#14

1433 Words
"Nduuuu makan dulu," mama Pandu mengetok kamar Pandu. "Maaa,  mama ini gimana sih..ck..biarin dulu Pandu sama Kiara," papa Pandu terlihat menghembuskan napas berat, kadang heran juga dia karena istrinya kadang bertingkah aneh. "Heheh iya ya,  lupa aku pa, kali aja mereka baru mulai ya," mama Pandu menahan tawa,  bersamaan dengan Pandu yang membuka pintu kamar dan semuanya tertawa riuh,  karena om, tante dan sepupu-sepupu Pandu berkumpul di ruang keluarga. "Wuaaah wes mulai to?" goda Seto sepupu Pandu yang melihat Pandu bertelanjang d**a dan hanya menggunakan celana pendek. "Apanya yang mulai wong belum apa-apa sudah diketok pintunya sama mama," Pandu terdengar sewot dan semuanya tertawa lagi. "Ck kalian ini ya nggak pengertian, belum mulai, sudah diganggu," Pandu tertawa lebar dan menutup pintu lagi. "Hati-hati Nduuuu,  jalanan terjal berlikuuuu," Seto berteriak dan tawa mereka semakin ramai. *** Saat Pandu menutup pintu, ia tidak melihat Kiara di depan meja rias,  tapi telinganya mendengar suara air yang gemericik dari kamar mandi. Pandu merebahkan badannya dan memejamkan matanya menunggu Kiara mandi. Pandu membuka mata saat tangan dingin Kiara menyentuh pipinya. "Sana mas Pandu mandi dulu," ucapnya pelan dan ragu. Mata Pandu terbelalak dan menahan senyumnya mendengar Kiara memanggilnya dengan embel-embel mas. "Mas? " tanya Pandu. "Masa panggil kakak, kayak nikah sama kakak sendiri aja, biarin dah panggil gitu ntar kalo dan punya anak baru deh manggilnya ngikut anak," ujar Kiara. "Ok, secepatnya kita punya anak biar nggak bingung mau manggil apa," ujar Pandu melangkahkan kakinya ke kamar mandi namun sebelumnya ia mencium bibir Kiara sekilas dan Kiara kaget,  wajahnya memerah, terdengar tawa Pandu di kamar mandi. *** Sampai malam terlihat Pandu asik ngobrol dan bersenda gurau dengan sepupu dan om dari papa mamanya,  kebersamaan yang jarang sekali di dapat karena kesibukan masing-masing. Tampak Kiara juga ikut berbaur dengan tante dan sepupu Pandu,  meski terlihat kikuk tapi Kiara berusaha ramah pada semuanya. Sampai akhirnya karena larut malam dan mulai terasa mengantuk, mereka pamit kembali ke hotel dan beberapa ada yang menginap di rumah besar itu. ***  Kiara merebahkan badannya yang terasa sakit semua. Ia mulai tidur menyamping,  memeluk guling dan memejamkan mata. "Eh enak aja ninggalin suami tidur duluan," Pandu memeluk Kiara dan mencium rambutnya berkali-kali. Kiara berbalik dan menatap Pandu dengan wajah bingung. "Mas,  eemmm malam ini tidur ya,  maksudnya jangan malam ini itu eeemm," Kiara bingung dan Pandu mengerti maksud Kiara. "Baiklah,  malam ini tidur, hanya tidur dan besok boleh aku ganggu tidurnya?" Pandu sebenarnya juga bingung dan kikuk,  hanya ia tidak menampakkan kebingungannya berusaha menenangkan Kiara yang terlihat takut. Dengan lugu Kiara mengangguk. Pandu tersenyum memeluk kepala Kiara mendekatkan ke dadanya. Kiara melepas pelukan Pandu dan Pandu menatap Kiara dengan tatapan penuh tanya. "Kenapa,  nggak boleh?" tanya Pandu. "Boleh,  tapi kok merinding dan..," Kiara semakin takut saat wajah Pandu mendekat ke arahnya, meraih kepala Kiara mendekat dan menyapu bibir Kiara pelan dengan bibirnya, kembali Pandu merasakan ketakutan pada diri Kiara. Digigitnya bibir Kiara, Pandu merasakan tangan Kiara yang mencengkeram erat baju tidurnya. Saat Pandu melepaskan ciumannya,  Kiara menyembunyikan wajahnya di d**a Pandu. "Kenapa?" tanya Pandu dengan suara yang hampir hilang ditenggorokannya. Kiara mengeleng dan terdengar suara Kiara pelan. "Malu." Pandu tertawa perlahan,  mengusap rambut panjang Kiara. "Tidurlah." mereka mulai memejamkan mata. *** "Halooo pengantin baruuu," mama Pandu terlihat cerah, dan wajah Kiara memerah saat semua yang berada di meja makan menoleh ke arah Pandu dan dirinya. "Sudah Ndu?" pertanyaan om  Bimo, yang menggantung membuat semua tertawa. Pandu cuma garuk-garuk kepala,  menarik kursi untuk Kiara dan Pandu duduk di sebelahnya. "Masih rame om,  besok aja,  nggak konsentrasi ntar," jawaban Pandu membuat pipi Kiara memerah. Papa Pandu hanya tersenyum.mendengar jawaban Pandu dan menyuruh mereka segera sarapan,  karena sebentar lagi semuanya akan kembali ke daerah masing-masing. *** Siang hari rumah orang tua Pandu terasa lengang,  hanya ada mama papa Pandu dan bu Yani yang membantu mama di dapur. Kiara dan Pandu baru saja selesai membereskan keadaan rumah kembali seperti semula. "Kiaraaa,  sudah sayang kalau capek berhenti," teriakan mama Pandu terdengar ke seluruh ruangan. "Terlambat maaaa, sudah beres semua,  nih menantumu sampe sakit pinggang," Pandu menjawab dengan tenang. "Ih mas Pandu, nggak juga kali, eh mas, Sabtu minggu depan Kiara wisuda,  kosongin jadwal ya, dampingi Kiara," pinta Kiara dengan manja. "Eh Sabtu kan emang libur aku sayang,  tapi emang kada suka ada kerjaan sih,  ok aku temani,  eh udah yuk,  dah beres, kita istirahat dulu," Pandu menarik istrinya ke dalam kamar dan terlihat oleh mamanya. "Iya bener sana mumpung sepi,  nggak tak panggili lagi wis," mama menjawab sekenanya dan Pandu menahan senyum sementara Kiara terlihat malu. "Ah mama tahu aja, ayo sayang masuk kamar yuk," Pandu menarik lengan isrinya dan perlahan Kiara menariknya. "Iya mas,  aku bisa jalan sendiri,  aku mau mandi dulu,  habis bersih-bersih rasanya lengket banget," ujar Kiara pelan namun mama Pandu mendengarnya. "He'eh bener mandi dulu Kia sayang,  biar harum,  nanti Pandunya tambah semangat," mama menahan tawa saat melihat wajah Pandu yang memerah,  menoleh pada mamanya dan mengedipkan matanya sebelah,  memeluk bahu Kiara dan mereka masuk kamar. *** Suara adzan terdengar saat Kiara baru saja dari kamar mandi. "Tunggu aku ya sayang, kita sholat berjamaah,  aku mandi dulu," ujar Pandu yang segera menggantikan Kiara ke kamar mandi. *** Setelah sholat, mata Kiata sudah tidak bisa berkompromi lagi. Ia segera memeluk guling dan tidur menyamping. Pandu baru saja selesai mengaji. Melipat sarungnya dan tersenyum geli saat melihat Kiara yang tidur nyenyak dan bibir yang agak terbuka. Perlahan ia naik ke kasur. Mencium rambut Kiara yang masih agak basah setelah keramas tadi, ia peluk Kiara dari belakang. Entah mengapa Pandu jadi tercekat saat memyadari Kiara yang tidur membelakanginya,  hanya menggunakan kaos tipis tanpa lengan yang di dalamnya tampak tidak menggunakan apapun,  serta celana pendek. Dada Pandu mulai bergemuruh,  ia baru menyadari efeknya sehebat ini pada tubuhnya. Perlahan Pandu menyibak rambut panjang Kiara,  ia mulai mencium tengguk Kiara dan tangannya mengusap lengan Kiara, perlahan ke perut dan tangan Pandu bergetar saat mulai menyentuh d**a Kiara. Kiara menggeliat,  membalikkan badannya dan ia menemukan wajah Pandu yang tak biasa. Dan tangan Pandu yang kembali mengusap perutnya, dan perlahan ke dadanya, membuat badan Kiara terasa meremang. "Mas," hanya itu yang ke luar dari mulut Kiara, sesaat mata mereka saling pandang. "Boleh?" Pandu bertanya dengan suara hampir tak terdengar, Kiara mengangguk. "Mas, pelan," kalimat menggantung Kiara membuat Pandu seolah mendapat ijin untuk melakukan lebih banyak. Pandu mengerti jika Kiara sebenarnya takut,  tapi Kiara juga tak mungkin menolak saat merasakan napas hangat Pandu yang semakin cepat, Kiara tak mungkin menghentikan Pandu. *** Tangan Kiara menahan tangan Pandu yang menurunkan celana dalamnya. Sesaat Pandu melepaskan ciumannya pada bibir Kiara dan menatap wajah istrinya yang ketakutan. "Aku akan pelan," suara parau Pandu membuat Kiara memejamkan matanya dan pasrah pada apa yang akan terjadi. *** Cengkeraman tangan Kiara di kedua bahunya menandakan jika ia kesakitan. Sepelan apapun ritme Pandu, Kiara masih saja mencengkeram, dan saat cengkeraman itu mulai mengendur Pandu merasakan Kiara yang hanya memeluknya dan mendesah pelan. *** "Maafkan mas, Kiara," Pandu menatap wajah Kiara yang kesakitan. "Segitu sakitnya?" tanya Pandu. "Waktu pipis  tadi, periiih banget, kalau jalan juga pas ke kamar mandi tadi,  agak sakit," jawab Kiara, memejamkan matanya dan bersembunyi di d**a Pandu. *** "Bangun sayang,  bentar lagi maghrib loh,  pamali kata orang tua kalau tidur pas maghrib,  mandi dulu  ya, aku sama papa bentar lagi mau ke mesjid,  entar setelah isyak baru pulang," Pandu berbisik perlahan ke telinga Kiara. Kiara membuka matanya dan melihat Pandu yang sudah rapi dengan baju koko, kopyah dan sarungnya, duduk di sisi kasur, memandang wajah istrinya yang kelelahan. Kiara membuka matanya dan perlahan duduk, kembali mengernyitkan keningnya dan mendesis perlahan. "Masih sakit?" tanya Pandu dan Kiara mengangguk. "Ntar malam, jangan lagi ya mas?" pinta Kiara memelas dan bangkit perlahan menuju kamar mandi. "In shaa Allah," jawab Pandu pelan menahan tawa. "Kok," Kiara menoleh saat sampai di pintu kamar mandi "Loh in shaa Allah kan 99% iya,  kalau ternyata ntar kejadiannya lain ya semua kehendak Allah," terdengar tawa Pandu. "Aku berangkat ya sayang ke mesjid ," ujar Pandu. "Iyaaa,"setengah berteriak Kia menjawab dari kamar mandi. *** Kiara membantu mama Pandu menyiapkan makan malam, menata piring, sendok dan garpu di meja serta mulai menata lauk dan nasi. Mama Pandu sempat melirik Kiara yang rambutnya masih terlihat basah meski mulai kering,  Kiara memang tidak menggunakan hairdryer,  ia biarkan kering alami. "Mas Pandu sama om kok belum pulang ya tante dari mesjid?" tanya Kiara. "Bentar lagi Kia, eh jangan panggil tante,  panggil mama kayak Pandu, eh Kia,  eemmm maaf,  apa kalian sudah..," pertanyaan mama Pandu yang menggantung membuat wajah Kiara memerah dan mengangguk. Mama Pandu terlihat tersenyum lebar menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Mendekati Kiara dan mengelus bahunya perlahan. "Pandu bisaaa..lancaaar Kiaaa?" ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD