"Lah mulai kapan pastinya Ndu, pindah ke sini?" tanya mama Pandu.
"Enam bulanan lagi lah ma, berarti kan ya setelah Pandu nikah ma, maunya sih Pandu bilang ntar malam ke Kia tapi aku kawatir ntar malam larut lagi pulangnya, ya udah bilang sekarang aja," ujar Pandu masih menatap wajah Kiara yang bingung.
"Hmmm katanya mau ngajak jalan-jalan, tahunya kawatir pulang malam," ujar mama Pandu.
"Pengennya sih ma, siapa tahu bisa," jawab Pandu terlihat tak bersemangat.
"Trus ntar pindahnya ke mana Ndu?" tanya mama lagi.
"Kalo nggak ke Osaka ya Kyoto ma, belum tahu pastinya," jawab Pandu lagi.
"Gimana Kia, nggak papa kan setelah kita nikah kamu ikut kakak pindah ke sini? " tanya Pandu.
"Ya, Kia akan ikut di mana kakak berada," ujar Kiara dan Pandu tersenyum memegang tangan Kiara lalu keduanya saling melepaskan saat terdengar suara mama Pandu yang pura-pura batuk.
"Ya udah Pandu berangkat dulu ya ma, pa, Kia sayang," ujar Pandu sambil mencium punggung tangan papanya, mencium pipi mamanya dan hampir saja mencium bibir Kiara seandainya mama Pandu tidak berteriak.
"Heeeeh, kesempatan ya, minta ditabok Mia beneran nih anak," mama Pandu berkacak pinggang dan melotot memandang Pandu yang terlihat menggaruk-garuk kepalanya sambil cengar cengir.
"Hmmm anak itu ya, nggak biasanya deh dia pa," ujar mama menatap suaminya yang hanya menahan senyum.
"Aku berangkat ma," papa Pandu mencium kening istrinya, lalu pamit pada Kiara yang masih terlihat shock gara-gara perbuatan Pandu.
***
Pandu pulang saat mamanya dan kiara baru saja selesai makam malam.
"Tumben Ndu pulang lebih awal? " tanya mama.
"Ya karena hari ini tidak jadi ke Kyoto ma, kayaknya besok deh," Pandu duduk di samping Kiara dan mencium rambut Kiara.
"Papa mana ma? " tanya Pandu
"Ada kerjaan di kedutaan, pulang agak malem katanya," mama menawari Pandu makan malam dan Pandu mengangguk.
Segera Kiara mengambilkan piring dan sendok, memberikan pada Pandu.
" Mau nyuapin kakak?" tanya Pandu dan dijawab dengan gelengan kepala Kiara, terdengar tawa Pandu.
"Mau jalan-jalan sekitar sini sama kakak?" tanya Pandu lagi.
"Duduk-duduk di sini aja kak, tuh lihat jam berapa ntar lagi juga tambah larut malam, " jawab Kiara.
"Udah ya, mama mau tiduran, ntar cuci sendiri piringnya Ndu, kalau sudah makan," ujar mama sambil melangkah ke kamar.
Tinggal Kiara yang menunggui Pandu makan malam.
"Kaaak kalo ntar kita nikah trus aku ditinggali kayak gini, aku jadi takut, kan tempat baru, belum banyak kenal," ujar Kiara merengek.
"Aku punya banyak teman dari Indonesia kalau misalmya kita jadi di Osaka nanti, tenang sayang, aku tidak akan membiarkan kamu sendirian," ujar Pandu sambil menikmati makan malamnya.
"Atau awal-awal kita di sini dulu, ntar kalau sudah mulai bisa beradaptasi baru kita pindah," ujar Pandu mengakhiri makannya dan Kiara membawa piring kotor ke dapur lalu mencucinya.
Selesai meletakkan piring ke tempatnya Kia segera berbalik dan bruk Kiara menabrak badan Pandu yang sigap memeluknya.
Kiara berusaha melepaskan pelukan Pandu, ia merasa takut karena tatapan Pandu yang tidak biasa, namun Pandu masih memeluknya.
"Sstttt diamlah, kakak cuman kangen Kia, di sini dua hari, kakak cuman bisa liatin Kia," perlahan Pandu membawa kepala Kiara ke dadanya.
"Aku mencintaimu Kiara, tapi nggak tahu caranya bikin kamu bahagia, ritme kerjaku kayak gini, kadang aku ragu apakah kamu bisa bahagia setelah nikah sama kakak?" Pandu melepas pelukannya dan menangkup kedua pipi Kiara. Wajah mereka sangat dekat, Kiara dapat merasakan hembusan napas Pandu yang hangat.
"Kaaaak jangan cium Kiara, Kia takut," suara Kiara terdengar mencicit.
Pandu mencium kening Kiara dan mendekatkan bibirnya pada bibir Kiara, Pandu menyentuhnya pelan, dia dapat merasakan bibir Kiara yang bergetar, lalu Pandu melepaskannya.
Dan memeluk Kiara lebih erat.
Pandu kaget saat merasakan tepukan di pundaknya dan melepaskan pelukannya pada Kiara. Wajah Kiara bersemu merah saat melihat wajah tante Meriska yang terlihat masih kaget.
"Heeeeeem.. beneran nih anak, ditinggal bentar udah nyruduk-nyruduk Kiara," ujar tante Meriska yang menarik tangan Pandu, mendudukkan mereka kembali di ruang makan.
"Kalian berdua dengarkan...," ucap tante Meriska memandang Pandu dan Kiara bergantian.
"Maaaa aku sudah 30 tahun, rasanya aneh kalo aku disidang kayak gini, kayak ketahuan nyuri apaaaa gitu," ujar Pandu berdecak namun wajahnya memerah menahan malu.
"Karena kamu sudah 30 tahun makanya mama mau ngingetin kamu, sejak di Indonesia mama dah ngeri lihat cara kamu mandang dan nyentuh Kiara, nggak biasanya kamu kayak gitu Nduuu, mama sih nggak heran usia kamu emang waktunya bereproduksi, dulu, duluuu waktu sama wanita itu, kamu nggak segitunya, yang sekarang kelihatan kamu kayak pengen banget Pandu sayang, itu yang bikin mama ngeri, ayo jawab dengan jujur, pasti kamu ingin lebih dari sekedar ciuman kan tadi? " tanya mama menatap Pandu dengan galak. Dan Kiara melongo menatap Pandu.
"Mamaaaa aku bukan anak kecil mama, usiaku...," Pandu merasa tidak enak pada Kiara yang sedari tadi memandangnya dengan tatapan takut.
"Usia lagiiii, usia lagi, sayaaang mama hanya ingin menjaga kamu dan Kiara, kalau sudah jadi suami istri, terserah dah mau gaya jungkir balik, p****g beliung, sejuta topan badai wes terseraaah, maaf kalau mama kayak orang tua jaman batu, tapi hanya ini cara mama menyayangi kalian, mama mengenal Kiara sejak kecil, makanya mama ingin menjaga kalian, maafkan mama ya Ndu kalo jadi keliatan berlebihan, mama terlalu bahagia melihat kamu kembali menjadi manusia normal tapi kok ya kayaknya kebablasen kamu Ndu, normal tingkat dewa akhirnya," mama Pandu yang awalnya mau marah akhirnya menahan senyum saat Pandu juga terlihat ingin tertawa.
"Iya iya maaaa, huh mama kalo udah ngomong nggak bisa diukur pake stopwach, Pandu juga nggak akan ngapa-ngapain Kiara mama, aku jadi nggak enak dari tadi mama ngomong, Kiaranya malah jadi takut bener sama Pandu, kan wajar ma Pandu kangen sama Kia, dua hari di sini, Pandu cuman bisa liatin aja," ujar Pandu kembali tangannya menggenggam tangan Kiara dan memandang dengan tatapan sendu, namun kembali kaget saat mamanya menggebrak meja. Kiara menahan senyum melihat wajah Pandu yang takut pada mamanya.
"Heeeyysss tanganmu Ndu, leh maksudmu dua hari di sini cuman bisa liatin Kiara apa, emang maunya kamu apain Kiara Nduuu, heh nakutin bener nih anak, wes ndak usah deket-deket Kiara kamu Ndu," mama menarik Kiara untuk duduk di dekatnya, bersamaan dengan pintu terbuka dan terlihat wajah papa Pandu.
"Assalamualaikum, baru datang Ndu, kok? " tanya papa mencium kening istrinya dan menatap Pandu yang masih memakai jas lengkapnya.
"Wa alaikum salaaam...," mama, Kia dan Pandu menjawab, melihat papa yang terlihat sangat lelah.
"Nggak sempat ganti baju pa, di sidang sama dewan keamanan PBB," jawab Pandu dan terdengar tawa mama dan Kiara yang berderai.
"Lah gimana nggak mau disidang, ada negara yang mau menginvasi ke negara lain, yaaa dewan keamanan PBB harus turun tangan lah, wes wes Ndu, dah malam, mandi sana, awas jangan masuk-masuk kamar Kia, ngerti," ucap mama, berdiri dan menuju kamar tidur.
Kiara memandang Pandu dan keduanya tertawa perlahan.
"Kakak sih, udah nyuri-nyuri nyium," ujar Kiara pelan.
"Mau lagi?" suara Pandu berbisik. Kiara menggeleng dengan kuat.
"Kenapa?" tanya Pandu lirih.
"Takuuuut, kayak kena aliran listrik," jawab Kiara semakin mengecil suaranya, Pandu terlihat gemas dan mendekatkan wajahnya pada Kiara, Kiara terlihat takut dan...
"Panduuuuu... " suara mama menggelegar.
****