#13

2013 Words
"Ya Allah mamaaa, aku kaget loh ma, malem-malem kok ya tetep aja rame," papa Pandu muncul di belakang mama, dan melihat Pandu yang garuk-garuk kepala, sementara Kiara menatap mama Pandu dengan kikuk. "Lah anakmu itu, nyolong mau nyium senengannya, untung aku kok ya tiba-tiba haus eeeh ternyata," suara mama masih tinggi. "Sudah Ndu masuk kamar kamu, Kia juga nak ya, kalo nggak gitu bisa-bisa kita jantungan semua," Pandu dan Kiara menurut, Pandu menatap mamanya sambil menahan tawa. "Mamaaa mama, bawaannya curigaaa aja sama Pandu, aku loh cuman liat wajah Kiara, terus terang aku kangen ma, dua hari dia di sini kan aku pulang malam terus," Pandu melangkahkan kaki ke kamarnya sementara Kiara sudah menghilang di balik pintu kamar. "Alaaah alesan, ia karena ketahuan jadi cuman dilihat, kalo nggak ketahuan, mak cup kan?" mama Pandu masih saja melotot. "Haduuuh haduh iya dah ma, Pandu mau mandi, trus tidur, besok Pandu ijin sehari, mau ikut mama sama Kia jalan-jalan?" ucap Pandu sambil masuk ke kamarnya. Papa menepuk bahu istrinya dan menyuruh segera tidur, setelah minum mama masih melangkah ke kamar Pandu, memastikan anaknya benar-benar ada di sana. Terdengar tawa Pandu yang keras waktu mamanya menutup pintu kamarnya. *** "Masak apa tante, Kiara bantuin ya?" tanya Kiara saat melihat mama Pandu yang sibuk di dapur. "Ah nggak usah, udah selesai semua, meja makan aja siapkan sayang, bentar lagi kita sarapan," mama Pandu menuangkan semur ayam ke piring, menata dengan rapi telur dadar dan meletakkannya di meja makan, tak lupa cah kangkung kesukaan Pandu ia letakkan juga. Terlihat Kiara yang menata piring, sendok dan garpu di meja makan. "Apa ini tante? " tanya Kiara, memperlihatkan kotak tertutup rapat yang ada di meja makan. "Oh itu kering kentang, iya kok lupa terus itu mau dimakan, letakkan diantara lauk-lauk itu sayang, biasanya papanya Pandu kalo sarapan pake itu sama semur ayam," mama Pandu mencuci peralatan masak yang ia pakai tadi dan meletakkannya di rak piring bagian bawah. *** "Mau jalan-jalan ke mana hari ini ma, aku ikut ya, dua hari kemana aja mama sama Kiara?" tanya Pandu sambil menikmati cah kangkung. 'Nggak taulah Ndu, dua hari ini sudah ke Shibuya Senta-gai, belanja apaan dah di sana ya Kia sambil foto sama patung Hachiko itu hahahahh nyamakan wajah ya Kia, trus ke taman Ueno sudah, lihat Panda di kebun binatangnya, cuman ya karena belum musim semi nggak bisa lihat bunga sakura, biar ntar balik lagi ke sana kalo sudah jadi istrinya Pandu, sama pandu lihat bunga sakura, hari ini maunya ke kuil Sensoji, mau Nduu, jadi ikut ta?" tanya mama. "Iya nggak papa dah, pernah ke sana Pandu sebenarnya, megah kuilnya ma bagus, tapi nggak papa lah ke sana lagi , ntar belanja di Nakamise street," ujar Pandu mengakhiri sarapannya. "Maaf om, nggak bisa ikut ya Kiara, nggak bisa antar Kia kemana-mana," ujar papa Pandu sambil melihat Kiara yang menikmati sarapannya tanpa bersuara. "Nggak papa om, Kia ngerti kok, om sibuk," Kiara mengakhiri sarapannya dan mengambil piring Pandu menumpuk jadi satu dengan piring yang ada di hadapannya. "Ndu nanti kalo kamu balik ke Indonesia, sempatkan ke nenekmu di Surabaya, ajak Kia kalau sedang tidak sibuk karena nanti pas kamu nikah nggak mungkin nenek kamu bisa hadir, usia ibuk sudah 84, nggak mungkin melakukan perjalanan jauh, di sana kan ada tantemu, kalau kamu jadi ke sana kasi kabar dulu ke tantemu ya?" ujar mama dan Pandu mengangguk dengan cepat. "In shaa Allah ma, eh ayo ma, Kia, katanya mau jalan-jalan, mumpung aku bisa ngantar Kiara" ajak Pandu. *** Setelah lima hari di Tokyo, Pandu dan Kiara akhirnya kembali ke Indonesia. Mereka kembali disibukkan dengan segala urusan skripsi Kiara dan persiapan Pandu kembali ke Jepang karena perusahaan eletronik tempat dia bekerja akhirnya memutuskan menarik kembali Pandu ke Osaka. Sementara persiapan pernikahan mereka juga semakin membuat Pandu bingung, akhirnya setelah mencuri-curi waktu ia bisa fitting baju dan melihat langsung gedung yang akan mereka pakai untuk akad nikah dan resepsi pernikahan. *** "Aku nggak nyangka mau nikah seribet ini ya Kia," ujar Pandu di suatu malam saat mereka duduk di taman belakang rumah Kiara, Kiara hanya mengangguk. "Kamu kenapa lebih pendim akhir-akhir ini?" tanya Pandu melingkarkan lengannya dan meraih bahu Kiara untuk lebih merapat ke badannya. Kiara diam saja dan beberapa menit kemudian ia menoleh dan menatatap Pandu. "Nggak tahu, jadi semakin takut," jawab Kiara dengan suara pelan. "Takut kenapa, kan ada kak Pandu, kita jalani saja berdua, kalau ada yang bingung atau Kia nggak tahu ya tanya sama kakak, kita sama-sama nggak tahu ya kita tanya sama orang tua kita, hmmm," ujar Pandu menenangkan, mengusap rambut panjang Kiara. "Kayaknya Kia terlalu muda nikah ya kak?" tanya Kiara. "Nggak juga kamu bentar lagi kan 23, cukuplah, nunggu mau jadi nenek-nenek baru mau nikah?" tanya Pandu dan Kiara mencubit perut Pandu, Pandu tertawa dan Kiara hanya tersenyum. "Kalau punya anak trus gimana?" tanya Kiara lagi. "Loh ya kita rawat sayang, kamu ini aneh, nggak mau anak dari kakak?" Pandu balik bertanya. "Bukan gitu, ah bingung," ujar Kiara pelan. Pandu meraih tangan Kiara dan Kiara menarik pelan. "Dengarkan kakak, nggak usah dipikir, kita jalani aja, ada orang tua kita yang akan membimbing kita, nggak usah takut, ada banyak orang-orang yang mencintai dan menyayangi kita," Pandu mengeratkan dekapannya dan mencium rambut Kiara, perlahan Kiara melepaskan pelukan Pandu di bahunya. "Kenapa?" tanya Pandu bingung. "Nggak papa, cuman nggak enak aja, makin dekat kok jadi makin merinding?" dan Pandu tertawa mendengar kata-kata Kiara, Pandu agak menggeser duduknya, menjauhi Kiara. "Segini cukup?" tanya Pandu menatap kiara yang wajahnya tiba-tiba memerah. "Ih kakak, itu sih kejauhan masak sampek segitunya," terdengar tawa Pandu. *** Pernikahan Kiara seminggu lagi, dan Pandu jadi semakin sering menelpon Kiara. Kadang ada kecemasan dalam suaranya. "Kia nggak kemana-mana kan sayang?" tanya Pandu. "Kia ada di rumah kak,emang mau ke mana, kata mama Kia nggak boleh ke luar, nggak boleh ketemu kak Pandu, kata nenek yang di Jogja, Kia harus dipingit hihihi, aneh-aneh aja," suara Kiara mulai terdengar riang. "Yah, kakak lega kalau Kia ada di rumah," ada kelegaan dalam suara Pandu. "Kaaak, kakak ingat masa lalu ya, kakak kayak nggak percaya Kia, kayak Kia akan ninggalin kakak aja, kekawatiran kakak bikin kakak stres ntar, kita kok gantian stresnya? " terdengar desahan Pandu di seberang sana. "Kak..," suara Kia memanggil Pandu yang masih belum bersuara. "Hmmm...ya udah Kia, kakak mau sholat dzuhur dulu ya, udah kedengeran suara adzan, makan yang banyak ya Kia, biar... biar,".suara Pandu terdengar bingung. "Biar apa kak?" tanya Kiara penasaran. "Ya biar rada gemukan dikit lah, terlalu kurus nggak enak," kata Pandu terkekeh. "Ih emang makanan enak, ya dah sholat dulu deh, jadi aneh kakak ini," Kiara meletakkan ponselnya di sisi empat tidurnya. *** Pernikahan Kiara dan Pandu dua hari lagi, keluarga besar papa dan mama Kiara mulai berdatangan dari Yogyakarta, dan Solo. Sebagian ada yang menginap di rumah orang tua Kiara namun ada juga yang menginap di hotel. Keluarga mama papa Pandu yang sebagian besar berasal dari Suranaya juga mulai berdatangan. Kedua rumah yang bertetangga itu menjadi ramai. Disela-sela kesibukan, Pandu menyempatkan diri mengirim pesan singkat pada Kiara. Lagi ngapai sayang? Assalamualaikum Waduh nggak di jawab nih Wa alaikum salaam Eh kak sorry nih lagi banyak tamu, aku tadi masih dilulurin sama nenek, nggak tau apa, biar harum katanya hihihi... Ini baru selesai mandi.. Waaah ntar harum nih pas kakak nyium Kia Aahhhh kakak m***m udah ah ini masih siap-siap pengajian Kiara menutup ponselnya dan berganti pakaian, sementara Pandu tersenyum melihat kembali isi pesan dari Kiara. Ah istri mungil yang lucu. Mungkin dia mengira aku sudah biasa melakukan hal aneh saat berpacaran, dia tak pernah tahu, setua ini, sebatas berciuman yang aku tahu. *** Hari yang ditunggu telah tiba, ada hal lucu karena pengantin wanita dan laki-laki bertetangga, rumah mereka hanya dibatasi oleh pagar tinggi. Keluarga Pandu dan Kiara akhirnya sepakat agar keluarga Kiara yang lebih dahulu sampai di gedung tempat akad dan resepsi, setelah itu baru keluarga Pandu akan menyusul. *** Acara akad nikah akan segera dimulai Pandu sebagai mempelai dan saksi dari pihak mempelai wanita dan laki-laki, serta dari pihak KUA pun sudah siap ditempat, papa Kiara yang akan menikahkan langsung. Setelah pembacaan ayat suci Al Qur an dan dilanjutkan dengan khotbah nikah maka sampailah pada bagian yang paling mendebarkan yaitu pengucapan sighoq taqlik akad nikah. Setelah papa Kiara mengucap takliq nikah dan menggenggan tangan Pandu dengan erat maka Pandu mengucap dengan lancar. Terlihat papa Kiara yang menangis haru karena akan melepas anak perempuannya. Seluruh saksi mengucap sah dan pihak perwakilan dari KUA membacakan doa maka selesai sudah seluruh rangkaian akad nikah, Kiara dituntun oleh tantenya dipertemukan dengan Pandu, senyum Pandu mengembang saat melihat Kiara dengan balutan kebaya putih mendekat lalu mencium punggung tangannya. Kiara terlihat kikuk dan malu menatap wajah Pandu yang selalu tersenyum, menggunakan beskap warna senada dengan kebayanya. Pandu menyerahkan mas kawin serta memasangkan cincin kawin pada Kiara. Selanjutnya acara sesi foto dengan keluarga Kiara dan Pandu. Jeda dua jam digunakan untuk menikmati hidangan dan segera berganti baju untuk resepsi di tempat yang sama. "Mer, ngapain kamu dari tadi nggak selesai-selesai nangisnya, sana makan dulu, bentar lagi kita ganti kebaya, atau ini saja deh makan punyaku ntar aku ambil lagi," mama Kiara memberikan piringnya pada mama Pandu. Ia masih saja terisak. "Kamu nggak tahu betapa bahagianya aku, kalau nggak pindah ke Indonesia lagi dan nggak ketemu Kiara duh pasti anakku tetep nggak nikah Mia, pasti masih sedih," mama Pandu masih saja menangis namun kali ini sambil menikmati makanan yang diberikan mama Kiara. "Heleh, nangis tapi makanan masuk semua, Meeeer Mer," mama Kiara geleng-geleng kepala sambil tertawa. "Yo lain kan jalurnya Mia, nangis kan dari mata, makanannya kan masuk ke mulut," mama Pandu memasukkan suapan terakhir dan memberikan piring pada mama Kiara. "Halah halaaah mau jadi nenek gokilnya tetep," mama Kiara meletakkan piring kotor di meja yang tersedia dan bergegas ke ruangan di belakang panggung untuk berganti kebaya. *** Resepsi pernikahan berjalan dengan lancar, kedua pengantin menggunakan baju pengantin solo basahan, tampak beberapa tamu perwakilan dari perusahaan tempat Pandu bekerja juga turut hadir, teman-teman Kiara pun hadir dan foto bersama. Jam dua siang rangkaian acara selesai sudah, setelah sesi foto dengan seluruh keluarga selesai, baik keluarga Kiara maupun Pandu bergegas pulang. "Loh kok ikut pulang Ndu, nggak booking hotel ta, biar nggak ke ganggu?" tanya tante Nia, adik mama Pandu tertawa, menggoda pengantin yang masih terlihat malu-malu. "Wah nggak tante, biar di rumah aja, toh bentar lagi kami akan berangkat lagi ke Jepang, Pandu ingin kumpul-kumpul sama keluarga mama papa di rumah," ujar Pandu bingung menanggapi gurauan tantenya. "Waaah maaf ya tante harus segera balik ke Surabaya Ndu, nenekmu nggak mungkin tante tinggal terlalu lama, di sana ada sih dua pembantu yang jaga, tapi tante nggak enak kalau nggak ngerawat sendiri," akhirnya tante Nia dan keluarga pamit balik duluan. Iring-iringan mobil keluarga Pandu dan Kiara sampai di halaman tumah masing-masing. Mama kiara yang masih menggunakan kebaya, berlari-lari kecil menghampiri mama Pandu. "Meeeer titip anakku ya," mama Kiara menepuk pipi mama Pandu. "Iya iyaaa aduh, wong rumah sebelahan gini Miaaa kayak anakmu mau aku bawa ke mana, tuh bilang ke Pandu harusnya," Pandu dan Kiara tertawa melihat mama mereka yang selalu rame. "Lah kalau sama Pandu nggak usah nitip aku Mer, dia dah ngerti kok mauku, dan dia pasti akan emmm membahagiakan anakku hari ini dan selamanya," mama Kiara melambai pada pengantin yang sudah melangkah masuk ke dalam rumah. "Weees rame aja, sana pulang Mia, aku tak istirahat," mama Pandu tak mempedulikan mama Kiara yang masih ngoceh. "Oooh besan gimana ini kok aku diusir-usir, ya wes aku tak pulang, kakiku ya sakit sejak tadi," mama Kiara melangkah menuju rumahnya. *** Riasan Kiara masih dibersihkan oleh sepupu mama Kiara, tante Aida, setelah selesai semua barulah ia keluar dan meninggalkan Kiara dengan Pandu. Pandu menutup pintu kamar, Kiara terlihat gugup, apalagi saat Pandu berjongkok di depannya, hanya menggunakan celana pendek dan bertelanjang d**a, menatap mata Kiara yang terlihat takut. "Bukan cuma kamu yang gugup, aku juga," Pandu memegang tangan Kiara dan saat Kiara akan menarik, Pandu menahannya. "Aku suamimu, kita sudah halal," Pandu melihat Kiara mengangguk namun matanya lebih banyak menunduk. "Boleh cium Kiara?" Pandu menahan senyumnya saat Kiara terlihat bingung. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD