah penguasa bisnis di dunia nyata,maka Brandon adalah penguasa bisnis di dunia gelap. Brandon sanggup membuat seseorang kehilangan harta bahkan nyawa. Brandon tak pernah bercanda dalam perkataannya. Saat berada dalam pesawatnya, Brandon duduk dengan cemas, dia mengacak rambutnya karena terlalu cemas. Brandon khawatir takut terjadi sesuatu pada Anna. Pikirannya kembali teringat pada setiap peristiwa kebersamaan nya dengan Anna. Wajah Anna yang kesal, tersenyum, merona bahkan tangis Anna akibat ciumannya. Semua hal itu membuat senyum terukir di wajah Brandon saat ini dan membuat tubuh bagian bawahnya berdenyut. Rindu? Tidak mungkin! Brandon selalu menyangkal isi otaknya.   Brandon memilih kembali sibuk dengan laptop kerjanya, memeriksa semua angka-angka pada laporan keuangannya, menghindar dari pemikiran tentang Anna. Bagi Brandon rasa sayang dan cintanya sudah habis untuk Ruby dan Elsa, dimana dia tak bisa lagi memiliki kedua wanita itu. Kecemasannya pada Anna hanyalah karena Anna adalah sosok  yang sangat dekat dan disayangi oleh Elsa.   "Tuan, kita sudah sampai." Ucap Pete menyadarkan Brandon dari kerjanya yang serius. Brandon segera membereskan laptopnya dan berdiri merapikan jasnya. "Pete, segera hubungi orang kita! Tanyakan dimana keberadaan Anna saat ini! Kita langsung menuju kesana!" Perintah Brandon sambil melangkah keluar dari pesawat.   Anna sedang berada di kampusnya. Brandon segera melepas jas dan kemejanya, hanya menggunakan kaos putih bergaya muda karena dia akan masuk ke kawasan kampus Anna. Brandon melihat Anna sedang membeli cemilan di kedai dalam kampusnya. Brandon segera mendekati Anna dan berbisik ditelinga Anna dari samping.   "Hai dear... Aku juga mau ya persis dengan milikmu" Bisik brandon mengejutkan Anna. Anna menoleh hendak memarahi orang yang sudah kurang ajar padanya. Namun wajahnya berubah saat melihat Brandon yang datar menatap ke arah pelayan di hadapan mereka. "Kau....!!!!" Ucap Anna kaget melihat sosok Brandon yang sudah ada di dekatnya, sangat dekat sekali.       Anna tak sanggup berucap apapun lagi, terkejut namun juga tersenyum karena bertemu Brandon. Senyum Anna langsung disembunyikan  menjadi kikuk saat Brandon menoleh menatapnya. "Tersenyumlah tak perlu disembunyikan." Ucap Brandon menatap Anna membuat Anna berdecih sinis. "Ish! Untuk apa aku senyum padamu?! Dasar pengganggu hidup!" Kesal anna hanya membuat Brandon tersenyum, ingin rasanya dia memeluk gadis dihadapannya ini, gemas melihat sikap dan wajahnya.   Pesanan Anna telah siap dibuat dan diberikan padanya. "Terima kasih." Ucap Anna sambil menerima pesanannya lalu berbalik hendak berjalan ke arah bangku taman di dalam kampusnya. Brandon berjalan disamping Anna. "Kapan kau datang?" Tanya Anna yang tidak suka kecanggungan diantara mereka. "Baru saja, aku langsung kemari begitu tiba di New York."jawab Brandon sambil mencomot French fries barbeque yang dipegang Anna. "Bagaimana kau tahu kalau aku ada disini?!" Tanya Anna lagi karena heran dengan kehadiran Brandon yang mendadak di kampusnya. "Aku hanya menggunakan instingku saja." Brandon berbohong menutupi hal yang sebenarnya. Anna hanya ber"O" tanpa membantah.   