Kiara bingung mau menjawab apa, pertanyaan ibu mertuanya sangatlah aneh.
Dengan ragu Kiara mengangguk, gituan kok ditanya lancar apa nggak.
"Assalamualaikum," suara Pandu dan papanya terdengar dari arah ruang tamu menuju ruang makan.
"Wa alaikum salaaaam," sahut mama dan Kiara.
Setelah membuka kopyahnya, Pandu duduk di ruang makan dan melihat wajah istrinya kebingungan dengan wajah memerah.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Pandu sambil mencomot udang goreng tepung, mencocolnya dengan saus dan mulai memasukkan ke mulutnya.
"Itu mama tanya, lancar apa nggak tadi?" ujar mama Pandu, papa Pandu yang baru duduk setelah mengganti sarung dengan celana hanya bisa geleng-geleng kepala.
Sedang Pandu langsung tersedak dan meraih gelas berisi air minum.
"Halah maaaa ma, kayak gitu kamu tanyain ke Kiara, lihat wajah Pandu yang semringah gini kita sudah tahu jawabannya," papa meraih teh hangat sebelum mulai makan malam.
"Iya bener pa, mama ini bikin Kia malu aja," Pandu masih menatap wajah Kiara yang kebingungan dan lebih banyak menunduk.
"Sini sayang, duduk dekat sini," Pandu menepuk kursi makan di sebelahnya dan Kiara menurut.
"Besok, papa sama mama kembali ke Tokyo, baik-baik kalian di sini ya, kalau ada apa-apa tanya ke mama papa Kiara, dan maaf juga kami tidak bisa hadir pada wisuda Kiara, trus kamu Ndu kan dua bulan lagi pindah ke Osaka, tinggal di mana kalian nanti, apa itu juga sudah dipikir?" tanya papa sambil memandang Pandu dan Kiara.
"Iya iya pa, sudah aku pikir semua, selama dua bulan ke depan ya kami akan berusaha benar-benar menyesuaikan diri, katakanlah kami mulai pacaran setelah kami nikah, trus yang di Osaka, aku minta tolong teman kuliahku, orang Indonesia juga, si Deden Dwi Permadi dia juga baru pindah ke Osaka sama istrinya, aku sudah dicarikan apartemen, satu flat sama dia, apartemen dekat stasiun kereta di Osaka pa, jadi enak kalau mau berangkat kerja pagi," ujar Pandu panjang lebar.
"Iya iya bener Ndu, di daerah sana apartemen lumayan murah," kata papa Pandu.
***
Setelah makan malam, mama dan papa Pandu menuju rumah orang tua Kiara, pamit akan kembali ke Tokyo besok dan menitipkan Pandu serta Kiara.
"Iya beres aku jaga selama dua bulan ini Mer, tapi aku titip Kiara juga, kalau ada waktu lihatin Kiara ke apartemennya ya Mer selama di Osaka nanti," ujar mama Kiara.
"In shaa Allah, atau kalau dia masih takut, ya biar tinggal sama aku dulu di Tokyo, kalau udah mulai bisa beradaptasi baru ngikut Pandu ke Osaka," ujar mama Pandu.
***
"Assalamualaikum mama," Kiara masuk menuju dapur di rumah orang tuanya.
"Wa alaikum salaaam eh anak mama yang cantik, sudah berangkat mama papa Pandu?" tanya mama Kiara yang masih asik di dapur.
"Iya ma, tadi pagi-pagi banget," jawab Kiara melihat apa yang dilakukan mamanya.
"Duduklah sana dulu, ini sudah selesai cuman bikin rawon aja kok," ujar mama mematikan kompor dan mengambil puding caramel di kulkas, mengambil sepotong di tempatkan pada piring kecil dan memberikan pada Kiara yang duduk menunggunya.
"Cicipi, itu mama baru bikin tadi malam, nanti bawa ya buat Pandu," ujar mama sambil duduk di dekat Kiara. Mama mengamati wajah Kiara yang menikmati pudingnya, Kiara terlihat gelisah, matanya mengerjab dengan cepat dan sekali-sekali menghela napas.
"Ada apa sayang?" tanya mama sambil menyematkan rambut Kiara dibelakang telinganya.
"Kadang Kia merasa belum cukup ilmu untuk jadi seorang istri, masak juga bisanya terbatas, trus Kia nggak mudah beradaptasi, sulit untuk bisa berbasa-basi, kasihan mas Pandunya ntar," ujar Kiara menatap wajah mamanya dengan sedih. Mama Kia tersenyum, melihat gadis kecilnya kini sudah jadi lebih dewasa.
"Rumah tangga itu tempat belajar yang sesungguhnya, tidak ada kata selesai atau tamat, mamapun sampai sekarang ya begitu, meski tua terus dan terus belajar, jangan pernah berpikir seperti itu Kiara sayang, ilmu dalam rumah tangga yang utama yang harus segera kamu kuasai adalah sabar dan saling percaya, cobaan apapun yang kamu temui nanti bersama Pandu selama kalian sabar dan saling percaya akan mampu kalian hadapi," mama melihat mata Kiara yang masih terlihat sedih.
"Eeemmm kamu sudah..., " pertanyaan yang sama dengan mama Pandu sanggup membuat wajah Kiara kembali memerah. Dan mengangguk pelan, mama tersenyum lebar, mencium kening Kiara.
***
Jam delapan malam Pandu baru sampai di rumah. Membuka kamar dan melihat istrinya yang membaca buku memunggunginya.
Kiara menoleh dan melompat bangun, setelah meletakkan bukunya. Memeluk dan berjinjit mencium Pandu.
Pandu merasakan debaran di dadanya dan tersenyum melihat Kiara yang malu-malu dan hanya menempelkan bibirnya.
"Aku mandi dulu ya, setelah itu terserah kamu apakan," bisik Pandu pada Kiara. Kiara menjauh dari wajah Pandu dan memukul dadanya pelan.
"Ih Kia cuman mau nyium mas aja, nggak ngapa-ngapain, mandi sana, Kia siapin makan malam ya?" tanya Kiara.
" Nggak usah, udah tadi sama relasi bisnis, buatin latte hangat aja ya," ujar Pandu melepaskan jas, dasi dan kemejanya, juga kaos tipis di badannya, melepas celana bahannya dan sejenak merebahkan diri di kasur lalu bangun menuju kamar mandi.
***
Kiara menoleh saat harun aftersave mulai terasa dihidungnya, Pandu hanya menggunakan kaos dan celana pendek terlihat santai, menuju Kiara yang masih tertegun memandang Pandu sambil memegang secangkir latte ditangannya.
"Mas ganteng ya adik manis, sampe segitunya lihat aku," Pandu mengambil latte di tangan Kiara dan mencium kening Kiara.
"Ih, kok adik, Kia itu heran aja, malem-malem keramas, awas masuk angin," jawab Kiara sekenanya padahal tadi dia sempat kaget pada dirinya sendiri yang sering berdebar jika melihat Pandu, kayak orang pacaran aja..
"Kita duduk di sini, menikmati malam ini hanya berdua," Pandu menarik Kiara duduk di dekatnya dan menyesap lattenya perlahan.
Tiba-tiba terdengar hujan turun dengan deras. Mereka reflek menoleh ke jendela, Pandu tiba-tiba menarik Kiara ke pangkuannya dan memeluk Kiara dengan erat.
Agak lama mereka tak mengeluarkan sepatah katapun, sampai terdengar suara Pandu setengah berbisik.
"Aku tidak akan pernah sedih lagi, sederas apapun hujan, aku akan memelukmu seperti ini Kiara, dulu, mas sangat membenci hujan, tapi kini hujanlah membuat mas mengingat kejadian indah sama Kiara," Pandu menggendong Kiara, membawanya ke dalam kamar.
***
Saat Kiara membuka mata, ia mendengar suara hujan yang masih sangat lebat, Kiara merapatkan badannya pada pelukan Pandu.
Dan sempat kaget saat merasakan ujung dadanya menyentuh lengan Pandu yang memeluknya.
Kiara merasakan hembusan napas Pandu yang hangat, Pandu tidur sangat nyenyak setelah apa yang mereka lakukan satu jam lebih, kembali Kiara menyusupkan kepalanya ke d**a Pandu dan berusaha tidur, memejamkan matanya dan mengabaikan pangkal pahanya yang masih terasa nyeri. Kiara hanya merasakan Pandu berbeda, tidak seperti saat pertama mereka melakukan.
***
Pandu membuka matanya saat lamat-lamat didengarnya suara orang mengaji lewat pengeras suara dari mesjid yang tak jauh dari rumahnya. Ada penyesalan ia telah melewatkan sholat tahajut malam ini.
Ditatapnya wajah Kiara yang terlihat lelah. Pandu merasa menyesal saat mengingat apa yang ia lakukan pada Kiara tadi malam, mengabaikan wajah kesakitan Kiara, dan Pandu merasa jika hanya dirinya yang merasa terpuaskan sementara Kiara hanya menggigit bibirnya, ia berusaha tidak egois tapi entah mengapa tadi malam ia merasakan kemarahan saat hujan semakin deras dan kelebat bayangan mengerikan itu kembali melintas di matanya, kemarahan karena telah dikhianati, maafkan aku Kiara, tidak seharusnya aku mengingat rasa sakit itu lagi.
Mata Pandu berkaca-kaca saat melihat kening Kiara yang berkerut saat menggerakkan pahanya. Tangan Pandu mengusap perlahan milik Kiara dan ia menahan tangisnya saat mendengar suara Kiara yang mendesis. Kiara membuka matanya menahan tangan Pandu yang masih saja mengusap miliknya perlahan. Kiara kaget saat menyadari mata Pandu yang berkaca-kaca.
"Sakit?" Pandu merasa bahwa itu pertanyaan bodoh yang ia ucapkan. Kiara hanya menggangguk perlahan.
"Maafkan aku Kiara, maafkan aku," Kiara semakin kaget saat tangan besar Pandu semakin erat memeluknya dan perlahan didengarnya isakan Pandu.
Perlahan Kiara mengusap punggung Pandu, untuk pertama kali melihat laki-laki dewasa menangis membuat Kiara sedikit bingung, ada apa, mengapa tangisnya sesedih ini?
****