Anna dan Brandon memilih duduk di bangku taman yang berada dipinggiran dibawah pohon. Anna terlihat menahan senyum senangnya, tak dipungkiri seminggu ini Anna merasa seperti ada yang hilang dalam hidupnya, pertengkaran dan keisengan brandon setiap mereka bersama. "Kenapa menahan senyummu? akui saja kalau kau merindukanku dan bahagia bertemu denganku." Ucap Brandon santai namun membuat Anna menjadi tidak santai tapi kesal. "Huuuh!!! Siapa juga yang merindukanmu! Enak saja asal bicara! Jangan-jangan kau yang merindukanku ya? maka itu kau langsung kemari begitu tiba." Cibir Anna dan membuat Brandon tertawa. "Memang." Sahut Brandon datar sambil tetap memakan cemilan di tangan Anna. Anna langsung terkejut merona dengan jawaban Brandon barusan. Anna menoleh menganga tak percaya bahwa Brandon merindukannya. "Tutup mulutmu itu, atau aku akan rela ditampar Elsa karena menciummu lagi." Ucapan Brandon semakin membuat Anna salah tingkah. "No more kiss!!! Enak saja!!!" Sahut Anna kesal. "Huh! Kau yang selalu menggoda untuk dicium kenapa kau juga yang kesal?!" Ucap Brandon semakin membuat Anna tak mampu menjawab lagi   Selintas Brandon melihat sosok pengawal Alvaro ada di sekitar mereka. "s**t!!! Mereka juga ada di dalam kampus!!" Umpat Brandon kesal. "Apa kau bilang?! Siapa yang juga ada di kampus?!" Tanya Anna bingung dengan umpatan Brandon barusan. "Oh...bukan siapa-siapa? Aku hanya mengagumi gadis-gadis cantik di kampus ini. Ternyata banyak juga gadis cantik di kampusmu ini." Ucap Brandon terkekeh, menutupi segalanya dari Anna. "Ish...dasar player!!! Mata keranjang! Ingat Tuan, kau itu sudah berumur tidak muda lagi! " Ucap Anna kesal tersirat sedikit cemburu karena Brandon memuji gadis lain bukan dirinya.   Brandon tersenyum lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke samping menatap Anna. "Kau juga cantik sih tapi sayangnya..." Kalimat Brandon menggantung sengaja menggoda menunggu reaksi Anna. "Tapi???" Tanya Anna penasaran. "Kau juga cantik, tapi sayangnya hanya dalam mimpimu saja." Ucap Brandon tertawa terbahak-bahak, merasa menang sudah mengerjai Anna.   Saat terlihat wajah Anna mulai penuh amarah dengan tatapan tajam membunuh, Brandon segera berdiri hendak melangkah pergi. Brandon sengaja memancing amarah Anna supaya mereka bisa segera meninggalkan tempat ini, menyingkir dari para pengawal Alvaro yang sedari tadi terus mengawasi mereka. Bagai seorang peramal, Brandon selalu bisa menebak tingkah yang akan diambil Anna. Benar sekali. Anna berdiri mengikuti Brandon bahkan mengejar Brandon untuk memakinya.   "Dasar om-om gak laku!! Enak saja mengatai diriku ini jelek terus langsung saja pergi!!! Asal kau tahu saja ya kalau aku ini sudah punya pacar! Jadi lebih jelek dirimu karena kau tak punya pacar!" Seru Anna penuh amarah meledak-ledak. Brandon mendadak berhenti mendengar ocehan Anna barusan. "Kau punya pacar???" Tanya Brandon dengan tatapan tajam. "Iya!" Jawab Anna tegas memajukan wajahnya ke atas menantang tatapan Brandon. Brandon sedikit membungkuk ke wajah Anna. "Buktikan padaku!" Ucap Brandon berbisik di dekat telinga Anna. Anna serasa terkena sengatan listrik dengan kekuatan besar, saat hembusan nafas Brandon terasa di pipi dan telinganya Anna hanya diam membeku, tak sanggup menjawab tantangan Brandon karena memang kenyataannya Anna belum mempunyai pacar. Brandon tak ingin memberikan kesempatan pada pengawal Alvaro berbuat sesuatu pada anna, karena Brandon melihat sepertinya mereka mendapat sebuah perintah dari earphone di telinga mereka. Brandon langsung menggandeng tangan Anna dan segera melangkah, beruntung kali ini Anna hanya menurut saja mengikuti langkah Brandon menuju mobil Brandon dan segera pergi menjauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD